NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Evaluasi Fisik dan Bayangan Misi Berbahaya

​Halaman Utama Sekte Pedang Awan — Pagi Hari

​Pagi itu, lonceng Sekte Pedang Awan berbunyi tiga kali berturut-turut. Suara nyaringnya menggema membelah kabut di antara puncak-puncak gunung, membangunkan seluruh murid dari tidur lelap mereka.

​Di halaman latihan, ratusan calon murid luar berbaris rapi di hadapan sebuah panggung batu yang tinggi.

​Di atas panggung, berdiri Tetua Ma Zhen bersama seorang tetua berjubah abu-abu dan dua petinggi sekte lain yang jarang menampakkan diri di hadapan murid tingkat rendah.

​Di tengah lapangan, terpajang tiga benda aneh yang mencuri perhatian:

​Sebuah batu hitam legam setinggi dada manusia.

​Sebuah patung kayu berukuran manusia dengan ukiran titik-titik khusus di tubuhnya.

​Dan sebuah lempengan batu ukur dengan garis-garis skala pengukuran di permukaannya.

​Gao Shun yang berdiri di samping Lu Mingseng berbisik pelan, "Sepertinya hari ini kita akan diuji kekuatan fisik dan pengendalian tenaga."

​Mingseng mengangguk kecil. Selama masuk sekte, ia belum pernah menghadapi evaluasi resmi seperti ini.

​Di atas panggung, Ma Zhen mengangkat tangannya untuk menenangkan suasana. "Hari ini, seluruh calon murid luar akan menjalani evaluasi kemampuan dasar! Kalian akan diuji dalam tiga aspek: kekuatan fisik, ketepatan serangan, dan daya tahan bertahan hidup!"

​Ia menyapu pandangannya yang tajam ke seluruh barisan. "Jangan jadikan ujian ini sebagai ajang pamer untuk merendahkan orang lain. Hasil dari evaluasi ini akan menentukan jenis tugas yang boleh kalian ambil serta jatah sumber daya sekte yang berhak kalian dapatkan."

​Bagi para murid dari keluarga bangsawan, hasil ujian ini adalah panggung untuk unjuk gigi. Namun bagi Lu Mingseng, evaluasi ini jauh lebih krusial.

​Ia sangat membutuhkan kontribusi, pil, dan akses sumber daya untuk meredam serta mengoptimalkan perubahan aneh di dalam tubuhnya setelah menyerap cairan Bunga Darah Roh tempo hari.

​Namun, ia juga tahu ia tidak boleh terlalu mencolok. Peningkatan fisiknya masih rahasia; menarik perhatian terlalu cepat di hadapan para tetua justru bisa mengundang malapetaka.

​Sesi Pertama: Ujian Kekuatan Pukulan

​"Peserta pertama: Zhao Liang!" panggil penguji.

​Seorang pemuda berpostur tegap melangkah maju ke hadapan batu hitam legam. Ia mengambil kuda-kuda, mengerahkan seluruh tenaga di lengannya, lalu melayangkan hantaman tinju telak ke permukaan batu!

​Duk!

​Angka-angka skala di permukaan batu langsung menyala terang.

​"Seratus dua puluh satu jin!" seru penguji mencatat.

​Beberapa murid berseru kagum. Zhao Liang tersenyum bangga kembali ke barisannya.

​Satu demi satu peserta maju dengan variasi hasil—ada yang berkisar delapan puluh jin, ada yang menembus seratus lima puluh jin, hingga yang gagal menjaga keseimbangan saat memukul.

​Hingga akhirnya, nama yang ditunggu-tunggu pun dipanggil.

​"Lu Mingseng!"

​Seketika, lapangan latihan dipenuhi riuh bisik-bisik dan gelak tawa sinis.

​"Dia? Si muka buruk itu?"

​"Bukankah dia bahkan belum mencapai tahap Pengumpulan Qi?"

​"Kupikir batu hitam itu bahkan tidak akan bergeser nilainya."

​Di antara kerumunan, Fang Rui melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum mengejek. "Jangan terlalu keras menertawakannya. Siapa tahu dia bisa mencetak rekor sepuluh jin penuh, hahaha!"

​Mingseng melangkah ke panggung tanpa melirik Fang Rui sedikit pun. Ia berdiri tepat di depan batu hitam legam.

​Penguji meliriknya datar. "Gunakan tenaga fisik murni dari tubuhmu. Dilarang mengalirkan energi spiritual. Kami hanya ingin mengukur kapasitas ototmu."

