Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: NYONYA LISTIA JADI PENGEMIS DI BLOK M
Pukul 18.00 sore. Blok M Square, pintu masuk belakang.
Lokasi itu dulu adalah kerajaan kecil Nyonya Listia. Tiap sore menjelang malam, ia turun dari Alphard hitam pakai batik mahal dan tas Hermes asli, disambut sepuluh sosialita yang rebutan cium punggung tangannya sambil seru, "Nyonya Listia! Ketua arisan yang agung!"
Tapi hari ini, di titik yang sama, seorang wanita tua duduk merana di atas kardus bekas di sisi got bau pesing.
Rambutnya kusut tak terurus, jauh dari hasil salon jutaan. Wajahnya kusam tanpa makeup mahal. Batiknya sudah ganti jadi daster bunga-bunga lusuh, pakaian tiga puluh lima ribu yang dibeliin Mami Rosa dari Bar Mawar karena seragam merah menyala kemarin dinilai terlalu vulgar buat di ruang publik.
Di depannya ada gelas plastik bekas air mineral berisi tiga lembar uang dua ribu dan satu koin lima ratus.
Total: enam ribu lima ratus. Hasil ngemis seharian penuh di Blok M.
Nyonya Listia.
Tiga pekan lalu, ia adalah ratu tak bermahkota di Blok M. Punya Alphard pribadi, rumah megah sepuluh miliar di Pondok Indah, dan koleksi dua puluh tas Hermes asli.
Kemarin, ia ditendang hina dari Bar Mawar karena dianggap sudah terlalu tua dan tidak laku lagi. Mami Rosa usir dia sambil lontarkan kalimat yang dulu sering ia tujukan ke Alesha:
"Nenek tua tidak berguna! Sudah keriput, bau, dan tidak laku! Pergi sana! Jangan bikin bar ku kotor!"
Kalimat yang persis sama dengan yang ia lempar ke ibu Alesha dulu, saat wanita desa itu datang bawa ayam kampung buat nikah putrinya.
Kini karma itu balik menghantam telak.
Pejalan kaki di Blok M yang lewat, yang dulu rebutan cium tangannya, kini lewat sambil tutup hidung rapat.
"Eh, bukankah itu Nyonya Listia yang dulu congkak?"
"Betul, perempuan yang tega hina pengantin miskin di altar. Sekarang jadi pengemis."
"Sudahlah, biarin aja hukumannya! Tidak usah dikasihani!"
Tidak ada yang baik hati lempar uang ke gelas plastiknya.
Nyonya Listia nunduk sedalam-dalamnya. Perutnya keroncongan hebat karena lapar. Sejak pagi, ia cuma minum air keran dari toilet umum Blok M.
Di genggamannya, ia masih dekap erat bingkai foto kecil yang sudah usang dan basah kena hujan kemarin, foto Rian saat wisuda sarjana, pakai toga sambil senyum bangga di sisi dirinya dan Gunawan.
Satu-satunya harta kenangan yang tersisa.
"Rian... anak ku... dimana kau... Mama lapar..."
Di waktu yang sama, di penthouse lantai 99, Alesha lagi makan malam mewah sama Vion. Meja panjang penuh dua puluh menu, mulai dari steak wagyu, lobster segar, sampai sup sarang burung walet. Dokter kandungan pribadinya duduk dampingi di sisi meja, pastikan nutrisi Alesha cukup demi janinnya.
Alesha mendadak lepas alat makan, kehilangan selera.
"Vion, aku sudah kenyang."
Vion pandang istrinya dengan khawatir. "Ratuku, kamu baru suap tiga kali. Dokter pesan biar kamu makan lebih banyak demi buah hati kita."
Alesha alihkan pandangan menembus dinding kaca raksasa yang suguhkan kerlap-kerlip lampu Blok M di kejauhan. Dari lantai 99, Blok M tampak seperti taburan bintang kecil.
"Vion, aku baru lihat kabar di internet. Nyonya Listia kini jadi pengemis di Blok M."
Vion bergeming. Hendra sudah lapor info itu sejak siang, tapi ia sengaja tutup agar tidak rusak ketenangan makan malam istrinya.
Alesha lanjutkan dengan pelan.
"Dulu, aku benci dia. Sangat benci. Dialah yang usir ibu ku dari nikahan ku. Dialah yang caci maki ibu ku sebagai wanita desa bau kotor. Tapi... lihat dia ngemis di atas tanah yang dulu kerajaannya... aku merasa..."
Alesha tidak sanggup lanjutkan kalimatnya. Air matanya meleleh.
Vion bangkit dari kursinya, lalu rangkul Alesha dari belakang.
"Ratuku, hatimu terlalu lembut. Terlalu baik buat dunia yang kejam ini. Mau aku perintahkan orang kita kasih dia uang?"
