Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kepulangan Yang Tidak Di Undang
Bus terakhir dari Banyuwangi kota ke Licin berhenti di pertigaan yang bahkan tidak ada di Google Maps.
Aku, Arga, turun dengan satu ransel hitam dan satu koper tua milik kakek.
Jam menunjukkan 17:23. Tapi langit di sini sudah seperti jam 7 malam. Kabut turun dari Gunung Raung tebal sekali, menutup jalan setapak yang harus aku lewati.
Sepuluh tahun aku tidak pulang. Sejak ibu meninggal dan aku memilih merantau ke Surabaya, aku bersumpah tidak akan pernah menginjak lagi tanah dusun Krajan ini. Dusun tempat kakekku, Mbah Suro, tinggal sendirian.
Seminggu lalu, Pak Lurah telpon. Suaranya gemetar.
"Arga, Mbah Suro wis sedo. Kowe kudu mulih. Omahe wes nunggu kowe."
Aku tidak sedih. Aku justru merasa aneh. Karena malam sebelum telepon itu, aku bermimpi. Mimpi rumah itu. Rumah panggung kayu jati tua itu memanggil namaku dari dalam hutan Alas Purwo. "Arga... mulih..." Jalan setapak menuju dusun itu masih sama. Tanah merah, licin, diapit pohon pisang dan bambu yang tingginya tidak masuk akal. Semakin masuk, semakin sepi. Tidak ada suara motor. Tidak ada suara anak-anak. Hanya suara jangkrik yang terlalu keras seperti berisik di dalam telinga.
Setelah 30 menit jalan kaki, aku melihat Gapura bambu dusun Krajan. Tulisannya sudah lapuk: SUGENG RAWUH DUSUN KRAJAN.
Dan di bawah gapura itu, sudah berdiri lima orang. Tua-tua. Menatapku.
Aku kenal satu, Pak Min, teman kakek. Tapi tatapannya bukan tatapan menyambut cucu teman yang pulang.
Itu tatapan takut.
"Kowe temen mulih, Ga?" tanya Pak Min, suaranya pelan.
"Iya, Pak. Mau beres-beres rumah Mbah.. "jawabku.
Mereka saling pandang. Salah satu ibu-ibu berbisik, "Wes telat... kudune ojo mulih..."
"Rumahmu wes resik, Ga. Mben dino resik dewe," kata Pak Min cepat. "Tapi ojo turu kono bengi iki. Turu neng omahe Pak Min ae."
Aku mengernyit. "Maksudnya? tanyaku penasaran.
"Wes, pokok e ojo. Maghrib iki ojo ning njobo..."jawab pak Min.
Aku lihat jam tanganku. 17:31. Azan maghrib di Banyuwangi sekitar jam 17:40. Mereka semua sudah membawa senter dan obor, padahal hari belum gelap.
Tanpa menjawab lagi, mereka pergi meninggalkanku. Berjalan cepat, hampir lari. Meninggalkan gapura itu dan kosong lagi.
Bulu kudukku mulai berdiri. Ini bukan sambutan. Ini peringatan.
Rumah kakek ada di ujung paling ujung dusun, paling dekat dengan bibir hutan Alas Purwo. Rumah panggung dari kayu jati tua yang masih kokoh. Catnya hitam karena usia.
Anehnya, seperti kata Pak Min, rumah itu bersih.
Halaman disapu. Daun-daun kering tidak ada. Pintu kayu tidak berdebu. Padahal kakek meninggal seminggu lalu dan dusun ini kosong.
Aku naik tangga kayu. Berderit. Kunci masih tergantung di paku samping pintu, seperti 10 tahun lalu.
Klek.
Pintu terbuka. Dan bau itu langsung menyambut ku.
Bau kemenyan dan kopi hitam. Persis bau kakek saat masih hidup.
"Mb... Mbah?" panggilku bodoh.
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam rumah itu hangat. Tidak seperti rumah kosong yang lembab. Ini hangat seperti ada orang yang baru saja masak.
Aku masuk ke dapur. Dan di situlah jantungku berhenti sepersekian detik.
Di atas meja kayu, ada dua piring. Nasi putih masih mengepul. Lauk sayur lodeh dan ikan asin. Masih panas. Kopi hitam di gelas seng masih berasap.
Seperti ada seseorang yang baru selesai makan dan baru saja pergi saat mendengar langkah kakiku.
Aku mundur. "Siapa di sini?! ucapku.
Tidak ada jawaban. Hanya jam dinding tua berdetak sangat keras. "Tik... tik... tik..."
Aku lihat sekeliling. Foto-foto lama masih ada. Foto kakek, foto ibu waktu muda. Dan satu foto yang membuatku merinding.
Foto itu foto aku, waktu umur 5 tahun, digendong kakek di depan masjid tua dusun ini. Masjid kayu kecil yang sekarang sudah hampir roboh.
Di belakang foto itu, ada tulisan tangan kakek yang masih aku hafal: "Arga, ojo lali perjanjian kita karo sing njogo."
Jangan lupa perjanjian kita dengan yang menjaga.
Perjanjian apa? batinku.
Maghrib datang.
Dan keanehan sebenarnya baru dimulai.
Tepat jam 18:05, dari arah masjid tua yang jaraknya 50 meter dari rumah, terdengar suara azan.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar..."
Suaranya sangat merdu. Sangat jernih. Seorang lelaki tua dengan suara berat dan tenang. Membuat hati tenang.
Tapi...
Masjid itu tidak punya pengeras suara. Toa-nya sudah hilang sejak aku kecil.
Dan tidak mungkin ada orang azan di sana. Masjid itu dikunci warga bertahun-tahun karena dianggap angker.
Aku keluar ke teras, menatap masjid itu dari jauh. Gelap. Tidak ada lampu. Tidak ada orang.
Tapi suara azan itu terus berkumandang, seolah dari dalam kepalaku.
Asyhadu alla ilaha illallah...
Saat azan selesai, semua rumah di dusun itu serentak mematikan lampunya. Tiba-tiba gelap total. Hanya rumahku yang masih menyala lampu petromaks yang aku nyalakan.
Dari kejauhan, aku melihat jendela-jendela rumah warga. Ada bayangan orang berdiri di balik jendela dan ada yang mengintip ke arah rumahku. Ke arah masjid.
Mereka tidak keluar. Mereka hanya mengintip.
Dan dari hutan Alas Purwo di belakang rumah kakek, terdengar suara lain. Bukan azan.
Suara tawa anak kecil. Cekikikan. Banyak sekali anak kecil tertawa bersamaan, tapi melengking.
Aku langsung masuk, kunci pintu, dan kunci jendela. Jantungku berdegup kencang.
Di dalam rumah yang katanya bersih sendiri ini, aku sadar aku tidak sendirian.
Di lantai kayu ruang tengah, ada jejak kaki basah. Jejak kaki kecil, seperti kaki anak-anak, yang baru saja masuk dari pintu belakang.
Jejak itu menuju ke kamarku... kamar lama aku waktu kecil.
Dan pintu kamar itu, yang tadi siang tertutup rapat, sekarang terbuka sedikit.
Dari celahnya, ada mata hitam yang mengintipku.