NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: MAKAN SIANG DENGAN TAMU YANG TIDAK MENGENALKU

Nyonya Lin sudah memeriksa susunan meja tiga kali sebelum tengah hari.

Ia menggeser mangkuk sup setengah jari ke kiri, memindahkan piring ikan kukus ke sisi tempat duduk tamu tertua, lalu menukar sepasang sumpit gading dengan yang kayu karena, katanya, Nyonya Fang tidak suka makan dengan benda yang terlalu bagus. Di dapur, bunyi pisau di atas talenan terdengar tanpa putus. Bibi Qin bolak-balik membawa nampan, dan sesekali berhenti hanya untuk memastikan taplak tidak berkerut.

"Ini hanya makan siang dengan tetangga, Ibu," kata Ruyin dari ambang pintu.

"Tetangga yang tidak pernah memuji siapa pun," jawab Nyonya Lin tanpa menoleh. "Kalau ia diam saat mencicipi, itu pujian terbaik."

Ruyin mengenakan jubah kapas hijau pucat dengan ikat pinggang abu-abu, rambutnya hanya diikat pita kelabu yang kemarin ia beli. Tidak ada tusuk konde giok. Ia menunduk memeriksa lengan bajunya dan menemukan secuil benang daun teh yang masih menempel. Ia membiarkannya.

———

Nyonya Fang datang dengan tongkat di tangan kanan dan sebuah keranjang bambu di lengan kiri, ditopang pelayan tua yang napasnya masih tersengal seperti hari ia mengantar undangan. Di belakang mereka, seorang pemuda berjalan dengan langkah yang jelas-jelas tidak ingin berada di sana.

"Jangan berdiri di pintu seperti tamu," kata Nyonya Fang sebelum siapa pun sempat memberi hormat. "Lin, rumahmu makin rapi. Aku jadi takut duduk." Ia menyodorkan keranjang. "Kue labu buatan menantuku. Rasanya biasa saja, tapi ia tidak akan berhenti bertanya kalau tidak kubawa."

"Terima kasih, Nyonya Fang."

"Dan ini cucuku yang memalukan. Fang Zhilan, beri hormat. Jangan menguap."

Pemuda itu membungkuk setengah, dan menguap setengah, lalu buru-buru menutup mulut dengan punggung tangan. Usianya mungkin enam belas, tinggi dan kurus, jubah akademinya kusut di bagian siku. Matanya lincah dan sedikit mengantuk, seperti orang yang tidur larut karena membaca sesuatu yang tidak ada di kurikulum.

"Maaf," katanya kepada Ruyin. "Aku tidak menguap karena Nona. Aku menguap karena ceramah nenekku di jalan."

"Ceramahnya panjang?"

"Dari gerbang rumahku sampai gerbang kalian. Lima menit lebih lama dari kemarin."

Nyonya Fang mengayunkan tongkatnya ke betisnya, tidak keras. "Dengar? Ia menghitung."

Ruyin menahan tawa, dan ketika ia melihat Nyonya Lin menyembunyikan senyum di balik lengan baju, ia tahu makan siang ini akan berjalan baik.

———

Meja ditata di aula samping. Yucheng datang terlambat, rambutnya masih basah, lalu memberi hormat kepada Nyonya Fang dengan cara yang membuat perempuan tua itu menyipitkan mata.

"Kau makin tinggi dan makin tidak bisa diam."

"Nyonya terlalu baik."

"Aku tidak memuji." Ia meraih sumpit, dan sebelum menyuap apa pun, ia berkata kepada Zhilan, "Kakak Nona ini dulu masuk ke dapurku lewat jendela. Umurnya sepuluh, kalau tidak salah. Ia mengira dapurku menyimpan kue bulan untuk festival. Ternyata hanya acar lobak."

"Nyonya," kata Yucheng, "aku sudah minta maaf."

"Kau minta maaf sambil menggigit lobak itu."

"Karena sudah terlanjur dibuka."

Zhilan tertawa keras, lalu cepat-cepat menunduk pada mangkuknya ketika neneknya melotot. Ruyin ikut tertawa dan melihat Yucheng meliriknya dengan wajah pura-pura menderita. Nyonya Lin hanya menuang sup ke mangkuk Nyonya Fang.

"Diam, Nyonya Fang. Cicipi dulu."

Nyonya Fang mencicipi sup, mengunyah, dan tidak berkata apa-apa. Nyonya Lin menaruh sendoknya dengan perlahan, dan Ruyin menangkap sudut bibir ibunya terangkat sedikit.

———

Setelah makan, Nyonya Fang dan Nyonya Lin berpindah ke serambi untuk teh dan pembicaraan orang tua tentang harga arang. Yucheng dipanggil pengurus rumah. Zhilan ditinggalkan di aula, dan karena tidak ada yang menyuruhnya duduk diam, ia berjalan mengitari ruangan dengan tangan di belakang punggung, memeriksa lukisan bambu di dinding seperti sedang memberi penilaian.

"Kau tinggal lama di Selatan?" tanyanya akhirnya.

"Delapan tahun."

"Apakah di sana lebih hangat?"

"Lebih lembap. Pakaian tidak pernah benar-benar kering."

"Dan makanannya?"

"Lebih manis. Dan lebih banyak ikan."

"Aku suka ikan." Zhilan mengangguk seakan ini jawaban yang menentukan. "Chang'an terlalu banyak kambing. Atau mungkin hanya di rumahku."

Ruyin tertawa. Zhilan menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum lebar. Pandangannya jatuh pada meja kecil di sudut ruangan, tempat Bibi Qin tadi menaruh kantong kuas untuk dikeringkan kainnya dari embun pagi.

"Itu punyamu?"

"Aku yang membuatnya."

Ia mengangkat kantong itu dan mengamatinya lama. "Bambunya miring."

"Itu bambu yang tertiup angin."

"Angin dari arah mana? Dari arah utang piutang?"

"Kau cerewet sekali untuk tamu."

"Nenekku bilang aku harus jujur supaya tidak jadi pejabat korup." Ia mengembalikan kantong itu dengan hati-hati. "Tapi talinya kuat. Dan warnanya bagus. Hijau lumut itu."

"Itu kata kakakku juga."

"Berarti kakakmu tidak sepenuhnya buruk."

Ruyin menyadari bahwa percakapan ini berjalan tanpa jeda. Tidak ada kalimat yang diawali *dulu kau*, tidak ada tatapan yang mencoba mencocokkan wajahnya dengan wajah seseorang di masa lalu. Pemuda ini bertanya apakah ia suka ikan, dan hanya itu.

"Boleh aku jujur?" kata Zhilan, duduk di bangku rendah dekat jendela. "Waktu nenekku bilang akan membawaku bertemu Nona Kedua Shen, aku mengira kau akan sangat pendiam. Katanya kau dulu suka duduk membaca berjam-jam. Aku membayangkan seseorang yang berbicara sepatah, lalu menghilang ke balik buku."

"Dan sekarang?"

"Kau mudah tertawa. Dan kau mengomentari ikan." Ia mengangkat bahu. "Entah nenekku salah ingat, atau kau yang berubah."

"Mungkin dua-duanya."

"Itu jawaban yang sangat sopan."

"Aku tumbuh di rumah yang suka jawaban sopan."

Zhilan tersenyum. Ia tidak bertanya lebih jauh, dan Ruyin menyadari dengan sedikit heran bahwa ia tidak keberatan dijelaskan sebagai dua orang sekaligus, selama orang yang menjelaskannya tidak memintanya memilih salah satu.

———

Menjelang pulang, Zhilan menyebut sebuah tempat di dekat Jalan Liu: kedai teh bertingkat dengan serambi atap rendah, tempat beberapa anak muda biasa berkumpul tiap hari kelima. Mereka bertukar buku, bermain catur, dan kadang menertawakan syair orang lain.

"Kau seharusnya datang suatu hari," katanya sambil merapikan jubahnya. "Kalau tidak bosan. Aku sering membolos ke sana."

"Aku akan memikirkannya."

"Itu yang selalu dikatakan orang sebelum tidak datang."

"Kalau begitu aku akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh."

Nyonya Fang memanggilnya dari pintu, dan ia pergi dengan langkah malas, menoleh sekali sambil mengangkat tangan. Ruyin membalas dengan anggukan kecil.

———

Setelah gerbang menutup dan aula kembali sunyi, ia naik ke kamar dan duduk di bantalan bersulam awan di depan meja kecilnya.

Kantong kuas itu tergeletak di sana, dengan rumpun bambu miringnya. Ia mengambilnya, mengusap sulaman itu dengan ibu jari. Hijau lumut yang sudah tidak lagi terasa seperti utang.

Selama ini ia terlalu sibuk menanyakan siapa dirinya dahulu. Hari ini, seorang pemuda yang hampir tidak mengenalnya justru bertanya apakah ia suka ikan, dan jawabannya ternyata tidak perlu dicari di masa lalu. Ia hanya perlu mengatakannya.

Ia belum punya jawaban tentang siapa dirinya sekarang.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus memilikinya sebelum malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!