Karena dosa yang dia lakukan dan janjinya kepada neneknya Aleta, membuat Faris harus bertanggung jawab atas keselamatan dan masa depan Aleta, sedangkan Aleta yang kesuciannya telah di renggut Faris sangat membenci Faris. Tapi dengan berjalannya waktu kebencian Aleta berubah menjadi cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Kekecewaan Faris.
Aleta dan Faris makan tanpa ada yang bersuara, dan setelah selesai makan, Aleta langsung membereskan semuanya dan langsung melangkah menuju kamar dan di ikuti oleh Faris dari belakang.
Sampainya di kamar Aleta langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menyikat gigi dan membasuh mukanya, sedangkan Faris dia memilih untuk duduk bersendar di sofa yang terdapat di dalam kamar itu.
Setelah selesai menyikat gigi dan membasuh mukanya, Aleta keluar dan melangkah menuju cermin besar, dengan hanya memakai celana pendek di atas lutut yang berwarnah hitam dan baju seksi berwarnah putih.
Sampainya di depan cermin Aleta langsung memakai segala perawatan malamnya, Aleta sama persis dengan Aleta, mereka sama-sama sangat perduli merawat kecantikan wajah juga tubuh mereka.
Aleta yang lagi asik memoles krim wajah dan lotion di tubuhnya, tidak menyadari kalau Faris sejak tadi sedang menatapnya tanpa berkedip sama sekali.
Faris menatap Aleta tanpa bersuara dan tanpa berkedip sama sekali, Faris seketika langsung terhipnotis setelah tadi melihat Aleta keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang begitu seksi, dalam diam dia sangat mengagumi kecantikan dan keindahan tubuh Aleta.
Di saat sedang asik menatap Aleta dari ujung rambut sampai ujung kaki, tiba-tiba Faris teringat dengan apa yang pernah dia dan Aleta lakukan, karena di saat itu Faris melihat seluruh tubuh Aleta dengan begitu jelas bahkan dia sangat menikmatinya. Dan kejadian itu sudah dua kali terulang.
Karena fikirannya sudah di penuhi dengan bayangan Aleta tanpa busana, membuat bagian bawah Faris seketika jadi menegang, dan hal itu membuat dia jadi sangat gelisah.
Dengan bersusah paya Faris mencoba untuk mengendalikan dirinya, tapi semakin di kendalikan dia semakin tersiksa, karena Faris kecil di bawah sana sudah tidak bisa untuk di ajak kompromi lagi.
Karena sudah tidak bisa untuk di tahan, membuat Faris langsung berdiri dan melangkah mendekati Aleta, dengan tatapan yang sudah tidak bisa untuk di artikan.
Dan Aleta yang lagi asik memoles lengannya dengan lotion, tidak menyadari kalau Faris sudah melangkah mendekatinya. Sampainya di dekat Aleta tanpa menunggu lama Faris langsung memeluk Aleta dari arah belakang, sambil memanggil nama Aleta dengan suara serak karena menahan hasrat yang sudah menguasai dirinya.
"Aletaaa,,,! Panggil Faris.
"Kenapa,,? Apa lukamu sakit,,? Tanya Aleta sambil menatap wajah Faris yang sangat tampan di cermin, dengan tatapan kaget juga bingung.
"Kita tidur bersama ya,,? Kata Faris sambil menatap ke cermin dengan tatapan memangsa.
"Tapi aku kan bisa tidur di sofa. Jawab Aleta.
"Tapi aku ngga bisa Aletaa,,! Kata Faris yang membuat Aleta jadi bingung.
"Kenapa memangnya,,? Tanya Aleta semakin bingung.
Dan baru selesai bertanya Aleta sudah merasa ada sesuatu yang menonjol di bagian belakangnya, dan tiba-tiba dia langsung menegang karena Faris membisikan sesuatu di telinganya, dengan nada suara yang sangat menuntut.
"Aku sangat menginginkanmu malam ini,,! Bisikan Faris sambi membenamkan wajahnya di pundak Aleta yang membuat bulu kuduk Aleta langsung berdiri.
