Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Keheningan di meja VIP itu benar-benar pekat. Aldo, Kevin, dan beberapa teman lainnya menatap Isabel dengan rahang yang nyaris jatuh ke lantai. Sementara itu, Alana mematung dengan wajah yang mulai memerah karena menahan malu dan amarah yang meletup-letup.
Tanpa memedulikan tatapan lapar dari teman-teman Marco, Isabel melangkah memutar dan langsung duduk di sebelah Marco. Ia menggeser tubuhnya begitu rapat hingga paha mereka bersentuhan. Dengan gerakan luwes dan elegan, Isabel mengalungkan kedua lengannya ke lengan kekar Marco, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan manja.
"Siapa kau?!" desis Alana tajam, matanya menyorotkan kilat permusuhan. "Jangan berani-berani ikut campur urusan kami!"
Isabel tersenyum sangat manis. Senyum yang begitu memukau, namun memancarkan aura dominasi yang mutlak.
"Urusan kalian?" Isabel tertawa kecil, suara seraknya mengalun merdu. "Tentu saja aku harus ikut campur. Pria yang lututnya baru saja kau sentuh dengan tangan kotormu ini adalah kekasihku."
Marco tersentak. Ia mencoba menarik lengannya, namun Isabel justru mempererat pelukannya dan diam-diam mencubit pinggang Marco dari balik jasnya.
Aw! Marco meringis tertahan, menoleh tajam pada wanita di sebelahnya. Namun, sebelum Marco sempat melontarkan protes, Isabel kembali menatap teman-teman Marco.
"Maafkan aku ya, semuanya. Aku baru bisa bergabung," sapa Isabel dengan nada ramah yang dibuat-buat. Jari-jarinya dengan sengaja mengusap dada bidang Marco dengan gerakan lambat dan menggoda. "Habisnya, pria tampanku ini kadang suka lupa waktu kalau sudah urusan pekerjaan. Jadi aku harus turun tangan langsung menyusulnya kemari."
Aldo yang baru sadar dari keterkejutannya langsung bersiul nyaring. "Gila! Marco! Kau benar-benar menyembunyikan bidadari secantik ini dari kami?!"
"Sumpah, kau curang sekali, Kawan!" sahut Kevin heboh, menepuk meja.
Melihat bagaimana teman-teman Marco langsung terpesona pada Isabel, Alana merasa posisinya sebagai primadona terancam. Ia berkacak pinggang dan memasang wajah penuh keprihatinan yang dibuat-buat.
"Marco, sadarlah. Berapa uang yang kau keluarkan untuk menyewa wanita ini?" tuduh Alana sok suci, menatap Marco dengan iba. "Kau tidak perlu merendahkan dirimu sendiri sampai menyewa pendamping hanya karena kau masih patah hati karena aku. Kau itu pria yang baik."
Isabel mengangkat sebelah alisnya. "Menyewa? Patah hati? Astaga, Nona. Percaya dirimu tinggi sekali sampai menyentuh plafon kelab ini."
"Aku tidak bicara padamu, Wanita Murahan!" bentak Alana, wajah cantiknya mulai berkerut jelek. Ia kembali menatap Marco dengan tatapan memelas.
"Marco, tolonglah. Aku sangat mengenalmu luar dalam. Aku tahu persis selera wanitamu! Kau itu menyukai wanita yang sederhana, polos, baik hati, dan apa adanya. Bukannya wanita ber-makeup tebal dengan gaun kurang bahan yang jelas-jelas cuma mengincar hartamu ini!"
Mendengar pidato sok suci itu, Isabel tidak marah. Ia justru meledak dalam tawa yang luar biasa merdu, seolah baru saja mendengar lelucon terbaik abad ini.
"Polos? Baik hati? Apa adanya?" ulang Isabel di sela tawanya, lalu menatap Alana dengan tatapan setajam silet. "Maksudmu, wanita 'baik hati' yang menipunya demi makan gratis lalu membuang perasaannya di lapangan kampus demi sebuah taruhan konyol? Wah... standar kesucianmu unik sekali ya, Nona. Kalau yang seperti itu disebut suci, aku lebih rela jadi utusan iblis sekalian."
Aldo dan Kevin serempak menutup mulut mereka, menahan tawa. "Buset, pedas banget!" bisik Kevin pada Aldo.
Wajah Alana merah padam seperti kepiting rebus. "I-itu kan masa lalu! Setidaknya aku tidak palsu seperti dirimu! Aku tahu Marco tidak mungkin menyukai perempuan sepertimu!"
"Oh, Sayangku," Isabel mencondongkan tubuhnya, menopang dagu dengan satu tangan sambil membelai lengan Marco dengan tangan lainnya.
"Selera orang itu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Dulu, dia mungkin puas hanya dengan mengunyah jajanan kaki lima yang kelihatannya manis tapi ternyata beracun dan bikin sakit perut."
Isabel menatap Alana dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang sangat merendahkan. "Tapi sekarang? Maaf saja, level Tuan Maverick ini sudah naik kelas. Dia sudah tahu rasanya dikhianati barang murahan, jadi sekarang dia hanya menerima hidangan fine dining kelas premium sepertiku. Lihat aku baik-baik! Dari atas sampai bawah, bukankah terlihat benar-benar empuk dan nikmat? Sementara kau?" Isabel tertawa mengejek.
