NovelToon NovelToon
TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Racun Outfit

Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.

Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.

"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."

Lili kira bercanda.

Besoknya lamaran beneran datang.

Kontrak setahun 500 juta.

Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.

Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - BULAN MADU DIRUMAH CAT BIRU

Tiga hari setelah Rina membanting pintu sampai berbunyi BRAK, apartemen lantai tiga puluh dua akhirnya kembali tenang.

Terlalu tenang, malah.

Tiga test pack pemberian Mama masih menempel di atas kulkas menggunakan selotip. Aku sudah berniat membuangnya, tetapi Damian melarang.

“Biarkan saja. Itu dekorasi keluarga.”

“Dekorasi keluarga apanya? Belum ada yang hamil!”

“Siapa tahu test pack-nya kesepian.”

Aku menatap suamiku dengan wajah datar. Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang CEO yang ditakuti satu kantor bisa berubah menjadi manusia paling menyebalkan begitu sampai rumah.

Pukul tujuh malam, aku sedang melipat piyama biru kami ketika Damian keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang.

“Lili, kita bulan madu, yuk.”

Tanganku berhenti melipat.

“Bulan madu?”

“Iya.”

“Ke Bali?”

“Bukan.”

“Lombok?”

“Bukan.”

“Hotel mewah yang ada kolam renang pribadi?”

Damian tersenyum. “Rumah Ibu kamu.”

Aku memandangnya lama sekali.

“Damian, kamu serius?”

“Serius. Aku ingin menginap di rumah biru itu. Aku ingin tidur di tikar pandan, mendengar suara jangkrik, dan merasakan angin sawah lagi.”

“Kamu bisa melakukan itu di hotel dengan suara jangkrik buatan.”

“Aku ingin mengenal tempat kamu dibesarkan, bukan menyewa suasananya.”

Jawaban itu membuatku terdiam.

Selama ini Damian mengenalku sebagai istrinya, perempuan yang tinggal di apartemennya dan kadang membuat kekacauan di dapur. Namun, ada bagian hidupku yang belum benar-benar dia kenal.

Rumah kecil tempat aku tumbuh bersama Ibu. Rumah yang atapnya pernah bocor, dindingnya kusam, dan lantainya sering basah ketika hujan turun deras.

“Kita benar-benar pergi ke kampung?” tanyaku memastikan.

Damian mengangguk.

“Besok pagi. Aku sudah meminta sopir menyiapkan mobil.”

Aku tersenyum lebar, lalu memeluknya.

“Kalau begitu, jangan lupa bawa baju murah kamu. Jangan sampai orang kampung mengira kita mau membuka cabang perusahaan.”

Damian tertawa.

Besok paginya, kami berangkat menggunakan Alphard hitam. Aku membawa beberapa daster, piyama biru kembar, dan bando biru seharga Rp18.000 yang dibelikan Damian untukku.

Sementara itu, Damian membawa kaus putih sederhana, celana pendek, dan lima kaleng cat biru.

Lima kaleng!

“Damian, kita mau bulan madu atau membuka toko bangunan?”

“Dua-duanya boleh.”

“Rumah Ibu sudah dicat biru.”

“Bagian belakangnya mulai kusam. Aku mau memastikan semuanya rapi.”

Aku menggeleng sambil tertawa. Kalung berlian biru pemberiannya sengaja kutinggalkan di apartemen. Aku tidak ingin memakai sesuatu yang mahal ketika pulang ke tempat yang selalu mengingatkanku pada kesederhanaan.

Perjalanan berlangsung beberapa jam. Ketika mobil berhenti di sebuah warung pinggir jalan, Damian turun membeli pisang.

“Dua puluh ribu, Mas,” kata penjualnya.

Damian menyerahkan uang dua puluh ribu dan pergi tanpa meminta kembalian.

Aku langsung menyusulnya.

“Damian! Pisangnya cuma dua sisir kecil!”

“Memangnya kenapa?”

“Kamu tidak boleh begitu saja memberikan uang lebih.”

Dia menatapku lembut. “Dulu kamu juga pernah berjualan, kan? Aku tahu rasanya ketika pembeli datang dan menghargai dagangan kita.”

Aku terdiam.

Terkadang, Damian mengingat hal-hal kecil tentang hidupku yang bahkan tidak pernah kuceritakan panjang lebar.

Sesampainya di kampung, jalanan mulai menyempit. Anak-anak berlarian menyambut mobil kami.

“Bu Lili pulang!”

“Pak Damian datang!”

Aku tertawa mendengar mereka memanggil Damian dengan sebutan Pak, seolah-olah dia kepala desa.

Namun, tawaku berhenti ketika mobil memasuki halaman rumah.

Rumah itu biru.

Dindingnya biru langit. Pintu dan jendelanya biru. Bahkan kandang ayam di samping rumah ikut dicat biru. Seekor ayam berjalan dengan beberapa bulu kebiruan, membuatku hampir tertawa terbahak-bahak.

Di depan rumah terpasang sebuah banner dari kardus.

SELAMAT DATANG LILI DAN DAMIAN DI RUMAH CAT BIRU ANTI HUJAN

SYUKURAN NIKAH SAH

Di bawah tulisan itu ada dua gambar hati yang bentuknya miring.

