Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Pandangan pertama
Harum aroma bolu pandan yang baru matang memenuhi seluruh sudut dapur mungil itu. Raya tersenyum manis sembari mengoleskan krim putih dengan cermat di atas permukaan kue.
Hari ini adalah hari yang sangat spesial. Tepat dua tahun lalu, ia mengikrarkan janji suci bersama pria yang paling ia cintai, Ardi.
"Ma... Ma!"
Sebuah suara mungil dengan celotehan khas balita terdengar dari arah ruang keluarga. Raya menoleh dan mendapati putri kecilnya, Arsyila, yang akrab disapa Cyla, sedang merangkak cepat mendekatinya.
Gaun merah muda mungil berenda yang dikenakan Cyla membuatnya tampak seperti boneka hidup. Balita berusia satu tahun itu mengedipkan matanya yang bulat jernih, hingga memamerkan dua gigi kelinci di bagian bawah saat tersenyum.
"Anak Mama yang cantik sudah rapi?" Raya berlutut, seraya mengusap lembut pipi gembil Cyla lalu menciumnya dengan gemas. Cyla pun tertawa geli, sambil menepuk-nepuk tangan mungilnya.
Klek.
Pintu depan terbuka, menyiarkan suara langkah kaki yang tergesa namun terdengar akrab. Ardi melangkah masuk dengan senyum lebar yang selalu berhasil melelehkan hati Raya.
Setelan kemeja kerjanya sedikit kusut, tetapi wajah tampannya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuket bunga mawar merah segar dan sebingkis kado berpita emas.
"Selamat ulang tahun pernikahan yang kedua, Istriku tersayang," ucap Ardi seraya menghampiri Raya. Ia mengecup dahi Raya cukup lama dan hangat, lalu menyerahkan buket bunga tersebut.
"Terima kasih, Mas... Kamu selalu ingat," bisik Raya merona.
"Bagaimana mungkin Mas lupa hari paling membahagiakan dalam hidup Mas?" Ardi kemudian berlutut di sebelah Raya, dan merentangkan tangannya lebar-lebar. "Sini, Putri Kecil Papa! Cyla sayang!"
Cyla langsung berhambur ke dalam pelukan papanya, dan tertawa ceria saat Ardi mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara lalu memeluknya dengan erat. Keharmonisan dan tawa riang mengudara di dalam rumah sederhana namun penuh cinta itu.
Selama dua tahun mengarungi bahtera rumah tangga, hidup mereka hampir tanpa cela. Meski hidup sederhana, kasih sayang Ardi yang tak pernah berkurang dan kehadiran Cyla menjadi pelengkap kesempurnaan keluarga kecil mereka.
"Mas sudah pesan tempat untuk makan malam kita bertiga," ujar Ardi sambil menurunkan Cyla dengan perlahan. "Restoran favoritmu di pinggir kota. Kita tiup lilin kuenya di sana sekalian ajak Cyla jalan-jalan, ya?"
Raya mengangguk bahagia. "Bentar ya, Mas. Aku rapikan kuenya sebentar, habis itu kita berangkat."
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah berada di dalam mobil sedan putih milik Ardi. Cyla duduk di kursi belakang dengan car seat khusus, mengoceh riang sambil memainkan boneka beruangnya.
Raya duduk di samping Ardi yang sedang mengemudi, dengan sesekali menyuapkan potongan buah segar ke mulut suaminya.
Jalanan malam itu cukup lengang diiringi gerimis tipis yang mulai membasahi kaca depan mobil. Lagu romantisme lembut mengalun dari radio, hingga menyempurnakan suasana malam perayaan mereka.
"Mas..." panggil Raya lembut, menatap profil wajah suaminya dari samping.
"Ya, Sayang?" Ardi melirik sekilas dengan senyum yang hangat.
"Terima kasih untuk dua tahun yang luar biasa ini. Aku sangat bahagia menjadi istri kamu dan ibu dari Cyla."
Ardi menggenggam jemari Raya dengan tangan kirinya, dan memberikan usapan lembut yang menenangkan. "Mas yang harusnya terima kasih, Raya. Kamu dan Cyla adalah takdir terbaik dalam hidup Mas. Mas janji akan selalu menjaga kalian berdua, sampai kapan pun."
