Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Satu minggu berlalu sejak peti mati berukir mahoni putih itu diturunkan ke dalam liang lahat di pemakaman pribadi keluarga Hendrick. Tujuh hari yang terasa seperti kutukan abadi.
Suasana Mansion Utama tak ubahnya seperti mausoleum raksasa. Tidak ada yang berani bersuara lebih keras dari bisikan. Setiap sudut ruangan menyimpan hawa kematian yang menggigit tulang.
Di ruang kerja berlantai marmer gelap, Aldebaran duduk bersandar kaku di kursi kebesarannya. Aroma wiski single malt yang menyengat menguar di udara, bercampur dengan asap tebal dari cerutu Kuba yang sudah hampir terbakar habis di aspal kristal. Pria yang tak pernah mengenal kata lelah itu kini tampak hancur. Kantung matanya menghitam, janggut kasar mulai menutupi rahang tegasnya yang biasanya tercukur bersih, dan kemeja hitamnya dibiarkan kusut dengan kancing teratas terbuka.
Pintu ruang kerja berderit pelan. Nyonya Besar melangkah masuk, diiringi bunyi ketukan tongkat kayunya yang beradu dengan marmer. Wajah wanita paruh baya itu tampak lebih tua sepuluh tahun sejak kematian Lily. Ia berhenti di depan meja putranya, menatap Aldebaran dengan sorot mata yang penuh dengan kepedihan mendalam.
"Bagaimana keadaan Amanda?" tanya Nyonya Besar lirih, memecah keheningan yang mencekik.
Aldebaran tidak langsung menjawab. Ia menatap kosong pada gelas wiskinya, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol. "Sama," jawabnya dengan suara serak dan berat, seolah setiap kata yang keluar menggores tenggorokannya. "Dia menolak apa pun. Makanan, minuman, cahaya matahari... dia menolak untuk berbicara. Dia seperti... mayat hidup."
Nyonya Besar memejamkan mata, menelan rasa sesak yang menyumbat dadanya. Tangan keriputnya meremas pangkal tongkatnya erat-erat. "Buat dia kembali hidup, Al," suaranya bergetar menahan isak yang siap meledak. "Kau suaminya. Kau harus menariknya keluar dari dasar kegelapan itu. Mama... Mama sangat mengerti bagaimana rasanya, Al. Kehilangan seorang anak, melihat peti matinya perlahan diturunkan ke dalam tanah... rasa sakitnya tidak akan pernah hilang—"
"Berhenti, Ma," potong Aldebaran cepat, nada suaranya seketika berubah menjadi tajam dan sedingin gletser.
Aldebaran mendongak, menatap mata ibunya dengan kilat yang melarang segala bentuk pembicaraan lebih lanjut. Udara di dalam ruangan itu terasa berhenti mengalir, tekanan berubah begitu drastis. Luka lama yang selama puluhan tahun terkubur rapat di bawah fondasi The Iron Crown, tiba-tiba berdenyut kembali, siap menganga.
"Michael sudah damai di sana," lanjut Aldebaran pelan, namun setiap silabelnya ditekankan dengan absolut, membungkam memori tentang sang kakak yang selama ini menjadi pantangan terbesar di klan mereka. "Jangan tangisi dia lagi. Dan jangan samakan kehilangannya dengan Lily. Luka ini berbeda."
Nyonya Besar menunduk, bahunya merosot kalah oleh otoritas mutlak putranya.
Aldebaran meletakkan gelasnya dengan dentingan kasar ke atas meja. Ia bangkit berdiri. Tubuh jangkungnya masih memancarkan dominasi yang mengerikan, meski di balik topeng iblisnya, hatinya sendiri telah hancur menjadi debu. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi pada ibunya, sang mafia melangkah keluar dari ruang kerja, menyusuri lorong panjang yang remang menuju sayap timur mansion.
Menuju kamar utama tempat sang Ratu mengurung diri.
Langkah kaki Aldebaran melambat saat ia berhenti di depan pintu mahoni ganda. Ia menarik napas panjang, menyingkirkan sisa-sisa amarah dan aura pembunuhnya, sebelum memutar gagang pintu dan melangkah masuk.
Kamar raksasa itu gelap gulita. Tirai-tirai tebal berwarna burgundy ditarik rapat, menghalangi setitik pun cahaya matahari untuk masuk. Bau apak kesedihan mengalahkan wangi lavender dari pengharum ruangan.
Di sudut ruangan, meringkuk di atas karpet bulu di dekat jendela, terdapat sebuah gundukan selimut.
