Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persalinan
#10
“Kamu bahagia sekali, Nak?” tanya Bu Rara yang hari ini melihat wajah putrinya yang biasa mendung, berubah menjadi cerah ceria.
Dina memalingkan wajahnya dari jendela mobil yang sedang bergerak. “Aku tak sabar menanti hari ini, Ma. Meskipun perginya bareng Mama—” jawab Dina, ada sendu yang coba ditutupnya rapat-rapat agar Bu Rara tak mengetahuinya.
“Kenapa? Kamu berharap bisa pergi dengan Farhan?” Tebakan Bu Rara sangat tepat.
“Seharusnya ini memang tugas Mas Farhan, kan? Tapi, sepertinya diri ini sudah lelah memohon untuk diberi perhatian. Jadi, buat apa lagi menanti, apalagi yang tidak pasti.” Dina menyahut dengan perasaan optimis, bahwa tanpa Farhan sekalipun, ia akan bisa membesarkan bayinya seorang diri.
Bu Rara tersenyum, ia lega mendengarnya.
Barusan mereka meninggalkan rumah sakit setelah memeriksakan kandungan, dan sekarang mereka sedang menuju pusat perbelanjaan untuk membeli perlengkapan bayi. Bu Rara bisa melihat, betapa Dina selalu tersenyum sepanjang mereka berjalan menyusuri lorong-lorong pusat perbelanjaan, untuk berburu pernak pernik bayi.
“Cantik banget—”
“Ah, lucu—”
“Gemesin, Ma—”
Begitulah antusiasme Dina saat mulai memilih pakaian dan pernak-pernik untuk bayinya. Hingga tanpa terasa mereka sudah membawa banyak kantong berisi belanjaan.
“Ayo, kita pulang.”
Dina mengangguk, walau sebenarnya masih lapar mata. Ia tak menyangka, berbelanja kebutuhan bayi, ternyata semenyenangkan ini.
•••
Selepas makan malam.
Setelah mencuci tangannya, Dina merasakan ada yang berbeda dengan tubuhnya, rasa nyeri samar di bagian bawah perut terasa timbul dan tenggelam. “Ah, mungkin karena kekenyangan,” batin Dina, karena barusan ia menutup makan malam dengan semangkuk kolak labu dingin.
“Ma, Pa. Aku jalan-jalan di samping rumah, ya. Sepertinya aku kekenyangan, hingga sulit bernafas,” pamit Dina.
“Papa temani.” Papa Hermanto langsung berdiri dari duduknya, entah mengapa ia merasakan firasat tak enak.
Keduanya berjalan bersisian, mengitari perkebunan sayur mereka, Dina mengira rasa sakitnya hanya keluhan biasa, efek terlalu kenyang. Lagipula usia kandungannya semakin mendekati hari perkiraan lahir.
Namun beberapa menit kemudian, rasa nyeri itu kembali datang, kali ini lebih hebat lagi. Dina meringis memegangi perut bagian bawahnya, “Akh!” desisnya pelan.
“Dina, kamu kenapa?” tanya Pak Hermanto, wajahnya langsung berubah cemas. Ia menyangga tubuh Dina yang mulai oleng karena menahan rasa sakit.
“Perutku, Pa, sa— kiit—”
“Apakah ini saatnya melahirkan?” tanya Pak Hermanto, pria itu memapah Dina ke kursi yang berada tak jauh dari sana.
“Dokter bilang belum, Pa. Tapi, kok—” Dina tak melanjutkan kalimatnya.
Pak Hermanto membantu Dina duduk. “Papa siapkan mobil, ya. Kita ke rumah sakit sekarang.”
Dina hanya mengangguk pasrah.
“Ma! Mama! Sepertinya Dina mau melahirkan—”
“Apa?! Kok bisa! Dokter bilang—”
Dina tak lagi fokus mendengarkan kehebohan kedua orang tuanya yang sedang panik karena kontraksi yang datang tiba-tiba.
Mereka pun bergegas pergi ke rumah sakit, untunglah, disaat begini Pak Hermanto sedang berada di rumah. Karena pada hari biasanya pria itu sering pergi untuk urusan bisnis, atau sekedar berkegiatan dengan komunitas kelompok tani.
“Ma, ssss— sakit.”
Dina merintih kesakitan sepanjang perjalanan, tubuhnya sudah basah dengan keringat dingin. Bagi Dina perjalanan ke rumah sakit, terasa lebih panjang daripada biasanya.
“Iya, Nak. Mama tahu, tahan sebentar, ya. Kita akan segera tiba di rumah sakit.”
Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh, karena lokasi rumah yang jauh dari pusat kota. Andai Dina tak membutuhkan pertolongan dari dokter yang mengetahui kondisinya. Tentu sudah sejak tadi ia mendapatkan perawatan.
Bu Rara menggenggam erat tangan putrinya, sementara Pak Hermanto fokus mengemudi, “Tenang, dan jangan takut, ada Papa dan Mama yang akan selalu ada di sampingmu.”
Dina mengangguk, namun, seperti apapun ia berusaha, ketakutan tetap tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Ia berdebar karena dokter mengatakan bayinya akan lahir dengan kondisi tak biasa.
Meski kecil kemungkinannya, dan butuh banyak perhatian khusus di masa perawatan, namun, di beberapa kasus ada bayi yang bisa bertahan melewatinya.
Begitu sampai di rumah sakit, Dina langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Dokter dan tim medis segera melakukan pemeriksaan secara intensif, beruntung bagi Dina, karena dokternya sangat memperhatikan kondisinya.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar menemui Pak Hermanto dan Bu Rara.
“Dok, bagaimana keadaan anak kami?” tanya Bu Rara.
Dokter menarik napas sejenak sebelum memberikan jawaban.
“Ibu Dina mengalami kontraksi lebih cepat dari perkiraan.”
“Apakah ini berbahaya untuk bayinya, Dok?” tanya Bu Rara.
“Belum bisa dipastikan, Bu, Pak. Untuk lebih jelasnya, kami akan segera melakukan prosedur persalinan.”
“Lakukan, Dok. Apapun itu tindakannya, asal anak dan cucu kami selamat,” kata Pak Hermanto hampir menangis.
“Baiklah, silahkan tanda tangani surat persetujuan, dan kami akan menyiapkan ruang operasi.”
Pak Hermanto mengikuti perawat yang akan memberikan surat pernyataan untuk ditandatanganinya.
Bu Rara mondar mandir di depan ruangan pemeriksaan, kedua tangannya dingin, serta tubuhnya gemetar. Dzikir dan doa tak lepas dari lisannya, semua demi kebaikan dan keselamatan Dina.
Beberapa saat kemudian, Dina dibawa ke ruang operasi, dan tak ada yang bisa Pak Hermanto dan Bu Rara lakukan selain menunggu dengan cemas di depan ruangan berpintu lebar tersebut. Tidak ada percakapan panjang di antara mereka karena Pak Hermanto terus mondar-mandir dan Bu Rara duduk diam sambil meremas ujung kerudungnya.
“Pa— Mama takut.”
Pak Hermanto akhirnya duduk di sebelah istrinya, ia pun merasakan ketakutan serupa, tapi tak ada yang bisa dilakukan selain berdoa dan saling menguatkan.
“Sama, Ma. Sebaiknya kita berdoa untuk keselamatan Dina serta bayinya.”
Satu jam kemudian, Dokter yang mengoperasi Dina keluar dari ruang operasi.
“Dok— bagaimana kondisi anak dan cucu kami?”
Dokter tersenyum sebelum memberi penjelasan secara hati-hati. “Kami berhasil menyelamatkan bayi, namun, bayinya butuh penanganan khusus, hingga dia harus menjalani perawatan khusus.”
Senyum kedua orang tua itu menghilang, berganti dengan kecemasan. “Maksudnya, Dok?” tanya Pak Hermanto.
“Bayi mengalami kelainan bawaan berupa Hidrosefalus. Kami perlu melakukan pemantauan dan perawatan intensif karena kondisinya cukup kompleks.”
Bu Rara menutup mulutnya, air matanya meleleh jatuh tanpa ia sadari, bukan kecewa, hanya perasaan sedih, karena cucu mereka harus mendapatkan cobaan di usianya yang masih sangat belia. “Bolehkah kami melihatnya, Dok?” tanya Bu Rara.
“Silahkan, tapi nanti setelah kondisi bayi cukup stabil.”
Pak Hermanto mengangguk, “Lakukan tindakan apa saja, Dok. Asalkan cucu kami selamat.”
“Tentu, Pak, Bu.”
Dokter kemudian kembali ke dalam, meninggalkan sepasang suami istri yang kini sedang saling menguatkan.
“Haruskah kita mengabari Farhan?” gumam Pak Hermanto.
Bu Rara mengangguk, “Kabari saja, Pa. Perkara nanti dia mau menerima atau tidak, itu bukan lagi urusan kita.”
tpi km bisa mnikmati perempuan lain...
dasar serakah... tk ada otak🙄🙄
Jahat banget kamu Sarah
ditunggu 🥰🥰🥰