NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:731.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Pagi itu, Bu Hana baru saja meletakkan sepiring nasi goreng di depan Alena ketika Budi tiba-tiba menyampaikan sesuatu yang membuat perempuan itu nyaris menjatuhkan sendoknya.

“Bu, Sabtu malam, temani Budi melamar orang, ya.”

Bu Hana menatap putranya dengan kening berkerut. “Melamar?”

Budi mengangguk santai. “Iya.”

“Siapa?”

“Jena.”

Bu Hana terdiam. Nama itu terdengar asing di telinganya. Selama ini, ia tidak pernah sekalipun mendengar Budi bercerita tentang seorang perempuan yang dekat dengannya. Tahu-tahu pagi ini anaknya meminta ditemani melamar.

“Sejak kapan kamu punya pacar?”

Budi menggaruk tengkuknya sambil senyum-senyum. “Gimana ya Bu bilangnya, intinya masih baru, dan kami sudah sepakat untuk menikah.”

"Menikah?" Alena yang baru memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut, langsung terdiam. Ia menatap Budi yang berdiri di sampingnya.

Bu Hana menatap putranya lama. Akhirnya anaknya benar-benar memikirkan pernikahan.

“Ayah mau menikah?” tanya Alena setelah menelan nasi goreng di mulutnya.

Budi mengangguk mantap. “Iya.”

Alena tampak ragu sebelum akhirnya bertanya. “Apa setelah itu, Ayah akan pergi dari rumah ini?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Budi terdiam. Ia menatap keponakannya. Untuk sesaat, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini, pikirannya hanya dipenuhi Jena. Tentang lamaran. Tentang pakaian yang harus dipakai. Tentang apa yang harus dibawa. Tentang bagaimana ia harus berbicara kepada keluarga Jena. Ia sama sekali belum memikirkan tempat tinggal setelah menikah.

"Ayah belum tahu,” jawabnya jujur.

Alena menunduk, wajah kecilnya langsung berubah murung. “Berarti Ayah bisa saja pergi?”

Budi menghela napas. Ia kemudian mengusap kepala Alena. “Kenapa kamu mikir begitu?”

“Karena kalau Ayah menikah, Ayah punya rumah baru, punya istri, punya keluarga baru. Dan nantinya, juga akan punya anak. Dan aku..."

Budi membungkuk, menyamakan tinggi dengan Alena yang sedang duduk. "Selamanya, kamu anak Ayah." Ia mengusap kepala Alena.

"Kan bisa diajak tinggal disini istrinya Ayah," ujar Bu Hana.

Budi terdiam, ia langsung memikirkan Jena. Apa mungkin, Jena mau tinggal bersamanya dan keluarganya? Ia terlalu bahagia akan menikah dengan Jena, sampai lupa bagaimana keluarganya nanti saat ia menikah. Ibunya, Alena, mungkinkah ia tega membiarkan mereka tinggal hanya berdua?

"Alena gak mau ditinggal Ayah." Mata anak itu berkaca-kaca.

"Alena, lanjutkan makannya. Jangan mikir kejauhan dulu." Namun dalam hati, Bu Hana sendiri justru memikirkan hal yang sama.

Ia bahagia. Sungguh bahagia. Selama bertahun-tahun, ia melihat Budi bekerja keras tanpa banyak mengeluh. Mengurus keluarga, membantu kebutuhan rumah, bahkan sering mengesampingkan keinginannya sendiri.

Kalau sekarang akhirnya ada seorang perempuan yang ingin ia jadikan istri, tentu Bu Hana ingin mendukungnya. Tetapi ada bagian kecil dalam hatinya yang terasa berat. Bagaimana kalau setelah menikah Budi benar-benar meninggalkan rumah ini?

Selama ini, Budi adalah tulang punggung keluarga. Mama Alena memang sering mengirimkan uang untuk kebutuhan putrinya, tetapi Bu Hana tidak pernah menyentuh uang itu, ia memilih menyimpannya. Alena adalah tanggung jawabnya dan Budi. Jika Budi menikah nanti, tanggungannya pasti makin banyak. Sepertinya, ia harus memikirkan cara untuk bisa mendapat uang agar tidak terus bergantung pada Budi.

Bu Hana sempat memiliki harapan lain. Dulu, ia pernah membayangkan Budi menikah dengan Diva, Mamanya Alena. Perempuan yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan keluarga mereka.

Kalau Budi dan Diva menikah, mungkin semuanya akan terasa lebih mudah. Alena akan selamanya tinggal bersama mereka, tudak khawatir suatu saat dibawa pergi oleh Diva saat wanita itu menikah lagi. Selain itu, Diva sudah lama jadi menantunya, yang pasti tidak akan keberatan jika mereka tinggal bersama.

Budi tidak perlu pergi, Alena juga akan tetap disini. Dan rumah ini mungkin tetap menjadi rumah mereka semua.

Namun harapan itu hanya tinggal harapan. Bu Hana tahu, hati Budi tidak pernah bisa dipaksa. Ia tidak bisa meminta anaknya menikahi seseorang hanya demi membuat hidup mereka lebih mudah.

“Bu?”

Suara Budi membuyarkan lamunannya.

“Hm?”

“Ibu kenapa malah melamun?”

Bu Hana tersenyum. “Enggak apa-apa.” Ia menatap putranya. “Kalau memang kamu sudah yakin sama perempuan itu, siapa tadi namanya?"

"Jena, Bu."

"Ibu ikut senang.”

Budi tersenyum lega. “Berarti Ibu mau menemani Budi melamar Jena?"

Bu Hana mengangguk. "Tapi...sebelum itu, bisakah Ibu berkenalan dulu dengan calon menantu Ibu?"

Budi mengangguk, "Pasti."

"Tunggu!" Alena tiba-tiba teringat sesuatu. "Namanya Jena? Apa...Kakak cantik yang waktu itu ke tempat jualan?"

"Iya." Budi tersenyum, mengusap rambut Alena.

"Alena, apa dia sangat cantik?" tanya Bu Hana.

Alena langsung mengangguk. "Iya, dia cantik. Cantik sekali, seperti artis. Cantik, tinggi, langsing, putih, rambutnya panjang, pakai baju bagus, sepatu hak tinggi dan...apa ya..."

"Pantesan Ayah kamu langsung minta dilamarin." Bu Hana tersenyum, melirik putranya yang wajahnya memerah. Sepertinya, wanita itu sangat memikat hati putranya, sampai langsung minta dilamarin. "Jadi kapan Bud, Ibu bisa ketemu calon mantu Ibu?"

"Nanti aku konfirmasi sama Jena dulu ya, Bu. Alena, udah siang, buruan sarapannya, kita berangkat sekolah."

Alena mengangguk, lalu mempercepat makan.

"Jangan buru-buru, nanti keselek." Bu Hana geleng-geleng.

Setelah Budi dan Alena berangkat, Bu Hana masuk ke dalam kamar. Ia membuka almari, mengambil sebuah kotak perhiasan yang sudah usang. Ia membuka kotak warna merah tersebut, dan air matanya seketika meleleh.

"Maafin aku, Mas." Bu Hana menyentuh sepasang cincin dan kalung emas yang ada di dalam kotak. "Sepertinya, cincin nikah kita harus aku jual. Budi mau menikah." Ia tersenyum, menyeka air mata di kedua pipi. "Anak bungsu kita akan menikah. Kalung di dalam kotak tersebut, dulunya adalah seserahan saat acara lamarannya dengan alm. suaminya. Hanya itu harta yang dia miliki sekarang, semuanya sudah ludes.

Bu Hana meletakkan kotak tersebut ke atas meja, lalu mengambil ponselnya. Ia menelepon Bu Erni, tetangga.

"Er, mesin jahit kamu jadi dijual? Kalau jadi, aku mau membelinya."

1
Jengendah Aja Dech
❤️
Chalimah Kuchiki
rasakan tuh... mama asri bakal jadi janda kaya yg isinya happy2 ga bakal kesepian dimasa tua yg penting plong hati
Shee_👚
berubah jadi power ronger kali😂
Shee_👚
gak salah, kamu kali yang bakalan kesepian. lah bu asri mah bahagia, siapa tau tar jadi janda da duda kaya raya yang datang🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar andika gilak
Indra Reza Zulkifli
tuanya pengen d urusin istri pertama 😄
Shee_👚
ada udang di balik bakwan jen🤭
Shee_👚
sekarang aja ngomong begitu, kemaren masih ada juwita sama naura kamu kaya gak iklas begitu. sekarang dah tau kena tipu mentah-mentah sama gundik nya baru ngaku jena anak tunggal yang sah😏
Shee_👚
bagus, biar stress sekalian andika. biar ngerasain rasanya di tinggalkan
Silvia
lanjutkan💪💪
Kar Genjreng
apakak Bpk lupa belasan th lalu bukan dua atau tiga tahun tetapi belasan,,,Bu Asri menahan segala rasa yang menyesakan
itu rasanya bila tidak kuat,,,bisa gila atau bunuh diri Pak,,,,saking Bu Asri menjaga Putrinya satu satunya dan mempertahan kan jangan sampai pELaKoR menang dan semua yang di perjuangkan dari bawah
berpindah tangan kepada pELaKoR,,,,dan
sekarang apabila babu Asri mengambil keputusan dengan cara pelan dan dalam keadaan sehat berpisah dengan Bapak bukan tanpa alasan,,,kebayang ketika jena menangis mencari papa nya di tengah malam sakit panas flu atau tumbuh Gigi,,,sakit rasanya ya Bu Asri dan setelah Jena dewasa bisa mengambil keputusan
bukan membela ayah atau ibunya tetapi realita nya,,,ketika anak sahnya di rumah papanya sedang jalan bersama istri mudanya dan anak anaknya,,,ahhh dongkol 😭😭 sekarang ya nikmati kesedihan nya kesendirian,,, penyesalan yang terlambat,,,sudah tiada maaf buat mu pak,,,😮
lyani
sdh pak Andika....anda tidak tahu sakitnya istri yg diduakan. sedang anda bahagia mendua. biarkan asri memilih.... mungkin memang itu kebahagiaan skg
Gia Nasgia
Akhirnya kebebasan ibu Asri di depan mata
DIFAN2: Halo kak, telah hadir novel "SULUNG" dengan alur cerita yang seru dan emosional, yuk kak mampir.
total 1 replies
Asih Rahmadhani Bohara
gak ada nambah lg kah kak?
DIFAN2: Halo kak, telah hadir novel "SULUNG" dengan alur cerita yang seru dan emosional, yuk kak mampir.
total 1 replies
Sugiharti Rusli
dan sepertinya selama ini papanya ìtu memang sudah memiliki banyak aset lain di luar perusahaan, mungkin Andika akan memulai hidup baru dengan slow living setelah dia resmi bercerai dari mama Asri
Sugiharti Rusli
berarti perusahaan yang sekarang Jena pegang itu sejatinya memang haknya sebagai putri tunggal Andika yang say secara hukum formal yah
Sugiharti Rusli
dan yang terpènting bagi mama Asri, sang putri sudah menemukan belahan jiwa yang menyayanginya, dan sebentar lagi mereka akan segera punya anak,,,
Sugiharti Rusli
sekarang yang mama Asri butuhkan adalah otoritas terhadap dìrinya sendiri tanpa Andika menjadi bagiannya lagi
Patrick Khan
kenapa q gk setuju asri andika cerai ya..karna apa ingatan di masa tua..karna q tau posisi mereka..tp masa tua setiap orang ingin di titik itu..halahhh sok bgt kata2 q mungkin beda orang beda pendapat ya..jgn di hujat..🤣🤣
DIFAN2: Novel 'SULUNG' hadir dengan keseruan kisah petualangannya, yuk kak merapat.
total 1 replies
Sugiharti Rusli
karena apa yang sudah Andika perbuat pada mama Asri selama bertahun-tahun sudah dia tahan selama ini demi Jena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!