Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Ting... Tong...
Alina menghentikan langkahnya, napasnya masih sedikit memburu karena emosi yang tertahan. Ia menghela napas sejenak, lalu berjalan menuju pintu depan.
Saat pintu terbuka, wajah Nova langsung menyambutnya dengan raut cemas sekaligus menegur.
"Alina! Akhirnya buka pintu juga! Mama telepon berkali-kali, tapi kamu tidak angkat! Sampai Mama terpaksa hubungi Rafael, dan dia bilang dia menginap di kantor semalam, tidak pulang."
Alina tersenyum canggung, membukakan pintu lebih lebar agar ibunya masuk.
"Maaf ya, Ma... Ponselku tadi tertinggal di kamar, jadi aku tidak dengar Mama telepon."
Nova melangkah masuk, meletakkan tas tangannya di meja ruang tengah, lalu melirik ke arah dapur saat melihat sosok pria yang berdiri di ambang pintu itu. Wajahnya langsung melembut, senyum ramah tersungging di bibirnya.
"Eh, Revan? Ternyata kamu juga ada di sini," sapa Nova akrab, ia melangkah pelan ke arah pria itu. "Revan. Sehat?"
"Selamat pagi, Nyonya Nova," jawab Revan sopan sambil sedikit membungkuk, senyumnya tetap tenang dan profesional. "Saya sehat. Karena Nyonya sudah disini, saya akan kembali ke kantor untuk mengurus pekerjaan."
Nova langsung menahan lengan Revan pelan namun tegas sebelum pria itu sempat melangkah.
"Eh, jangan dulu pergi, Nak Revan," larang Nova lembut namun tidak bisa dibantah. "Justru kehadiranmu di sini sangat berguna. Sekalian saja kamu yang mengantar kami ke butik, mau?"
Revan tertegun sejenak, menatap dua wanita itu bergantian.
"Mengantar ke butik? Tapi Tuan Rafael belum memberi instruksi khusus soal itu, Nyonya. Saya pikir..."
"Ah, Rafael pasti tidak keberatan," potong Nova santai sambil melambaikan tangan seakan hal itu sepele saja. "Lagipula, kan kamu asistennya, kamu harus memastikan istri majikanmu aman. Sekalian nanti kamu bisa membantu membawa barang-barang juga. Mau kan?"
Alina yang berdiri di dekat sofa langsung ikut menyahut cepat, matanya membelalak tidak setuju.
"Ma! Tidak usah lah merepotkan Revan... Kita berdua saja kan cukup? Ke butik itu cuma sebentar, pilih gaun lalu pulang. Tidak perlu sampai menyuruhnya ikut juga kan?"
Nova berbalik menatap putrinya, alisnya terangkat sedikit.
"Kenapa sih kamu keberatan begitu? Revan kan bukan orang asing. Lagipula, kalau ada pria yang ikut, kita bisa minta pendapatnya soal gaun mana yang paling cocok. Bukankah lebih baik kalau gaun yang kamu pakai di hari ulang tahun pernikahan nanti disukai Rafael? Dan pendapat pria lain yang objektif itu kadang membantu, kan?"
"Tapi kan... itu urusan wanita, Ma," Alina coba membela diri, pipinya sedikit memerah. "Kita sendiri yang pilih pasti bisa kok."
"Sudah lah, sayang," Nova mendekat dan merangkul bahu putrinya, nadanya berubah lembut namun tetap tegas. "Mama sudah memutuskan. Biar Revan ikut. Dia juga bisa sekalian menjaga kita di jalan, kan lebih aman. Lagian Rafael sendiri yang menyuruhnya menemani kamu di rumah ini, jadi kalau kamu pergi, ya tugasnya tetap menemani. Tidak ada yang aneh dengan itu."
Lalu Nova kembali menatap Revan yang masih berdiri tenang di tempatnya.
"Bagaimana, Nak Revan? Bantu Tante ya. Anggap saja tugas tambahan hari ini."
Revan melirik sekilas ke arah Alina yang menatapnya dengan pandangan memohon agar ia menolak, namun ia tahu betul betapa sulit menolak keinginan seorang wanita paruh baya dihadapannya ini.
"Kalau begitu... baiklah, Nyonya Nova. Saya ikut," jawab Revan akhirnya, lalu menatap Alina sekilas dengan senyum tipis. "Saya siapkan kendaraannya dulu."
"Nah, begitu dong!" Nova tersenyum puas. "Ayo, Alina, cepat ganti baju sana. Biar Revan tunggu di halaman dulu."
Alina menghela napas panjang, pasrah sepenuhnya pada keputusan ibunya. Ia menatap punggung Revan yang berjalan menuju pintu keluar, lalu menoleh ke Ibunya dengan tatapan sedikit kesal namun tak berdaya.
"Mama ini... selalu saja begitu," gumamnya pelan.
Nova terkekeh pelan sambil menepuk pipi putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Itu demi kebaikanmu juga, sayang. Sekarang cepat bersiap ya, jangan sampai membuat Nak Revan menunggu terlalu lama."
Alina mengangguk pelan, lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dengan perasaan campur aduk antara cemas dan malu, namun entah mengapa ada sedikit rasa antisipasi yang tak bisa ia pungkiri.
