NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku, Cleaning Service

Suami Kontrakku, Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"

"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.

Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar Buka Hati

***

"Mirza! Baru kelihatan jam segini?"

Nilam berkacak pinggang di depan ruang istirahat cleaning service, menatap Mirza yang baru saja tergesa-gesa mengaitkan id card di dadanya.

"Maaf, Lam. Tadi ada urusan mendadak di rumah," sahut Mirza ringkas, agak terengah-engah.

"Urusan apa sampai jam delapan lewat begini?" Nilam menggeleng-gelengkan kepala.

"Semua area lantai lima sudah dibersihkan sama Pak Mamat. Biasanya kamu paling rajin, datang paling pagi dari OB yang lain. Hari ini malah terlambat banget."

"Iya, aku minta maaf banget. Nanti aku yang urus lantai yang lainnya," kata Mirza merasa tak enak hati.

Nilam menatap wajah Mirza yang tampak lelah dan agak kalut.

"Kamu ... sudah sarapan belum?"

Mirza menggeleng jujur.

"Belum sempat. Tadi cuma minum susu hangat di rumah."

"Nah, pas banget!" Nilam tersenyum lebar sambil mengangkat kotak bekal transparan dari tasnya.

"Aku bawa nasi goreng lebih dari rumah. Yuk, ke kantin bawah! Temani aku sarapan. Toh kerjaan lantai lima juga sudah selesai semua."

Mirza sempat ragu sejenak. Namun, kepalanya memang terasa berat memikirkan dinamika tempat tinggal barunya dan kebohongan besar yang sedang dipikul bersama Alana. Dia butuh mengendalikan pikirannya sebentar.

"Boleh deh, Lam. Makasih ya," jawab Mirza akhirnya.

Mereka berdua berjalan menyusuri koridor menuju lift khusus karyawan. Sejak awal masuk kerja di Mahendra Group, Nilam memang orang yang paling ramah pada Mirza. Saking dekat dan kompaknya mereka kalau bekerja, beberapa OB dan staf staf administrasi sering melempar godaan dan menjodoh-jodohkan mereka berdua. Padahal, Mirza tahu betul kalau Nilam sudah punya pacar yang bekerja di perusahaan sebelah.

"Btw, kemarin ibumu gimana kondisinya, Za?" tanya Nilam saat mereka melangkah masuk ke dalam lift yang sepi.

"Kemarin malam aku cuma sempat ketemu Bu Alana sebentar di parkiran sebelum pulang."

Mirza langsung menoleh, matanya membelalak kaget.

"Kamu ... ketemu Bu Alana di parkiran rumah sakit kemarin malam?"

"Iya," jawab Nilam polos.

"Bu Alana bilang habis jenguk temannya. Ya sudah, aku kasih tahu sekalian kalau aku lagi jagain ibumu karena kamu lagi ada urusan dari pagi."

Mirza menelan ludah berat, mendadak teringat omongan Alana tadi malam dan sikapnya yang makin sinis saat menanyakan sosok Nilam.

"Jadi Alana memang ketemu Nilam kemarin?" batin Mirza meringis.

"Oiya, Za," lanjut Nilam sembari menyuap nasi gorengnya saat mereka sudah duduk di pojok kantin.

"Nanti sore sepulang kerja, aku mau ke rumahmu ya. Mau jenguk Tante Maya."

Mirza yang sedang mengunyah langsung tersedak pelan.

"Hah? Mau jenguk Ibu?"

"Iya, dong. Aku mau lihat keadaannya," sahut Nilam mantap.

"Tante Maya itu ngeyelnya persis kayak kamu! Pasti saat kamu berangkat kerja begini, beliau bukannya diam istirahat, tapi malah beres-beres rumah, masak, ngerjain semuanya. Padahal kan baru banget pulih."

Mirza menelan ludah, membayangkan reaksi Nilam kalau sampai tahu rumah yang dimaksud sekarang bukan kontrakan sempit mereka lagi, melainkan penthouse mewah milik CEO Mahendra Group. Belum lagi ada suster dan ART di sana.

"Eh ... tidak usah sore ini, Lam," kilih Mirza cepat, mencoba menolak halus.

"Ibu beneran istirahat total kok. Mendingan ... besok-besok saja jenguknya."

"Ih, kok gitu sih?" Nilam mencibir, menatap Mirza curiga.

"Biasanya juga santai saja kalau aku main ke rumah. Kenapa jadi agak aneh begini?"

"Ya bukannya aneh, cuma ...."

"Pokoknya nanti sore aku tetap ikut kamu pulang!" potong Nilam tak mau dibantah, menepuk meja pelan.

"Cuma mau memastikan Tante Maya murni istirahat, enggak aneh-aneh!"

