NovelToon NovelToon
KETIKA AKU HARUS MEMILIH

KETIKA AKU HARUS MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Terbiasa Sendiri.

Sera mengajak Mama Irene duduk di ruang keluarga. Ia meminta Wira untuk memberitahu Bi Sari agar membawakan dua cangkir teh hijau untuk mereka.

Pria itu mengangguk patuh. Ia kemudian pergi ke dapur untuk mencari bi Sari.

“Bi, ada nyonya Arthadipa di ruang tamu. Non Sera meminta bibi membawakan dua cangkir teh hijau.” Ucap Wira.

“Kalau begitu, tolong bantu bibi mengupas udang ini, mas.” Ucap Bi Sari. Wanita paruh baya itu bergegas mencuci tangannya.

Ia sedang mengupas udang untuk menu makan malam nanti.

Wira mengangguk pelan. Ia mencuci tangannya terlebih dulu. Kemudian melanjutkan pekerjaan bi Sari.

“Mamanya pak Ravin masih muda ya, Bi.” Ucap Wira begitu saja.

“Bibi belum pernah bertemu, mas. Baru pertama ini datang kemari.” Ucap Bi Sari.

“Oh.” Wira mengangguk pelan.

Kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.

Sementara itu, di ruang keluarga. Sera menceritakan pada mama Irene awal mula Wira bisa bekerja menjadi sopir pribadinya.

Sang mama mertua mendengarkan dengan sangat serius. Hingga kemudian mengeluarkan pendapatnya.

“Kenapa mama kamu begitu saja percaya sama orang? Apa tidak takut dia berbuat buruk pada kamu?” Mama Irene mencebikkan bibirnya.

Sera menghela nafas pelan.

“Ma, mas Wira yang menolong mama Safina. Mana mungkin dia memiliki niat buruk. 2 hari ini, mas Wira juga tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan.” Ucap gadis itu.

Tidak berniat membela Wira, namun ia berusaha untuk berpikir positif pada orang lain.

Mama Irene berdecak pelan. “Baru 2 hari, Sera. Kita lihat kedepannya. Apalagi dia itu seorang preman. Pergaulannya pasti tidak jauh dari para penjahat.”

Sera tak lagi menanggapi ucapan mama mertuanya. Mungkin, yang di katakan mama Irene ada benarnya. Namun, ia tidak mau menaruh curiga kepada Wira.

“Oh ya. Kenapa kamu tidak ikut Ravin ke Bali, Ra? Hitung - hitung kalian melakukan bulan madu.” Ucap mama Irene kemudian.

Sera tersenyum kaku. Bagaimana mau ikut Ravin ke Bali? Semantara, pria itu sama sekali tidak pernah menawarinya untuk ikut?

Sera tidak mungkin begitu saja menawarkan dirinya ‘kan?

“Kalian sudah hampir 2 bulan menikah. Belum ada tanda - tanda hamil juga ‘kan? Seharusnya, kalian lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Bukannya saling sibuk bekerja seperti ini.” Imbuh mama Irene.

Sera kembali menghela nafas kasar. “Ma. Aku dan kak Ravin, masih perlu waktu untuk beradaptasi. Kami menikah karena perjodohan, dan belum pernah berpacaran sebelumnya. Mungkin saat ini, Tuhan memberikan kami waktu untuk lebih saling mengenal satu sama lain. Atau mungkin, sekarang memang belum saatnya kami menjadi orang tua.” Ucap gadis itu.

“Mama paham. Tetapi, kalian jangan menunda terlalu lama. Keluarga Arthadipa membutuhkan pewarisnya. Selain untuk meneruskan usaha, juga untuk meneruskan garis keturunan.” Ucap mama Irene menggebu.

Ia harus mendesak Ravin dan Sera agar segera memiliki anak.

‘Jangan sampai anak itu muncul kembali dan merebut semua yang sudah menjadi milik Ravin. Dia pasti sudah ma-ti bersama ibunya.’

“Mama doakan saja. Semoga aku dan kak Ravin segera diberikan momongan.” Ucap Sera pelan.

“Tentu. Bila perlu, mama akan mengajak kamu melakukan pemeriksaan dengan dokter kandungan kenalan mama.” Nada bicara mama Irene begitu bersemangat.

Sera menggelengkan kepalanya. “Nanti saja, ma.”

Percuma juga melakukan pemeriksaan, jika Ravin sendiri enggan untuk menyentuhnya.

Mama Irene pun menghela nafas pelan.

Obrolan mereka pun terinterupsi dengan kedatangan bi Sari yang membawa teh untuk mereka.

Setelah mengobrol cukup lama di ruang keluarga, makan malam pun siap.

Sera mengajak sang mama mertua untuk makan bersama.

“Ma, apa tidak apa - apa, papa makan malam sendiri di rumah?” Tanya Sera sembari menyerahkan piring berisi makanan kepada mama Irene.

“Tidak apa - apa. Papa sudah mengerti. Kamu sedang sedirian disini.” Ucap mama Irene.

‘Mama bahkan tidak tau, aku sudah terbiasa sendiri di meja makan ini. Untung ada bi Sari yang menemaniku.’

Mereka kemudian menikmati makan malam dengan tenang.

Dari balik pintu dapur kotor, Wira mengamati interaksi kedua wanita beda usia itu.

‘Gelar nyonya Arthadipa karena hasil merebut tempat ibuku. Apa hebatnya?’