“Ibu...” bisikku.

Bu Siti keluar dari rumah sambil mengusap tangannya pada celemek.

“Nak!”

Aku langsung berlari memeluknya.

“Ibu, rumahnya jadi biru semua!”

“Iya. Biar kalau hujan, kamu tidak perlu memindahkan kasur lagi.”

Air mataku jatuh.

Aku masih ingat malam-malam ketika hujan turun deras dan air menetes dari atap. Ibu akan memindahkan ember, sementara aku mengangkat kasur kecil kami agar tidak basah.

Sekarang, rumah itu berdiri rapi. Atapnya sudah diperbaiki. Dindingnya cerah. Tidak ada lagi ember yang menampung air hujan di sudut kamar.

Damian berdiri di belakang kami sambil membawa koper dan kaleng cat.

Dia tidak menyela pelukan kami. Dia hanya tersenyum, membiarkan aku menikmati momen bersama Ibu.

Setelah beberapa saat, aku menghampirinya dan menggenggam tangannya.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena kamu membuat Ibu bahagia.”

Damian mengusap kepalaku.

“Aku cuma membantu memperbaiki rumah. Yang membuat Ibu bahagia itu kamu, Lili.”

Malamnya, kami tidur di kamar lamaku yang ukurannya hanya dua kali tiga meter. Kasur kapuk ditumpuk agar cukup untuk kami berdua. Di lantai terbentang tikar pandan baru.

Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada televisi besar. Hanya suara jangkrik, katak dari sawah, dan angin malam yang menyusup lewat jendela.

Aku berbaring miring menghadap Damian.

“Jadi, ini bulan madu kita?”

“Iya.”

“CEO kaya raya menginap di kamar kecil, tidur di kasur kapuk, tanpa AC.”

“Kurang satu.”

“Apa?”

“Suara istri yang cerewet sebelum tidur.”

Aku mencubit lengannya.

“Kalau begitu, besok aku pulang sendiri!”

Damian tertawa, lalu menarikku mendekat.

“Jangan. Aku baru mulai betah.”

Senyumnya perlahan berubah lembut. Dia mengecup keningku.

“Aku senang kamu membawaku ke sini. Sekarang aku mengerti kenapa kamu selalu berusaha keras. Kamu ingin Ibu hidup nyaman, dan kamu tidak pernah melupakan tempat asalmu.”

Aku menunduk. Ada rasa hangat memenuhi dadaku.

“Dulu aku takut kamu malu punya istri seperti aku.”

“Kenapa aku harus malu?”

“Karena aku bukan perempuan kaya. Aku bahkan pernah menghitung uang receh untuk membeli kebutuhan sehari-hari.”

Damian menggenggam tanganku.

“Lili, aku tidak menikah dengan saldo rekening kamu. Aku menikah dengan kamu.”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

Dari dapur, suara Ibu mendadak terdengar.

“Lili! Damian! Besok jangan bangun kesiangan! Orang kampung mau datang untuk syukuran. Kambingnya juga sudah dipesan!”

Aku menutup wajah dengan bantal.

“Bu! Kenapa semua orang tahu soal kambing itu?”

Damian tertawa sampai bahunya berguncang.

“Sepertinya Mama kamu dan Mama aku sudah membentuk panitia.”

“Jangan-jangan mereka juga merencanakan cucu.”

“Kalau itu, kita belum menerima pesanan.”

Aku memukul lengannya pelan.

“Damian!”

Dia kembali tertawa.

Beberapa menit kemudian, Ibu berseru lagi dari dapur.

“Oh iya! Damian, besok kita cat pos ronda juga, ya!”

Aku menatap suamiku tidak percaya.

“Cat biru juga?”

Damian berpikir sebentar, lalu menjawab serius, “Menurutku, seragam warna kampung harus kompak.”

Aku tertawa sampai perutku sakit.

Malam itu, di kamar kecil dengan kasur kapuk dan tikar pandan, aku merasa jauh lebih bahagia daripada ketika pertama kali memasuki apartemen mewah Damian.

Aku tidak membutuhkan hotel mahal untuk merasakan bulan madu.

Aku hanya membutuhkan seseorang yang mau berjalan bersamaku, mengenal masa laluku, menghargai ibuku, dan tidak menganggap kesederhanaan sebagai sesuatu yang memalukan.

Aku menyandarkan kepala di dadanya.

“Damian?”

“Hm?”

“Rumah ini sekarang rumah kita, ya?”

Dia mencium puncak kepalaku.

“Dari dulu juga begitu, Lili. Aku cuma baru sekarang punya kesempatan untuk tinggal di dalamnya.”

Aku memejamkan mata.

Di luar, jangkrik terus bernyanyi. Angin sawah masuk melalui jendela. Rumah biru kami berdiri kokoh tanpa bocor.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak memikirkan kontrak, masa lalu, ataupun ketakutan kehilangan seseorang.

Malam itu, aku tidur dengan tenang.

Sebab aku tahu, kali ini Damian tidak datang sebagai CEO yang menyewa seorang istri.

Dia datang sebagai suamiku.

Dan dia ingin tinggal.

1
sunflower
oh romantisnya sayang sedikit updatenya
sunflower
ya gak ada kelanjutannya
sunflower
ah gengsi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!