Mirza memegangi pelipisnya yang mendadak makin pening. Melihat keukeuhan Nilam yang tidak bisa diganggu gugat, dia hanya bisa menghela napas pasrah.

"Ya sudah deh ...." gumam Mirza akhirnya sambil mengangguk pasrah.

Langkah kaki Alana terhenti tepat di pintu masuk kantin. Matanya menangkap pemandangan yang seketika membuat dadanya bergemuruh panas, Mirza dan Nilam sedang duduk berdua di pojok ruangan, tertawa pelan sembari menikmati sarapan.

Sejak pertemuannya dengan Nilam di rumah sakit semalam, bayangan kedekatan mereka terus mengganggu pikiran Alana. Tanpa sadar, jemari Alana mengepal erat. Dia melangkah lebar-lebar menghampiri meja mereka.

Brak!

Alana menepuk permukaan meja kantin dengan cukup keras, membuat Mirza dan Nilam terperanjat kaget.

"Bagus ya," tegur Alana dengan suara dingin dan menusuk.

"Jam kerja begini bukannya keliling membersihkan area kantor, malah asyik mengobrol dan santai-santai di kantin?"

Nilam seketika berdiri dengan wajah pucat.

"M-maaf, Bu Alana. Pekerjaan kami di lantai lima sudah selesai semua, jadi—"

"Kalau selesai di lantai lima, cari pekerjaan di lantai lain!" potong Alana ketus, menatap Nilam dan Mirza bergantian dengan pandangan tajam.

"Jam istirahat itu ada waktunya sendiri. Sekarang kembali bekerja!"

"Baik, Bu. Maafkan kami," cicit Nilam ketakutan sambil terburu-buru merapikan wadah bekalnya.

Sebelum Alana sempat menyemprotkan omelan berikutnya, Shiren yang berdiri di belakangnya langsung maju. Sekretaris sekaligus sahabatnya itu dengan sigap menarik lengan Alana, menyeret wanita itu keluar dari kantin sebelum menjadi pusat perhatian seluruh karyawan.

"Al! Kamu ini kenapa, sih?" pancing Shiren begitu mereka sudah berada di dalam lift eksekutif yang sepi. Dia menatap Alana dengan kening berkerut heran.

"Ngapain sampai marah-marah begitu sama mereka? Muka kamu melotot kayak mau makan orang!"

Alana bersedekap, memasang raut dingin.

"Aku cuma menegur karyawan yang bermalas-malasan di jam kerja."

"Bermalas-malasan gimana? Mereka itu cuma OB, Al. Kalau mereka lagi santai di kantin sebentar, ya artinya tugas mereka sudah beres," Shiren menggeleng-gelengkan kepala.

"Ngapain juga kamu pusingkan sampai harus membentak di depan umum?"

Alana memalingkan wajah ke arah pintu lift, enggan menjawab.

Shiren menajamkan pandangannya, lalu tersenyum penuh arti.

"Tunggu ... jangan-jangan kamu cemburu, ya?"

"Cemburu?!" Alana mendelik tajam pada sahabatnya.

"Jangan ngaco, Shiren!"

"Halah, mengaku saja!" goda Shiren sambil menyenggol bahu Alana.

"Kamu cemburu kan melihat Mirza dekat-dekat sama Nilam? Panas ya melihat suami sendiri ngobrol manis sama cewek lain?"

"Shiren, stop bicara sembarangan!" cetus Alana dengan pipi yang mendadak memerah.

"Ya lagian, ini nih risikonya kalau punya suami ganteng," celetuk Shiren santai.

"Mirza itu idola para staf wanita di lantai bawah, kamu tahu enggak?"

"Masih jauh lebih ganteng Kevin daripada Mirza," gumam Alana lirik, berusaha membentengi hatinya.

Shiren menghela napas panjang, merespons ucapan itu dengan raut penuh ketegasan.

"Buat apa ganteng kalau wujudnya saja tidak kelihatan sampai sekarang, Al? Kevin itu sudah hilang tanpa kabar!"

Lift berdenting dan pintunya terbuka di lantai khusus direksi. Shiren menahan lengan Alana sebelum wanita itu melangkah keluar.

"Tolong ya, Alana Mahendra .... move on," bisik Shiren serius.

"Belajar buka hati kamu untuk suami gantengmu yang nyata di depan mata itu, sebelum dialihkan sama cewek lain."

Ponsel di genggaman Alana bergetar pelan. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor Mirza masuk ke layarnya.

Mirza

Bu Alana, saya izin pulang tengah hari nanti ya. Mau pindahin sebagian barang-barang saya sama Ibu ke kontrakan lama. Soalnya Nilam kekeh mau jenguk Ibu sore ini. Nggak mungkin kan aku bawa Nilam ke apartemen Ibu.

