Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Sinyal Bahaya di Samudera Gelap
Jarum jam dinding di ruang istirahat pos keamanan lantai dasar Menara Utama Nugroho Group menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit malam. Dinding kaca ruang istirahat memantulkan bayangan dua orang pria bertubuh tegap yang baru saja menyelesaikan makan malam sederhana mereka. Bagi Arga Dewa Putra, mengambil jatah lembur malam ini adalah pilihan paling rasional demi menambah tabungan kas panti asuhan, sekaligus menyibukkan diri agar tidak terus-menerus memikirkan kerumitan skenario pernikahan kontraknya dengan Nadia.
"Kenyang juga akhirnya, Ga," ujar Irwan, rekan sesama Satpam yang malam itu menjadi mitra satu tim patrolinya. Pria beranak satu itu menyandarkan punggungnya ke kursi plastik sembari menepuk-nepuk perutnya. "Nasi padang seberang jalan memang gak pernah gagal. Sambal hijaunya mantap betul."
Arga mengelap mulutnya dengan tisu, lalu kembali mengenakan masker kain hitam yang menjadi ciri khasnya selama bertugas. "Bener, Wan. Lumayan buat ganjal perut sampai shift lembur kita selesai nanti midnight."
"Lu rajin amat dah, Ga. Perasaan kemarin lu udah ambil lembur pagi, sekarang ambil lembur malam lagi. Seriusan lu gak capek?" tanya Irwan penasaran, sembari merapikan kantong plastik bekas makanan mereka dan membuangnya ke tong sampah.
"Lagi butuh tambahan aja, Wan," jawab Arga santai, suaranya sedikit teredam di balik masker kainnya. "Adik-adik di panti asuhan lagi banyak kebutuhan sekolah bulan ini. Daripada gue bengong di kontrakan gak ada kerjaan, mending ambil jatah lembur di sini. Lumayan kan uang lelahnya."
Irwan menepuk bahu Arga pelan dengan raut wajah kagum. "Salut gue sama lu. Masih muda, fisik kayak atlet, tapi hidupnya lurus banget dan peduli sama sesama. Pantesan Komandan Bambang selalu muji kedisiplinan lu di depan anak-anak shift pagi."
"Biasa aja, Wan. Semua orang kan punya perjuangannya masing-masing," balas Arga sambil berdiri, lalu mengencangkan sabuk dinas yang melingkari pinggangnya, memastikan, pentungan, senter taktis, dan radio panggil terpasang pada posisinya. "Lu sendiri kenapa ngambil lembur malam ini? Bukannya anak lu kemarin sempat demam?"
Irwan mendesah pelan seraya mengambil senternya sendiri. "Udah lumayan mendingan, Ga. Istri gue yang jaga di rumah. Justru karena butuh biaya tambahan buat beli obat racikan sama vitamin anak, gue belain minta tukar shift lembur sama Riko malam ini."
"Alhamdulillah kalau udah mendingan," kata Arga tulus. "Nanti kalau butuh pinjaman atau apa-apa, kabari gue aja, Wan. Jangan sungkan."
"Siap, Ga! Makasih banyak ya," jawab Irwan tersenyum hangat. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. "Yuk ah, udah jam delapan lewat tiga puluh lima. Waktunya kita jalanin patroli ronde pertama buat area parkiran gedung."
"Yuk. Kita mulai dari basement parkiran VIP dulu, baru nanti berputar ke blok umum," tanggap Arga mengangguk setuju.
Kedua petugas keamanan itu melangkah keluar dari pos operasional, menyusuri lorong dingin yang sunyi menuju tangga akses basement. Langkah sepatu laras mereka terdengar berirama, memecah keheningan koridor gedung pencakar langit yang sebagian besar lampunya sudah diredupkan.
Ketika pintu besi kedap suara menuju lantai basement VVIP dibuka, hawa dingin dari pendingin ruangan terpusat langsung menyambut kulit mereka. Lampu-lampu neon panjang memancarkan cahaya putih keperakan, memantul di atas lantai epoksi yang mengkilap tanpa noda.
"Sepi banget ya kalau udah malam begini," bisik Irwan sembari mengarahkan sorot senternya ke sudut-sudut lorong parkir. "Mobil-mobil jajaran direksi juga udah pada balik semua. Tinggal sisa beberapa unit doang di pojokan."
