Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Ular Piton
Dua puluh menit berlalu dalam penderitaan batin Tia di bawah pancuran air hangat. Setelah mengeringkan badan dan memakai gaun tidur bahan kaus paling aman serta tertutup rapat yang ia punya, Tia melangkah keluar dari kamar mandi dengan napas tertahan, seperti prajurit yang memasuki medan ranjau.
Ia mendapati Sam sedang duduk di tepi kasur sambil mengutak-atik saluran televisi dengan wajah polos tanpa dosa.
"Sudah selesai mandinya, Mbak Tia?" tanya Sam ramah, berdiri dari kasur. "Kalau begitu, aku mandi dulu ya. Kemeja sama jas ini sudah berasa makin lengket di badan."
"I-iya, Mas Sam. Silakan..." jawab Tia canggung, langsung berjalan secepat kilat menuju sofa di sudut ruangan dan berpura-pura sibuk mengusap layar ponselnya yang mati.
Sam melangkah santai menuju kamar mandi, membawa rasa gerah yang menyengat dari sore tadi. Begitu pintu kamar mandi terkunci rapat dan kucuran air shower dingin menyiram tubuh tegapnya, rasa lelah Sam perlahan memudar, berganti dengan benak yang mulai melayang liar tak tentu arah.
Di bawah guyuran air hangat bercampur aroma sabun hotel yang wangi, bayangan wajah Tia yang merona merah malu-malu saat di atas pelaminan tadi mendadak berputar-putar di kepala Sam. Ditambah lagi, mengingat fakta bahwa malam ini mereka berdua benar-benar sendirian di dalam kamar hotel mewah berukuran raksasa, imajinasi liar seorang pria dewasa yang normal tak bisa dibendung lagi.
'Aduh, Samsudin...' batin Sam memejamkan mata erat-erat di bawah pancuran air. 'Dia kan sekarang sudah sah jadi istrimu secara agama dan negara, biarpun cuma status sewaan... Kalau benar-benar tidur berdua di kasur empuk itu... gimana ya rasanya?'
Bayangan-bayangan nakal dan adegan romantis otomatis menari-nari di pikiran Sam. Tanpa ia sadari, reaksi biologis tubuhnya merespons bayangan gila itu dengan sangat spontan dan perkasa. Reaksi alami tubuh seorang pria tegap yang memicu aset kebanggaannya berdiri tegap dan menegang sempurna di bawah kucuran air.
Sam menggelengkan kepala keras-keras, menepuk pipinya sendiri. "Sadar, Din, sadar! Lu pawang buaya, bukan buaya darat! Mbak Tia itu majikan cicilan lu!"
Setelah merasa cukup tenang dan menyelesaikan mandinya, Sam mematikan shower. Namun saat ia menjangkau gantungan baju, matanya seketika membelalak lebar. Rasa panik luar biasa mendadak menyerang otaknya.
Tas Ransel berisi kaus dan celana gantinya masih tertinggal di atas meja dekat pintu kamar!
"Aduh, bodohnya!" bisik Sam menepuk jidatnya yang basah. "Gara-gara melamunkan Mbak Tia tadi, celana sama baju malah ketinggalan di luar!"
Mau tidak mau, dengan sangat terpaksa, Sam menyambar handuk putih tebal milik hotel yang ukurannya agak menggantung, lalu melilitkannya rapat-rapat di pinggangnya. Sam menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian, lalu menggeser pintu kamar mandi perlahan-lahan.
Pintu terbuka. Uap hangat langsung menyerbak ke luar.
Tia yang sedang duduk tegang di sofa sudut ruangan refleks menoleh. Matanya seketika melotot sempurna melihat pemandangan di hadapannya, Samsudin keluar dengan tubuh bertelanjang dada, memperlihatkan otot dada yang tebal, perut six-pack yang basah mengilap terkena sisa tetesan air, dan hanya terbungkus selembar handuk putih pendek di pinggangnya.
