NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Because of You

Day 9

"Ara! Kamu semalam pulang jam berapa? Kenapa pulang larut malam?"

Ara yang sejak subuh sudah terlihat rapi langsung terdiam. Papanya menatapnya penuh curiga.

Memang benar, Ara pulang sangat larut malam karena ingin terus menemani Bara. Awalnya ia bahkan berniat menginap di rumah sakit. Namun, Yuvin memaksanya untuk segera pulang karena khawatir kedua orang tuanya akan marah. Dan sekarang, kekhawatiran itu terbukti.

Ara menghela napas pelan.

"Kenapa diam?! Kamu pergi ke mana saja sama pacar baru kamu itu?"

Papa mengangkat ponselnya.

"Papa lihat di Instagram kamu. Dandanannya lebih mirip anak berandalan. Papa nggak mau kalau kamu jadi ikut-ikutan nakal!"

"Pah! Tolong jangan bicara negatif tentang Bara!"

Nada suara Ara meninggi.

"Dia itu anaknya baik, Pah. Ara sayang banget sama dia."

"Biru! Ke sini kamu!"

Biru yang sejak tadi hanya menguping dari balik pintu kamarnya terpaksa keluar.

"Apa kamu kenal pacar baru adikmu ini? Masa baru pacaran sudah berani pulang larut malam."

Biru menggaruk kepalanya. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Lagipula, bukan urusannya jika adiknya berpacaran. Ara sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya sendiri.

"Jangan diam saja, Biru! Kamu kenal Bara atau tidak?"

"Kenal, Pah."

Biru akhirnya menjawab.

"Tapi aku nggak akrab sama dia. Dia orangnya baik dan nggak nakal, meskipun Ara memang sering dijahili sama Bara."

"Abang! Bara udah nggak kayak gitu lagi!"

Ara langsung menyela. Papa pun menghela napas.

"Kalau seperti ini, Papa tetap akan menjodohkan kamu dengan anak teman Papa."

Ara langsung menatap papanya.

"Teman Papa sudah setuju dan kamu harus bertemu dengannya nanti sore."

"Papa..."

"Namanya Revano Anggara. Nanti siang Papa kirim lokasinya."

Papa menatap Ara dengan tegas.

"Awas kalau kamu tidak datang. Papa akan mendatangi Bara dan menyuruh dia menjauhi kamu."

Air mata yang sejak tadi ditahan Ara akhirnya jatuh. Ia sudah menangis hampir semalaman karena Bara belum juga sadar. Ketika ia baru saja memulai hubungan dengan Bara, papanya justru ingin menjodohkannya dengan laki-laki lain. Rasanya semua masalah datang bersamaan.

"Anak Mama kenapa menangis?"

Mama segera menghampiri Ara dan mengusap punggungnya yang masih sesenggukan.

"Papa! Jangan seperti ini. Mama nggak setuju kalau Papa seenaknya sendiri. Pikirkan juga perasaan Ara."

Biru hanya bisa menatap adiknya dengan iba. Ia tahu bagaimana keadaan Bara. Ia juga tahu alasan Ara begitu takut kehilangan laki-laki itu. Namun, ia tidak bisa menceritakan semuanya kepada Papa tanpa izin Ara.

"Mah, aku berangkat dulu, ya? Mau ke tempat Sora."

"Abang antar, ya, Dek."

Biru langsung mengambil kunci motornya dan menghampiri Ara yang sudah menunggu di depan rumah. Begitu keduanya berangkat, Biru tidak langsung menuju rumah Sora.

"Ke rumah sakit, kan?"

Ara hanya mengangguk. Ia kemudian membonceng di belakang Biru sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang kakaknya.

Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam. Biru tahu Ara pasti sedang memikirkan keadaan Bara. Dan Ara sendiri hanya berharap satu hal. Semoga ketika ia sampai di rumah sakit nanti, Bara sudah benar-benar sadar.

...---...

Instagram

aramoana_:

Sayang @barasamudera aku tahu kamu kuat!!!😭

Comments:

sorazura_:

Bara kuat kok, Ra! Jangan patah semangat!!! 💪💪💪

yuvindipt:

Bara udah sadar, Ra. Lo mau ke rumah sakit jam berapa?

biru_namaku:

Sorry ya, Dek. Abang nggak bisa bantu waktu Papa nanyain Bara. Kalau kamu ngebolehin Abang buat jujur, Abang bakal bantu jelasin ke Papa. 🙏🏻

yohan.dewa:

Ra, jam berapa lo bakal ke sini? Gue ngantuk banget ini. Kalau lo udah nyampe sini, bangunin gue. Gue mau molor bentar. 😪

...---...

