NovelToon NovelToon
Cintaku Direbut Kakak Angkat Aku Dinikahi Raja Dunia

Cintaku Direbut Kakak Angkat Aku Dinikahi Raja Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: namice

Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.

​Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.

​Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.

​Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.

​Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.

​Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK SANG OBSESI DAN BAYANGAN MUSUH

​Matahari siang merambat tepat di atas kepala, memancarkan sinar terik yang menyengat di atas kemegahan kediaman keluarga Vardhana. Setelah acara sarapan yang sarat akan ketegangan tersembunyi usai, Abi Vardhana memboyong Raja Zean ke ruang kerja utamanya untuk membahas draf investasi raksasa.

​Sementara itu, Arumi memilih mengasingkan diri dari hiruk-pikuk mansion. Dengan membawa kotak beludru hitam berisi biola kesayangannya, langkah anggunnya membawa tubuh ramping itu menuju gazebo tua yang terletak di ujung taman belakang—sebuah tempat terpencil yang dikelilingi rimbun pohon maple dan kolam teratai yang tenang.

​Arumi mengenakan gamis simpel berwarna biru gelap dengan hijab hitam. Angin siang berembus pelan. Arumi duduk di bangku kayu ukir, perlahan membuka kait kotak beludru di pangkuannya. Di dalamnya, terbaring sebuah biola mahakarya abad ke-18 yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri sebagai A.V. Maestro.

​Jemari lentiknya yang terbalut sarung tangan tipis mengusap kayu biola berkilat itu. Pikirannya tidak tenang. Setiap detak jantungnya masih membayangkan cengkeraman posesif jemari Zean di bawah meja makan pagi tadi—sentuhan hangat yang terasa begitu mengklaim, seolah Arumi sudah sepenuhnya menjadi milik pria itu.

​"Arumi." ​Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan taman. Arumi tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara parau yang dipenuhi nada frustrasi tersebut.

​Adrian melangkah memasuki area gazebo. Pria itu sudah melepaskan jas formalnya, menyisakan kemeja biru muda yang dua kancing atasnya terbuka asal. Wajah tampannya tampak kusam, dipenuhi bayangan cemburu gila dan penyesalan yang membakar jiwanya sejak pagi.

​Arumi tetap mematung, bahkan tidak berniat mengubah posisi duduknya. "Ada apa, Mas Adrian? Bukankah kamu seharusnya menemani Aurelia fitting gaun untuk pesta malam nanti?"

​Mendengar nada suara Arumi yang begitu datar, dingin, dan formal, dada Adrian terasa seperti dihantam hantaman keras.

​"Arumi... tolong jangan panggil aku seperti itu," ujar Adrian parau. Ia mengambil dua langkah mendekat, tangannya terangkat hendak meraih bahu Arumi. "Aku tahu aku salah! Aku tahu aku menyakitimu karena memilih pertunangan dengan Aurelia... tapi kamu tahu bagaimana tertekannya posisiku saat kedua orang tuamu terus memintaku menjaga Aurelia!"

​Arumi menggeser duduknya sedikit ke belakang, menghindari jangkauan tangan Adrian secara terang-terangan.

​"Posisi dan tekanan keluargamu tidak ada hubungannya dengan keputusanmu untuk berkhianat, Mas," balas Arumi dingin. Sepasang mata cokelat jernihnya menatap Adrian tanpa setetes pun simpati. "Kamu yang memilih melepaskan tanganku. Kamu yang berjanji di depan Abi untuk membahagiakan Aurelia. Jadi tolong... jaga batasanmu."

​"Aku tidak bisa, Arumi!" bentak Adrian pelan, matanya memerah menahan emosi yang menumpuk. "Aku pikir aku bisa melupakanmu setelah bertunangan dengan Aurelia. Tapi melihat bagaimana pria asing itu—Raja Zean—menatapmu... aku hampir gila! Pria itu penguasa dingin yang kejam, Arumi! Jangan biarkan dirimu dimanfaatkan oleh pria berbahaya seperti dia!"

​Arumi terkekeh pelan—kekehan dingin yang menusuk pendengaran Adrian. "Pria berbahaya? Bukankah pria yang mengaku mencintaiku selama tiga tahun tapi berpaling hanya dalam hitungan hari jauh lebih berbahaya dan tak berharga?"

​Adrian membeku. Kata-kata Arumi menampar kesadarannya hingga lidahnya terasa kelu.

​"Pergilah, Mas Adrian," lanjut Arumi tegas. "Sebelum Aurelia melihatmu di sini dan membuat drama baru yang memuakkan."