​"Baik."

​Mingseng mengambil posisi. Kaki kanannya sedikit mundur ke belakang, pinggangnya berputar lentur, dan tinjunya melesat membelah udara.

​Duk!

​Suara benturannya tidak terlalu nyaring, namun angka-angka di permukaan batu melonjak dengan kecepatan luar biasa!

​Seratus... Seratus dua puluh... Seratus empat puluh...

​Nilai itu berhenti pada angka: Seratus empat puluh delapan jin!

​Seluruh halaman latihan mendadak sunyi senyap.

​Penguji membelalakkan mata menatap angka tersebut, lalu beralih menatap Mingseng tak percaya. Bahkan Tetua Ma Zhen di atas panggung sedikit mengangkat alisnya karena terkejut.

​Bagi ukuran murid luar yang belum berlatih lama, angka 148 jin adalah pencapaian fisik yang sangat luar biasa! Padahal, baru beberapa minggu lalu pemuda ini nyaris pingsan karena kelelahan berlari.

​Wajah Fang Rui mendadak pucat. "Mustahil..." gumamnya.

​Mingseng menarik napas dalam-dalam, ia sendiri cukup kaget dengan lonceng kekuatan fisiknya pasca insiden di hutan.

​'Jangan terlalu berpuas diri,' suara Kaisar Keabadian mengingatkan di benaknya. 'Itu baru tenaga otot mentah. Kau belum punya teknik bertarung yang matang.'

​'Aku mengerti, Guru,' batin Mingseng.

​Penguji berdeham kaku, lalu mencatat nilainya. "Lu Mingseng: Seratus empat puluh delapan jin. Lanjutkan ke ujian berikutnya!"

​Sesi Kedua & Ketiga: Ketepatan dan Pertahanan

​Ujian kedua menguji ketepatan serangan dengan memukul titik-titik sasaran kecil pada patung kayu. Berkat latihan pengamatan yang ia asah selama ini, Mingseng mampu memperbaiki posisinya dengan cepat dan menyelesaikan ujian itu dengan nilai memuaskan.

​Tibalah pada ujian penutup: Ujian Mempertahankan Diri.

​Seorang murid senior tingkat lanjut bernama Chen Yu—yang sudah mencapai tahap awal Pengumpulan Qi—maju sebagai lawan tanding para peserta. Tugasnya sederhana: menyerang peserta dengan batasan tenaga, sementara peserta harus bertahan atau menghindar selama sepuluh jurus serangan.

​"Lu Mingseng, maju!"

​Mingseng melangkah ke tengah arena batu. Chen Yu menatap wajah Mingseng yang penuh bekas luka dengan senyum meremehkan. "Jadi, kau anak baru yang bikin Fang Rui kesal? Mari kita lihat apakah pukulanmu sekuat omongan orang."

​"Mulai!" teriak penguji.

​Wus!

​Chen Yu melesat cepat, memukul bahu dan perut Mingseng secara beruntun.

​Bruk! Mingseng terdesak mundur, rusuknya sempat terkena hantaman karena kecepatan Chen Yu jauh di atasnya. Namun alih-alih panik, Mingseng mengingat instruksi Kaisar Keabadian: 'Jangan kejar kecepatannya. Amati kapan ia memindahkan tumpuan berat tubuhnya!'

​Ia mulai membaca alur pergerakan kaki Chen Yu. Ketika bahu lawan sedikit terbuka, Mingseng memiringkan badannya, membiarkan serangan melesat tipis, lalu bergeser mencari celah aman.

​Ia terus bertahan, menepis, dan menghindari hantaman bertubi-tubi hingga hitungan kesepuluh.

​Bruk! Hantaman terakhir membuat Mingseng terjatuh dengan satu lutut di tanah. Namun ia berhasil bertahan sampai hitungan kesepuluh tanpa pingsan atau keluar arena!

​"Sepuluh! Waktu habis!" seru penguji.

​Chen Yu mengulurkan tangan membantu Mingseng berdiri. "Kau masih lemah, tapi pengamatan dan refleksmu luar biasa bagus. Kau lawan yang ulet, Mingseng."

​"Terima kasih, Senior."

​Ma Zhen mencatat hasil keseluruhan di papan batu. "Lu Mingseng: Peningkatan fisik di luar dugaan, refleks pertahanan baik, namun kendali energi spiritual belum ada. Mulai besok, kau masuk daftar peserta latihan khusus fisik lanjutan!"

