Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peta Persaingan
Hadi Mahendra sedang memeriksa sejumlah dokumen di ruang kerjanya ketika asistennya datang membawa laporan terbaru mengenai persiapan RUPS. Ia meletakkan berkas itu di atas meja, lalu berdiri menunggu.
“Ini laporan perkembangan dukungan pemegang saham menjelang RUPS, Pak,” ujar asistennya.
Hadi membuka berkas tersebut dan mulai membaca isinya. Beberapa nama pemegang saham tercantum dalam laporan itu, disertai catatan mengenai pandangan mereka terhadap calon pemimpin Mahendra Group.
“Bagaimana perkembangannya?” tanya Hadi tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen.
“Beberapa pemegang saham menunjukkan kecenderungan untuk mendukung Bapak. Namun, mereka belum memberikan kepastian mengenai keputusan dalam RUPS nanti.”
Hadi membalik halaman berikutnya.
“Bagaimana dengan yang belum menentukan pilihan?”
“Sebagian masih menunggu perkembangan perusahaan dan mempertimbangkan kemampuan masing-masing kandidat sebelum mengambil keputusan.”
Hadi mengangguk pelan. Ia tidak terkejut mendengar jawaban itu. Dalam persaingan memperebutkan posisi CEO, dukungan yang belum disertai kepastian bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan pegangan.
“Jadi, belum ada yang bisa kita pastikan,” katanya.
“Benar, Pak.”
Hadi menutup berkas tersebut, lalu meletakkannya di atas meja.
“Jangan menganggap kecenderungan mereka sebagai dukungan tetap. Selama keputusan belum ditetapkan, semuanya masih bisa berubah.”
“Baik, Pak. Apakah ada hal lain yang perlu saya periksa?”
“Aku ingin mengetahui hal-hal yang menjadi pertimbangan mereka dalam memilih calon CEO. Bukan hanya siapa yang mereka dukung, tetapi juga apa yang mereka harapkan dari pemimpin berikutnya.”
Asistennya mengangguk.
“Apakah Bapak ingin saya mengumpulkan informasi mengenai pandangan mereka terhadap kinerja Pak Devan juga?”
“Ya. Kumpulkan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Aku tidak ingin mengambil keputusan berdasarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.”
“Baik, Pak. Saya akan menindaklanjutinya.”
Setelah asistennya keluar, Hadi kembali membuka laporan tersebut. Ia memperhatikan beberapa nama yang tercantum di dalamnya, mencoba memahami posisi masing-masing pemegang saham.
Selama ini, ia cukup mengenal lingkungan perusahaan dan orang-orang yang memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan. Namun, ia juga memahami bahwa hubungan baik tidak selalu menjamin dukungan ketika keputusan penting harus diambil.
Devan pun bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Meskipun kehidupan pribadinya sempat menjadi bahan pembicaraan, keponakannya itu masih memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya di hadapan para pemegang saham.
Hadi tidak ingin terburu-buru mengambil langkah hanya karena melihat peluang kecil.
Baginya, memperkuat posisi sendiri jauh lebih penting daripada sekadar menunggu lawannya melakukan kesalahan.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Di ruang rapat Mahendra Group, beberapa kepala divisi sedang membahas perkembangan pekerjaan yang akan menjadi bagian dari laporan perusahaan menjelang RUPS.
Devan duduk di salah satu sisi meja, mendengarkan pemaparan setiap divisi sebelum memberikan tanggapan. Ia sesekali mengajukan pertanyaan mengenai hasil yang belum sesuai dengan target dan meminta penjelasan berdasarkan data yang tersedia.
“Untuk bagian ini, saya ingin laporan pendukungnya dilengkapi sebelum kita mengambil keputusan,” ujar Devan. “Pastikan angka yang disampaikan sesuai dengan kondisi sebenarnya.”
Salah seorang kepala divisi mengangguk.
“Baik, Pak. Kami akan memperbarui laporannya.”
Devan melanjutkan pembahasan ke bagian berikutnya. Ia tidak ingin laporan yang akan disampaikan kepada pemegang saham hanya terlihat baik di atas kertas. Setiap keputusan harus memiliki dasar yang jelas agar dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah rapat selesai, Devan kembali ke ruang kerjanya. Arga menyusul beberapa saat kemudian dengan membawa dokumen yang perlu diperiksa.
“Apakah ada perkembangan lain?” tanya Devan.
“Untuk persiapan RUPS, beberapa divisi masih melengkapi laporan mereka, Tuan. Sejauh ini, belum ada kendala besar yang perlu segera ditangani.”
Devan menerima dokumen dari tangan Arga.
“Pastikan semuanya selesai sesuai jadwal. Aku tidak ingin ada informasi yang belum terverifikasi masuk ke dalam laporan akhir.”
“Baik, Tuan.”
Arga hendak kembali ke mejanya ketika Devan mengajukan pertanyaan lain.
“Bagaimana dengan informasi yang sebelumnya kamu sampaikan mengenai pihak yang mencari tahu kehidupan pribadiku?”
“Kami masih menelusurinya, Tuan. Belum ada informasi yang cukup untuk memastikan siapa yang berada di baliknya.”
Devan terdiam sejenak.
“Lanjutkan pemeriksaannya. Namun, jangan sampai pekerjaan utama kita terganggu hanya karena dugaan.”
“Dimengerti, Tuan.”
Setelah Arga keluar, Devan kembali memusatkan perhatian pada dokumen di hadapannya.
Ia menyadari bahwa persaingan menjelang RUPS tidak hanya ditentukan oleh hubungan di antara para pemegang saham. Kemampuan mengelola perusahaan dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan juga akan menjadi pertimbangan penting.
Karena itu, ia tidak berniat membuang waktu untuk menebak-nebak langkah lawannya.
Selama belum ada bukti yang jelas mengenai pihak yang menyelidiki kehidupan pribadinya, ia akan tetap menjalankan tanggung jawabnya seperti biasa.
...___🍀🍀🍀🍀___...
Sementara itu, Hadi kembali memanggil asistennya setelah membaca beberapa catatan dalam laporan yang baru diterimanya.
“Aku ingin kamu memperhatikan perkembangan perusahaan menjelang RUPS,” katanya. “Periksa keputusan-keputusan strategis yang sedang dibahas dan pastikan kita memahami dasar pertimbangannya.”
“Apakah Bapak ingin saya mencari kekurangan dalam keputusan Pak Devan?”
Hadi menggeleng.
“Bukan begitu. Aku ingin memahami setiap keputusan berdasarkan fakta. Kalau memang ada persoalan yang perlu dibahas, kita harus mengetahui duduk perkaranya terlebih dahulu.”
Asistennya mengangguk memahami arahan tersebut.
“Baik, Pak. Saya akan memeriksa perkembangan yang berkaitan dengan persiapan RUPS.”
“Dan satu lagi,” lanjut Hadi. “Jangan membuat kesimpulan hanya karena sebuah keputusan tidak sesuai dengan pandangan kita. Selama keputusan itu memiliki dasar yang kuat dan menguntungkan perusahaan, kita harus mengakuinya.”
“Baik, Pak.”
Setelah asistennya pergi, Hadi berdiri di dekat jendela ruang kerjanya. Pikirannya tertuju pada persaingan yang semakin mendekati tahap penentuan.
Ia sudah memiliki sejumlah pemegang saham yang cenderung mendukungnya, tetapi belum bisa mengandalkan mereka sepenuhnya. Sementara itu, Devan masih memiliki kesempatan untuk memperkuat posisinya melalui kinerja dan keputusan yang diambilnya di perusahaan.
Hadi tidak berniat membiarkan persaingan itu berjalan tanpa persiapan. Ia harus mengetahui kekuatan yang dimilikinya sekaligus memahami hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
Untuk saat ini, ia belum membutuhkan langkah yang terburu-buru. Yang terpenting adalah memastikan dirinya memiliki dasar yang kuat ketika saatnya tiba untuk menentukan pilihan.
Hadi kembali ke mejanya dan membuka dokumen persiapan RUPS.
Persaingan itu belum mencapai akhir. Dan sebelum keputusan ditetapkan, ia masih memiliki waktu untuk memperkuat posisinya.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
awas loo menjilat ludah sendri ,, 🤭🤭