"Mas Sam?!" tegur Tia histeris, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah memerah padam. "Kamu ngapain keluar bentukannya begitu?! Kenapa tidak pakai baju di dalam?!"
Sam tertawa canggung, menggaruk rambutnya yang basah dengan wajah memerah malu. "Aduh, maaf banget, Mbak Tia! Aku lupa membawa ransel bajuku tadi. Ketinggalan di meja dekat pintu. Ini aku cuma mau menyambar baju secepat kilat kok!"
"Ya ampun! Cepat ambil bajunya!" seru Tia sambil menutupi matanya pakai kedua telapak tangan, meski jari-jarinya sedikit renggang untuk mengintip.
"Iya, iya! Ini aku ambil!" sahut Sam setengah berlari kecil menuju meja di samping pintu.
Namun, nasib sial memang tidak pernah menanyakan kalender.
Karena Sam terburu-buru dan lantai karpet tebal hotel agak licin terkena sisa air di telapak kakinya, kaki Sam tersandung sudut meja kayu!
"Aduh!" jerit Sam kehilangan keseimbangan.
Tubuh tegap Sam limbung ke depan. Refleks tangan kanannya menyambar pinggiran meja untuk menahan badan, namun kibasan tangannya yang lain tak sengaja menyenggol simpul handuk di pinggangnya sendiri.
Sret!
Seratan ikatan handuk putih itu terlepas total! Handuk tebal itu jatuh meluncur melantai tanpa ampun, membiarkan Samsudin berdiri sepenuhnya telanjang bulat di tengah ruangan berlampu temaram tersebut!
Dan yang membuat situasi itu seribu kali lebih tragis, aset pribadi Sam yang sejak di dalam kamar mandi tadi sudah menegang sempurna akibat imajinasi liarnya, kini terpampang nyata, berdiri tegap, gagah, dan menunjuk lurus ke udara tanpa penghalang satu milimeter pun!
Tia yang tadinya mengintip di balik sela-sela jarinya, mendadak membatu. Pandangannya jatuh tepat pada objek raksasa yang menegang di bagian bawah tubuh Sam.
Mata Tia membelalak selebar-lebarnya. Mulutnya menganga kaku. Histerianya meledak seketika menembus langit-langit kamar hotel!
"AAAAAAAAAARRRRRGGGGHHH!!!" jerit Tia melengking tinggi, refleks menunjuk ke arah bawah Sam dengan jari gemetaran. "ADA ULAR PITON!"
Sam yang menyadari handuknya terlepas dan pusakanya yang sedang menegang hebat terpampang nyata di depan mata majikan sewaannya, langsung melompat histeris seperti emak-emak melihat kecoa terbang!
"AMPUUN, MBAK TIA! MAAF!" jerit Sam dengan suara melengking yang tidak kalah tinggi.
Dengan kecepatan refleks ala penakluk reptil profesional, Sam membungkuk cepat, menyambar handuknya dari lantai, lalu menutupi bagian bawah tubuhnya rapat-rapat sambil bersembunyi di balik sandaran sofa.
Wajah Samsudin yang biasanya garang di hadapan buaya muara empat ratus kilogram, kini merah padam seperti kepiting rebus yang dimasak di air mendidih. Rasa malunya menjulang tinggi mengalahkan gedung Norman Corp!
"M-maafkan aku, Mbak Tia! Sumpah, aku tidak sengaja!" rengek Sam dari balik sofa dengan suara gemetaran, menahan malu luar biasa. "Tadi kakiku tersandung meja, terus ikatan handuknya terlepas sendiri!"
Tia masih terduduk di sofa lain, memegangi dadanya yang berdegup kencang bagaikan mau meledak. Napasnya terengah-engah, wajahnya membara panas sampai ke leher. Bayangan "ular piton" milik suami kreditnya yang menegang sempurna tadi masih tercetak jelas di ingatan visualnya!
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu
udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran