NovelToon NovelToon
Pengantin Dalam Kegelapan

Pengantin Dalam Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Pengantin Pengganti / Perjodohan / Roman-Angst Mafia / Mafia
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.

Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.

Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepribadian yang berbeda?

Celeste terbangun dengan seluruh persendian tubuhnya yang terasa remuk dan ngilu. Saat membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah hangatnya kulit dada bidang suaminya tempat kepalanya beristirahat semalaman.

Lucian benar-benar seperti memiliki tenaga kuda saat mengaulinya semalam. Tak kurang dari enam ronde pria itu menggagahinya tanpa ampun.

Bersetubuh dalam pusaran gairah yang membakar, hingga akhirnya Celeste merintih dan memohon sambil terisak agar diperbolehkan berhenti. Ajaibnya, detik itu juga Lucian langsung menghentikan gerakannya. Pria itu menindihnya perlahan, merengkuh tubuh polos Celeste ke dalam pelukan hangat, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningnya yang penuh peluh.

Di sela napas mereka yang memburu semalam, Celeste sempat mendengar bisikan bergumam dari bibir pria itu "Terima kasih..."

Terima kasih? batin Celeste kebingungan. Terima kasih untuk apa? Karena aku menyerahkan tubuhku? Atau terima kasih karena sudah menahannya saat ketakutan?

Mengingat kembali bagaimana ia ikut mendesah pasrah dan menikmati tiap sentuhan liar suaminya semalam membuat kedua pipi Celeste mendadak membara merah padam hingga ke ujung telinga. Rasa malu yang luar biasa seketika menyergap dadanya.

Sebelum bangkit, Celeste memberanikan diri menatap wajah pulas Lucian. Dalam tidurnya, raut pria itu terlihat jauh lebih tenang, damai, dan tentunya sangat tampan tanpa aura kejam yang mencekam seperti tadi malam.

Secara refleks, mata Celeste mengarah ke jendela kamar yang luas. Ia tersentak kaget saat melihat tirai gorden tebalnya sudah terbuka lebar. Ketakutan akan sinar matahari langsung memicu tubuhnya untuk bersembunyi di balik selimut.

Namun... tunggu.

Celeste mengedipkan matanya berkali-kali. Cahaya pagi di luar sana tampak membias terang, tetapi tak satu pun radiasi atau paparan sinar UV yang menembus masuk membakar kulitnya. Kaca jendela kamar itu rupanya telah dilapisi dengan kaca penahan sinar matahari tingkat tinggi, persis seperti dinding pelindung tak kasat mata.

Celeste kembali menoleh pada Lucian yang masih terlelap. Mungkinkah pria ini sengaja memasangnya untuknya? Atau memang sudah terpasang dari awal?

"Terima kasih..." gumam Celeste sangat pelan. Perhatian kecil yang tak disangka-sangka itu memantik rasa hangat yang begitu asing namun manis di dasar hatinya. "Suatu saat... aku pasti akan membalas kebaikan kalian semua."

Ia teringat, mungkin saja ibu mertuanya yang menyuruh Lucian mengantikan kaca tersebut, karena hanya wanita itu yang tahu dia menderita penyakit langka.

Tak ingin berlama-lama telanjang di atas ranjang, Celeste bergegas bangkit dan berlari kecil menuju kamar mandi. Di depan cermin besar, ia membelalak menatap pantulan tubuhnya. Banyak noda keunguan bertengger di sekujur kulit mulusnya, dan yang paling parah berjejer di area leher serta tulang bahunya.

Celeste meringis malu, lalu menyalakan bathtub dan menikmati rendaman air hangat untuk memulihkan otot-ototnya yang kaku.

Sementara itu di luar, Lucian perlahan memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri begitu matanya terbuka. Pria itu menghembuskan napas panjang saat menyadari tubuhnya hanya terbalut boxer hitam.

"Aku melakukannya lagi... Sial," batin Lucian.

Telinganya menangkap samar suara gemericik air dari balik pintu kamar mandi. Ingatan samar tentang jeritan dan rintihan Celeste semalam terlintas cepat di kepalanya, membuat raut wajah Lucian berubah penuh penyesalan.

"Apa aku memaksanya semalam?" batinnya lagi.

Klek.

Pintu kamar mandi terbuka. Celeste melangkah keluar dengan jubah mandi putih tebal yang membalut tubuh rampingnya. Rambut panjangnya yang basah meneteskan sisa air ke atas kain jubah.

Langkah Celeste mendadak terhenti kaku ketika pandangannya jatuh ke tepi ranjang. Suaminya sudah terbangun, duduk tegap di sana, dan tengah menatapnya lekat-lekat. Celeste refleks merapatkan lipatan jubah mandinya, menunduk malu.

Namun, Celeste bisa merasakan sesuatu yang aneh. Aura yang memancar dari tubuh Lucian pagi ini sangat berbeda dari pria liar yang mengurungnya di ruang senjata semalam. Pria di depannya sekarang adalah Lucian yang ia kenal sebelum mereka menikah, sosok yang tenang, hangat, dan memiliki binar mata yang teramat lembut.

Lucian bangkit dari ranjang, melangkah mendekati Celeste hanya dengan boxer-nya. Pipi Celeste kembali merona hebat saat melihat dada dan bahu kekar Lucian juga dipenuhi bekas guratan kuku dan gigitannya dari pergumulan semalam.

Celeste menundukkan kepala semakin dalam, tak sanggup menatapnya.

Jemari hangat Lucian terulur, menyentuh lembut dagu Celeste dan mengangkatnya perlahan hingga tatapan mata mereka saling beradu. Lucian menatap mata hazel istrinya dengan pendar penuh rasa bersalah yang mendalam.

Bibir Lucian bergerak lambat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun suara vocal, memperagakan kata 'Sorry'.

Sebelum Celeste sempat merespons, Lucian menunduk dan mendaratkan sebuah kecupan hangat nan lembut di pelipis basah Celeste. Setelah itu, pria itu berbalik dan melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan Celeste yang berdiri mematung di balik pintu kamar mandi.

Celeste memegangi dadanya, berusaha mengontrol detak jantungnya yang berdegup gila-gilaan. Kepala dan benaknya dipenuhi kebingungan yang makin menumpuk.

Minta maaf? Minta maaf untuk apa? Karena hubungan intim semalam? Atau karena sifat liarnya?

Celeste memandangi pintu kamar mandi yang terkunci rapat. Ia bergumam bingung pada dirinya sendiri, Dan sekarang... dia kembali tidak bisa berbicara lagi? Mungkinkah suamiku ini... punya kepribadian ganda?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!