Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Mentari pagi merayap lembut, memantulkan sinarnya melalui dinding kaca penthouse mewah milik Lucas.
Aira perlahan membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
Begitu ia sadar, ia mendapati dirinya sudah berada di dalam dekapan hangat lengan kokoh Lucas.
Pria itu rupanya sudah terjaga lebih dulu. Dengan tatapan penuh cinta dan perhatian yang begitu intens, jauh berbeda dari sosok bos hotel yang dikenal dingin dan kejam oleh orang lain. Lucas mengelus lembut rambut Aira.
"Pagi, sayang," bisik Lucas lembut, mengecup singkat kening Aira.
"Bagaimana tidurmu? Ada keluhan? Mual?"
Aira tersenyum simpul, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya.
Ia menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum ke arah Lucas.
"Tidak, tidurku nyenyak sekali, Lucas. Dan aku tidak merasa mual pagi ini."
Lucas menghembuskan nafasnya dengan perasaan lega.
Kemudian ia beranjak bangkit sejenak, lalu mengambil segelas susu kedelai hangat yang sudah disiapkannya di atas meja nakas.
"Minum susu kedelainya dulu sampai habis, setelah itu kita mandi dan bersiap untuk berangkat ke hotel," ujar Lucas penuh perintah namun dibalut kelembutan.
Aira menurut tanpa membantah. Ia menerima gelas tersebut dan meminumnya perlahan hingga tandas.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian kerjanya yang rapi namun santai, keduanya bersiap meninggalkan penthouse.
Namun, tepat sebelum mereka masuk ke dalam lift pribadi, Aira menghentikan langkahnya dan menatap Lucas dengan sorot mata memohon.
"Lucas," panggil Aira ragu-ragu.
"Nanti, tolong turunkan aku di kafe seberang hotel ya."
Lucas mengernyitkan dahi, langsung menangkap maksud wanita itu.
"Kenapa harus di seberang? Kenapa tidak langsung turun di basement khusus eksekutif bersama mobilku?"
"Lucas, aku kan sudah bilang, aku ingin menjaga kesepakatan kita. Aku tidak mau karyawan lain melihat kita datang bersama dan mulai bergosip. Aku ingin membuktikan kemampuanku sendiri."
Lucas menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk meredam rasa ingin melindungi yang teramat besar di dalam dadanya.
Ia menatap Aira lekat-lekat sebelum akhirnya mengangguk pasrah.
"Baiklah," jawab Lucas mengalah.
"Tapi ingat, ini hanya berlaku untuk satu bulan ini saja. Setelah batas waktu itu habis, mau tidak mau, suka tidak suka, aku akan mengumumkan pada seluruh dunia bahwa kamu adalah calon istriku."
Aira tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya setuju.
Ia menghargai ketegasan sekaligus kelembutan pria di hadapannya itu.
Lucas melajukan mobil SUV mewahnya membelah jalanan kota yang mulai ramai.
Sepanjang perjalanan, tangan kirinya tak pernah melepaskan genggaman pada jemari Aira, menyalurkan kehangatan yang diam-diam mengikis sisa kelelahan di tubuh wanita itu.
Setengah jam kemudian, saat situasi di sekitar area kafe sebelah hotel terasa cukup sepi, Lucas perlahan menghentikan mobilnya di bahu jalan.
Sebelum Aira meraih gagang pintu, Lucas menahan tangannya pelan, lalu membungkuk dan mencium pipi Aira dengan lembut dan agak lama.
"Hati-hati jalannya. Jangan memaksakan diri, sayang," bisik Lucas penuh perhatian.
"Iya, Lucas. Terima kasih," balas Aira dengan pipi berhias rona merah.
Aira segera turun dari mobil dan melangkah santai menuju kafe sebelum menyeberang ke hotel.
Sementara itu, Lucas kembali melajukan mobilnya menuju jalan masuk khusus dan memarkirkan kendaraannya tepat di basement eksekutif.
Aira melangkah menyusuri koridor khusus karyawan, berjalan menuju ruang ganti untuk mengenakan seragam kebanggaannya sebagai Head Chef.
Setelah selesai, ia melangkah mantap memasuki dapur utama hotel yang sudah mulai sibuk.
"Selamat pagi, Chef!" sapa Rizal dengan wajah berbinar lega, disusul oleh sapaan hangat dan serentak dari para koki serta staf dapur lainnya.
"Selamat pagi semuanya. Terima kasih sudah menjaga dapur kemarin dengan sangat baik," balas Aira ramah sembari menyunggingkan senyum hangat.
Ceklek!
Pintu kaca tebal dapur utama tiba-tiba terbuka. Semua aktivitas mendadak terhenti saat sosok Arum—Manajer HRD—masuk bersama sang pemilik hotel ternama, Lucas.
Pria itu tampak gagah dan berwibawa dalam balutan setelan jas mewahnya, memancarkan aura pimpinan yang tak terbantahkan.
"Selamat pagi semuanya," sapa Arum sopan.
"Pagi, Pak Lucas, Bu Arum!" sahut para staf dapur serentak dengan nada sedikit tegang, menyapa sang bos besar yang sangat jarang menginjakkan kaki langsung di dapur.
Arum tersenyum tipis lalu mengumumkan sebuah kabar mengejutkan.
"Mulai hari ini, Pak Lucas akan ada di ruang pengawasan sebelah, tepat di dekat area dapur utama."
"HAH?!"
Seruan kaget yang kompak tak mampu ditahan oleh Rizal dan seluruh koki.
Mata mereka membelalak lebar, saling bertukar pandang penuh rasa panik.
Dapur utama yang biasanya menjadi wilayah kekuasaan penuh para koki kini mendadak diawasi langsung oleh pemilik tertinggi hotel!
"Kenapa, Bu? Apa, kami ada membuat kesalahan besar saat Chef Aira kemarin absen?" tanya Rizal terbata-bata.
Melihat kepanikan yang melanda jajaran staf dapurnya, Lucas melangkah maju satu langkah.
Wajahnya tetap datar dan tenang, namun tatapan matanya tetap memancarkan wibawa.
"Tidak ada kesalahan apa pun dari kalian," ujar Lucas dengan suara baritonnya yang mantap dan tegas, tanpa sedikit pun menyinggung hubungannya dengan Aira.
"Perkembangan menu di dapur ini sedang menjadi sorotan utama direksi untuk ekspansi bisnis kuliner hotel kita ke depan. Saya pribadi hanya ingin memantau langsung alur kerja dan standar kualitas di sini agar operasional berjalan maksimal."
Lucas melirik sekilas ke arah Aira yang berpura-pura sibuk merapikan papan pemotong di dekatnya.
"Jadi, bekerja seperti biasa dan berikan yang terbaik," tutup Lucas dingin namun menyiratkan kepuasan dan membuat seluruh staf dapur menghembuskan napas lega walau kini harus terbiasa "ditemani" oleh sang bos besar.
"Mari sekarang kita kembali bekerja," potong Arum memecah ketegangan yang sempat menyelimuti seluruh ruangan.
Para koki dan staf dapur langsung mengangguk patuh, segera berhamburan kembali ke stasiun kerja masing-masing.
Lucas mengangguk pelan ke arah Arum, lalu melangkah menuju ruang pengawasan berkaca transparan yang berada tepat di sisi dapur utama.
Sebelum benar-benar masuk dan menutup pintu kaca kedap suara itu, sudut mata Lucas menangkap sosok Aira.
Wanita itu sedang menatapnya sembari menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman rahasia yang manis dan berhasil membuat sudut bibir pria tegas itu terangkat samar.
Ting!
Suara nyaring dari mesin pencetak pesanan (printer ticket) mendadak berbunyi bertubi-tubi, menandakan pesanan dari restoran utama mulai masuk deras di jam makan siang.
Aira dengan sigap mengambil lembaran kertas pesanan tersebut, matanya membaca kilat dengan fokus penuh seorang Head Chef profesional.
Ia memutar tubuhnya menghadap jajaran staf dapur dengan suara nyaring dan tegas.
"Ikan kerapu asam manis empat! Nasi goreng tiga! Sop asparagus lima!" seru Aira lantang menyuarakan pesanan (calling the order).
"SIAP, CHEF!!" sahut Rizal dan seluruh tim koki serentak dengan penuh semangat.
Seketika dapur utama berubah menjadi arena atraksi kuliner yang padat dan teratur.
Api kompor bertekanan tinggi menyambar wajan, denting sendok dan wajan beradu ritmis, serta aroma harum bumbu segar mulai membumbung memenuhi udara.
Dari balik kaca transparan ruangannya, Lucas duduk anggun di kursi kerjanya.
Laptop mewahnya memang terbuka, namun fokus utamanya sama sekali bukan pada angka-angka di layar.
Pandangan tajam pria itu sepenuhnya tertuju pada sosok Aira yang begitu cekatan, anggun, dan berwibawa memimpin jalannya operasional dapur.
Rizal yang sedang menumis bumbu sesekali melirik ke arah ruang pengawasan, lalu berbisik pelan pada koki di sebelahnya.
"Duh, diawasi Pak Lucas langsung rasanya kayak lagi ujian kelulusan. Tapi aneh ya, tatapan Pak Lucas ke arah Chef Aira kok rasanya adem banget, bukan kayak bos galak yang mau nyari kesalahan?" bisik Rizal heran.
Aira yang tak sengaja mendengar bisikan itu hanya bisa menahan senyum sembari merapikan piring sajian.
Di balik kerja kerasnya hari ini, ada rasa hangat yang membuncah di dada.
Ia tahu bahwa di balik kaca tebal itu, ada pria yang sangat mencintainya sedang berdiri pasang badan menunggunya.
"Rizal! Jangan suka gosip! Dagingnya gosong nanti!" tegur Aira dengan nada tegas namun bercanda, memotong ocehan Rizal yang panik.
Rizal langsung terperanjat dan menepuk dahinya. "Ehh! Siap, Chef! Ampun!" serunya panik sembari membolak-balik daging di atas wajan berapi tinggi.
Ting! Ting!
Pesanan kembali beruntun mencetak lembaran baru.
Menu Ikan Kerapu Asam Manis racikan khusus Aira yang baru saja viral di media sosial menjadi idola utama para pengunjung restoran hotel hari ini.
Sementara itu, di lobby utama hotel bintang lima yang megah dan elegan, suasana mendadak terganggu oleh kedatangan tiga orang dengan ekspresi wajah penuh amarah dan dendam.
Ibu Radit, Siska, dan Radit yang mulut atasnya masih terbungkus perban tebal akibat bogem mentah Lucas, melangkah masuk tanpa rasa canggung. Mereka langsung menerobos ke arah meja resepsionis.
"Apa Aira bekerja di sini?!" tanya Ibu Radit kasar tanpa basa-basi, menepuk meja marmer resepsionis.
Gia, staf resepsionis yang bertugas, terkejut melihat penampilan dan nada bicara mereka yang sangat tidak sopan.
"Maaf, dengan Ibu siapa saya berbicara? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Gia tetap berusaha profesional.
"Berisik! Panggilkan Aira sekarang juga! Jangan banyak tanya!" bentak Radit dengan suara sengaunya yang tertahan akibat perban di bibirnya.
Gia yang mulai merasa terancam segera meraih gagang telepon antar-divisi, menghubungkannya langsung ke saluran dapur utama.
Kring...
Aira yang sedang mengawasi piring sajian langsung mengangkat telepon di dinding dapur.
"Iya, Gia, ada apa?" tanya Aira.
"Chef Aira, maaf mengganggu. Di lobby bawah ada yang mencari Anda, tapi, mereka marah-marah dan berbuat kerusuhan," bisik Gia dengan nada cemas.
Aira menghela napas panjang. Tanpa perlu bertanya siapa nama orang-orang itu, ia sudah bisa menebak dengan pasti siapa trio yang datang mencari masalah tersebut.
"Baiklah, Gia. Aku akan ke sana sebentar," sahut Aira tenang.
Ia menutup gagang telepon, lalu berbalik menatap Rizal.
"Rizal, tolong gantikan aku pegang kendali calling order sebentar ya."
"Siap, Chef! Tapi ada apa, Chef?" tanya Rizal heran.
"Tidak ada apa-apa, hanya urusan sebentar," balas Aira santai.
Dari balik kaca transparan ruang pengawasan, mata tajam Lucas menangkap pergerakan Aira yang mendadak melepas celemeknya dan melangkah keluar dari area dapur utama.
Pria itu langsung berdiri dari kursi kerjanya, meraih jas mewahnya, dan bersiap menyusul langkah calon istrinya.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu