NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:113
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19_Belajar menerima diri

Dia terus menatap dan tersenyum tipis ke arahku, matanya menyipit meremehkan, urat hitam di wajahnya berkedut.

"Jadi... kau benar-benar akan bertarung melawanku?? Kau bodoh ya??" Senyumnya miring sinis.

Aku mengerutkan alisku, rahangku mengeras, wajahku merah marah.

"Aku serius, aku sekarang sangat ingin menghajar dirimu!!" Mataku melotot, kepalan mengepal.

Dia berjalan ke arahku sambil terus memegangi buku itu, langkahnya santai angkuh.

"Baiklah, jika itu maumu." Urat-urat hitam mulai muncul di bagian tubuh kanannya, menyebar. "Tapi asal kau tahu, aku lebih kuat darimu." Buku itu menghilang.

*Wung...*

Lalu dia langsung menerjang ke arahku dengan sangat cepat.

*Wush!!*

Aku langsung membuat rantai untuk mengekangnya, wajahku tegang.

"Jangan remehkan aku!!" Aku langsung membuat pedang dan balik menerjang ke arahnya, mata tajam.

Dirinya berhasil lepas dari kekangan rantaiku dan mulai menyerangku, pertarungan pun terjadi, saling hantam.

Aku menebasnya dengan sekuat tenaga... namun dia juga memukulku dengan sekuat tenaga. Adu serangan itu membuat ruang arsip mengalami kerusakan yang cukup besar, lantai hancur dan buku-buku di ruangan itu berterbangan kemana-mana.

*Duar!! Brak!!*

Aku terus menebasnya tanpa ragu dan berhasil beberapa kali memberi luka ke tubuhnya, wajahku meringis ngot, tapi dia tidak menyerah juga dan beberapa kali memukulku dengan sangat keras, wajahnya puas kejam.

Kami pun menendang satu sama lain dan melompat mundur, luka-luka yang kami alami juga mulai sembuh seketika.

*Bug!*

*Tap! Tap!*

Nafasku terengah-engah, aku menatap ke arahnya, wajah pucat berkeringat.

_Kemampuannya yang bisa menyerap sebagian mana benar-benar merepotkan._

Nafasnya terengah-engah, dan dia tersenyum lebar ke arahku, mata merah menyala.

_Sudah kuduga, kemampuannya untuk membuat benda benar-benar sangat merepotkan._ Dia melapisi sebagian tubuhnya dengan mana hitam.

*Wung...*

Alisku mengkerut, aku menggenggam erat pedangku, urat-urat hitam mulai muncul di bagian tubuh kiriku, mata membelalak.

"Sepertinya aku hanya bisa bertaruh pada amukan mana ini..." Suaraku berat menahan sakit.

Dia menunjuk ke arahku lalu tersenyum lebar, alis terangkat kagum.

"Hehh... tak kusangka kau bisa menggunakan Bloody Mana." (Memasukkan mana ke dalam darah dan otot, lalu memadatkannya)

Aku tersenyum ke arahnya, wajahku menahan nyeri.

"Jadi kau menamainya seperti itu ya, tidak buruk..." Aku mengubah pedangku menjadi sebuah sabit besar, mata tajam. "Kalau begitu akan ku namakan ini Legacy Creations Mana." (Menciptakan benda atau senjata dari mana)

Kami berdua saling menatap tajam, senyum di wajah kami tidak bisa ditutupi lagi, mata sama-sama berapi, kemudian kami menerjang satu sama lain dan mulai melancarkan banyak serangan ke arah satu sama lain.

*Clang! Clang! Wush!*

Beberapa kali aku terkena pukulan yang menembus dagingku, wajahku meringis kesakitan.

_Kekuatan pukulannya benar-benar sangat gila, jika saja aku tidak menggunakan Bloody Mana (Memasukkan mana ke dalam darah dan otot, lalu memadatkannya) mungkin saja pukulannya bisa menembus tubuhku._

Beberapa kali aku berhasil menebas cukup dalam dan itu berhasil membuatnya meneteskan banyak darah, wajahnya meringis tapi senang.

_Berbeda dengan tadi, kali ini dia berhasil memberikan luka yang cukup dalam menggunakan sabit itu._

Aku mendorong sabitku ke arahnya dengan sekuat tenaga, namun dia menahannya juga dengan tangannya, alis kami berdua sama-sama mengkerut dan kami saling menggertakkan gigi, wajah memerah.

Aku mulai memunculkan rantai di lantai belakangnya dan berhasil mengikatnya dengan erat, tapi dia tidak menyerah dan malah menarik rantai itu dengan sekuat tenaga, yang mengakibatkan bongkahan lantai yang tertancap oleh rantai itu terangkat, mata menyipit kuat.

*Clank! Graak!!*

Kemudian dia melemparnya ke arahku, mataku membelalak melihat lantai itu mengarah ke arahku, wajahku panik. Dia melihat kesempatanku yang sedang lengah dan kemudian menendangku, setelah itu dia melompat ke samping untuk menghindar.

*Wush!*

Aku langsung menebas bongkahan lantai itu menjadi dua bagian, tapi yang tidak kusangka adalah ada bongkahan berukuran sedang muncul dari bongkahan besar itu, lalu bongkahan lantai itu menabrak tubuhku dengan keras.

*BROKK*

Bongkahan lantai itu pun terbelah menjadi dua, mataku membelalak, tubuhku terpental di udara, wajahku meringis.

*KRAKK... KRAKK*

Tulang-tulang di tubuhku mulai patah, aku memejamkan mataku, wajahku pucat menahan sakit luar biasa.

_Sakit... sudah lama sejak aku tidak merasakan rasa sakit ini, padahal aku sudah berlatih sangat keras untuk melatih tubuhku selama di sini, aku terus merobek otot yang ada di tubuhku lalu membiarkannya pulih dengan cepat._

Saat aku membuka mataku, aku melihat dia yang muncul dari balik puing-puing, tubuhnya sudah dilapisi mana putih, lalu tangannya sudah berada di depanku, lalu dia tersenyum lebar kejam, mata menyala.

"Sudah berakhir..."

Sebelum pukulannya mendarat di wajahku aku menciptakan rantai berlapis-lapis untuk menghalangi pukulannya, namun itu tidak bekerja dengan baik, rantai-rantai itu tetap hancur dan dia berhasil memukulku dan membuatku terpental ke tembok.

*Clank! Duar!!*

Kepalaku tertunduk, tanganku gemetar, nafasku mulai terasa sesak, darah di bibir.

"Sial... walau aku sudah mengurangi dampak pukulannya, itu tetap sangat sakit." Wajahku pucat menahan nyeri.

Dia berjalan ke arahku dengan pelan, nafasnya terengah-engah, wajahnya puas tapi sayu.

"Kau benar-benar sangat kuat... tapi sayang, kau sama sekali tidak berniat membunuhku." Matanya menatapku iba.

Aku mengangkat wajahku lalu aku tersenyum kepadanya, mata berkaca.

"Bagaimana bisa aku membunuh diriku sendiri." Aku batuk dan mulai muntah darah.

*Uhuk!*

Dia pun duduk dan menundukkan kepalanya, wajahnya lemas sedih.

"Kau berjuang sekeras ini untuk mendapatkan jawaban tentang diriku kan??" Dia memegangi kepalaku dan tersenyum tipis sedih, mata berkaca. "Kalau begitu biar aku beritahu... tentang sebuah kebenaran."

Pandanganku mulai hilang, mata sayu, dan kemudian aku terbaring tidak sadarkan diri.

*Bruk...*

[Kilas Balik]

Aku versi kecil sedang berjalan di lorong istana, sambil memegangi sebuah kertas bergambar, wajahku ceria polos.

"Aku yakin, ibu akan sangat senang setelah melihat ini." Aku berjalan dan akhirnya menyadari bahwa aku tersesat, mata bingung.

"Ehh... aku ada di mana??"

Aku terus melihat ke arah kanan dan kiri, wajah panik kecil.

"Bagaimana ini?? Aku sama sekali tidak tahu ada di mana." Aku melihat ada seorang pelayan perempuan, mata berbinar harap.

