"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Kak Satria Stres
Suara langkah kaki yang berat namun teratur tiba-tiba terdengar dari arah koridor kamar bawah. Jantung Keisha langsung mencolot ke tenggorokan. Ia menoleh dengan patah-patah ke arah pintu masuk dapur.
Di sana, berdiri Satria.
Pria itu hanya mengenakan kaos oblong hitam polos dan celana pendek santai. Rambut cepaknya sedikit berantakan khas orang bangun tidur, namun auranya tetap saja terlihat kokoh. Tangan kanannya memegang sebuah botol susu kosong milik Rafka. Tampaknya, anak itu terbangun karena haus di tengah malam.
Keisha langsung memutar tubuhnya kembali menghadap kompor, mendadak berpura-pura sangat sibuk mengaduk mi yang sebenarnya sudah matang. Sifat barbarnya mendadak menguap, digantikan oleh rasa canggung yang luar biasa tinggi hingga tangannya agak gemetar memegang sudip.
Satria melangkah masuk ke dapur tanpa suara, berjalan menuju dispenser yang terletak tak jauh di sebelah kompor untuk mengisi botol susu anaknya dengan air hangat.
"Belum tidur?" tanya Satria. Suaranya terdengar lebih serak dan berat khas bangun tidur, bergema pelan di kesunyian dapur.
"Eh? E-enggak bisa tidur, Kak. Kelaparan," jawab Keisha tanpa menoleh, matanya melotot menatap air mendidih di panci. "Ini ... lagi bikin Indomie. Kakak sendiri ngapain?"
"Rafka haus," jawab Satria pendek. Suara gemercik air yang mengisi botol susu terdengar ritmis, menambah intensitas kecanggungan di antara mereka.
Keisha buru-buru mematikan kompor, lalu menuangkan mi ke atas piring bumbu. Ia mengaduknya dengan kecepatan penuh, berharap bisa segera kabur dari dapur secepat mungkin. "Oh, Rafka haus. Ya udah, Kak, gih samperin Rafka. Kasihan anaknya nungguin."
Satria menutup botol susu tersebut, namun ia tidak langsung berjalan pergi. Pria itu justru mengalihkan pandangannya, menatar punggung Keisha yang tampak kaku membelakanginya.
"Keisha," panggil Satria pelan.
Keisha menghentikan adukannya, menelan ludah dengan susah payah. Pura-pura sibuknya kini gagal total. Dengan perlahan, ia membalikkan tubuhnya, menatar kakak iparnya sembari memeluk piring mi gorengnya seolah benda itu adalah perisai pelindung diri.
"Kenapa, Kak?" tanya Keisha dengan nada yang diusahakan se-cuek mungkin.
"Ucapan Kakak yang di depan dispenser tadi ... jangan dianggap sebagai angin lalu," ucap Satria datar namun sangat tenang. Sepasang mata hitam pekatnya menatar lurus ke dalam manik mata Keisha. "Kakak serius dengan setiap kata yang Kakak ucapkan."
Wajah Keisha kembali terasa memanas seketika di tengah malam buta itu. "Kak Satria ih! Tolong deh, jangan dibahas lagi. Ini udah tengah malam, waktu yang sangat tidak estetik buat membahas masa depan!" cerocos Keisha absurd, menutupi kegugupannya. "Lagian, kayak nggak ada perempuan lain di dunia ini aja. Kakak itu cuma kelamaan menyendiri, makanya sasarannya melenceng ke aku."
Satria tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Ia tetap tenang bagai batu karang. "Kakak tidak tertarik mencari perempuan lain. Kakak hanya ingin kamu."
"Tapi aku ini adik ipar Kakak! Tantenya Rafka!" seru Keisha dengan suara setengah berbisik namun penuh penekanan, geregetan dengan kekerasan kepala pria di depannya. "Selama ini kan kita lempeng-lempeng aja. Dianggap aku adik, aku juga anggap Kak Satria seperti kakak. Besok-besok kalau Kakak butuh calon istri, biar aku aja yang bantu carikan jodoh dari kampus aku! Asisten dosen aku ada yang spek premium, nanti aku kenalin!"