"Dari atas sampai bawah... semuanya benar-benar hanya tulang tanpa daging. Siapa yang mau makan? Enaknya dimana?" lanjutnya merendahkan.
"Kurang ajar!" jerit Alana tak terima. "Kau cuma lintah! Kau cuma perempuan matre yang mengincar kekayaannya!"
Suasana di meja itu menegang. Namun Isabel membalasnya dengan senyum angkuh yang luar biasa percaya diri.
"Tentu saja aku matre," aku Isabel tanpa rasa malu sedikit pun, membuat rahang Alana nyaris lepas.
"Perempuan memang sudah sewajarnya matre, Nona Sok Suci. Bersikap realistis adalah cara wanita cerdas bertahan hidup. Memangnya cinta dan omong kosong soal kenangan masa lalu bisa membayar tagihan perawatan kulitku yang harganya seratus kali lipat dari gaun musim lalumu itu?"
Mata Alana melotot tak percaya melihat betapa beraninya wanita ini mengakui hal itu di depan Marco dan teman-temannya.
"Kau gila! Kau dengar itu, Marco?!" seru Alana panik. "Dia mengakuinya! Dia hanya memanfaatkanmu!"
Namun Marco hanya diam mematung, menahan napas karena cubitan maut Isabel di pinggangnya belum juga lepas.
"Biar kuperjelas satu hal padamu, Alana," ucap Isabel lambat-lambat, nadanya sangat mengintimidasi. "Lebih baik menjadi perempuan matre secara terang-terangan dan berkelas sepertiku, daripada berpura-pura menjadi malaikat berhati suci tapi aslinya parasit tukang memanfaatkan orang. Bukankah begitu?"
"Whoooooaaa!!" Aldo dan Kevin serempak bersorak histeris, menggebrak meja dengan penuh semangat. "Skakmat telak! Gila, pacarmu ganas sekali, Marco! Keren sumpah!"
Isabel mengangkat gelas whiskey milik Marco, menyesapnya sedikit, lalu mengangkatnya ke arah Alana seolah bersulang.
"Jadi, aku justru ingin berterima kasih padamu," ucap Isabel dengan senyum kemenangan. "Jika dulu kau tidak menolaknya dan membuang berlian ini ke jalanan, maka mungkin aku tak akan pernah punya kesempatan untuk berada di sampingnya sekarang. Terima kasih banyak ya, Nona Masa Lalu. Silakan pergi. Aku benci ada perempuan lain yang dengan terang-terangan mau menggoda priaku."
Air mata penghinaan akhirnya menetes dari pelupuk mata Alana. Tak sanggup menanggung rasa malu yang luar biasa di depan teman-teman kampusnya, wanita itu menyambar tas tangannya dan berlari sekencang mungkin meninggalkan meja VIP itu.
Melihat kepergian musuhnya, Isabel tersenyum puas. Ia kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Marco, dan kali ini ia dengan sengaja memeluk leher pria itu lebih erat. Hidungnya nyaris menyentuh rahang Marco.
Mendapat serangan kemesraan yang tiba-tiba itu, Marco yang sejak tadi diam seperti patung, akhirnya tak tahan lagi. Tubuhnya kaku seperti papan selancar.
Marco memiringkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Isabel.
"Menjauhlah sedikit, Wanita Sinting," bisik Marco penuh penekanan, suaranya terdengar panik dan frustrasi. "Parfummu membuatku pusing! Dan singkirkan tanganmu dari dadaku sebelum aku memanggil pihak keamanan kelab!"
Bukannya menurut, Isabel justru terkekeh pelan. Ia sengaja menggesekkan hidungnya ke kerah kemeja Marco, membuat pria itu menahan napas.
"Tidak mau," bisik Isabel membalas di telinga Marco, napas hangatnya sengaja ia hembuskan di sana. "Aku suka berdekatan denganmu. Levelmu sudah naik kelas bersamaku sekarang."
"Kau ini gila ya?!" desis Marco dari sela-sela giginya, matanya melotot memperingatkan.
Teman-temannya di seberang meja sedang asyik bersorak menggoda kemesraan mereka. "Lepaskan aku!"
"Diamlah!" ancam Isabel pelan, mencubit pinggang Marco sekali lagi. "Kau mau sandiwara hebat kita terbongkar dan mereka mengira kau benar-benar hanya menyewa aktris pinggir jalan? Diam saja, Tuan Maverick, dan nikmati pertunjukannya."
Sialan. Marco menggertakkan giginya menatap tawa riang Aldo dan Kevin. Wanita ini benar-benar ular berbisa, tapi entah mengapa... mulut pedasnya baru saja mengobati sebagian besar luka lama yang selama ini menggerogoti hati Marco.
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semangat Marco ,,
semangat liaa or Isabella ,,
kejam banget sih itu memang cewek 😡
jgn bermimpi bisa dapetin Marco Alana ,, pawang skarang ganas meski belum resmii ,, tp ttap hati2 ,,