NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untuk Membalas Dendam

Terlahir Kembali Untuk Membalas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hamzari20

Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 De Luca

"Kenapa harus bicara dulu? Bukankah kamu juga memegang jabatan di perusahaan keluarga, jelas kamu juga memiliki wewenang," protes Darel, dia butuh uang itu sekarang. Tapi Isabella malah membuat semua rumit. 

"Perusahaan itu milik kedua orang tuaku. Kamu juga keturunan dari Marco, kan? Lalu kenapa tidak meminta bantuan Marco?" sindiran halus yang membuat Darel kesal. 

"Kamu tahu sendiri bagaimana hubungan aku dengan mereka, kan? Jangan membandingkan aku dengan keharmonisan keluarga mu!" ucap Darel, dia tak suka di bandingkan karena situasi keduanya berbeda. 

"Keputusan ku bulat, kamu harus menunggu aku izin pada kedua orang tuaku!" putus Isabella dan itu membuat Darel akhirnya kesal. 

Tanpa pamit. Darel bangun, meninggalkan Isabella sendiri tanpa menoleh lagi. 

Sedangkan Isabella, dia tak ada niat mencegah. Dan wanita itu hanya menatap acuh, seolah kepergian Darel bukan sesuatu yang penting. 

"Isa," suara lembut dari Melody membuat Isabella menoleh cepat. 

"Iya. Ma, ada apa?" tanya Isabella, dia menggeser sedikit tubuhnya agar sang Mama bisa duduk disusul oleh sang Papa. 

"Mama dan Papa tidak setuju kamu memberikan bantuan pada Darel, bagaimana pun kita tidak bisa menentang Marco karena mereka adalah rekan kerja sama perusahaan kita juga!" ujar Melody memberikan pengertian pada Isabella. 

"Aku tahu, Mama dan Papa tenang saja, tidak akan ada bantuan untuk Darel sepeserpun dari ku!" jawaban Isabella membuat Matthew dan Melody terkejut. Ini kali pertama putri mereka itu tidak keras kepala. 

Biasanya Isabella akan keras kepala jika berhubungan dengan Darel. Apalagi saat Darel meminta bantuan untuk bisnisnya Isabella akan langsung memberikan tanpa bicara lebih dulu. Namun, hari ini kenapa berubah, tapi keduanya senang akhirnya putri mereka bisa dewasa. 

"Pa," panggil Isabella. 

"Iya."

"Kapan pertemuan dengan Keluarga De Luca?" satu pertanyaan yang membuat keduanya terkejut. 

Ini kali pertama Isabella berinisiatif menanyakan tentang keluarga De Luca yang tak pernah gadis itu sukai. Jelas itu membuat keduanya merasa penasaran dengan perubahan sang Putri yang cukup signifikan. 

"Kenapa bertanya seperti itu? Bukankah minggu lalu kamu bilang tidak mau berurusan dengan keluarga De Luca?" Matthew ingat dengan ucapan sang putri Minggu lalu saat mereka membahas makan malam keluarga dengan De Luca sebagai tamu penting. 

Isabella hanya diam. Namun, dalam hati ia menjerit. 'Itu karena di kehidupan dulu aku bodoh Papa!' ingin sekali dia mengatakan itu. Namun, dia akan di anggap tak waras oleh keduanya. 

"Papa tinggal bilang saja! Kali ini aku mau hadir," jawab Isabella tegas. 

"Kamu yakin? Kenapa mendadak?" keduanya benar-benar tak menyangka. 

"Pa," geram Isabella.

"Baik, minggu ini akan ada acara makan malam dengan De Luca dan Papa mau kamu hadir bersama kami!" titah Matthew. 

"Baik, besok aku mau ke butik dan cari gaun, boleh?" tanya Isabella semangat. 

Kedua orang tuanya mengangguk, mereka senang karena ada sedikit perubahan yang cukup signifikan dari sang putri. Dia terlihat dewasa dan tak lagi keras kepala. 

Sedangkan di dekat tembok. Ada Lyra yang mendengar semuanya, dia merasa aneh saat melihat bagaimana gadis keras kepala seperti Isabella bisa mau menurut begitu saja tanpa bantahan. 

'Apa yang sebenarnya terjadi? Dia menolak membantu Darel dengan alasan kedua orang tuanya. Dan sekarang dia berniat makan malam bersama keluarga De Luca?' batin Lyra merasa perubahan Isabella cukup mengejutkan dirinya. 

Sedangkan Isabella, dia melirik lewat ekor matanya dan menemukan Lyra tengah menguping. Namun, dia tak berniat membongkar apapun karena permainan akan seru saat semua kebusukan mereka terbongkar di hadapan semua orang. 

***

Malam itu, udara terasa dingin saat seseorang berdiri di sebuah tempat gelap dengan lampu mobil yang menyala terang. 

"Apa yang anda mau. Nona?" suara berat seorang pria terdengar, intonasinya dingin mengalahkan angin yang berhembus menusuk tulang. 

"Mereka!" ucapnya, menyodorkan sebuah foto tepat di hadapan dua pria berbadan tinggi itu. 

"Apa yang bisa kami lakukan?" pria itu melihat sebuah foto, dengan tiga orang di dalamnya. 

"Habisi mereka, terserah apapun caranya! Yang jelas buat pembunuhan ini seperti kecelakaan!" suara wanita di balik masker hitam dengan hoodie putih itu terdengar dingin dengan mata berkilat marah. 

"Anda tenang saja, ini memang tugas kami. Tapi bagaimana dengan bayarannya? Mereka sepertinya bukan dari keluarga biasa, kan?" dia menawar, menunjuk foto itu dengan alis terangkat sebelah dan mata melirik tajam. 

"Bukan orang biasa, soal bayaran aku akan membayar lebih tinggi dari klien kalian sebelumnya!" ucapnya sombong. 

"Bagus, jika anda tidak bisa membayar sesuai kesepakatan. Maka jangan harap anda bisa lolos dari kami!" ancamnya. 

Wanita di balik masker hitam itu mengangguk, dia segera pergi dari sana dengan langkah tergesa-gesa masuk kedalam mobil tanpa menoleh lagi. 

Melajukan mobilnya lebih cepat dari apapun. Dia berhenti di jalanan yang sepi, membuka masker dengan hoodie yang ia kenakan. Bibirnya menyunggingkan senyum aneh yang penuh teka-teki. 

"Sekarang permainnya akan seru!" gumamnya dengan nada tak sabar. 

Rumah besar Davis berdiri kokoh, lampu-lampu kuning hangat berpenjar di setiap sisi halaman luas rumah itu. 

"Loh? Kamu darimana?" Melody bertanya saat melihat sang Putri baru kembali. 

"Beli keperluan wanita setiap bulan. Ma!" jawab Isabella, dia menunjukkan belanjaannya pada Melody. 

"Oh, Mama kira dari mana," kata Melody, senyumnya hangat dan indah. 

"Ma, aku akan kembali ke kamar!" pamit Isabella, memeluk sang Mama dengan hangat. 

Isabella berjalan perlahan ke arah kamarnya. Menaiki anak tangga dengan langkah ringan yang terasa begitu menyenangkan. 

"Kak, dari mana?" hingga suara yang ia benci sampai ke tulang menyapa dengan sok ramah. 

Isabella mencoba menekan kebencian itu. Dia tak mau Lyra curiga dengan apa yang ia rencanakan untuk membalas dia dan Darel. 

"Dari supermarket!" jawab Isabella, walaupun sudah menekan kebencian itu. Namun, nada suaranya masih terdengar ketus. 

Lyra menengadahkan tangannya dan itu membuat Isabella menaikan sebelah alisnya dengan aneh. Dan tak mengerti. 

"Ya ampun Kak, itu pasti ada bagianku, kan?" kata Lyra, dengan tidak tahu malunya. 

"Tidak ada, ini semua milikku. Jika kamu mau maka beli sendiri!" jawaban Isabella membuat Lyra bingung. 

"Tidak ada? Kakak lupa bagianku?" 

"Mulai sekarang beli apapunn yang kamu mau dengan uangmu sendiri!" putus Isabella, dia berlalu meninggalkan Lyra yang berdiri kaku dan tak percaya. 

Menutup pintu kamar dengan kasar hingga membuat Lyra terperanjat dengan dada berdebar kencang. 

Di dalam kamar. Isabella mendengus kesal, dia benar-benar mual harus berpura-pura baik pada Lyra hanya untuk sebuah rencana. Namun, dia juga tak bisa menunjukkan kebencian itu secara gamblang di depan wanita tak tahu diri itu. 

Isabella merebahkan tubuhnya di atas ranjang besarnya. Dia harus cari cara untuk menyingkirkan Lyra dari hadapannya sesegera mungkin. 

"Aku hrus segera menemukan caranya!" gumam Isabella. 

Kali ini dia tak akan berbaik hati lagi pada siapapun yang sudah berani menghancurkan keluarganya tanpa sisa. Air mata itu akan dia balas dengan lebih kejam lagi, setiap tetes darah dan air mata keluarganya harus di bayar dengan mahal. 

1
Irsyad layla
ini sebenarnya keluarga de luca apa Marco bingung jadinya
Hamzari20: Marga Marco untuk Darel dan Marga De Luca untuk Arion
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!