Raya tersenyum manis dan membalas genggaman tangan suaminya. Ia lalu menoleh ke belakang, dan menatap Cyla yang mulai mengantuk dengan mata terpejam lambat. Semuanya terasa begitu indah, hangat, dan sempurna.
Beberapa saat kemudian...
Lampu-lampu kristal megah di lobi Grand Ballroom Hotel Astoria memancarkan cahaya keemasan yang mewah. Malam itu, suasana hotel bintang lima tersebut terasa sangat ramai.
Di salah satu aula utama, sebuah pesta perayaan akbar sedang berlangsung, merayakan keberhasilan investasi triliunan rupiah dari sebuah proyek properti raksasa.
Di tengah pusat perhatian, berdiri Aris. Pria berusia tiga puluh tahun itu tampil memikat dengan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap.
Wajahnya yang tegas dan tampan khas pria Asia Timur, dipadu dengan tatapan mata yang tajam, membuatnya selalu menjadi incaran banyak wanita kelas atas.
Namun, statusnya sebagai pengusaha muda sukses tak lantas membuatnya mudah menyerahkan hati. Bagi Aris, wanita hanya pemanis sesaat, tak ada satu pun yang pernah benar-benar mencuri perhatiannya.
Merasa agak jenuh dengan basa-basi dunia bisnis dan dentingan gelas sampanye, Aris pamit sejenak menuju area lorong tenang dekat fasilitas restoran dan toilet eksklusif hotel.
Ia membenarkan letak jam tangannya saat melangkah keluar dari area toilet. Tepat pada saat itulah, dari arah berlawanan, seorang wanita berjalan melewatinya.
Langkah Aris terhenti seketika.
Wanita itu mengenakan gaun sederhana berwarna pastel yang meliuk anggun mengikuti lekuk tubuhnya. Rambut hitam gelombangnya terurai halus, membingkai wajah cantiknya yang begitu alami tanpa riasan berlebihan.
Saat berpapasan, harum aroma vanila dan bunga mawar yang lembut menyapu indra penciuman Aris.
Deg deg deg deg!
Jantung Aris berdesir hebat, sebuah sensasi asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jiwa lelakinya yang selama ini dingin dan tertutup rapat mendadak terguncang.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Aris merasa benar-benar terpana dan tertarik pada seorang wanita hanya dalam satu detik pandangan pertama.
Menolak membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja, Aris memutar badannya. Ia merapikan jasnya sedikit, dan berniat menghampiri wanita itu untuk menyapa juga meminta nomor ponselnya.
Namun, baru dua langkah Aris beranjak, langkahnya mendadak terkunci di lantai.
"Ma-ma!"
Seorang pria bertubuh jangkung dengan senyum hangat melangkah mendekati wanita itu sambil menggendong seorang anak balita perempuan bergaun merah muda.
Wanita itu langsung menoleh dan menyambut putri kecilnya dengan tawa renyah yang membuncah bahagia. Ia mengusap pipi gembil sang anak sebelum memeluk lengan pria di sampingnya dengan penuh kasih sayang.
"Mas Ardi, jangan dikasih manis-manis terus, nanti Cyla makin aktif," ucap wanita itu lembut, seraya menatap suaminya dengan binar mata yang penuh cinta.
Pria bernama Ardi itu terkekeh, lalu mendaratkan ciuman mesra di pelipis istrinya di hadapan semua orang. Pemandangan keharmonisan keluarga kecil itu begitu sempurna, hangat, dan tak tersentuh.
Aris berdiri membeku beberapa meter di belakang mereka. Tangannya yang tadinya hendak terulur kini perlahan merapat kembali ke sisi tubuhnya. Tatapannya tertuju pada cincin pernikahan yang melingkar indah di jari manis wanita tersebut.
Sebuah senyum tipis, pahit dan getir pun terukir di bibir Aris. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, seolah menertawakan konyolnya nasib dan dirinya sendiri.
Pria terpandang yang selalu dikejar banyak wanita, justru jatuh hati pada pandangan pertama kepada istri orang lain.
"Lupakan, Aris. Dia milik orang lain," bisik Aris pada dirinya sendiri dengan nada dingin.
Ia memutar tubuhnya kembali menuju riuhnya pesta, dan mencoba mengubur dalam-dalam bayangan wajah cantik wanita itu. Namun, Aris tak pernah tahu bahwa takdir kelam malam itu akan mempertemukan mereka kembali dalam ikatan berdarah yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun.
Bersambung...