"Bara? Lo udah sadar?"

Yuvin yang terjaga semalaman untuk menjaga Bara akhirnya bisa tersenyum lega ketika melihat Bara membuka kedua matanya.

Bara mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Namun, senyumnya perlahan menghilang. Ia tidak melihat Ara di sampingnya. Hanya Yohan yang masih tertidur pulas di sofa.

"Lo nyari Ara?"

Yuvin tersenyum kecil.

"Sebentar lagi dia paling juga ke sini."

Bara menghela napas lega.

"Sorry. Gue jadi ngerepotin lo sama yang lainnya."

"Gue kan udah jadi teman lo juga, Bara. Santai aja."

Yuvin menepuk bahunya.

"Lagian, gue satu-satunya teman cowok yang paling dipercaya sama Ara. Jadi, lo juga bisa percaya sama gue."

Bara tersenyum kecil.

"Kalau gitu, gue boleh minta tolong sama lo nggak?"

"Ya boleh, dong. Lo mau apa?"

"Bisa anter gue ke toilet?"

Bara menahan ekspresi malunya.

"Gue kebelet."

Yuvin langsung tertawa.

Permintaan itu sebenarnya sangat wajar bagi seorang pasien yang baru sadar dan masih dalam kondisi lemah. Namun, Yuvin tetap tidak habis pikir kenapa Bara masih merasa tidak enak meminta bantuan.

Ia segera membantu Bara bangun sambil memastikan selang infusnya tidak tertarik.

"Kaki gue lemes banget, Vin."

Bara menatap kedua kakinya.

"Pakai kursi roda aja, gimana? Gue pasti berat banget."

"Udah telanjur."

Yuvin menggeleng.

"Tenang aja. Gue kuat ngegendong lo, kok. Apalagi kita sama-sama cowok. Jadi lo nggak usah malu sama gue."

Yuvin kemudian menatap jam tangannya.

"Tapi habis lo dari toilet, gue mau keluar sebentar. Mau ke supermarket. Nggak apa-apa, kan?"

"Oke. Nggak apa-apa."

Yuvin membantu Bara menuju toilet. Dengan telaten, ia membantu Bara buang air dan membasuh wajahnya.

Bahkan, saat itu Yuvin sudah terlihat seperti perawat pribadi Bara. Bara tetap merasa tidak enak kepada teman yang baru beberapa hari dekat dengannya itu.

Namun, ia tidak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa. Ia malu meminta bantuan kepada perawat perempuan. Apalagi jika harus merepotkan Ara. Jadi, Yuvin adalah pilihan yang paling masuk akal.

Setelah selesai, Yuvin memilih menggendong Bara karena laki-laki itu sama sekali belum kuat berjalan. Dan inilah yang sejak awal ditakutkan Yuvin. Kondisi Bara tampaknya semakin memburuk.

Ia hanya khawatir jika Ara kembali terpukul ketika mengetahui bahwa kemampuan berjalan Bara pun mulai terganggu.

Lagipula, ayah Yuvin adalah seorang dokter. Karena itu, ia sedikit memahami kondisi yang sedang dialami Bara.

Meskipun ayahnya merupakan dokter spesialis anak dan tidak bisa membantu menangani kondisi Bara secara langsung, setidaknya Yuvin masih berusaha melakukan apa pun yang bisa ia lakukan.

Bukan hanya karena Bara sudah menjadi temannya. Tetapi juga karena ia tidak tega melihat Ara terus-menerus bersedih.

"Gue keluar sebentar."

Yuvin menurunkan Bara ke atas ranjang.

"Kalau lo butuh apa-apa, lempar aja si Yohan pakai gelas yang ada di nakas. Biar dia bangun."

Bara tertawa kecil.

"Oke."

Yuvin kemudian keluar dari kamar. Bara menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil menunggu Ara datang. Namun, rasa penasaran terhadap kondisi kakinya membuatnya kembali mencoba berdiri.

Ia menurunkan kedua kakinya ke lantai. Perlahan, Bara mendorong tubuhnya untuk bangun. Namun, baru saja berdiri, kedua kakinya langsung kehilangan tenaga.

Bruk!

Tubuh Bara jatuh ke lantai. Anehnya, suara tersebut tidak cukup untuk membangunkan Yohan yang masih tertidur pulas di sofa.

"Vin?"

Suara Ara terdengar dari luar kamar.

"Bara udah sadar, belum?"

Ara membuka pintu.

Namun, begitu melihat Bara tergeletak di lantai, wajahnya langsung berubah.

"LohㅡBara?!"

Ara berlari menghampirinya.

"Kamu kenapa ada di lantai?!"

Biru yang berada di belakang Ara ikut terkejut. Sebenarnya, ia hanya berniat mengantar Ara sampai rumah sakit. Namun, karena penasaran dengan kondisi Bara, akhirnya ia ikut masuk ke ruang rawat.

Biru segera membantu Bara bangun, dibantu Ara yang wajahnya kembali dipenuhi kekhawatiran.

"Aku lagi-lagi ngerepotin orang lain."

Bara menundukkan kepala.

"Maaf. Tadi aku cuma pengin coba jalan, tapi kakiku rasanya lemes banget."

Ia kemudian menatap Ara.

"Kalau aku nantinya lumpuh, kamu juga nggak boleh sedih."

Ara mematung. Kalimat itu terasa seperti hantaman keras di dadanya.

Biru yang berdiri di sampingnya hanya bisa menghela napas pelan sambil mengusap pundak adiknya.

"Ra?"

Bara menggenggam tangan Ara.

"Ingat! Kamu nggak boleh bersedih meskipun kondisiku semakin parah."

Bara tersenyum tipis.

"Kalau kamu ingkar janji, lebih baik kamuㅡ"

"Iya, iya!"

Ara buru-buru menyela.

"Nggak perlu ngingetin aku berkali-kali."

Ia kemudian memeluk Bara.

"Aku itu kangen sama kamu."

Bara langsung tersenyum.

"Hah? Kan kemarin kita baru aja jalan berdua, sayang. Kamu udah kangen lagi?"

"Tiap detik juga aku selalu kangen sama kamu."

"Bucin banget, sialan!"

Biru langsung berkomentar dari samping.

Ara mencibir.

"Abang diem!"

Ia kemudian menunjuk pintu.

"Bang, bangunin Yohan terus bawa dia keluar."

"Hah?"

"Aku mau ngomong berdua sama Bara."

"Iya, Baginda Ratu."

Biru menghela napas dramatis.

"Punya adik satu begini banget, ya? Abangnya aja masih jomblo. Tega banget kamu, Ra!"

Bara tertawa kecil.

"Sayang, sama kakak sendiri jangan kayak gitu."

Ara hanya mengendikkan bahu.

Tidak lama kemudian, Biru berhasil membangunkan Yohan dan menyeretnya keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, Ara langsung duduk di pinggir ranjang.

Ia memeluk Bara. Bara pun segera membalas pelukan tersebut, mendekap Ara erat seolah takut perempuan itu akan kembali pergi.

"Ya, namanya juga saudara kandung, sayang."

Ara mengusap punggung Bara.

"Habisnya aku selalu diledekin sama Bang Biru. Emangnya salah kalau aku bucin sama kamu?"

Ara mendongak.

"Kan nyatanya kamu memang cinta pertama aku."

Bara terdiam.

"Aku baru mengenal cinta juga waktu ketemu kamu."

Bara tersenyum.

"Kok sama?"

Ia mengusap rambut Ara.

"Jujur, kamu juga cinta pertama aku, Ra."

"Hah?"

Ara langsung menatapnya.

"Yang bener?"

"Iya."

Bara mengangguk.

"Cinta pada pandangan pertama, lebih tepatnya."

Ara terdiam.

"Aku juga baru mengenal arti cinta setelah ketemu kamu."

"Bara..."

"Kenapa, hmm?"

"Gak apa-apa."

Ara tersenyum.

"Aku cuma ngerasa bahagia aja."

Ara kemudian menangkup wajah Bara dengan kedua tangannya. Mereka saling menatap. Bara perlahan mendekat, lalu mengecup bibir Ara.

Ara sempat terkejut, tetapi kemudian membalasnya sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Bara. Ciuman itu berlangsung singkat namun membuat keduanya terbawa suasana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!