Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.
Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.
Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.
Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.
Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.
Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.
Mereka belum tahu…
perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Ucapan Rendra yang Menyakitkan
Setelah selesai mengumumkan sumbangan yang diterima Selina, Tantya segera bangkit dari duduknya. Ia berniat keluar sebentar untuk mengambil barang-barang yang masih berada di dalam mobil. Namun, baru saja hendak melangkah, suara Bu Martha kembali terdengar dari belakang.
"Buat Ibu, tetap saja apa yang kalian bawa lebih besar nilainya,” katanya kepada kedua menantunya. “Karena kalian lebih mementingkan acara tunangan itu sendiri. Belum tentu juga TV dan mesin cuci yang dibawa itu harganya benar-benar sebesar yang disebutkan tadi. Bisa jadi malah kurang.”
Tantya menghentikan langkah.
"Lagian, kenapa bawa barang begitu?” lanjut Bu Martha. “TV sama mesin cuci nanti Selina dan suaminya juga bisa beli sendiri, kan?”
"Nah, itu, Bu,” Farah langsung ikut menyahut. "Seharusnya yang dibawa itu barang yang memang dibutuhkan untuk acara tunangan ini. Bukan malah TV sama mesin cuci.”
"Benar,” Niken menimpali. “Sudah berat-berat dibawa dari Jakarta. Mending beli di sini saja. Lebih praktis.”
Tantya menarik napas panjang. Tangannya yang tadi hendak meraih gagang pintu perlahan mengepal. Ia hanya bisa mengelus dada.
Ternyata, sebanyak apa pun yang ia berikan, tetap tidak pernah cukup di mata mereka. Uang yang dikeluarkannya, barang-barang yang disiapkannya, bahkan perjalanan jauh yang ditempuhnya dari Jakarta—semuanya seolah tidak memiliki arti apa-apa.
Yang mereka lihat hanya kekurangannya. Yang mereka ingat hanya hal-hal yang menurut mereka tidak pantas. Bahkan ketika Tantya berusaha memberikan sesuatu untuk kebahagiaan Selina, mereka masih bisa menemukan alasan untuk meremehkannya.
Dan yang paling menyakitkan, Rendra justru ikut memperkeruh keadaan. "Itu kemauan Tya. Aku nggak ikut-ikutan,” katanya santai.
Tantya terdiam. Ia menoleh sedikit. Seharusnya laki-laki itu berdiri di sisinya. Setidaknya mengatakan bahwa barang-barang tersebut adalah pemberian mereka berdua.
Namun, Rendra justru memilih melepaskan diri seolah semua itu adalah keputusan Tantya seorang.
"Mau dibilang wah kali, Bu,” Selina ikut bersuara.
Tantya kembali membeku. Perempuan yang seharusnya menerima pemberiannya dengan senang hati, bahkan sekadar mengucapkan terima kasih, justru ikut mencibir di belakangnya.
Tantya menelan ludah. Dadanya terasa sesak.
Untuk sesaat, ia ingin berbalik dan mengatakan sesuatu. Ingin menjelaskan berapa banyak yang sudah ia keluarkan. Ingin mengatakan bahwa semua barang itu dibawa bukan untuk pamer, melainkan karena ia ingin memberikan sesuatu yang benar-benar bisa dipakai Selina dan suaminya setelah menikah nanti.
Tetapi akhirnya ia mengurungkan niatnya. Tantya memilih melangkah keluar. Wajahnya tetap tenang, meski hatinya perlahan dipenuhi luka yang kembali ia pendam seorang diri.
Tentu, Kak. Saya buat emosinya lebih terasa dari sisi Tantya, terutama saat janji kepada ibunya dianggap sepele dan makanan sederhana sang ibu justru diremehkan. Dialognya tetap natural agar tidak terasa terlalu dibuat-buat.
Tantya akhirnya mengeluarkan hampir seluruh barang yang dibawanya dari Jakarta dari dalam mobil. Hanya satu bagian yang sengaja ia sisakan di bagasi—oleh-oleh untuk ibunya.
Barang-barang itu akan ia antarkan nanti sore, saat keluarga suaminya pergi berjalan-jalan ke mal dan makan malam. Kebetulan rumah ibunya hanya berjarak sekitar setengah jam dari rumah mertuanya. Ia sudah membayangkan wajah ibunya ketika menerima oleh-oleh tersebut. Sederhana, tetapi selalu ada kebahagiaan kecil di mata perempuan itu setiap kali Tantya datang membawa sesuatu.
Dengan bantuan Bi Lilis dan suaminya, Mang Ujang, satu per satu barang dari Jakarta akhirnya selesai diturunkan.
Tantya kemudian mengambil sebuah goody bag yang sudah ia siapkan.
"Bi, ini buat Bibi dan Mang Ujang." Ia menyerahkannya kepada Bi Lilis.
Perempuan itu langsung tersenyum lebar. Namun, ketika melihat isinya, matanya justru berkaca-kaca. "Wah, makasih banget, Neng Tya. Neng Tya memang baik banget.”
Tantya tersenyum kecil. "Disimpan dulu saja di rumah, Bi. Jangan dibawa masuk ke sini. Biar nggak diambil sama ibu, seperti yang sudah-sudah."
Bi Lilis hanya mengangguk dan tertawa kecil. Ia langsung paham. Ada rasa miris di wajahnya.
"Iya, baik. Nanti biar Mang Ujang yang antarkan ke rumah dulu.”
Mang Ujang yang sejak tadi mengangkat beberapa kardus langsung mengangguk. "Siap.”
Setelah memastikan barang-barangnya tertata, Tantya masuk kembali ke dalam rumah. Ruang keluarga sudah kosong. Tak ada lagi suara percakapan seperti beberapa menit lalu. Sepertinya semua orang sudah bersiap untuk pergi ke mal.
Tantya menarik napas pelan. Ia kemudian berjalan menuju kamar paling ujung—kamar yang biasa ia tempati setiap kali berkunjung ke rumah mertuanya.
Begitu pintu dibuka, ia mendapati Rendra sedang berdiri di depan lemari. Suaminya itu sibuk mencoba pakaian, sesekali mengangkat sebuah kemeja di depan tubuhnya, lalu mengambil lagi dari koper menggantinya dengan yang lain.
Tantya berdiri beberapa detik di ambang pintu.
"Mas.”
"Hmm.”
"Jadi nggak ke rumah Ibu?”
Rendra bahkan tidak menoleh. "Ya nggaklah. Sekarang kan mau jalan-jalan. Gimana, sih?”
Tantya masuk dan menutup pintu perlahan. "Kan Mas sudah janji duluan untuk mengunjungi Ibu.”
"Ya itu kan sebelum ada rencana jalan-jalan.”
Jawaban itu begitu ringan. Seolah sebuah janji yang sudah lebih dulu dibuat memang boleh dibatalkan begitu saja hanya karena ada sesuatu yang dianggap lebih menyenangkan.
Tantya menahan napas. "Iya, tapi harusnya Mas bilang ke mereka kalau Mas nggak bisa ikut. Mas sudah terlanjur janji sama Ibu.”
Rendra akhirnya menoleh. Wajahnya tampak tidak sabar. "Ya nggak bisa begitu juga. Kita kan masih bisa ke sana besok.”
Tantya terdiam sesaat."Bagaimana kalau Ibu sudah masakin untuk kita?”
"Ya tinggal dimakan besok.”
"Mas…”Tantya berusaha tersenyum, meskipun suaranya mulai melemah.
"Biasanya Ibu seperti itu. Kalau tahu kita mau pulang, Ibu selalu masakin sesuatu yang spesial.”
Rendra terkekeh. "Special?" Ia kembali mengambil kemeja dari koper. "Spesial apanya? Makanan kampung begitu. Ikan asin sama lalapan. Apa istimewanya?”
Tantya tercekat. Ia menatap suaminya cukup lama.
Bagi Rendra, mungkin itu hanya ikan asin dan lalapan. Hanya makanan sederhana yang bisa dibeli kapan saja. Tapi bagi Tantya, makanan itu tidak pernah sekadar makanan.
Ia tahu bagaimana ibunya bangun lebih pagi hanya untuk membuat sambal. Ia tahu bagaimana tangan perempuan itu dengan telaten membersihkan ikan, menggorengnya sampai garing, lalu menyiapkan lalapan yang masih segar. Ia tahu, ibunya mungkin tidak punya banyak hal untuk diberikan kepada anaknya.
Karena itu, makanan adalah caranya mencintai.
Dan setiap kali Tantya pulang, ibunya selalu berusaha memberikan apa yang ia punya. Sesederhana apa pun.
"Istimewa,” jawab Tantya akhirnya, pelan.
Rendra menghela napas. "Ya sudah, nanti saja. Sekarang cepat mandi dan dandan. Kita ikut pergi sama mereka.”
Tantya tidak langsung menjawab. Matanya terasa panas. Ia menunduk, menyembunyikan perasaan yang mulai memenuhi dadanya. Bukan karena Rendra tidak mau datang ke rumah ibunya. Bukan pula karena ia harus menunda pertemuan itu.
Yang membuat dadanya sesak adalah kenyataan bahwa suaminya tidak pernah mengerti. Tidak pernah mengerti bahwa bagi seorang ibu yang hidup sederhana, memasakkan makanan untuk anak yang jarang pulang bukanlah perkara ikan asin atau lalapan.
Itu adalah bentuk rindu. Bentuk kasih sayang.
Dan mungkin, satu-satunya cara yang masih bisa dilakukan seorang ibu untuk berkata—
*Ibu masih menunggumu pulang.*
Tantya mengusap sudut matanya cepat-cepat sebelum air mata itu jatuh. Ia tidak ingin menangis di depan Rendra. Apalagi untuk sesuatu yang menurut suaminya hanya sepele.
Namun, di dalam hati, Tantya mulai merasa ada sesuatu yang retak. Bukan pada hubungannya dengan ibunya. Melainkan pada hatinya sendiri terhadap lelaki yang selama ini ia kira akan menjadi orang pertama yang memahami arti sebuah keluarga.