Alana membaca pesan itu dengan raut wajah yang makin mengeras. Bukannya membalas, dia langsung mematikan layar ponselnya, meninggalkan Shiren yang masih berdiri di depan pintu lift, lalu berjalan cepat menuju area ruang istirahat OB di lantai bawah.

Namun, begitu langkahnya mendekati lorong menuju ruang OB, Alana menghentikan jalannya. Di depan sana tampak beberapa OB sedang berkumpul ramai sambil tertawa-tawa.

Alana mengepalkan tangannya, memutar tubuhnya kembali.

"Ngapain juga aku harus sepeduli ini sama dia?" gerutu Alana pada dirinya sendiri dengan nada ketus.

"Terserahlah Mirza mau tinggal di mana sama ibunya! Sudah dikasih tempat bagus dan layak, malah mau balik ke kontrakan sempit cuma demi cewek itu."

Dengan langkah lebar dan napas memburu, Alana kembali ke ruang kerja megahnya. Dia mendudukkan diri di kursi kebesarannya, lalu membuka laptop dengan kasar. Namun, deretan angka dan laporan keuangan di layar sama sekali tidak bisa fokus dibacanya.

Pikirannya benar-benar kacau, mengutuki dirinya sendiri yang terus-menerus memikirkan Mirza dan sang ibu.

"Kenapa Mirza tidak melarang Nilam saja, sih?!" gumam Alana frustrasi, menepuk mejanya pelan.

"Pakai alasan apa gitu! Ngapain harus repot-repot pindah barang segala?"

Alana menyandarkan tubuhnya, memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. Yang paling membuat dadanya berdebar panik adalah ketakutannya kalau sampai orang tuanya tahu mereka tinggal terpisah. Jika Dwi atau Liam mendapati mereka tidak berada di apartemen yang sama, sandiwara pernikahan ini bisa hancur seketika.

"Dasar tidak nurut!" geram Alana frustrasi, menatap tajam ke arah ponselnya di atas meja.

"Dibilangi jangan bikin pergerakan mencurigakan, malah enak-enakan turuti kemauan cewek lain!"

Siang itu, Mirza benar-benar pulang ke apartemen untuk menjemput ibunya. Saat mendapati Maya sedang sibuk merapikan beberapa pajangan di ruang tamu, Mirza makin mantap dengan alasannya.

"Bu, yuk kita beres-beres," ajak Mirza sambil mendekati ibunya.

"Siang ini kita pindah balik ke kontrakan lama saja ya."

Maya menghentikan tangannya, menatap putranya dengan kening berkerut heran.

"Lho? Kenapa harus pindah lagi, Nak? Tempatnya Alana kan baru saja kita tempati."

Mirza tersenyum tipis, mencoba mengarang alasan sehalus mungkin.

"Mirza cuma takut Ibu kecapekan kalau di sini. Rumah Alana ini luas sekali, dan Mirza tahu Ibu itu paling tidak bisa diam. Nanti bukannya istirahat, Ibu malah sibuk beres-beres seluruh ruangan ini."

"Tapi kan di sini ada perawat sama ART yang bantu, Mirza ...." gumam Maya pelan, matanya menyapu sekeliling ruangan yang terawat rapi.

"Iya, tapi kan namanya Ibu, pasti tetap pengin turun tangan," potong Mirza lembut.

"Lebih baik di kontrakan kita yang lama saja. Ukurannya pas, Ibu tidak bakal kecapekan."

Maya menghela napas panjang, ada rasa tidak enak yang mengganjal di hatinya.

"Tapi ... kasihan Alana kalau ditinggal sendirian di rumah sebesar ini, Nak. Dia kan sudah baik sekali mau membiayai semua pengobatan Ibu sampai sembuh."

"Alana paham kok, Bu," alibi Mirza, berusaha menutupi fakta bahwa Alana sebenarnya sama sekali tidak merestui kepindahannya ini.

"Lalu Alana tidak ikut pindah sama kita?" tanya Maya lagi.

Mirza menggeleng pelan.

"Tidak, Bu. Alana tidak akan bisa tinggal di kontrakan kita yang sempit itu. Dia sudah terbiasa di sini."

Raut wajah Maya seketika berubah agak serius. Dia menatap Mirza dengan pandangan menegur.

"Mirza, dengarkan Ibu. Yang namanya suami istri itu tidak boleh tinggal terpisah. Seharusnya seorang istri itu ikut ke mana pun suaminya tinggal."

Mirza menelan ludah berat, merasa tersindir oleh ucapan sang ibu yang mengira ini pernikahan normal.

"Iya, Bu ... Mirza tahu," jawab Mirza mengalah demi menenangkan hati ibunya.

"Nanti hal ini bakal Mirza bicarakan lagi baik-baik sama Alana, ya? Sekarang yang penting Ibu ikut Mirza dulu ke kontrakan."

1
dibyanto byl
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!