-
-
-
Suasana di butik mewah itu terasa tenang dan beraroma wangi bunga samar. Alina sudah mencoba tiga gaun berbeda, dan kali ini ia masuk ke ruang ganti dengan gaun sutra berwarna gading yang terlihat elegan.
Di luar pintu fitting room, Revan berdiri tegap sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya, sementara Nova baru saja meraba tas tangannya dan mengeluarkan ponsel yang terus bergetar.
"Maaf ya, Nak Revan, teman Tante telepon," ucap Nova sambil berdiri. "Tante angkat telepon sebentar di luar, sekalian mau ke toilet. Kamu tunggu di sini dulu ya, nanti Alina keluar pasti butuh pendapat."
"Baik, Nyonya Nova. Silakan," jawab Revan sopan, lalu mengangguk saat Nova berjalan menjauh menuju lorong di ujung butik.
Belum lama Nova pergi, pintu ruang ganti sedikit terbuka dari dalam, dan suara Alina terdengar sedikit tertahan dan canggung.
"Ma... Ma? Tolong masuk sebentar dong, resleting belakangnya macet sedikit, aku tidak bisa menaikkan sendiri."
Revan tertegun sejenak, matanya melirik ke arah lorong yang ditinggali Nova yang masih sepi. Ia ragu harus menjawab atau tidak, tapi suara Alina terdengar mendesak.
"Ma, cepat dong, nanti keburu orang lain pakai ruang ganti ini. Tolong tarik resletingnya sampai atas, ini kainnya licin."
Revan menghela napas pelan, lalu membuka pintu sedikit lebih lebar, cukup untuk ia masuk tanpa menarik perhatian orang lain di butik itu. Alina berdiri membelakangi pintu, wajahnya menghadap cermin besar di dinding, lehernya jenjang terbuka, dan punggungnya sebagian masih terekspos karena resleting gaun itu baru naik setengah. Wajahnya masih menunduk sambil tangannya sibuk merapikan gaunnya, belum menyadari siapa yang sebenarnya berdiri di belakangnya.
"Ayo cepat tarik Ma..." ucapnya sambil menahan napas sedikit, kedua tangannya menahan bagian depan gaun agar tidak melorot.
Revan berdiri diam sesaat, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dengan gerakan sangat hati-hati dan lembut, ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh ujung resleting yang tersangkut di pinggang Alina dengan ujung jari yang nyaris tidak menyentuh kulit wanita itu. Sentuhan itu begitu halus namun membuat Alina seketika menegang seluruh tubuhnya.
"Tarik saja, Ma... kenapa berhenti?" gumamnya pelan, masih tidak menoleh.
Revan menarik napas dalam-dalam, lalu dengan satu gerakan halus namun pasti, ia menaikkan resleting itu hingga ke atas dengan sempurna tanpa menyangkutkan kain sedikit pun. Saat ia hendak menarik tangannya kembali, ujung jarinya tak sengaja menyapu kulit punggung Alina yang lembut dan hangat.
Alina tersentak hebat, matanya membelalak lebar menatap pantulan di cermin. Bukan ibunya yang tersenyum ramah di belakang sana, melainkan Revan. Pria itu berdiri dengan wajah tenang namun matanya menatapnya lekat-lekat di pantulan kaca, seakan menyusuri setiap inci wajah dan lekuk tubuhnya.
"Kau?! Bagaimana bisa kau yang—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Revan sudah bergerak lebih cepat dari yang sempat ia duga. Tangan kekarnya meraih lengan Alina, memutar tubuhnya perlahan namun pasti hingga punggung wanita itu menyentuh dinding cermin yang dingin dan licin, mematungkan langkahnya di tempat yang sempit itu.
"Siapa yang Anda harapkan berdiri di belakang sini, Nyonya?" bisiknya, suaranya rendah dan berat, bergema pelan di ruang tertutup itu. Tubuhnya berdiri cukup dekat, membuat Alina seakan terkurung di antara dinding dan kehadirannya yang begitu mendominasi. "Apa Nyonya tidak bisa mengenali hanya dari parfum saya? Atau Nyonya memang sengaja?"
Alina menelan ludah susah payah, napasnya memburu, dadanya naik turun hebat di balik gaun yang pas di badan itu. Matanya menatapnya lekat-lekat, campuran antara marah, malu, dan napas yang berantakan di rongga dada.
"Kau... berani sekali kau!" suaranya bergetar, berusaha mendorong dada bidang pria itu namun tenaganya seakan tak berarti sama sekali. "Lepaskan aku, Revan! Kalau Mama kembali dan melihat kita seperti ini... apa yang akan dipikirkannya?!"
"Aku tidak peduli," potong Revan pelan namun tegas, satu tangannya kini menumpu di dinding tepat di samping kepala Alina, membatasi ruang geraknya. Matanya menatap bibir wanita itu sesaat sebelum kembali naik menatap matanya yang berbinar cemas. "Sedikit saja kau bersuara, mereka akan tahu kita disini."
Mata Alina terbelalak lebar saat merasakan tubuh Revan yang berdiri begitu dekat, menyisakan jarak yang nyaris tak ada di antara mereka.
Ia menegang kaku di tempatnya, tak tahu harus mendorong atau diam saja.
"Revan! Kau—!"
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