“Mas. Mari kita makan dulu.” Panggil bi Sari dari dalam dapur.

Wira pun berbalik, dan ikut makan bersama dengan wanita paruh baya itu.

“Saya jadi ingat ibu saya, saat melihat nyonya Arthadipa.” Ucap Wira sembari menikmati makan malamnya.

“Kalau boleh tau, kapan ibu mas Wira meninggal?” Tanya bi Sari dengan hati - hati agar tidak menyinggung perasaan pria muda itu.

“Saat saya berusia 10 tahun, bi. Ibu meninggal karena sakit, setelah diusir oleh ayah saya dan selingkuhannya.”

.

.

.

Sera lebih banyak termenung setelah kepergian mama Irene. Ucapan wanita paruh baya itu, dan pendapat sang mama beberapa waktu lalu, silih berganti saling bersahutan di dalam benaknya.

Bagaimana mau memiliki anak? Sementara, sampai saat ini bahkan mereka belum pernah melakukan malam pertama.

“Hmm.”

Sera memutar kepalanya. Wira berdiri di ambang ruang keluarga dengan membawa nampan berisi secangkir teh hijau.

Pria itu melangkah mendekati Sera.

“Bibi tiba - tiba mulas. Dia meminta saya untuk membawakan teh ini untuk nona.” Ucap Wira sembari meletakkan cangkir di atas meja.

Sera mengangguk pelan. “Terima kasih, mas Wira.”

Wira tak langsung pergi, ia berdiri tak jauh dari sofa tempat duduk Sera. Kemudian melihat ke arah laptop yang menyala di sisi kanan meja.

“Apa nona memiliki banyak pekerjaan?” Tanya pria itu.

Sera ikut melihat ke arah pandang Wira. Kemudian menggelengkan kepalanya.

“Hanya menghabiskan waktu sebelum tidur saja, mas.” Ucap gadis itu.

“Pasti nona tidak terbiasa di tinggal pak Ravin pergi ke luar kota, ya?” Tebak Wira asal.

Sera tersenyum mengejek. “Kak Ravin sudah biasa pulang terlambat, mas.” Gumam gadis itu pelan.

Bahkan Sera tak menyadari, pukul berapa suaminya pulang.

“Apa nona perlu teman untuk bercerita?” Tanya Wira ketika melihat perubahan raut wajah Sera.

Gadis itu tak menjawab. Ia melihat tepat ke arah Wira berdiri.

Teman cerita?

Lawan jenis?

Tidak!

Mereka bahkan baru saling mengenal selama 2 hari. Sera tak mungkin membagi kisah pilu rumah tangganya dengan Wira.

“Terima kasih atas tawarannya, mas. Tetapi, saya merasa tidak ada yang perlu untuk diceritakan.” Ucap gadis itu kemudian.

Wira menganggukkan kepalanya. Ia tidak akan memaksa Sera untuk bercerita hari ini.

“Kalau begitu, saya pergi ke belakang dulu, nona.” Pamit Wira.

“Mas Wira kalau mau pulang, Silahkan. Ini juga sudah malam.” Ucap Sera.

“Baik, non. Kalau begitu, saya ijin untuk pulang. Kalau terjadi sesuatu, nona langsung hubungi saya.”

“Iya, mas.”

Wira pun melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga.

‘Suatu saat, kamu sendiri yang akan datang untuk bercerita padaku, tanpa aku memintanya, Sera.’

1
sunaryati jarum
Ya bagus Sera , setelah tahu kebenarannya langsung hempaskan ,Ravin.Dan kamu jangan sampai disentuh Ravin, jika kau cerai kau masih Virgin.
sunaryati jarum
Raditya itu Wira yang menyamar sebagai sopir Sera, ternyata suruhan mamanya.Mama Sera tahu siapa Raditya.Sehs
Seharusnya dia pewaris sebenarnya, sungguh menarik
Naufal Affiq
bagus sera,selidiki terus suami mu yang tukang bohong itu,jadi jangan percaya lagi sama omongannya,ikuti aja alur cerita suami mu itu
sunaryati jarum
Bagus Serta, jangan lemah Wira sepertinya saudara Ravin, ibunya Ravin pelakor.
Naufal Affiq
bagus sera,jangan diam aja seperti orang bodoh,ikutin aja permainan si ravin itu,
dyah EkaPratiwi
bagus sera
Noviie 🍃🍃
Fix nih Wira itu kakaknya Ravin.. tp kenapa namanya bisa ganti y??
Noviie 🍃🍃
Tuh kan.. ini Wira pasti mirip papanya waktu muda.. makanya pada ga asing sama wajahnya..
Noviie 🍃🍃
Kayaknya Wira ini kakaknya Ravin deh…
Noviie 🍃🍃
Siapakah Wira ini???
Noviie 🍃🍃
Ooo kamu ketahuan Ravin….
Noviie 🍃🍃
Recommended ❤️❤️
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
dyah EkaPratiwi
nah gitu Ra harus tegas
dyah EkaPratiwi
ravin bener2 kurang ajar
dyah EkaPratiwi
wah Wira berarti raditya
dyah EkaPratiwi
gemes banget sama Sera aja coba selidiki ra
dyah EkaPratiwi
betul mama mu Sera cinta boleh bodoh jangan
dyah EkaPratiwi
sera please jangan bodoh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!