​Dari sisi lapangan, sorot mata Fang Rui menatap Mingseng dengan kebencian yang kian pekat. Pemuda sampah yang dulu bisa diinjak dengan mudah ini kini tumbuh menjadi duri tajam di matanya.

​Undangan ke Balai Misi

​Usai evaluasi, Mingseng mendapat tambahan 3 Poin Kontribusi atas hasil ujian fisiknya. Jika ditotal dengan sebelumnya, ia kini memiliki cukup poin untuk menukar bahan-bahan pemulih tubuh.

​Saat ia hendak beranjak ke balai penukaran, seorang penjaga sekte datang membawakan pesan.

​"Lu Mingseng! Ada instruksi dari Balai Misi. Calon murid dengan fisik terbaik diwajibkan berkumpul di sana siang ini untuk tugas khusus di wilayah luar Gunung Awan."

​Mingseng mengernyit. Tugas di wilayah luar Gunung Awan? Wilayah itu adalah tempat ia menemukan Bunga Darah Roh tempo hari. Apakah ini ada hubungannya dengan anomali energi di sana?

​Tak lama berselang, Fang Rui bersama tiga pengikutnya juga muncul di Balai Misi dengan senyum tipis penuh tipu muslihat. Rupanya, Fang Rui juga ikut mendaftarkan diri dalam misi tersebut.

​Ada yang tidak beres, batin Mingseng memperingatkan dirinya sendiri. Fang Rui tidak mungkin mengambil misi berbahaya tanpa rencana busuk untuk mencelakainya.

​Namun, Mingseng tidak mundur. Ia membutuhkan kontribusi, dan ia juga ingin tahu rahasia apa yang tersimpan di balik lereng gunung tempat ia menyerap energi dahulu.

​"Aku ikut tugas ini," kata Mingseng tegas pada tetua pengawas.

​Tetua itu mencatat namanya. "Berangkat besok pagi saat matahari terbit. Jangan terlambat."

​Malam Hari — Bisnis Gelap Keluarga Fang

​Malam harinya, di kediaman keluarga Fang di kaki gunung, Fang Rui berdiri melaporkan situasi kepada kerabatnya—seorang pria paruh baya berjubah hitam bersulaman perak.

​"Paman, anak itu lolos ujian fisik dengan nilai tinggi. Dan besok, kami akan ikut misi pengumpulan bahan obat di wilayah timur Gunung Awan," lapor Fang Rui geram.

​Pria paruh baya itu menyipitkan matanya licik. "Bagus. Ini kesempatan emas."

​Ia menyerahkan sebuah gulungan peta kecil kepada Fang Rui. "Pastikan besok dia terpisah dari rombongan utama sekte. Setelah itu... singkirkan dia secara permanen, atau setidaknya buat dia cacat agar tidak bisa mengikuti seleksi resmi murid dalam."

​Fang Rui menyeringai kejam menerima gulungan itu. "Tenang, Paman. Di dalam hutan belantara Gunung Awan, kecelakaan kecil adalah hal yang biasa terjadi."

​Peringatan dari Kedalaman

​Sementara itu, di kamar asramanya, Mingseng duduk bersila bermeditasi.

​Aliran tipis di Meridian Pertama miliknya berdenyut hangat, merespons sirkulasi tenaga fisiknya yang kian padat. Namun tiba-tiba, sisa kesadaran di dalam warisan Kaisar Keabadian bergetar hebat.

​'Mingseng,' suara tua sang Kaisar mendadak terdengar sangat tegang. 'Besok... jangan sembarangan melangkah ke hutan timur gunung itu. Aku merasakan ada entitas misterius yang mulai mendobrak segel di bawah sana.'

​Mingseng membuka matanya dalam gelap. "Entitas misterius, Guru?"

​'Ya... dan kurasa, kebangkitanmu menyerap Bunga Darah Roh kemarin telah memancing perhatian sesuatu yang mengerikan di kedalaman bumi.'

​Mingseng mengepalkan tangannya di atas lutut. Ia tahu bahaya besar tengah menantinya di esok hari—baik dari ancaman licik Fang Rui maupun dari misteri magis Gunung Awan.

​Namun, di dalam dadanya, api tekad berkobar lebih terang daripada sebelumnya. Apa pun yang menunggu di sana, ia tidak akan lari.

​Sebab untuk melindungi dirinya dan mengungkap kebenaran hidupnya, ia harus berjalan lurus menembus badai tersebut.

1
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!