Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Kapal Maling Datang Malam
Malam di Langgur biasanya gelap gulita, hanya ada suara jangkrik dan ombak. Tapi malam ini, setelah peti emas Belanda ditemukan di bawah akar pohon mangga raksasa, malam Langgur terasa lebih gelap dan lebih sunyi, seperti semua hewan malam pun takut untuk bersuara.
Lubang tanah di bawah pohon mangga itu masih menganga, peti kayu hitam dengan rantai berkarat itu masih di dalamnya, terlihat jelas kena cahaya bulan. Tidak ada warga yang berani mendekat, bahkan untuk menutup lubangnya kembali. Mereka semua berkumpul di balai desa yang jaraknya agak jauh dari pohon itu, membawa obor dan parang.
Pak RT Unus berdiri di depan warga dengan surat putusan dari Ambon di tangan kirinya dan senter di tangan kanannya.
"Warga Langgur! Kita sudah menang di Ambon! Tapi sekarang kita dapat ujian baru yang lebih besar! Di bawah pohon keramat kita ada emas 50 kilo peninggalan Belanda! Kalau emas itu kita ambil, kita bisa kaya! Tapi kalau kita kaya, kita akan jadi rebutan lagi! Seperti Pak Hendra dulu!"
Bapak Simon yang matanya masih hijau melihat emas, langsung berdiri. "Kita ambil saja! Kita bagi rata! Satu orang dapat satu kilo! Kita bisa bangun rumah bagus, beli kapal besar, sekolahkan anak sampai Jakarta!"
Ibu-ibu langsung ribut, ada yang setuju, ada yang tidak.
Mama Ino yang masih demam tapi dipapah ke balai desa, berkata pelan tapi semua orang dengar, "Kalau kita ambil emas itu, kutukannya akan bangkit. Lima nyawa yang dikubur hidup-hidup di dalam peti itu akan marah. Langgur akan dapat darah lagi."
Saat warga masih berdebat di balai desa, Ara yang dari tadi tidak ikut rapat, diam-diam duduk sendirian di depan lubang peti emas itu. Dia tidak takut, karena di pangkuannya ada batu hitam retak yang hangat, dan dia memakai jaket hitam Revan yang bau tanah itu.
Dia menatap peti kayu hitam itu dan berbisik, "Van, apa yang harus aku lakukan? Harus dibuka atau dikubur lagi?"
Batu hitam di pangkuannya bergetar pelan dan mengeluarkan asap putih tipis yang membentuk Revan, tapi Revan kali ini tidak terlihat marah, wajahnya sedih.
"Ra, jangan buka malam ini. Emas itu bukan rezeki, itu umpan. Belanda sengaja taruh 5 nyawa di dalam biar emasnya dijaga hantu. Siapa yang buka dengan hati serakah, dia akan mati. Yang boleh buka hanya orang yang hatinya bersih dan tidak mau kaya sendiri."
Revan menghilang lagi.
Baru saja Revan menghilang, dari arah pantai, terdengar suara mesin kapal yang pelan, tapi mendekat. Bukan kapal kayu warga, tapi kapal besi besar.
Ara langsung berdiri dan melihat ke arah pantai dari sela-sela pohon mangga. Di kegelapan laut, ada kapal besi besar berwarna hitam, tidak menyalakan lampu, hanya menyalakan lampu kecil merah di ujungnya, merapat pelan ke pantai Langgur!
Dari kapal itu turun lima orang laki-laki berbadan besar, pakai baju hitam-hitam, pakai topi, membawa linggis dan karung besar! Mereka tidak bicara, langsung berjalan cepat ke arah pohon mangga raksasa, seperti sudah tahu ada peti emas di situ!
Kapal maling! Maling emas!
Ara langsung berlari ke balai desa sambil berteriak sekuat tenaga, "MALING! ADA MALING MAU CURI PETI EMAS! DI PANTAI! LIMA ORANG BAWA LINGGIS!"
Warga yang di balai desa langsung panik dan mengambil obor dan parang dan berlari ke arah pohon mangga.
Lima orang maling itu sudah sampai di lubang peti emas dan sudah mulai mencongkel rantai berkarat itu dengan linggis! Salah satu dari mereka yang paling besar, yang ada tato naga di lehernya, tertawa pelan, "Hahaha, 50 kilo emas! Bos Singapura bakal senang! Kita kaya!"
Ternyata mereka suruhan investor Singapura yang dulu mau kerja sama dengan Dion untuk bangun resort! Investor itu tidak terima Dion dipenjara, dia kirim anak buahnya untuk ambil emas Belanda sebagai ganti rugi resort yang gagal!
Pak RT Unus yang sampai duluan mengayunkan parangnya, "JANGAN SENTUH PETI ITU! ITU MILIK LELUHUR KAMI!"