"Fariiiis. Panggil Aleta sambil berbalik menghadap Faris yang sudah seperti predator yang siap memangsa.
"Aku mohon Aletaa,,! Pinta Faris dengan tatapan memohon.
"Tapi akuu,,!
Kata-kata Aleta langsung tertahan karena mulutnya sudah di bungkam oleh Faris, dengan ciuman yang sangat buas sampai-sampai membuat Aleta sulit untuk bernafas, Aleta sangat terkejut dengan serangan Faris padanya, dia berusaha untuk mendorong Faris tapi Faris tidak membiarkan Aleta terlepas sedikitpun dari pelukannya.
Aleta memang sangat mencintai Faris, tapi di saat Faris menciumnya dengan cara seperti itu, membuatnya kembali teringat dengan kejadian tiga tahun yang lalu, di saat Faris merampas kesuciannya dengan paksa.
Karena mengingat semua itu membuat Aleta tiba-tiba langsung merasa takut juga berkecil hati, dia merasa dirinya bukan sebagai wanita yang Faris cintai tapi seperti wanita pemuas nafsu untuk Faris.
Sedangkan Faris yang sudah sangat menggila itu, tidak ada maksud membuat Aleta merasa seperti wanita pemuas nafsu baginya, dia sangat mencintai Aleta, dan hanya Aleta seorang wanita yang bisa membuatnya sampai seperti itu.
Sebelum dan sesudah mengenal Aleta, Faris sering pergi ke klub malam bersama teman-temannya, dan di sana banyak sekali wanita-wanita cantik dan seksi yang selalu menawarkan diri padanya, tapi dia tidak tertarik sama sekali dengan mereka.
Aleta yang sudah kehabisan tenaga dan hampir kehabisan nafas, memilih memalingkan mukanya dari Faris sambil menangis tanpa berkata apa-apa, dia sangat berkecil hati dan sedih di perlakukan seperti itu oleh laki-laki yang sangat dia cintai itu.
Faris yang sedang membenamkan wajahnya di leher Aleta, sedang berusaha untuk mengatur nafasnya, tapi karena mendengar isakan Aleta, membuatnya langsung mengangkat wajahnya dan menatap Aleta bingung sambil berkata.
"Kamu kenapa,,? Tanya Faris dengan tatapan bingung juga nafas yang masih belum teratur.
"Kamu anggap apa aku ini,,? Tanya Aleta sambil menatap tajam Faris dengan berlinang air mata.
"Mengapa kamu bertanya seperti itu,,? Tanya Faris semakin bingung.
"Karena aku merasa, kamu hanya menganggapku sebagai wanita pemuas nafsumu saja,,! Aleta berkata dengan sedikit keras dan membuat Faris langsung emosi.
Faris sangat marah mendengar kata-kata Aleta barusan, karena di dalam hati dan fikirannya tidak sedikitpun ada rasa dan femikiran yang seperti Aleta katakan barusan, dia sangat kecewa karena dengan mudah Aleta bisa mengatakan semua itu padanya tanpa memikirkan perasaannya.
Tanpa berkata apa-apa Faris langsung melangkah pergi meninggalkan Aleta sendirian di dalam kamar, Faris menuruni tangga kemudian melangkah menuju dapur, sampainya di dapur dia langsung membuka pintu kulkas dan mengambil lima kaleng bir.
Setelah itu Faris kembali melangkah menuju ruang nonton dan memilih duduk di sana, sambil meminum lima kaleng bir dan menikmati sebungkus rokok yang baru dia keluarkan dalam saku celananya.
Karena sangat kecewa dan sudah terlanjur marah, membuat Faris menghabiskan lima kaleng bir hanya dalam hitungan menit. Sedangkan Aleta yang masih berada di kamar jadi hawatir karena Faris belum juga kembali, dia sangat menghawatirkan keadaan Faris yang sedang terluka dan masih sangat lemas.
Walaupun Aleta sangat kecewa dengan perlakuan Faris padanya, tapi dia juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan Faris.