"Iya, mayoritas karyawan kantor pusat kan udah pulang jam lima sore tadi," sahut Arga tenang. "Tapi Bu Nadia kelihatannya masih ada rapat evaluasi di lantai atas. Mobilnya masih nangkring tuh di slot VVIP nomor satu."
Irwan menoleh ke arah sudut utama area parkir VVIP, di mana sebuah sedan Mercedes-Maybach hitam mengkilap berkode pelat nomor khusus terparkir rapi di bawah sorotan lampu LED tergelap.
"Gila ya Bu Nadia," tutur Irwan tertohok pelan. "Cantiknya kayak aktris film, tapi dinginnya minta ampun. Lu pernah ditatap langsung gak sama dia pas bertugas di lobi, Ga?"
Arga terkekeh tipis di balik maskernya, menahan senyum membayangkan interaksi rumitnya dengan Nadia yang tidak diketahui oleh siapa pun. "Sering lah, Wan. Kan tiap pagi gue yang bertugas bukain pintu mobilnya pas dia tiba di lobi VVIP."
"Lu gak merinding apa?" tanya Irwan terheran-heran. "Gue aja kalau papasan sama beliau di lobi lantas disikut pandangannya, rasanya kayak ketemu Ratu Es. Bikin salah tingkah dan gemetaran."
"Biasa aja sih menurut gue, Wan," balas Arga diplomatis. "Mau dingin atau hangat, dia tetap atasan tertinggi kita di gedung ini. Tugas kita cuma memastikan keamanan beliau dan area kantor ini seratus persen terkendali."
"Pikirannya dewasa banget lu, Ga. pantesan gak pernah bikin masalah," puji Irwan.
Mereka berdua berjalan berdampingan melintasi deretan pilar beton raksasa. Namun, ketika jarak mereka tinggal berjarak sekitar sepuluh meter dari posisi parkir mobil Mercedes-Maybach milik Nadia, langkah kaki Arga mendadak terhenti secara tiba-tiba.
Insting beladiri Arga yang sangat tajam dan terlatih sejak kecil mendadak bergejolak hebat. Di udara dingin basement yang hampa itu, Arga merasakan sebuah getaran asing, sebuah hawa membahayakan yang sangat pekat, seolah-olah ada ancaman tersembunyi yang bersemayam tepat di sekitar area mobil mewah tersebut.
Irwan yang mengambil dua langkah lebih maju refleks menghentikan langkahnya dan memutar badan. "Eh, Ga? Kenapa lu berhenti mendadak begitu?"
Arga tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam memicing dari balik masker, menatap lurus ke arah mobil Maybach hitam di depannya. Tangannya terkepal pelan di samping pinggang.
"Tunggu sebentar, Wan," bisik Arga, suaranya berubah menjadi sangat serius dan rendah.
Irwan mengerutkan keningnya, ikut menatap ke arah depan sembari mengarahkan sorot senternya. "Kenapa, Ga? Lu ngelihat ada orang mencurigakan?"
"Gak tahu..." ujar Arga pelan, matanya menyapu setiap celah di sekitar kendaraan tersebut. "Tapi perasaan gue mendadak gak enak banget. Ada hawa aneh dan berbahaya di sekitar mobil Bu Nadia."
Irwan tertawa kecil, berusaha mencairkan ketegangan yang tiba-tiba melingkupi mereka. "Ah, lu jangan bikin gue merinding malam-malam begini dong, Ga! Sepi gini kok, gak ada siapa-siapa. Cuma ada kita berdua di blok VVIP ini."
"Gue gak bercanda, Wan," potong Arga tegas, membuat tawa Irwan terhenti seketika. "Suhu udara di sekitar mobil itu kerasa beda. Ada sinyal bahaya yang bikin bulu kuduk gue berdiri."
Melihat keseriusan di mata Arga, Irwan menelan ludah. Ia ikut memegangi tongkat komando di pinggangnya. "Masa sih, Ga? Lu ngelihat ada bayangan atau suara aneh tadi?"
"Bukan masalah suara atau bayangan," balas Arga sembari melangkah pelan mendekati Mercedes-Maybach itu dengan tingkat kewaspadaan tertinggi. "Ini soal insting. Bantu gue periksa mobil ini secara detail."
"O-oke, oke," sahut Irwan agak terbata, menyusul langkah Arga dari sisi kanan. "Gue bantu sorot bagian samping ya."