Aku langsung berlari ke arahnya, wajah senyum polos.

"Permisi... Bisakah anda menolongku??"

Dia menoleh ke arahku, matanya membelalak jijik kemudian dia mendorongku hingga terjatuh, wajahnya sinis.

"Jangan dekat-dekat denganku, aku tidak ingin anak yang ku kandung jadi sepertimu." Dia pun pergi berjalan meninggalkanku sendiri, wajah dingin.

*Bruk!*

Aku bangun dan tersenyum kembali, wajahku tetap polos walau mata berkaca.

Kemudian aku berjalan perlahan menyusuri setiap lorong yang ada, aku juga sempat bertemu dengan pejuang dan ksatria yang bertugas di istana, tapi mereka semua menatapku dengan tatapan sinis dan tidak banyak juga yang memukuliku untuk menghilangkan stres mereka, wajah mereka kejam.

*Bug! Bug!*

Tubuhku terkapar penuh dengan luka, tanganku gemetar ketika berusaha bangun, wajahku berdarah tapi masih tersenyum dipaksakan.

"Tidak apa... tidak apa, semua akan baik-baik saja." Suaranya kecil gemetar.

Kemudian aku berjalan pelan, sambil memegangi tubuhku untuk menahan rasa sakit, wajah meringis, saat aku berjalan aku berpapasan dengan Duke Van Astrea, dia menoleh ke arahku dan menepuk bahuku, senyum palsu.

"Kamu, apakah kamu sedang mencari ibumu??"

Aku mengangguk dan tersenyum dengan lebar, mata berbinar polos.

"Hmm... Apakah Tuan Astrea tahu ibu di mana??"

Dia tersenyum dan mengusap kepalaku, mata licik.

"Tentu saja, dia ada di kamar Raja, sepertinya mereka sedang bersenang-senang."

Aku memiringkan kepalaku, wajah bingung polos.

_Ayah bersenang-senang dengan ibu, aneh!?_

Dia langsung memberikanku sebuah ramuan, wajahnya manis palsu.

"Sebagai balasan, aku ingin kau meminum ramuan ini sekarang."

Aku melihat ramuan itu dan mengangguk, wajah polos.

"Baiklah, aku akan meminumnya." Tanpa ragu aku langsung meminum ramuan itu sampai habis, "Huekk... ramuan ini rasanya tidak enak." Wajahku meringis.

Aku mengelap mulutku, senyum kecil.

"Kalau begitu, aku permisi dulu..." Aku langsung berlari meninggalkan Tuan Duke.

Dia tersenyum tipis melihat punggungku yang semakin kecil berlari menuju kamar Raja, mata dingin kejam.

"Nah... sekarang aku hanya perlu menunggu sampai ramuan itu bereaksi di tubuhnya." Dia menatap langit-langit lewat jendela, "Lebih baik kau mati saja Kai, dengan begitu dunia akan menjadi lebih damai..."

Aku pun akhirnya sampai di depan kamar Raja, nafasku masih terengah-engah karena berlari, wajah ceria, lalu saat aku hendak membuka pintu, aku melihat ada sebuah celah kecil dari pintu itu, dan saat aku mengintip lewat celah itu, mataku langsung membelalak, tanganku gemetar, pikiranku langsung terasa sangat kosong, wajahku pucat pasi.

Aku melihat ibuku yang sedang tidak memakai pakaian sedang dicambuk oleh Raja sambil menangis, wajahnya tersiksa.

"Ibu..!?" Suaraku tercekat, mata membelalak ngeri.

Aku melihat semua yang dilakukan Raja pada ibuku, dia meraba-raba tubuhnya dengan sangat kasar dan bahkan sesekali menyuruh ibuku melakukan sesuatu, namun saat ibuku menolak dia langsung mengerutkan alisnya dan mencambuk tubuh ibuku dengan sangat keras.

*Prak!*

Aku langsung berjalan mundur dan tersandung jatuh ke lantai, wajahku pucat ketakutan.

"Ibu?!.." Aku langsung merangkak mundur sampai menabrak dinding, mata berkaca-kaca takut.

"Kenapa?? Kenapa?? Kenapa ayah sangat jahat kepada ibu??" Suaranya pecah berbisik.