Alesha geleng perlahan. "Jangan kasih dia uang. Kasih dia pekerjaan."
Vion kernyit bingung. "Pekerjaan?"
"Ya. Jangan biarin dia ngemis di jalanan, itu terlalu rendahkan martabat manusia. Dulu dia hina ibu ku sebagai wanita desa bau kotor. Kini, biar dia rasakan bagaimana kerja keras seperti wanita desa. Perintahkan Hendra untuk jemput dia dan bawa ke panti jompo milik Vantec di Bogor. Jadikan dia staf pencuci piring di dapur panti. Gaji sesuai UMR. Biar dia cuci seratus piring tiap hari. Agar dia paham makna keringat ibu ku dulu yang rela cuci piring demi biaya sekolah ku."
Vion senyum, senyum penuh bangga mendalam.
"Ide yang sangat mencerminkan jiwa seorang ratu. Kejam, adil, tapi tetap bermartabat. Kau tidak biarin dia minta-minta di jalanan, tapi kau juga tidak kasih dia kesempatan hidup mewah lagi. Kau ubah dia jadi pekerja, persis seperti kau perlakukan Clarissa sebagai pesuruh. Keputusan yang sangat bijak."
Vion segera raih interkom di mejanya.
"Hendra. Jemput Nyonya Listia dari Blok M malam ini juga. Jangan bawa ke sini. Bawa langsung ke Panti Jompo Vantec di Bogor. Pekerjakan sebagai staf dapur cuci piring dengan gaji UMR. Kasih tugas cuci piring dua belas jam sehari. Tegaskan ini titah langsung dari Nyonya Vion."
Dua puluh menit berselang, di pintu belakang Blok M Square, sebuah Alphard hitam merapat dan berhenti tepat di depan Nyonya Listia yang masih bersimpuh di atas kardus.
Wanita tua itu dongak penuh harap, kira putranya, Rian, datang jemput.
Tapi sosok yang keluar justru Hendra pakai jas rapi, tenteng nampan berisi sepiring nasi hangat, telur dadar, dan segelas air putih.
"Nyonya Listia," sapa Hendra dingin. "Nyonya Vion kirim makanan ini untuk Anda. Dan penawaran pekerjaan di Bogor. Jadi petugas cuci piring di panti jompo dengan gaji dua juta per bulan. Bersedia?"
Nyonya Listia pandang piring nasi hangat itu dengan air mata. Hidangan nasi pertama yang ia lihat seharian ini.
Ia angguk berkali-kali sambil terisak hebat.
"Saya bersedia... sangat bersedia... sampaikan terima kasih saya... terima kasih ke Nyonya Vion..."
Ia sambar piring nasi itu dengan jari gemetar, lalu lahap dengan lahap di atas kardus, bersandar di dinding got bau busuk, dengan air mata tak terbendung.
Bukan lagi air mata sedih, tapi tetesan syukur.
Untuk pertama kali seumur hidup, ia merasa begitu bersyukur hanya karena sepiring nasi hangat dan kesempatan kerja sebagai pencuci piring.
Di penthouse, Alesha pantau laporan video dari Hendra: Nyonya Listia lahap nasi di atas kardus dengan begitu lahap.
Alesha usap perutnya yang berisi janin lima minggu lalu berbisik lembut:
"Wahai buah hati ku, lihatlah. Mama tidak balas dengan habisi nyawa mereka. Mama balas dengan ajarkan arti hidup yang sesungguhnya. Sama seperti apa yang Mama lalui dulu."
Vion dekap Alesha dari belakang, kecup hangat di atas perut istrinya.
"Kau akan jadi ibu terbaik, Ratuku. Dan aku akan jadi pelindung paling kejam di muka bumi demi jaga kalian berdua."
Sementara itu, di kontrakan sempit Tanjung Priok, Rian masih terpuruk bersimpuh di sisi got setelah ratapi kabar keguguran Clarissa, tanpa pernah tahu bahwa ibu tercintanya baru saja diangkat dari tumpukan kardus pengemis untuk jadi tukang cuci piring oleh wanita yang dulu tega ia tinggalkan di altar.
Rangkaian keluarga yang sempat nistakan Alesha kini benar-benar binasa satu per satu:
Gunawan: Tergolek lumpuh karena strok di kursi roda.
Clarissa: Keguguran setelah dipaksa jadi pesuruh kantor.
Listia: Terhempas dari singgasana sosialita Blok M jadi pencuci piring di panti jompo.
Rian: Driver ojek melarat yang kehilangan dua buah hatinya dalam waktu bersamaan.
Sementara Alesha, di lantai 99, menikmati makan malam bersama janin sehat di rahimnya, didekap erat oleh Vion Mahendra, penguasa berdarah dingin yang menjelma jadi pendamping hidup paling setia sejagat raya.