Tato naga itu menoleh dan mendorong Pak RT Unus sampai jatuh! "Minggir, orang miskin! Emas ini milik siapa yang kuat, bukan milik siapa yang adat!"
Jali yang melihat Pak RT didorong, langsung maju dan berkelahi dengan salah satu maling itu! Perkelahian terjadi di depan lubang peti emas! Warga Langgur yang hanya bawa obor dan parang kecil, melawan maling kota yang berbadan besar dan bawa linggis besi!
Ara yang melihat Jali dipukul, tanpa pikir panjang dia mengambil batu hitam retak itu dan melemparkannya ke dalam lubang, tepat ke atas peti kayu hitam itu!
"VAN! TOLONG KAMI LAGI! VAN!"
Batu hitam yang retak itu saat menyentuh peti kayu hitam itu, pecah! Pecah jadi dua! Dari dalam batu yang pecah itu, keluar cahaya emas yang sangat besar, jauh lebih besar dari sebelumnya, cahaya itu naik ke atas sampai ke puncak pohon mangga raksasa!
Pohon mangga raksasa yang tadi menangis mengeluarkan air bening, tiba-tiba berhenti menangis! Daun-daunnya yang rontok kemarin, tiba-tiba tumbuh lagi dengan cepat! Ranting-rantingnya bergerak sendiri seperti tangan raksasa!
Dan dari dalam peti kayu hitam yang rantainya sudah dicongkel maling itu, terdengar teriakan! Bukan satu teriakan, tapi lima teriakan bersamaan! Jeritan orang yang dikubur hidup-hidup 80 tahun lalu!
Peti itu terbuka sendiri dengan keras! BRAK!
Dari dalam peti yang terbuka itu, tidak keluar emas dulu, tapi keluar lima sosok hitam! Lima hantu dengan pakaian zaman Belanda dulu, compang-camping, wajah mereka hitam, mata mereka merah, mereka adalah 5 nyawa penjaga emas itu!
Lima hantu penjaga itu langsung menyerang lima maling suruhan Singapura itu! Mereka mencekik, mereka menarik, mereka menyeret lima maling itu masuk ke dalam peti!
Maling dengan tato naga itu berteriak paling keras, "AMPUN! AMPUN! JANGAN! AKU CUMA DISURUH BOS!"
Tapi tidak ada ampun. Lima maling itu diseret masuk ke dalam peti kayu hitam itu, dan peti itu tertutup lagi dengan sendirinya dengan suara BRAK yang sangat keras! Rantai berkarat yang sudah dicongkel tadi, melilit lagi dengan sendirinya, lebih kencang dari sebelumnya!
Setelah peti tertutup, dari dalam peti tidak terdengar suara maling lagi, hanya terdengar suara gemerincing emas yang diaduk-aduk.
Warga Langgur yang melihat itu semua, langsung sujud di tanah, ketakutan setengah mati, ada yang pingsan.
Hanya Ara yang masih berdiri, melihat peti yang sudah tertutup itu. Peti itu sekarang tidak lagi hitam, tapi berkilau emas dari sela-sela kayunya, seperti emas di dalamnya mau keluar.
Dari batu hitam yang sudah pecah jadi dua di atas peti itu, keluar Revan untuk terakhir kalinya malam itu. Revan tersenyum ke Ara.
"Lihat, Ra. Emas itu sudah dapat 5 nyawa baru sebagai penjaga. Sekarang dia kenyang. Dia tidak akan ganggu Langgur lagi selama 80 tahun ke depan. Tapi ingat, jangan pernah buka peti itu lagi dengan hati serakah. Biarkan dia terkubur di bawah pohon."
Revan menghilang, bersamaan dengan pecahan batu hitam yang berubah jadi debu emas dan masuk ke dalam tanah.
Akar pohon mangga raksasa yang tadi membuka tanah, sekarang bergerak lagi menutup tanah itu pelan-pelan, mengubur peti emas itu kembali ke dalam tanah, lebih dalam dari sebelumnya, sampai lubang itu tertutup rapat dan tanahnya rata kembali seperti tidak pernah ada lubang.
Pohon mangga raksasa itu berhenti bergerak dan kembali diam, tapi sekarang daunnya hijau mengkilap dan batangnya mengeluarkan bau harum, bukan bau air mata lagi.
Kapal besi hitam di pantai, yang melihat anak buahnya hilang ditelan peti, langsung menyalakan mesin besarnya dan kabur dengan kecepatan penuh ke tengah laut, meninggalkan Langgur selamanya tanpa jejak.
Malam itu, Langgur selamat lagi. Bukan karena emasnya, tapi karena leluhurnya masih menjaga.
Ara duduk di bawah pohon yang sudah tertutup rapat itu, memeluk jaket hitam Revan yang sekarang sudah tidak bau tanah lagi, tapi bau harum bunga mangga.
Dia tahu, besok adalah hari baru untuk Langgur.