Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aktivitas Pertama
Bangun pagi, Gio mencium bau harum yang samar - samar di kamarnya. Istrinya sudah berada di dapur untuk masak. Gio yang masih menggunakan celana dalam, langsung ke dapur dan memeluk istrinya.
"Selamat pagi mas."
"Selamat pagi sayangku." Gio langsung mencium bibir istrinya.
"I love you istriku."
"Love you more suamiku."
Gio langsung membantu istrinya dengan tubuh seksinya. Lusi hanya tersenyum melihat suaminya.
"Kenapa senyum - senyum sayang, puas ya lihat suamimu." Lusi sudah di tangkap berada dalam pelukan Gio.
"Puas lah, mas seksi sekali."
"Senang."
"Tentu."
"Ngak gratis ya. Harus bayar." Gio langsung mengendong istrinya setelah dapur sudah rapi, meja makan juga sudah tersusun rapi dengan lauk pauk sarapan pagi. Hajatan pagi harus mereka selesaikan. Setelah selesai Gio langsung mencium kening istrinya dan mengucapkan terima kasih serta langsung mengendong tubuh tanpa helaian kain satu pun ke kamar mandi.
"Mas antar adek kerja ya."
"Iya."
"Terus kita ke diler mobil beli mobil buat kamu."
"Kenapa ngak pakai salah satu mobil mas saja." Gio tersenyum, dari mana istrinya tahu mobilnya.
"Salah satu mobil mas??"
"Adek sudah lihat."
"Ada yang adek suka. Itu mobil semua sudah mas gunakan. Kita beli baru saja buat kamu."
"Ngak usah mas, sayang uangnya." Gio sudah meminta Lusi ada di pangkuannya.
"Kekayaan mas bisa membeli rumah, mobil, dan banyak lagi."
"Adek ngak mau. Atau mas ngak mau adek pakai mobil mas. Mungkin itu barang ke sukaan mas."
"Tidak sayang. Kamu mau pakai mobil yang manapun mas berikan. Semua punya mas itu punya kamu sayang."
Akhirnya Gio mengalah, maksud hati mau meberikan yang baru, istrinya mau yang sudah ada saja. Hal ini yang membuat Gio bahagia. Gio sudah memberikan dua kartu debitnya kepada istri tercinta. Itu adalah gajinya dari kepolisian dan satu lagi hak istrinya sebagai suami dari COO Adiguna grup.
Hari ini Lusi ke kantor menggunakan salah satu mobil sport mewah punya suaminya. Ini mobil impiannya dia tidak bisa membelinya namun lewat suaminya dia bisa memilikinya. Gio yang tadinya mau mengantarnya harus ke kantor karena ada informasi penting.
"Hati - hati ya sayang. Ingat telephone mas jika sudah sampai di rumah sakit."
"Siap komandan." Gio langsung mencium istrinya. Dipersilahkan istrinya masuk ke mobil sportynya. Kemudian Gio masih melihat istrinya keluar dari lantai dasar apartemen tempat mobil - mobil Gio di parkir. Setelah istrinya berangkat Gio pun berangkat ke kantor juga.
"Selamat pagi mami."
"Lusi.... Mami kangen. Selamat pagi sayang." Mami Hany langsung mencium anak mantunya. Lusi langsung memberikan ole - ole buat mama mertuanya. Mami langsung menghubungi kak Rahel memberitahukan kedatangan Lusi dan Gio. Akhirnya tiga perempuan keluarga Abraham janjian makan siang. Bersama kak Roland juga dan si kecil Kellen.
Lusi lupa menghubungi suaminya. Karena di depan poli onkologi sudah ada pasiennya yang antri. Alhasil Gio langsung ke rumah sakit Silom tempat mami dan istrinya juga kakak iparnya bekerja. Bertepatan dengan jam makan siang. Ternyata kak Rahel dan Kellen juga ada di rumah sakit ini.
"Uncle.... Kellen kangen." Kallen yang melihat Gio langsung berlari dan melompat tepat berada dalam pelukan Gio. Rahel tersenyum melihat adek dan anaknya yang akrab. Kak Roland juga sudah bergabung.
"Kapan tiba dek."
"Pagi tadi kak."
"Berarti Lusi sudah masuk kerja."
"Gimana ngak masuk kak. Ibu direktur rumah sakit ini sudah mengirim pemberitahuan untuk masuk kerja. Ngak ngerti anaknya masih usaha membuat cucunya." Roland tertawa mendengar adek iparnya mengoda mami mereka. Rahel sangat beruntung mendapatkan Roland yang akrab dengan adeknya dan sopan serta hormat kepada orangtuanya.
"Pasien istrimu, anak mantuku sudah menanyakan keberadaan dokter idola mereka."
Tidak lama Lusi sudah bergabung dengan kedua kakak dan mama mertua serta si Kellen. Gio langsung mencium istrinya di bibir. Tetapi dengan cepat dia menutup mata keponakannya itu. Dan mereka pun pergi ke sebuah restoran di mall yang sudah Rahel reservasi atas namanya. Lusi sudah pindah ke mobil suaminya.
"Dek, kenapa mau pakai mobil bekas Gio, minta barulah. Suamimu sudah miskin, ngak sanggup membeli mobil baru buat istrinya."
"Lusi yang mau kak. Dari pada mobil hanya berbaris rapi di basemen apartemen."
"Dengar tuh kak. Istriku bukan cewek matre."
Lusi sudah tidak kembali ke rumah sakit, begitu juga dengan doker Hany dan Roland mereka langsung ke rumah saja.
Sampai di apartemen mereka. Gio langsung mengurung istrinya didalam life yang menuju ke unit mereka. Dia sabar menahan untuk tidak menghukum istrinya karena tidak mematuhi permintaan suaminya. Gio mencium bibir istrinya seperti orang napsu.
"Mas....."
"Hukuman sayang."
"Ade salah apa mas."
"Masih belum mau mengaku kalau salah tadi." Lusi teringat bahwa dia tadi tidak melapor kepada suaminya waktu tiba di rumah sakit.
"Ade mohon maaf mas. Ngak ulang lagi. Janji."
"Sudah terlambat. Tetapi permohonan maafnya di terima, hukuman tetap, hukuman biar ada efek jera."
"Aku ini istrinya mas loh, masa sama denga musuh - masih mas."
Satu ronde sudah berakhir. Gio baru saja mencium istrinya, setelah rudalnya menyembur serum terbaiknya kedalam rahim istrinya.
"I love you sayang. Tubuhmu itu candu bagi mas."
"Awas ya kalau mas nakal. Adek akan pergi jauh dari mas." Gio langsung menutup mulut istrinya dengan mencium lembut bibir istrinya.
"Ngak boleh ngomong begitu. Mas ngak mau adek jauh dari mas."
"Makanya mas jangan nakal seperti papaku." Gio langsung memeluk erat tubuh istrinya.