NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 20.

Deru mesin matic hitam milik Lingga membelah jalanan sore yang mulai berdebu. Sepulang sekolah, cowok itu selalu punya rute yang sama yaitu langsung pulang, kunci kamar, dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Namun, sore ini, ada satu hal yang membelokkan rutenya.

Lingga menarik tuas rem tepat di depan sebuah apotek berlampu neon terang. Di dalam helmnya, alis Lingga bertaut. Ia mematikan mesin, turun tanpa melepas helm—hanya menaikkan kaca pelindungnya saja.

"Ada obat penurun demam yang paling cepat efeknya?" tanya Lingga langsung saat berdiri di depan etalase kaca. Suaranya berat, khas orang yang jarang menggunakan pita suaranya seharian.

Apoteker wanita di balik meja tersenyum ramah, "Buat dewasa atau anak-anak, Dek?"

"Remaja perempuan. Tujuh belas tahun," jawab Lingga cepat. Ada jeda sedikit sebelum ia menambahkan, "Yang tidak bikin terlalu mengantuk kalau bisa."

Setelah membayar dan mengantongi sebungkus kecil obat tablet, Lingga kembali ke motornya.

Di balik saku seragamnya yang keluar dari celana, ada rasa cemas yang perlahan merayap.

Lingga kembali melajukan motornya, namun tidak langsung menuju kompleks perumahan tujuan utama. Ia berbelok ke sebuah jalan kecil, berhenti di depan sebuah warung kelontong yang merangkap tempat jualan jajanan pasar.

Lingga turun, matanya memindai jajaran stoples dan bungkusan plastik yang digantung.

"Cari apa, Tong?" tanya Ibu pemilik warung sambil mengipas sekeranjang gorengan panas.

"Keripik singkong pedas level maksimal yang bumbunya merah pekat, Bu. Masih ada?"

"Oh, tinggal dua bungkus ini, Jang. Biasanya neng-neng geulis yang sering borong."

Lingga mengangguk pelan. Neng geulis yang dimaksud ibu pedagang itu pasti Stella.

Gadis hiperaktif yang hobi mengunyah keripik super pedas itu kalau lagi stres, kalau sedang menyembunyikan kesedihannya.

Lingga tahu keripik ini buruk untuk perut Stella yang sedang kosong karena sakit, tapi dia juga tahu, melihat benda ini di kamarnya nanti minimal akan menerbitkan sedikit senyum di wajah pucat gadis itu.

Setelah membayar, Lingga menggantung plastik berisi obat dan camilan itu di stang motornya.

Sepuluh menit kemudian, motor Lingga berhenti di depan sebuah rumah berpagar putih dengan taman kecil yang terawat.

Lingga mengembuskan napas panjang. Menetralkan detak jantungnya yang mendadak berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia melepaskan helm, merapikan rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan jari, lalu melangkah mantap mendekati pagar.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kayu jati itu terbuka beberapa saat kemudian. Sosok wanita paruh baya dengan wajah teduh dan daster rumahan yang rapi muncul dari balik pintu. Mama Giselle.

"Eh, Lingga ya? Temannya Stella?" sapa Mama Giselle, wajahnya langsung cerah mengenali cowok yang beberapa kali pernah mengantar Stella pulang kerja kelompok.

Lingga tersenyum tipis, sebuah gestur sopan yang jarang ia perlihatkan pada orang lain. "Sore, Tante. Maaf mengganggu jam istirahatnya. Ini... Lingga mau mengantar catatan pelajaran Fisika dan Biologi hari ini. Tadi dititip dari ketua kelas, katanya biar Stella enggak ketinggalan materi materi buat ulangan minggu depan."

Lingga berbohong. Catatan itu adalah salinan yang ia tulis ulang sendiri dengan tulisan tangan yang sengaja ia rapikan di perpustakaan saat jam istirahat tadi.

"Ya ampun, baik banget kamu, De. Masuk dulu yuk, Tante buatin minum," ajak Mama Giselle tulus.

"Enggak usah repot-repot, Tante. Di luar saja," tolak Lingga halus.

Mama Giselle menghela napas, raut wajahnya berubah cemas. "Stella dari pagi belum mau makan nasi. Cuma minum teh hangat terus tidur lagi. Badannya panas banget. Tante sampai bingung mau bujuk pakai apa lagi. Sebentar ya, Tante panggil anaknya dulu. Biar dia tahu kamu datang."

Sebelum Lingga sempat mencegah, Mama Giselle sudah melangkah ke arah tangga bagian dalam rumah yang terhubung ke lantai dua.

"Stella! Ini ada Lingga dateng anter catatan sekolah! Turun sebentar, Sayang!" teriak Mama Giselle dari dasar tangga. Suaranya menggema di langit-langit rumah yang sepi.

Lingga berdiri kaku di dekat pintu masuk. Dada nya bergemuruh.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam, sampai terdengar suara langkah kaki yang terseret pelan dari arah tangga.

Lingga menoleh. Atensinya langsung terkunci sepenuhnya pada sosok yang baru saja muncul di kelokan tangga.

Itu Stella. Tapi bukan Stella yang biasanya mendominasi koridor sekolah dengan tawa renyah atau ocehan tak berujungnya.

Gadis itu tampak begitu rapuh, seolah-olah embusan angin yang agak keras bisa membuatnya tumbang saat itu juga.

Energinya terkuras habis. Wajahnya yang biasa merona kini pucat pasi, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang sayu.

Rambut panjangnya dikuncir asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang menempel di lehernya yang berkeringat dingin.

Kontras dengan kondisinya yang menyedihkan, Stella memakai piyama katun berwana merah muda dengan motif beruang kecil yang lucu—piyama yang terlihat terlalu besar di tubuhnya yang mendadak tampak lebih kurus.

Kedua tangannya memeluk sebuah guling kecil di depan dada, seolah mencari perlindungan dari rasa dingin yang menyerang tubuhnya.

......................

...***************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!