Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Dikta terdiam sejenak, menatapku yang sedang menggendong Arkan yang sudah kenyang. Mengingat ancaman dokter Gunawan bahwa stres bisa menghentikan pasokan susu untuk putranya, ia tampaknya menurunkan egonya semata-mata demi kebaikan Arkan.
"Bi Ina, buka pintu balkonnya," perintah Dikta. "Mulai hari ini, aku izinkan kau keluar sekitar penthouse. Hendra akan mengawasimu dari jauh. Tapi ingat, jangan kau mencoba untuk kabur," ujarnya tegas.
Begitu pintu kaca digeser Bi Ina, angin pagi langsung menderu menyejukkan di kulitku. Aku melangkah pelan ke balkon sambil mendekap Arkan dengan erat.
"Pak Dikta..." panggilku lirih. "Maaf, aku lancang. Hatiku tak bisa menahan lagi, pikiranku selalu memikirkan Mas Bagas. Bisakah Anda membantunya agar ia bebas dari penjara? Aku janji, akan menjadi pengasuh yang baik untuk putramu, dan aku juga takkan kabur dari sini," pintaku dengan suara bergetar. Aku menggigit bibir bawah dengan kuat, merutuki diriku sendiri karena sudah lancang menanyakan tentang pria yang dibenci olehnya.
Dikta menatap dalam ke arahku. Ia merogoh saku jas dan mengeluarkan ponselnya, lalu mengusap layar beberapa kali, dan menyodorkannya ke hadapanku. "Dia sudah bebas sejak aku mentransfer uang untuknya. Apa sekarang kau puas?"
Mataku langsung tertuju pada layar ponsel pintar itu. Air mataku menetes melihat foto yang diambil oleh suruhan Dikta secara sembunyi-sembunyi. Di dalam foto itu, Bagas terlihat sangat tampan dengan kemeja baru yang rapi. Di sebelahnya, Ibu Salma—ibu mertuaku—duduk dengan senyum sumringah. Mereka berdua sedang menikmati hidangan di sebuah restoran mewah di pusat kota.
"Mas Bagas... Ibu..." gumamku. Dadaku terasa begitu lega melihat foto itu. Beban berat yang menghimpitku seketika luruh.
"Sudah puas?" tanya Dikta lagi dengan nada dingin. Ia menarik kembali ponselnya.
"Terima kasih banyak, Pak Dikta," jawabku sambil menunduk dalam, tak berani menatapnya lagi.
Dikta mendengus pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata. Aku bisa merasakan aura kebencian yang tersirat dari matanya. Namun aku tepiskan demi memuaskan pikiranku yang berkecamuk selama ini.
***
Di sebuah restoran Jepang autentik yang memiliki ruangan privat, terlihat Bagas duduk bersandar dengan angkuh, mengenakan kemeja sutra baru yang dibelinya dengan uang muka dari Arman Wijaya. Di hadapannya, ibunya sedang sibuk mengunyah daging wagyu dengan wajah berbinar-binar.
"Bagas, Ibu benar-benar tidak menyangka kau bisa melakukan ini pada istrimu," ujar Salma sambil menyeka sudut bibirnya dengan tisu.
Bagas menuangkan sake ke dalam cangkir kecilnya, lalu tertawa terbahak-bahak. "Aku sudah tidak mengharapkan dia kembali, Bu."
"Akhirnya putra Ibu nyadar juga. Tapi.. bagaimana kalau Arini tahu jika kita sudah membohonginya selama ini?"
"Arini itu wanita polos yang bodoh. Selama aktingku bagus, dia tidak akan tahu. Aku yakin sekarang ini, majikannya itu pasti melakukan apa saja demi mempertahankan Arini di sana," jelasnya sambil mengernyitkan alis.
"Bagaimana kalau Pak Dikta tahu rencana kita?" Salma menatap sekitaran dengan cemas.
Bagas meneguk sakenya dalam sekali teguk, matanya menyiratkan kilat licik. "Ibu tenang saja. Itu tidak akan terjadi. Dikta itu sedang fokus menahan Arini di penthouse-nya, dan mengira aku hanyalah tikus kecil yang ketakutan di luar sana. Dia tidak akan pernah curiga kalau aku sekarang berkeliaran di bawah perlindungan Pak Arman Wijaya."
"Tapi Bagas, Arini kan baru saja kehilangan bayinya sendiri. Apa kau tidak kasihan membiarkan dia tertekan menyusui anak orang lain demi menyelamatkanmu?" Salma sengaja bertanya seperti itu, semata ingin melihat kesungguhan putranya dalam mengambil keputusan.
"Itu bukan urusanku. Sejak dia membuat putriku meninggal, rasa cintaku padanya sudah hilang," jelas Bagas tanpa memikirkan lagi kebaikan yang selama ini Arini lakukan untuknya.
Pintu ruangan privat terbuka. Seorang pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam masuk dan membungkuk hormat kepada Bagas. Pria itu adalah Doni, mantan narapidana yang direkrut Bagas menggunakan dana dari Arman Wijaya.
"Bos, tim sudah berkumpul. Cetak biru jalur utilitas gedung penthouse Dikta yang Anda dapatkan dari mantan pekerja renovasi sudah dipelajari oleh ahli mekanik kita," lapor Doni dengan suara rendah.
Bagas meletakkan cangkir sakenya dengan hentakan pelan. "Bagus. Bagaimana dengan orang dalam yang kita incar?"
"Penjaga lift barang bernama Joko sudah masuk perangkap kita, Bos. Dia terlilit utang judi online. Begitu kita tawarkan uang seratus juta, dia langsung setuju untuk mematikan alarm sensor gerak di jalur utilitas selama tiga puluh menit pada malam Gala Investor minggu depan," jelas Doni.
Salma yang mendengar percakapan itu langsung meletakkan sumpitnya dengan wajah pucat. "Bagas... kau mau melakukan apa lagi? Kita sudah dapat miliaran dari Pak Arman untuk mengelabui Dikta. Kenapa harus berurusan dengan masalah pencurian atau penyusupan berbahaya lagi?"
Bagas menatap ibunya dengan pandangan tajam, membuat wanita tua itu menciut seketika. "Ibu diam saja! Uang lima miliar yang kita pegang sekarang itu belum ada apa-apa dibanding apa yang akan kita dapatkan jika berhasil menjatuhkan Dikta. Arman Wijaya menjanjikan saham dan posisi direktur untukku jika rencana minggu depan berhasil. Aku akan sekalian mengambil Arini kembali hanya untuk menjadikannya saksi palsu di depan media bahwa Dikta telah menyekapnya!"
Bagas tersenyum licik. Baginya, Arini tidak lebih dari sekadar pion mainan yang bisa ia atur sesuka hati demi ambisi kekayaannya.
"Doni, pastikan semua senjata senyap sudah siap. Minggu depan, saat seluruh perhatian pengamanan ring satu Dikta terpecah di acara Gala Investor, kita akan masuk lewat lift barang dan menghancurkan reputasi bersih sang emperor dari dalam," perintah Bagas dengan nada penuh racun kemenangan.
"Siap, Bos. Rencana akan dilaksanakan sesuai jadwal," jawab Doni sebelum mundur dan menutup kembali pintu geser.
Bagas kembali menuangkan sake ke cangkirnya, lalu mengangkatnya ke arah ibunya yang masih ketakutan. "Mari bersulang, Bu. Kebohongan kita pada Arini adalah awal dari kejayaan abadi keluarga kita."
***
Aku menatap Arkan sambil tersenyum. Hari ini aku merasa lebih lapang. Mungkin karena mengetahui Bagas sudah menghirup udara bebas.
Bi Ina yang melihat raut wajahku yang kembali berseri, sontak mengusap punggungku dengan pelan. "Melihat Neng Arin seperti ini, rasanya Bibi juga ikut bahagia. Pasti Arkan juga merasakan hal yang sama. Iya kan, Den Arkan?" ucapnya lembut sambil menyentuh pipi gembul bayi itu.
Seketika tubuh Arkan menggeliat kecil. Bayi laki-laki itu mengulas senyum manis meskipun matanya masih terpejam, seolah mengamini ucapan Bi Ina.