Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat
#1
“Bagaimana para saksi?”
“Sah!”
“Sah!”
“Sah!”
Dari balkon lantai dua Ardina Larasati menyaksikan ijab qabul antara Farhan suaminya dengan Sarah, istri dari almarhum kakak iparnya Farid, yang meninggal sesaat sebelum Sarah melahirkan anak pertama mereka.
Beberapa hari sebelum meninggal, Almarhum Farid meninggalkan wasiat agar Farhan menikahi Sarah, dengan tujuan agar anaknya tak kehilangan kasih sayang ayah yang telah tiada.
Terperangkap di antara wasiat dan perihnya hati seorang istri, Dina tak mampu berbuat apa-apa selain menerima keputusan Farhan menikahi Sarah.
Wanita itu mengusap bulir bening air matanya, hatinya hancur tapi tak tahu hendak mengadu pada siapa.
Kedua tangannya mengusap perutnya yang mulai membesar, anak dalam kandungannya sudah didiagnosis membawa cacat bawaan setelah ia lahir kelak, sementara putri dari rahim Sarah sehat wal-afiat.
Atas dasar itu saja, Bu Sintia langsung menyetujui wasiat almarhum Farid anak pertamanya.
“Maafkan Mama, Nak. Mama tak bisa mempertahankan papamu untukmu sendiri, Nak,” isak Dina dengan hati yang teriris pilu.
Wanita itu berjalan gontai ke kamarnya, berbaring meringkuk di atas pembaringan yang selalu hangat di awal masa pernikahan mereka, hingga dua tahun kemudian dirinya dinyatakan positif hamil.
Farhan sangat bahagia mendengar berita kehamilan Dina, sayangnya sikap Farhan berubah dingin manakala ia mengetahui bahwa calon bayinya mengidap cacat bawaan ketika kelak ia lahir.
Dokter beralasan karena anak yang ada dalam kandungan Dina didiagnosis cacat, maka bayi itu tak akan bisa hidup normal seperti orang lain, meski ia selamat.
Yang paling membuat Dina melongo tak percaya, Farhan langsung setuju saja saat dokter mengajukan opsi untuk menggugurkan kandungan. Padahal janin dalam kandungannya adalah buah cinta mereka berdua, bayi itu memiliki hak untuk hidup, meski kondisinya jauh dari kata normal sekalipun.
Tok!
Tok!
Pintu kamar diketuk pelan, sebelum kemudian terbuka dan menampakkan Farhan beserta Sarah yang masuk ke dalam kamar.
Dina tak perlu menyembunyikan apa-apa, termasuk rasa kecewanya, nyatanya sejak awal pendapatnya sudah kalah telak, karena Farhan tetap kukuh ingin menjalankan wasiat almarhum kakak sulungnya.
“Kak Dina,” sapa Sarah, “boleh, kan, kalau sekarang aku memanggilmu kakak?” Kedua tangannya terulur hendak menggenggam tangan Dina, tapi Dina dengan tegas menipisnya.
“Dina!” hardik Farhan tegas tak terima bila istri mudanya diperlakukan demikian oleh istri pertamanya.
“Maaf, Kak. Aku tak bermaksud merebut Mas Farhan, tapi wasiat itu—”
“Tak usah berpura-pura sendu, aku sudah bisa membaca niatmu. Keluar dari kamarku! Aku haramkan kamu berada di ruangan ini!” usir Dina.
“Mas—” isak Sarah seolah mengadukan sikap Dina yang terang-terangan memusuhinya.
“Tunggulah di kamar, kami harus bicara berdua,” kata Farhan lembut, penuh penghiburan.
“Iya, Mas.” Sekilas Sarah melirik ke arah Dina, tapi bagi Dina tatapan wanita itu menyiratkan kepuasan, melihatnya dalam posisi terintimidasi.
“Kenapa sikapmu begitu kejam pada Sarah?”
Tanpa ba bi bu Farhan langsung menghakimi Dina, padahal disini Dina adalah pihak yang dipaksa mengalah, menyerah dengan keadaan.
“Lalu kamu, Mas? Kenapa begitu kejam padaku? Ibu, dan Ayahmu juga, seolah seiya sekata, sepakat untuk menjatuhkan mental dan harga diriku sebagai seorang istri dan ibu dari calon anakmu?” ungkap Dina, meski dadanya terlalu sesak karena ia harus berdiri tegak di tengah tubuhnya yang semakin lemah karena usia kehamilan yang kian menua.
“Sejak awal kamu yang menghendaki anak cacat ini lahir, padahal apa salahnya bila menuruti saran dokter,” sanggah Farhan tak mau kalah.
“Astaghfirullah, tak kusangka kamu bisa bersikap begini kejam pada anakmu sendiri, Mas! Padahal janin ini tak salah apa-apa, dia punya hak untuk terlahir ke dunia, apapun keadaannya!”
Hancur hati Dina usai mendengar ungkapan hati suaminya.
“Astaghfirullah, tak kusangka kamu bisa bersikap begini kejam pada anakmu sendiri, Mas! Padahal janin ini tak salah apa-apa, dia punya hak untuk terlahir ke dunia, apapun keadaannya!” kata Dina dengan nada suara bergetar menahan ledakan amarah.
“Kamu bilang mencintaiku, apakah hanya ini bukti cinta yang mampu kau tunjukkan padaku?” desis Dina lirih, serasa ada yang sedang meremas jantungnya hingga rasanya sungguh sakit.
Tiba-tiba Farhan mendekat, mendekap raga istrinya yang kian hari kian tirus, karena kondisinya selama masa kehamilan pun tidak terlalu sehat. Dina mual muntah hebat, sulit menerima asupan makanan hingga kini di usia kehamilan yang sudah menginjak 8 bulan.
Kedua orang tua Dina tinggal cukup jauh dari rumah yang saat ini ditempati Dina, beserta suami dan keluarga besarnya.
“Maafkan Mas, sungguh, Mas tak bermaksud menyakitimu. Tapi wasiat Mas Farid juga tak bisa ku abaikan. Apalagi ada Malika yang butuh ayah.”
Isak Dina semakin pilu, ucapan Farhan menenangkan tapi disisi lain menyakiti hatinya begitu dalam. “Mas janji akan adil pada kalian.”
Entah adil macam apa yang Farhan maksudkan, karena hingga hari ketujuh pernikahannya dengan Sarah, Farhan masih berdiam di kamar Sarah, tak sekalipun mendatangi kamar Dina selain untuk mengambil pakaian ganti.
Sedih? Sakit? Tentu saja. Apalagi kedua mertuanya tampak sangat menyayangi Malika cucu mereka dari Sarah. Sementara janin dalam kandungan Dina seolah-olah tidak pernah ada.
Bila seorang nenek, umumnya memperhatikan tumbuh kembang cucunya, dengan cara memberikan dukungan semangat, atau mengingatkan untuk makan makanan yang kaya vitamin serta mineral. Itu tak dilakukan Bu Sintia. Mungkin karena sudah ilfill dengan janin cacat yang akan dilahirkan Dina.
Tak jarang sindiran pedas mengalir keluar dari mulutnya. “Buat apa mempertahankan anak cacat, toh, nanti lahir juga gak ada gunanya.”
“Lagian, dalam silsilah garis keturunan keluarga kita, belum pernah, tuh, ada janin yang lahir cacat. Ah, sudahlah, mungkin ini sudah nasib, karena kita menerima begitu saja, berbesan dengan keluarga yang nyaris bangkrut usahanya,” sindir Bu Sintia suatu hari.
Nyes!
Seperti ada plat besi panas yang di tempelkan di dada Dina, rasanya tak hanya sakit, panas, perih, sekaligus ngilu di waktu bersamaan.
Ardina berdiri, lalu berjalan cepat ke kamarnya.
Di tangga ia berpapasan dengan Farhan yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya, di sisi Farhan nampak Sarah yang dengan bangga memamerkan keberhasilannya memikat Farhan hingga tak juga mau mendatangi istri pertamanya.
“Dina, kamu kenapa?” tanya Farhan, namun, Dina tak menghiraukannya.
“Sudah, Mas. Katanya sudah terlambat ngantor?” sela Sarah, mencegah Farhan yang hendak menyusul Dina.
“Sebentar saja, aku hanya ingin tahu keadaannya.”
“Tapi, Mas—”
Farhan tak menunggu Sarah menyelesaikan ucapannya, pria itu langsung berjalan melewati istri mudanya.
Tok!
Tok!
Tak perlu menunggu Dina mempersilahkan masuk, Farhan langsung membuka pintu.
“Pergilah! Aku tak ingin bicara dengan siapapun!” usir Dina, tanpa melihat siapa yang datang.
“Ini juga kamarku, kenapa kamu mengusirku?”
Dina menoleh ke arah suaminya, ada saat dimana ia begitu mencintai Farhan, sebab kesalehan pria itu. Namun, beberapa hari terakhir ini, Dina merasa kesalehan suaminya kian memudar, sebab tertutupi oleh perbuatannya yang tega ingin menyingkirkan anak kandungnya, serta menduakan istrinya.
“Kamarmu, Mas? Masih ingat dengan kamar ini?! Sementara kamu begitu asyik di kamar yang lain? Aku juga istrimu, Mas! Aku masih punya hak atas dirimu!”
tpi km bisa mnikmati perempuan lain...
dasar serakah... tk ada otak🙄🙄
Jahat banget kamu Sarah
ditunggu 🥰🥰🥰