Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 28
BAB 28
Lantai granit putih berlapis epoksi di Ruang Pengujian Utama Gedung Pusat Kurasi Mode berkilat dingin di bawah pendar lampu neon yang menyilaukan. Suasana di dalam ruang laboratorium steril berukuran luas itu terasa begitu menghimpit, sarat tekanan psikologis yang mencekat dada.
Di area belakang garis pembatas bertali beludru merah yang dipasang panitia, kerumunan besar disesaki oleh puluhan wartawan media mode, juru kamera televisi nasional, hingga jajaran pelaku bisnis papan atas kota. Tak ketinggalan, belasan desainer muda rekan seangkatan Maya dan Clarissa dari Fakultas Desain berdesakan di barisan terdepan—saling berbisik dengan mimik wajah sarat rasa penasaran.
"Benar kan kataku? Rendra itu cuma memanfaatkan posisinya sebagai konsultan penjurian!" bisik seorang desainer pria berkacamata tebal dari balik garis pembatas. "Dia tahu draf Arum House lebih dulu, lalu dibocorkan ke Maya!"
"Kalau tuduhan Clarissa dan Victor ini terbukti di meja uji netral hari ini," timpal seorang pengusaha tekstil wanita dengan senyum miring, "reputasi Rendra sebagai kurator senior hancur lebam. Dia bukan cuma di-blacklist, tapi bisa diseret ke ranah pidana!"
Kasak-kusuk bernada provokatif itu merambat cepat di dalam ruangan. Pendar lampu kilat kamera wartawan tak berhenti menyorot dari balik garis pembatas, menangkap setiap gerak-gerik manusia di arena utama pengujian.
Di tengah ruangan, dua meja pengujian baja tahan karat berdiri sejajar. Di meja pertama, gaun sutra organza milik Maya terbentang bersanding dengan kerangka kuningan tempaan tangan Rendra. Sedangkan di meja kedua, manekin milik Arum House berdiri memamerkan prototipe gaun buatan Clarissa lengkap dengan ornamen logam cetak berlapis emas, bersanding dengan cetakan sketsa master bertanda tangan legalitas paten milik mereka.
Tiga anggota Tim Verifikasi Fisik Independen memakai jas laboratorium putih dan sarung tangan steril, bersiap dengan mikroskop digital dan instrumen uji kepadatan logam. Di sisi kiri meja, Baskoro berdiri tegap penuh percaya diri bersama pengacara senior Victor Group. Clarissa Arum hadir langsung—berdiri anggun memegang salinan berkas patennya, melipat tangan di dada seraya melempar tatapan culas bercampur dendam ke arah Maya.
Maya berdiri tegar di ujung mejanya, meremas jemarinya yang dingin. Di sisinya, Rendra berdiri santai bersedekap. Pria itu tampak sangat kontras di dalam ruangan steril tersebut—masih mengenakan kemeja kerja kain tebal dengan lengan digulung hingga siku, sama sekali tak terintimidasi oleh keberadaan prototipe gaun Clarissa ataupun sorotan kamera di sekelilingnya.
"Atas nama transparansi kompetisi," pengacara Victor membuka suara dengan nada lantang yang diproyeksikan ke seluruh penjuru ruangan, "kami telah membawa prototipe fisik gaun Arum House beserta draf sketsa paten nomor 402 milik klien kami. Silakan Tim Penguji bandingkan secara langsung!" di antara suanya yang lantang, pengacara Arum House itu sambil menunjuk ke arah ornamen logam di pinggang gaun Clarissa, lalu menunjuk kerangka kuningan Rendra."Kami menemukan indikasi kuat bahwa motif ukiran lekuk pada elemen kuningan buatan Saudara Rendra memiliki kemiripan geometris hingga delapan puluh dua persen dengan draf sketsa dan prototipe milik Arum House! Sebagai konsultan penjurian, Saudara Rendra jelas menjiplak sketsa ini untuk dipasangkan pada gaun Saudari Maya!"Gumam kaget bersahut-sahutan dari kerumunan di balik garis pembatas. Lampu kilat kamera bertubi-tubi menyorot sketsa Clarissa dan kerangka kuningan Rendra secara bergantian. Atmosfer ruangan memanas hebat. Maya merasakan dadanya sesak oleh tekanan mental puluhan pasang mata yang menatapnya. Namun, sebelum kepanikan menguasai, sebuah langkah kaki berbobot menghentak lantai granit.
Rendra melangkah maju mendekati meja pengujian. Tanpa memedulikan tatapan hina kerumunan, ia menatap pengacara Victor, lalu mengalihkan pandangannya lurus ke arah prototipe dan sketsa milik Clarissa.
"Kalian membawa hasil cetak mesin pabrik dan lembaran sketsa digital ke laboratorium material untuk menuduh karya tempaan tangan?" suara Rendra bergema rendah, tajam, dan serta-merta menghentikan keriuhan di seluruh ruangan.
Clarissa mendengus, melangkah maju melangkahi batas meja.
"Jangan bersilat kata, Rendra! Sketsa master milikku dibuat lebih dulu, dan prototipe logam di gaunku ini adalah bukti fisik bahwa motif lekuk itu milik Arum House!" suara Clarissa sangat keras dengan dipenuhi nada gusar.
Pengacara Victor Group serta-merta ikut melangkah menyertai Clarissa. Dengan gestur yang teatrikal, ia mengangkat salinan sertifikat paten sementara di hadapan para juri dan kamera wartawan.
"Rangkaian lengkung geometris ini didaftarkan oleh klien kami dua bulan lalu!" seru sang pengacara. "Secara hukum kekayaan intelektual, bentuk visual dasar yang digunakan pada gaun Saudari Maya memiliki kesamaan esensial hingga delapan puluh dua persen. Fakta bahwa saudara Rendra adalah konsultan penjurian kompetisi ini menciptakan indikasi kuat terjadinya kebocoran draf eksklusif dari sistem arsip panitia!"
Kasak-kusuk di belakang pembatas kembali memuncak. Beberapa desainer pendukung Clarissa mengangguk-angguk setuju, sementara para wartawan kian gencar mengambil gambar sertifikat tersebut.
"Bukan sekadar indikasi!" potong Clarissa dengan nada melengking yang sarat provokasi. Mata tajamnya beralih menatap Maya dengan pendar penghinaan. "Maya sudah terdesak sejak babak penyisihan awal. Tanpa bantuan konsultan yang memotong jalur etik, Studio Nilakandi tidak mungkin sanggup mengeksekusi kerangka logam sedetail itu dalam waktu singkat. Kau memanfaatkan posisi Rendra untuk mencuri ornamen milikku!"
Maya mengepalkan tangannya di samping gaun, dadanya bergolak.
"Tudinganmu absurd, Clarissa! Riset kelim logam itu sudah kami mulai sejak masa kuliah, jauh sebelum Arum House mematenkan bentuk cetakan pabrikmu!" suara Maya terdengar tenang namun terasa sekali ada ketegasan dalam nada suaranya tersebut"Masa kuliah?" Clarissa terkekeh dingin, memotong ucapan Maya tanpa belas kasihan. "Jangan membawa nostalgia kampus ke meja verifikasi resmi. Di dunia industri profesional, bukti tertulis dan pendaftaran hak paten adalah satu-satunya hukum mutlak. Garis lengkung di gaunmu itu jiplakan murni dari sketsa master milikku—dan kehadiran Rendra di sisimu hari ini adalah bukti nyata adanya benturan kepentingan!"
Pengacara Victor menyunggingkan senyum kemenangan, lalu menatap Ketua Tim Penguji Independen. "Berdasarkan klausul pelanggaran kode etik penjurian dan indikasi plagiarisme visual ini, kami mendesak Dewan Juri untuk detik ini juga membatalkan kelayakan karya Studio Nilakandi serta mencabut lisensi Saudara Rendra sebagai konsultan!"
Ketegangan di dalam ruangan mencapai puncaknya tatkala para anggota dewan juri saling bertukar pandang, tampak mulai terpengaruh oleh tekanan berkas hukum yang dilambaikan oleh kubu Arum House.
Sorot lampu kamera televisi nasional menyorot tajam ke arah wajah Maya yang menahan sesak, sementara Clarissa tersenyum penuh kemenangan di balik meja seberang.
Di tengah kepungan narasi hukum dan tuduhan moral yang makin memojokkan itu, Rendra tetap berdiri diam. Pria itu menatap permukaan ornamen logam pada gaun Clarissa dengan tatapan yang amat dingin. Namun, saat Ketua Tim Penguji hendak mengangkat palu putusan sementara, Rendra mengetukkan ujung jarinya ke atas meja baja, memicu keheningan baru yang mendadak mencekam.