Aldebaran melangkah mendekat tanpa suara. Jantungnya berdenyut ngilu.
Amanda duduk memeluk lututnya, wajahnya disembunyikan di antara kedua lengannya. Di sekelilingnya berserakan barang-barang Lily—boneka kelinci kusam yang berbau bedak bayi, gaun tidur mungil, dan sepasang sepatu merah muda yang belum sempat dipakai putrinya. Amanda menolak tidur di atas ranjang mereka, ia lebih memilih mendekap barang-barang itu di sudut lantai layaknya orang gila.
"Sayang..." panggil Aldebaran sangat pelan. Suaranya terdengar luar biasa rapuh.
Pria itu berlutut di atas karpet, lututnya menyentuh lantai dingin tanpa ragu. Ia mengulurkan tangan besarnya yang sedikit gemetar, menyentuh pelan bahu kurus Amanda yang berbalut piyama kebesaran.
Tubuh Amanda seketika menegang. Ia mendongak perlahan.
Wajah yang dulu selalu memancarkan kecantikan alami dan keberanian kini terlihat begitu menyedihkan. Pipi Amanda tirus, kulitnya pucat pasi tanpa darah, dan matanya... oh, matanya begitu kosong, segelap dasar samudra tanpa setitik pun cahaya kehidupan.
"Makanlah sedikit, kumohon," bujuk Aldebaran parau. Tangan kasarnya yang terbiasa memegang senjata pencabut nyawa kini membelai anak rambut Amanda dengan kelembutan yang menyayat hati. "Hanya beberapa suap, Amanda. Sup hangat yang disiapkan koki masih ada di bawah. Aku akan membawakannya untukmu."
Amanda menatap Aldebaran dalam kebisuan yang mencekik. Matanya yang kosong itu tiba-tiba menyipit, memancarkan amarah dan kebencian yang mendalam. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia kumpulkan, Amanda menepis tangan Aldebaran dengan kasar.
"Pergi," desis Amanda. Suaranya pecah dan serak.
Aldebaran tidak bergeming. Ia tahu ini akan terjadi. "Amanda, lihat aku—"
"AKU BILANG PERGI!" teriak Amanda tiba-tiba. Suaranya melengking merobek keheningan kamar. Ia melempar boneka kelinci di tangannya ke arah dada Aldebaran.
Tangis Amanda pecah kembali. Histeris. Ia memukuli dada bidang suaminya dengan kepalan tangan kecilnya yang lemah. "Brengsek! Keluar dari kamarku! Ini semua salahmu! Kalau saja kau tidak pernah muncul... kalau saja kau tidak pernah menyeretku ke dalam sangkar nerakamu ini... Lily masih hidup! Putriku masih bisa tertawa! Pembunuh! Kalian semua pembunuh!"
Setiap pukulan Amanda yang mendarat di dada Aldebaran terasa seperti tusukan pisau belati. Sang iblis tak sedikit pun berusaha menghindar atau menghentikannya. Ia membiarkan Amanda melampiaskan seluruh murka dan rasa sakitnya, menerima setiap kutukan dan makian itu sebagai hukumannya sendiri.
Karena jauh di lubuk hati Aldebaran yang paling kelam, ia tahu bahwa setiap kata yang diucapkan wanita ini adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Keberadaannyalah yang telah mengundang maut untuk merenggut nyawa putri mereka.
Saat tenaga Amanda terkuras habis, wanita itu ambruk.
Aldebaran bergerak lebih cepat dari kilat. Ia menangkap tubuh mungil yang lemah itu ke dalam dekapannya, merengkuhnya sangat erat, menyembunyikan wajah Amanda di perpotongan lehernya.
"Menangislah, Sayang... menangis dan pukul aku sesukamu," bisik Aldebaran di sela-sela rambut Amanda, air mata pertama sang Raja Kegelapan akhirnya lolos, menetes tanpa suara mengenai puncak kepala istrinya. "Aku tahu aku monster. Aku tahu ini salahku. Tapi kumohon... jangan hancurkan dirimu sendiri. Jangan biarkan racun itu membunuh kita berdua dari dalam. Bertahanlah... demi aku."
Isak tangis Amanda bergetar hebat di dada suaminya, meremas kemeja Aldebaran dengan putus asa. Di dalam kamar yang gelap dan pengap itu, dua jiwa yang hancur berkeping-keping tengah memeluk puing-puing kewarasan mereka, tak tahu apakah luka abadi ini akan pernah bisa sembuh.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