Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Langkah kaki Hanif terasa begitu berat saat menjejakkan kaki di koridor utama pabrik manufaktur tekstil miliknya. Suara bising mesin tenun yang biasanya terdengar seperti alunan pundi-pundi rupiah, kini justru terdengar seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja di telinganya. Atmosfer di dalam kantor dinasnya terasa begitu mencekam. Beberapa staf keuangan tertunduk lesu di balik kubikel mereka, tidak berani menatap langsung sang pemilik perusahaan yang datang dengan wajah sekusam jelaga.
Begitu Hanif membuka pintu ruang kerja pribadinya sang manajer keuangan Pak Danu, sudah berdiri menyambut dengan tumpukan map merah di tangan. Wajah pria paruh baya itu dipenuhi guratan kecemasan yang mendalam.
"Bagaimana, Danu? Berapa total kerugian operasional dan denda keterlambatan dari klien minggu ini?" tanya Hanif sambil menghempaskan tubuh lelahnya ke kursi kebesaran, melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher.
Pak Danu menarik napas panjang, lalu meletakkan laporan keuangan itu dengan tangan yang agak bergetar. "Kondisi kita benar-benar kacau balau, Pak Hanif. Sanksi keterlambatan pengiriman bahan ke tiga klien utama kita karena kendala mesin bulan lalu totalnya mencapai empat ratus juta rupiah. Ditambah lagi, vendor bahan baku utama menolak mengirimkan pasokan baru sebelum utang operasional bulan lalu sebesar tiga ratus juta dilunasi. Jika minggu ini kita tidak menyuntikkan dana segar minimal tujuh ratus hingga delapan ratus juta rupiah, operasional pabrik akan berhenti total, Pak. Karyawan juga sudah mulai resah menanyakan kejelasan gaji mereka bulan depan."
Hanif memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut luar biasa kencang. Angka-angka di atas kertas putih itu seolah menertawakan sisa harga dirinya. Baru saja siang tadi dia mentransfer uang sebesar delapan puluh juta rupiah ke rekening Sarah untuk pembelian mahar dan cincin berlian mewah, kini dia dihadapkan pada realitas bahwa perusahaannya sendiri sedang berada di ambang sekarat. Likuiditas rekening pribadinya sudah terkuras habis untuk memuaskan ego pahlawannya di depan calon istri mudanya.
Hanif bersandar pada kursinya, menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong. Pikirannya mulai melayang, mencari jalan pintas untuk menyelamatkan bisnis yang telah dia bangun dengan susah payah ini.
Sebenarnya, jika Hanif mau menurunkan sedikit egonya, ada jalan keluar yang sangat mudah dan instan. Dia bisa saja mengangkat ponselnya saat ini juga, lalu menelpon Papa tirinya yang saat ini sedang berada di luar negeri atau menelpon Kakak tirinya anak kandung dari Papa tirinya. Kakak tiri Hanif adalah seorang pengusaha properti kelas atas yang memiliki karakter sangat kaku, dingin, dan tampak cuek dari luar. Hubungan mereka memang tidak terlalu dekat karena status anak tiri, dan sang Kakak selalu bersikap formal tanpa basa-basi.
Namun, Hanif tahu betul, di balik sikap kakunya yang luar biasa dingin itu, Kakak tirinya adalah sosok yang bertanggung jawab. Jika Hanif benar-benar mendatangi kantornya dan meminta pertolongan finansial demi menyelamatkan pabrik, Kakak tirinya pasti akan mencairkan dana miliaran rupiah dalam sekejap mata tanpa ragu. Papa tirinya pun pasti akan mendukung penuh dari luar negeri demi menjaga nama baik keluarga besar mereka.
Akan tetapi, bantuan dari mereka berdua bukanlah bantuan yang gratis secara moral. Ada harga mati yang harus dibayar oleh Hanif.
Papa tiri dan Kakak tirinya adalah pria-pria yang memegang teguh prinsip komitmen dan sangat menghormati Hanum sebagai istri sah. Mereka tahu betul bahwa kesuksesan awal pabrik Hanif bisa berkembang sejauh ini adalah berkat suntikan modal dan jaringan bisnis dari Amara Modest milik Hanum. Jika Hanif berani mengemis bantuan keuangan kepada mereka di saat pabriknya hancur, hal pertama yang akan mereka lakukan adalah mengaudit total penyebab hancurnya finansial Hanif. Dan begitu mereka tahu bahwa Hanif sedang berselingkuh dan berencana menikahi wanita muda bernama Sarah di bawah tanah dengan restu ibunya, tamatlah riwayat Hanif.
Papa tiri dan Kakak tirinya pasti akan mengamuk. Mereka tidak akan sudi mengeluarkan sepeser pun uang untuk membantu seorang pria yang mengkhianati istri sahnya yang sesempurna Hanum. Bantuan dana itu hanya akan cair jika Hanif berjanji untuk memutuskan hubungan dengan Sarah dan kembali menjadi suami yang setia di kaki Hanum.
"Tidak! Aku tidak bisa melepaskan Sarah!." batin Hanif menolak keras, rahangnya mengencang egois.
Hormon asmara dan rasa jatuh cinta yang buta kepada Sarah telah menutup rapat akal sehat Hanif. Dia membayangkan wajah polos Sarah, senyuman manjanya, dan janji suci wanita muda itu yang siap menemaninya dari bawah. Bagi Hanif, Sarah adalah pelarian dari sosok Hanum yang terlalu mandiri, dominan, dan kini berubah menjadi sedingin es setelah surat pemisahan harta ditandatangani. Jika dia meminta bantuan Papa atau Kakak tirinya, dia tidak akan pernah bisa menikahi Sarah. Pernikahan minggu depan yang sudah dia rancang bersama ibunya akan hancur berantakan. Ego kelelakiannya menolak untuk tunduk pada aturan keluarga tirinya.
"Pak Hanif? Bagaimana keputusannya?" suara Pak Danu memecah lamunan Hanif.
Hanif menegakkan tubuhnya, matanya memancarkan keputusasaan yang dipaksakan menjadi sebuah ketegasan semu. "Jangan hubungi keluarga besar saya. Saya akan menyelesaikan ini dengan cara lain. Danu, siapkan seluruh dokumen legalitas pabrik, laporan keuangan tiga tahun terakhir, dan sertifikat aset apa saja yang masih bersih atas nama pabrik ini. Saya akan mengajukan pinjaman kilat ke bank komersial swasta besok pagi."
Pak Danu tertegun, matanya menyiratkan keraguan. "Pinjaman bank lagi, Pak? Tapi bunga pinjaman komersial saat ini sangat tinggi, dan posisi utang operasional kita sudah cukup besar. Apakah tidak terlalu berisiko? Apalagi... bukankah Anda juga belum memiliki rumah pribadi yang sah atas nama Anda sendiri setelah perjanjian pasca-nikah dengan Ibu Hanum tadi pagi? Jika bank meminta agunan tambahan berupa aset tidak bergerak..."
Kalimat Pak Danu laksana sembilu yang mengoyak luka baru di dada Hanif. Pria itu baru ingat, rumah mewah yang dia tempati selama ini beserta isinya dan seluruh mobil koleksinya telah resmi beralih kepemilikan atas nama Kayla dan Kenzie per pagi ini. Dia tidak memiliki agunan properti pribadi sepeser pun yang bisa dijaminkan ke bank untuk mendapatkan pinjaman besar. Dia benar-benar seorang pengusaha yang telanjang secara finansial, hanya menyisakan sebuah pabrik tua yang sedang sekarat.
"Lakukan saja apa yang saya perintahkan, Danu!" bentak Hanif frustrasi, suaranya meninggi untuk menutupi rasa takutnya sendiri yang teramat sangat. "Urus semua berkasnya malam ini. Saya yang akan meyakinkan pihak orang bank besok!"
"Ba-baik, Pak. Segera saya siapkan," ucap Pak Danu ketakutan, lalu buru-buru mundur dan keluar dari ruangan kerja Hanif.
Begitu pintu tertutup, Hanif menyandarkan kepalanya ke atas meja kerja, mencengkeram rambutnya sendiri dengan rasa pusing yang luar biasa menghimpit. Dunianya terasa berputar terbalik. Di satu sisi dia harus mempertahankan citranya sebagai pria kaya di depan Sarah dengan membelikan perhiasan puluhan juta, namun di sisi lain dia harus menanggung beban utang pabrik yang siap menenggelamkannya ke dasar kebangkrutan. Pikirannya buntu, stres, dan dipenuhi kabut ketakutan yang pekat.
Dalam kondisi mental yang hancur dan lelah seperti ini, Hanif tidak sudi pulang ke rumah mewahnya sendiri. Dia tahu, di rumah itu tidak ada lagi kehangatan untuknya. Hanum pasti sudah pulang dari kantor dan akan menatapnya dengan pandangan mata sedingin algojo. Rumah mewah itu kini terasa seperti penjara yang siap mengadilinya setiap detik.
