Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pukul 08:00 pagi. Jakarta.
Reyna sedang menatap layar televisi di ruang kerja vila ketika berita pagi di saluran bisnis nasional tiba-tiba menyela siaran reguler mereka.
Kabar mengejutkan datang dari Arland Group. Hanya beberapa hari setelah berhasil mengambil alih kendali dan membongkar skandal internal, CEO Reyna Arland kini tersandung dugaan penggelapan dana berskala triliunan rupiah. Sumber internal membocorkan dokumen yang menunjukkan bahwa Reyna telah memindahkan aset perusahaan ke rekening pribadinya di Singapura untuk menutupi kerugian investasi fiktif...
Di layar, ditampilkan cuplikan dokumen resmi berlogo Arland Group, lengkap dengan tanda tangan digital Reyna dan mutasi rekening yang terlihat sangat meyakinkan.
Vincent, yang baru saja keluar dari kamar perawatan dengan perban di kepalanya, terkesiap saat melihat berita itu. "Ya Tuhan... Saham kita pasti sedang anjlok. Papan direksi akan memanggil RUPSLB darurat siang ini. Raka berhasil... dia menghancurkanmu di mata publik."
Reyna tidak berkedip. Ia menatap layar televisi itu, dan perlahan, sudut bibirnya terangkat. Sebuah senyuman yang membuat Vincent dan Nadia merasa sedikit merinding.
"Dia tidak menghancurkanku, Vincent," ucap Reyna pelan, matanya berkilat penuh kemenangan. "Dia baru saja menyalakan lampu sorot paling terang di dunia untuk menunjukkan di mana dia bersembunyi."
"Apa maksudmu, Nona?" tanya Nadia, jari-jarinya sudah kembali menari di atas keyboard.
"Raka pikir dia cerdik dengan membocorkan dokumen palsu ke media untuk menjatuhkanku," jelas Reyna, berdiri dan berjalan menuju layar monitor Nadia. "Tapi untuk membuat dokumen itu terlihat asli di mata jurnalis dan sistem bursa efek, dia harus menggunakan server fisik yang memiliki otoritas keamanan tingkat tinggi. Dia tidak bisa mengirimnya dari pulaunya karena akan terlacak oleh interpol."
Reyna mencondongkan tubuhnya, menatap layar Nadia. "Nadia, lacak asal usul unggahan dokumen palsu itu. Jangan lacak jurnalisnya. Lacak jalur jaringan lokal yang digunakan untuk mengunggah file itu ke server berita pertama kali."
Nadia mengangguk cepat, memahami arah pikiran bosnya. "Siap. Saya akan melacak jejak MAC address dan time stamp dari router lokal tempat file itu pertama kali diunggah."
Hanya butuh waktu tiga menit bagi Nadia untuk menembus lapisan keamanan dasar dari jaringan tersebut. Sebuah peta kota Jakarta muncul di layar, memperbesar kawasan Segitiga Emas Sudirman, lalu berhenti di sebuah gedung perkantoran berlantai dua puluh.
"File itu diunggah dari server internal sebuah firma hukum, Nona," lapor Nadia, matanya membelalak saat membaca nama yang tertera di layar. "Firma hukum Haryo, Santoso & Rekan. Tepatnya dari terminal pribadi Managing Partner mereka, Tuan Haryo Wijaya."
Vincent terkejut. "Haryo? Dia adalah salah satu komisaris independen yang sempat kita amankan suaranya minggu lalu! Dia seharusnya sudah takut dan tunduk pada kita!"
"Ketakutan tidak menghilangkan keserakahan, Vincent. Dan pengkhianatan adalah sifat yang sulit diubah," ucap Reyna dingin. "Haryo adalah tangan kanan Raka di Jakarta. Raka menggunakan firma hukum Haryo untuk memalsukan dokumen dan menyebarkannya ke media."
Reyna mengambil jas hitamnya dari sandaran kursi dan memakainya dengan gerakan yang anggun dan tegas.
"Nadia, kirimkan seluruh data pelacakan ini ke Bareskrim Siber dan Komisi Pengawas Bursa Efek. Sertakan bukti bahwa firma hukum Haryo telah memalsukan dokumen korporasi dan melakukan manipulasi pasar."
Reyna menatap pantulan dirinya di jendela kaca. Matanya sedingin es kutub.
"Vincent, siapkan mobil. Kita akan mengunjungi Tuan Haryo di kantornya. Dia pikir dia bisa membakarku dari kejauhan. Tapi dia lupa, sebelum api itu menyentuhku, aku akan memotong tangannya yang memegang korek api."