Satria memajukan langkahnya satu kali, membuat Keisha refleks mundur hingga pinggangnya menyentuh pinggiran konter kompor.
"Kakak tidak butuh dicarikan jodoh, Keisha," potong Satria, suaranya merendah namun getaran perintah di dalamnya begitu mutlak. "Kakak juga tidak butuh spek premium yang kamu katakan. Rafka hanya mau kamu, dan Kakak juga hanya mau kamu. Pikirkan itu baik-baik sebelum lusa kita pergi."
Setelah menjatuhkan kalimat penegas yang kembali membuat fungsi otak Keisha korslet massal, Satria berbalik dengan tenang. Ia berjalan keluar dari dapur membawa botol susu anaknya, melangkah kembali menuju kamar bawah tanpa menoleh lagi, meninggalkan atmosfer dapur yang mendadak terasa membeku.
Keisha melongo di depan kompor, memegangi piring mi gorengnya yang mulai mendingin. Jantungnya berdegup ugal-ugalan tak karuan.
"Mayor es balok baperan! Bikin orang jantungan tengah malam aja hobinya!" gerutu Keisha gemas setengah berbisik sembari mengacak rambutnya sendiri dengan absurd. Rencana perjodohan yang baru saja ia susun di dalam kamarnya hancur berantakan bahkan sebelum subuh menjelang, menyisakan kebingungan yang teramat dalam di bawah ketenangan mutlak sang Mayor.
***
Keesokan paginya, langit baru saja menyemburkan semburat jingga ketika Keisha menuruni anak tangga dengan langkah diseret. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa, menyerupai kertas buram yang diremas asal-asalan. Kantong mata yang menghitam di bawah kelopak matanya menjadi saksi bisu betapa mi instan tengah malam sama sekali tidak membantu menidurkan otaknya yang sudah telanjur korslet akibat ucapan Satria.
Begitu melangkah ke arah ruang makan, Keisha langsung mendapati pemandangan yang membuat tensi darahnya naik sepuluh bar.
Di sana, di sekeliling meja makan jati, atmosfernya terasa sangat padat. Ayah Farrel duduk santai dengan kacamata baca bertengger di hidung, matanya yang bijak tampak mengamati gerak-gerik anak bungsunya sejak menapakkan kaki di ubin dapur. Sementara itu, Ibu Dania sibuk mondar-mandir menghidangkan nasi goreng cakalang dan piring berisi telur mata sapi yang asapnya masih mengepul.
Di kursi tengah, Rafka sudah duduk rapi dengan kemeja kotak-kotak seragam TK-nya, sibuk mengayun-ayunkan kaki mungilnya yang berkaos kaki putih. Tepat di sebelah bocah itu, duduk sang Mayor. Satria sudah tampil sangat prima dengan seragam dinas harian (PDH) hijau lumut lengkap dengan atribut pangkat melati satu di pundak. Kemejanya disetrika begitu licin tanpa cela, menampilkan kesan kaku, berwibawa, dan sangat kokoh di pagi hari.
"Pagi, Keisha. Muka kamu kok lecek begitu? Kayak cucian belum diperas," celetuk Ayah Farrel, melipat koran paginya.
Keisha tidak menjawab. Ia langsung mengempaskan tubuhnya di kursi tepat di hadapan Satria, bertopang dagu dengan kasar. Matanya melotot tajam menatar kakak iparnya. Namun, yang ditatar tetap konstan: tenang, datar, dan menyendok nasi gorengnya dengan ritme militer yang presisi.
"Nih, makan yang banyak. Jangan cemberut terus pagi-pagi, pamali," ujar Ibu Dania sembari meletakkan sepiring nasi goreng di depan Keisha.
Keisha mengabaikan nasinya. Ia memajukan tubuhnya ke arah meja, menatap lurus pada Satria yang baru saja meletakkan sendoknya untuk meminum air putih.
"Kak Satria," panggil Keisha, suaranya sengaja ditekankan, siap membuka genderang perang.
Bersambung...