Hanif melirik jam tangan, sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dia teringat janji Sarah di telepon tadi siang. Wanita muda itu bilang dia akan memasakkan makanan kesukaannya di rumah ibunya malam ini.
Seketika, bayangan kehangatan palsu itu menjadi satu-satunya oase pelarian bagi Hanif. Dia buru-buru menyambar kunci mobil sportnya—mobil yang mulai hari ini sebenarnya sudah bukan lagi miliknya—lalu melangkah keluar dari kantor dengan tergesa. Dia ingin lari dari kenyataan pahit perusahaannya, ingin bersembunyi di balik pelukan asmara Sarah yang dia kira adalah tempat berlindung paling aman.
Satu jam kemudian, mobil Hanif berhenti di pelataran rumah ibunya. Rumah berarsitektur klasik yang sepi itu tampak terang benderang. Begitu Hanif melangkah masuk ke dalam ruang tengah, aroma harum tumis ayam kecap dan sambal bajak langsung menyengat indra penciumannya, seketika meredakan sedikit rasa pusing di kepalanya.
Dari arah dapur, muncul sosok Sarah. Wanita muda itu mengenakan daster rumahan sederhana yang dibalut celemek bermotif polkadot, dengan rambut yang dicepol asal, menampilkan kesan seorang istri rumah tangga yang begitu telaten. Wajah polosnya langsung dihiasi oleh senyuman manis yang luar biasa riang saat melihat kedatangan Hanif.
"Mas Hanif! Mas sudah datang?" seru Sarah dengan suara manjanya yang merdu. Dia buru-buru berlari kecil mendekati Hanif, mengambil tas kerja pria itu, lalu meraih tangan kanan Hanif untuk diciumnya dengan penuh takzim dan rasa hormat yang berlebihan.
Tindakan penyerahan diri yang penuh kepatuhan dari Sarah seketika membuat ego kelelakian Hanif yang seharian ini diinjak-injak di kantor dan di hadapan Pak Baskoro, kembali membubung tinggi ke angkasa. Dia merasa kembali menjadi seorang pria sejati, seorang raja yang dihormati di rumahnya sendiri.
"Iya, sayang. Mas baru selesai urusan dari pabrik," ucap Hanif lembut, suaranya dipenuhi kelelahan namun matanya menatap Sarah dengan binar kasmaran yang begitu dalam. Dia mengusap pipi mulus Sarah dengan sayang. "Kamu masak apa malam ini, hm? Aromanya harum sekali sampai ke depan."
"Sarah masak ayam kecap kesukaan Mas Hanif, terus ada sayur bening sama sambal juga. Tadi diajarin sama Ibu biar rasanya pas sama selera Mas," jawab Sarah manja, matanya berkedip lembut menatap Hanif. "Mas pasti capek banget ya seharian ini bekerja demi masa depan kita? Sini, Mas duduk dulu di meja makan, biar Sarah ambilkan minum air hangat."
Di sudut ruang makan, Ibu kandung Hanif tampak duduk sambil tersenyum puas melihat bagaimana Sarah begitu pandai melayani dan mengambil hati anak laki-laki kebanggaannya.
"Nah, Hanif, kamu lihat sendiri kan?" timpal Ibunya dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan. "Sarah ini wanita yang luar biasa beradab. Belum sah jadi istri saja sudah tahu bagaimana cara menyambut suaminya yang pulang kerja dengan hangat. Tidak seperti si Hanum itu, yang jam segini mungkin masih sibuk meeting di kantornya, menelantarkan suaminya kelaparan. Ibu tidak salah pilihkan Sarah untukmu, Hanif."
Hanif hanya tersenyum tipis mendengar kalimat ibunya, mengabaikan fakta bahwa Hanum baru saja menyuguhkannya makan malam melimpah semalam, dan mengabaikan fakta bahwa pelarian hangatnya malam ini dibayar dengan harga yang sangat mahal: sebuah draf pemisahan harta yang telah memiskinkan nya dan utang bank miliaran rupiah yang siap menjerat lehernya besok pagi. Hanif memilih memejamkan mata dari realitas hancurnya masa depannya, demi menikmati ilusi cinta suci bersama Sarah yang saat ini sedang tersenyum manis menyodorkan segelas air hangat di hadapannya.
Tusuk niiih 🤺🤺🤺🤺🤺 ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....