​Namun, sebelum Adrian sempat membalas atau melangkah mundur, aura udara di sekitar gazebo mendadak merosot drastis hingga mencapai titik beku. Suara dehem berat nan sarat intimidasi terdengar dari arah jalan setapak taman.

​"Nasihat yang sangat bijak dari calon istriku."

​Adrian dan Arumi seketika menoleh.

​Raja Zean melangkah anggun menyusuri lorong taman, ditemani Felix yang berjalan dua langkah penuh hormat di belakangnya. Kemeja hitam kustom yang dikenakan Zean membungkus dada bidangnya yang tegap, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat siapa pun refleks menundukkan kepala.

​Adrian mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba memberanikan diri membusungkan dada di hadapan pria terkuat di dunia itu. "Raja Zean... ini urusan pribadi keluarga kami. Tolong jangan campuri—"

​"Keluarga?" potong Zean dingin. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di antara Adrian dan Arumi, memutus akses pandangan Adrian menuju Arumi secara total.

​Zean menunduk sedikit, menatap Adrian dengan pandangan merendahkan yang teramat tajam. "Seingatku, kamu adalah tunangan dari Aurelia—wanita yang sibuk bersolek di dalam mansion. Dan wanita di balik punggungku ini... tidak lagi memiliki ikatan apa pun dengan pria lemah sepertimu."

​"Arumi belum menjadi milikmu!" seru Adrian dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena amarah dan rasa hina.

​Zean mengukir senyuman tipis—sebuah ukiran senyum yang tidak sampai ke matanya, justru memancarkan kebingasan yang mengerikan. "Belum? Itu hanya masalah waktu, Adrian. Dan jika aku melihatmu berani mendekatinya atau menyentuhnya satu kali lagi..." Zean merendahkan suaranya hingga menyerupai bisikan maut, "...kupastikan bisnis keluarga besarmu hancur tanpa sisa sebelum matahari terbenam."

​Ancaman itu diucapkan tanpa intonasi tinggi, namun memiliki bobot eksekusi yang tak terbantahkan. Wajah Adrian seketika pucat pasi. Ia melangkah mundur satu langkah, gemetar oleh kombinasi rasa takut dan cemburu yang tak berdaya.

​Mengabaikan keberadaan Adrian yang kini tak lebih dari sekadar debu, Zean membalikkan tubuhnya membelakangi pria itu secara penuh. Pandangan matanya yang tajam seketika melembut saat terkunci pada sosok Arumi.

​Zean melangkah mendekati Arumi, lalu merendahkan tubuh jangkungnya hingga berlutut satu kaki di hadapan bangku Arumi—sebuah gestur penundukan diri seorang Raja Penguasa Dunia yang sanggup membuat seluruh gempar jika dilihat oleh media internasional.

​Aroma sandalwood dan expensive leather milik Zean seketika mengurung indera penciuman Arumi.

​Jemari tegap Zean yang hangat terangkat, mengusap pelan pipi Arumi. ​"Mengapa duduk di sini di bawah terik matahari, Wanitaku?" bisik Zean. Suaranya serak, berat, dan amat intim. "Di paviliunku jauh lebih sejuk... dan tidak ada lalat yang mengganggumu."

​Arumi menahan napasnya, mencoba mempertahankan tatapan dingin meskipun jantungnya berdesir hebat. "Saya lebih suka berada di sini, Raja Zean. Dan tolong... berdirilah. Tidak pantas seorang Raja berlutut di hadapan saya."

​Zean terkekeh rendah—suara kekehan seksi yang membuat dada Arumi bergetar. "Aku berlutut bukan karena aku lemah, Arumi... tapi karena di seluruh bumi ini, hanya kamu satu-satunya wanita yang berhak menerima penundukan diriku."

​Zean berdiri lambat, lalu melirik ke arah Felix yang sejak tadi berdiri siaga. Felix dengan cepat melangkah maju dan menyerahkan sebuah dokumen terenkripsi berwarna merah.

​"Laporan dari perbatasan utara, Yang Mulia," laporan Felix sangat pelan, namun Arumi yang memiliki pendengaran tajam mampu menangkap setiap suku katanya. "Kazan Vance sudah tiba. Pria itu baru saja menembus dermaga privat bersama puluhan pasukan bersenjata."

​Mendengar nama Kazan Vance, pupil mata Arumi menyipit tajam. Anak mafia dari kartel Marco sudah tiba di kota ini!

​Zean menerima dokumen itu, lalu membakarnya dengan pemantik gas di tangannya hingga menjadi abu dalam hitungan detik. Sepasang mata abu-abu milik Zean berkilat memancarkan aura membunuh yang amat pekat.

​"Biarkan dia melangkah mendekati mansion ini," perintah Zean dingin pada Felix. Kemudian, Zean kembali menatap Arumi, merengkuh lembut pergelangan tangan Arumi yang terbalut sarung tangan, lalu membawanya ke depan bibirnya untuk mengecup punggung tangan itu di atas kain secara posesif.

​"Siap-siap untuk pesta malam nanti, Wanitaku," bisik Zean penuh penekanan maut. "Aku akan memastikan tidak ada satu pun bayangan masa lalu atau musuh dunia bawah yang sanggup merebutmu dariku."

​Waktu bergulir lambat. Sore hari menyapa, dan langit di atas kota berganti warna menjadi jingga keemasan yang menawan. Keluarga Vardhana sibuk bersiap-siap untuk menghadiri pesta sambutan investasi megah di Ballroom Hotel Grand Vardhana.

​Di dalam kamar privatnya, Arumi telah selesai mengenakan gaun malam muslimah berwarna hitam pekat dengan aksen sulaman benang perak yang anggun namun penuh misteri.

​Saat Arumi meraih tas kecilnya dan hendak melangkah keluar kamar menuju lantai bawah, ponsel rahasia miliknya yang tersimpan di dalam saku kain tersembunyi mendadak bergetar hebat. ​Arumi menghentikan langkahnya. Ia menarik keluar ponsel hitam khusus yang terhubung langsung dengan satelit retasannya.

​Layar ponsel itu menyala merah darurat. Sebuah sinyal peringatan bahaya dari sistem keamanan peretasnya berkedip cepat, diikuti oleh sebuah pesan audio masuk dari nomor tak dikenal dari jaringan dark web. ​Dengan jemari yang tenang namun waspada, Arumi menekan tombol play.

​Suara serak, liar, dan memuakkan bergema dari pengeras suara ponselnya—suara khas seorang pria berbahaya yang amat ia kenali dari berkas kejahatan dunia bawah.

​"Halo, calon istriku... A.V. Maestro... atau harus kupanggil Arumi Vardhana?" ​Suara tawawa sinis Kazan Vance terdengar menggelegar, diiringi suara desakan napas dan rintihan kesakitan seseorang di latar belakang.

Aku sudah mendarat di kotamu, Sayang..." bisik Kazan dari seberang saluran, suaranya dipenuhi obsesi gila yang sanggup merindingkan bulu kuduk. "Nikmati pesta mewah kerja sama binis Abimu malam ini. Nikmati juga tatapan pria berjas mahal yang mencoba melindungimu itu... Karena ku pastikan jika kita bertemu dia tidak akan bisa berada di dekatmu, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari istanamu dan mengambil apa yang sejak awal menjadi hak milikku!"

​Bip!

​Sambungan terputus seketika. Tepat pada detik itu juga, seluruh lampu di dalam kamar Arumi mendadak mati total! Kegelapan pekat menyelimuti ruangan, disusul suara dentuman keras dari arah pekarangan bawah yang membuat kaca jendela kamar Arumi bergetar hebat.

​Di balik kegelapan kamar, ponsel rahasia Arumi kembali bergetar. Kali ini sebuah notifikasi dari jaringan satelit utamanya muncul di layar:

​WARNING: SYSTEM HACKED BY KAZAN VANCE. TARGET LOCATION: GRAND BALLROOM VARDHANA.

​Arumi mengepalkan tangannya rapat-rapat di balik gaun hitamnya. Perang gelap antara Sang Penguasa Dunia dan King of Underworld baru saja dimulai... dan dirinya adalah satu-satunya hadiah yang diperebutkan!

1
°RhaiKen™
ciee...malam pengantin...🤭🤭
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
namice: 😘😘, terimakasih bnyak ya kak sudah baca novelku😘😘😘😘
total 1 replies
°RhaiKen™
asikkk... akhirnya Abi tau siapa yg musuh dlm selimut 🤭..mudah"an semuanya kebongkar dlu lah..biar cerita nya agak enteng kak..jgn terlalu berat y konflik nya 🤣🤣🙏/Facepalm/
°RhaiKen™
aaahhhh...so sweet /Drool//Drool//Drool//Drool/
namice: 😄😄😘😘😘😘😍😍😍, terimakasih banyak ya kak sudah baca novelku😘😘😘😘
total 1 replies
°RhaiKen™
lagi kak..lagi..../Determined//Determined//Determined//Determined/
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
namice: 😘😘😘😘😘😘😘
total 3 replies
°RhaiKen™
woww...keren...karya baru nya kak...semangattt/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
namice: 😍😘😘😘, terimakasih banyak kak sudag suka dan baca novelku😘😘😘😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!