Arga berlutut di dekat roda depan sebelah kiri. Dengan bantuan sorot lampu senter taktisnya, ia mengamati kolong mobil, memeriksa apakah ada kebocoran cairan, benda asing yang menempel, atau tanda-tanda pengrusakan pada saluran rem dan suspensi. Matanya menyisir setiap inci permukaan bawah kendaraan dengan sangat teliti.
"Gimana, Ga? Ada yang bocor atau komponen yang lepas gak?" tanya Irwan yang ikut membungkuk memeriksa bagian roda belakang.
"Kelihatannya bersih. Gak ada cairan oli atau bahan bakar yang menetes," jawab Arga gusar. Ia berdiri, lalu memeriksa bagian celah pintu, gagang pintu, hingga sensor spion mobil. "Gagang pintunya juga terkunci rapat. Kaca-kacanya gak ada yang retak atau gores."
"Tuh kan, Ga! Gak ada apa-apa kok," ujar Irwan merasa lega, menyapu peluh tipis di dahinya. "Mungkin lu cuma kecapekan aja gara-gara sering ambil jatah lembur. Otak sama refleks lu jadi agak tegang."
Arga menghela napas panjang di balik maskernya. Ia berdiri tegak, matanya masih menatap lekat-lekat body mobil hitam yang berkilau itu. Sensasi ancaman itu memang tidak meninggalkan bukti fisik di tempat tersebut, namun perasaan janggal di hatinya sama sekali belum surut.
"Mungkin lu bener, Wan... tapi firasat gue jarang meleset kalau udah urusan hawa bahaya begini," gumam Arga pelan.
"Gue paham lu sangat dedikasi sama pekerjaan, Ga" tanggap Irwan sembari menepuk bahu Arga. "Tapi kalau kondisi fisiknya aman, kaca utuh, pintu terkunci, dan sensor indikator mobil gak bunyi, berarti emang gak ada ancaman nyata. Kamera CCTV di atas kita juga nyala terus kan."
Arga mendongak, melirik kamera CCTV dome yang terpasang di langit-langit beton tepat di atas mobil Nadia. "Iya, CCTV-nya aktif."
"Yaudah, mau gimana lagi? Mau kita laporin ke Komandan Bambang sekarang buat minta cek rekaman ulang satu jam terakhir?" tawar Irwan.
Arga berpikir sejenak. Ia sadar, melaporkan firasat tanpa adanya bukti fisik atau kerusakan nyata hanya akan membuat Komandan Bambang menganggapnya berhalusinasi akibat kelelahan lembur.
"Jangan dulu," putus Arga akhirnya. "Kita gak punya bukti apa-apa. Kalau lapor tanpa ada indikasi kerusakan atau sabotase yang jelas, yang ada kita malah dikira bikin kegaduhan tanpa alasan."
"Bener juga sih," setuju Irwan mengangguk-angguk. "Bisa-bisa kita kena tegur karena dianggap panik tanpa sebab. Lagian kasihan Bu Nadia kalau sampai keganggu kerjanya di atas cuma gara-gara laporan yang belum pasti."
"Tapi kita tetap harus ekstra waspada, Wan," pinta Arga menatap rekannya. "Nanti pas Bu Nadia selesai lembur dan mau pulang, kita harus bantu awasi proses beliau keluar dari gedung sampai area jalan raya."
"Siap, Ga! Gue setuju banget sama saran lu. Yang penting kita jalani prosedur keamanan sesuai aturan," sahut Irwan mantap.
Arga memberikan tatapan terakhir ke arah Mercedes-Maybach hitam milik Nadia. Meski logika memperlihatkan bahwa kendaraan mewah itu dalam keadaan sempurna dan aman, naluri tajamnya membisikkan bahwa ada skenario gelap yang sedang bergerak di luar jangkauan pandangan mereka.
"Yuk, Wan. Kita lanjutin patroli ke Blok B sama Blok C," ajak Arga memutar badannya.
"Yuk, meluncur!" balas Irwan bersemangat.
Kedua petugas keamanan itu pun akhirnya melangkah meninggalkan mobil Nadia yang berdiri sunyi di bawah pancaran lampu neon basement. Langkah mereka perlahan menghilang di balik deretan pilar beton, melanjutkan tugas patroli malam menjaga setiap sudut gedung yang megah tersebut.