Saat aku sedang kebingungan, tiba-tiba saja dadaku terasa sangat sakit, aku memegangi dadaku dengan kedua tanganku, wajah meringis kesakitan.

"Sakit!!.. A-apa yang terjadi??" Mataku membelalak.

Detak jantungku berdetak sangat kencang, aku terus menahan rasa sakit itu sambil berusaha berdiri untuk meminta pertolongan, wajah pucat berkeringat dingin.

[Ingatan Masa Lalu]

Dia langsung memberikanku sebuah ramuan, "Sebagai balasan, aku ingin kau meminum ramuan ini sekarang."

[Akhir Ingatan Masa Lalu]

Aku berjalan sambil menahan rasa sakit di lorong, wajahku pucat pasi.

_Tubuhku tiba-tiba sakit seperti ini setelah meminum ramuan itu._ Orang-orang melihatku tapi tidak ada yang berniat menolongku satupun, wajah mereka dingin, saat aku sampai di depan kamarku dan membuka pintu.

Tiba-tiba tubuhku ambruk, aku tergeletak tidak bisa bergerak di lantai, mata sayu kosong.

*Bruk...*

_Kenapa?? Kenapa mereka sampai ingin membunuhku, bukan hanya mentalku tapi sekarang tubuhku juga._ Mataku membelalak, air mata jatuh.

_Sudah cukup... aku akan mengingat wajah mereka semua, dan kelak... akan ku balas mereka semua._ Wajahku berubah dingin, mata merah benci.

Aku langsung tersenyum dengan lebar, senyum gila, mata kosong.

"Bunuh!! Bunuh!! Bunuh!! Semuanya akan ku bunuh." Tanganku gemetar ketika aku bangun, setelah bangun aku langsung tertawa dengan kencang, wajah hancur.

"Ha-ha-ha-ha... semuanya akan kubunuh."

Aku membuka mataku, kesadaranku mulai kembali, wajahku basah air mata.

"Apa yang baru saja aku lihat??" Suaraku bergetar, mata berkaca.

Aku tersentak, melihat sekeliling berantakan.

"Apa yang terjadi dengan tempat ini??"

Aku melihat diriku versi yang lainnya sedang duduk sambil membaca buku, wajahnya tenang datar.

"Ouh... kau sudah sadar ya." Dia menutup buku itu dan menghilangkannya, mata menyipit. "Dengan begini kau pasti sudah mengerti?? Aku tercipta atas luka dan rasa sakit yang kau alami."

Aku langsung meraba tanganku ke dinding dan mulai berdiri perlahan, wajahku pucat tegang.

"Kalau begitu, alasan aku bisa melupakan rasa sakit dan luka yang ku alami selama ini adalah... karenamu." Mataku membelalak paham.

Dia langsung tersenyum tipis, mata sayu pahit.

"Benar sekali, akulah yang selama ini menahan rasa sakit dan luka itu sampai aku muak dengan semua itu, karena itu kau pasti mengerti diriku." Dia menjulurkan tangannya, wajah serius. "Kalau begitu diriku... berikan tubuhmu, dan akan kubalaskan dendammu."

Aku langsung berjalan ke arahnya, wajahku tegas walau berkaca.

"Dengan segala hormat, aku menolaknya." Mataku tajam.

Senyum di wajahnya langsung menghilang, bahunya menurun, wajahnya sedih kecewa.

"Kenapa?? Padahal kau tidak pernah merasakan ini semua, kau hanya mendapatkan kebahagiaan terus menerus, sedangkan aku selalu merasakan luka terus menerus!! Lagipula kau juga masih belum menerima dirimu sepenuhnya kan, karena itu kau selalu bersikap baik-baik saja di depan semua orang untuk menutupi kegelisahan yang kau rasakan di hatimu!! Makanya, tolong berikan tubuhmu padaku, akan ku gunakan tubuhmu itu untuk mengambil kebahagiaan kita yang hilang!!" Matanya berkaca-kaca marah sedih.

Aku mengepalkan kedua tanganku, wajahku bergetar menahan tangis.

"Kau benar sekali, aku sama sekali... belum menerima diriku sepenuhnya, tapi dengan mengetahui semua ini, aku putuskan untuk berubah..." Aku langsung berlari kencang ke arahnya dan membenturkan kepalaku dengan kepalanya, air mata pecah.

*Duk!!*

"Karena itu... Diamlah!!"

Kami berdua sama-sama terpental karena benturan itu, aku kemudian menunjuk ke arahnya, wajahku menangis tapi tersenyum.

"Jika kau sangat ingin kebahagiaan ini, maka akan kuberikan semuanya kepadamu... karena itu, bagilah semua luka dan rasa sakit itu juga kepadaku." Suaranya pecah tulus.

Alisnya mengkerut, matanya membelalak, lalu dia menyilangkan tangannya, wajahnya panik.

"Kau pasti sudah gila!! Jika kau melakukan itu, ingatan dirimu dan diriku akan tertimpa, kau tahu seberapa besar rasa sakit dan luka yang kau alami selama ini, mungkin akan membuat dirimu berubah sepenuhnya!! Kau bisa saja merasakan kehampaan tiada tara!! Kenapa kau sampai melakukan ini?! Apa alasanmu?!" Suaranya gemetar.

Aku langsung memegangi dadaku dengan erat, mata berkaca-kaca tapi tegas.

"Alasanku hanya satu... aku ingin menghancurkan takdir busuk yang selalu aku alami ini, tapi sebelum itu... aku akan mencoba menghancurkan seluruh sifat busuk yang ada dalam diriku."

Dia langsung menggenggam bajuku dengan erat, wajahnya cemas marah.

"Bagaimana jika pada akhirnya kau akan menyerah!! Mustahil untuk keluar dari kondisi itu sendiri!!" Matanya berkaca-kaca.

Aku langsung tersenyum lebar ke arahnya, mata berbinar haru.

"Aku tidak sendirian... Karena aku mempunyai dirimu."

Dia langsung menangis dan memelukku dengan erat, air matanya deras, bahu bergetar hebat.

"Sialan... aku benar-benar tidak bisa mengalahkan sifat pantang menyerahmu itu!!" Suaranya pecah tangis.

Aku langsung memeluknya dengan lembut, mata terpejam haru.

_Apapun yang terjadi dengan diriku, aku akan menerimanya._ Wajahku tenang.

Pintu ruang arsip pun muncul, semua orang masuk dan mulai berlari menghampiriku, wajah mereka panik cemas.

*Kraak...*

Zafira yang terlihat sangat panik langsung menamparku, wajahnya marah nangis.

*Plak!*

"Bodoh!! Kenapa kau selalu melakukan hal nekat seperti itu." Matanya sembab.

Aku langsung menggenggam tangannya dan menoleh ke arahnya, wajahku datar kosong tapi senyum tipis.

"Maaf, Kak Zafira." Sambil menunjukkan wajah datar, mata kosong.

Belial langsung menghampiriku, wajahnya tegang cemas.

"Kai, apa yang terjadi padamu??"

Aku menoleh ke arah Belial, mata hampa.

"Bukan apa-apa, aku hanya kehilangan beberapa emosiku... Itu saja." Suaranya datar.

Semua orang langsung tersentak, mata membelalak kaget.

Agrees membuang mukanya, mata berkaca menahan sedih.

Astra menundukkan kepalanya, wajahnya tegang murung.

Gigan meneteskan sedikit air matanya, bibir bergetar.

Sophie dan Selena menutup mulutnya, mata berkaca-kaca shock.

Belial gemetar seluruh tubuhnya, wajahnya pucat.

dan Zafira... dia menangis dengan keras dan memelukku dengan erat, bahu naik turun.

"Waa...!!"

Aku hanya bisa berdiam diri tanpa bisa merasakan apapun, mata kosong hampa, kemudian aku mengelus kepala Zafira dengan lembut, tangan gemetar.

"Maafkan aku, Kak Zafira." Suaranya datar.

Kemudian sebuah buku jatuh dari rak yang ada di belakang kami, dan judul dari buku itu adalah... Masa depan bergantung padamu...

*Bruk...*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!