NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fabdul

​Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.

​Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.

​Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.

​Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?

​Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peta Persaingan

Hadi Mahendra sedang memeriksa sejumlah dokumen di ruang kerjanya ketika asistennya datang membawa laporan terbaru mengenai persiapan RUPS. Ia meletakkan berkas itu di atas meja, lalu berdiri menunggu.

“Ini laporan perkembangan dukungan pemegang saham menjelang RUPS, Pak,” ujar asistennya.

Hadi membuka berkas tersebut dan mulai membaca isinya. Beberapa nama pemegang saham tercantum dalam laporan itu, disertai catatan mengenai pandangan mereka terhadap calon pemimpin Mahendra Group.

“Bagaimana perkembangannya?” tanya Hadi tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen.

“Beberapa pemegang saham menunjukkan kecenderungan untuk mendukung Bapak. Namun, mereka belum memberikan kepastian mengenai keputusan dalam RUPS nanti.”

Hadi membalik halaman berikutnya.

“Bagaimana dengan yang belum menentukan pilihan?”

“Sebagian masih menunggu perkembangan perusahaan dan mempertimbangkan kemampuan masing-masing kandidat sebelum mengambil keputusan.”

Hadi mengangguk pelan. Ia tidak terkejut mendengar jawaban itu. Dalam persaingan memperebutkan posisi CEO, dukungan yang belum disertai kepastian bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan pegangan.

“Jadi, belum ada yang bisa kita pastikan,” katanya.

“Benar, Pak.”

Hadi menutup berkas tersebut, lalu meletakkannya di atas meja.

“Jangan menganggap kecenderungan mereka sebagai dukungan tetap. Selama keputusan belum ditetapkan, semuanya masih bisa berubah.”

“Baik, Pak. Apakah ada hal lain yang perlu saya periksa?”

“Aku ingin mengetahui hal-hal yang menjadi pertimbangan mereka dalam memilih calon CEO. Bukan hanya siapa yang mereka dukung, tetapi juga apa yang mereka harapkan dari pemimpin berikutnya.”

Asistennya mengangguk.

“Apakah Bapak ingin saya mengumpulkan informasi mengenai pandangan mereka terhadap kinerja Pak Devan juga?”

“Ya. Kumpulkan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Aku tidak ingin mengambil keputusan berdasarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.”

“Baik, Pak. Saya akan menindaklanjutinya.”

Setelah asistennya keluar, Hadi kembali membuka laporan tersebut. Ia memperhatikan beberapa nama yang tercantum di dalamnya, mencoba memahami posisi masing-masing pemegang saham.

Selama ini, ia cukup mengenal lingkungan perusahaan dan orang-orang yang memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan. Namun, ia juga memahami bahwa hubungan baik tidak selalu menjamin dukungan ketika keputusan penting harus diambil.

Devan pun bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Meskipun kehidupan pribadinya sempat menjadi bahan pembicaraan, keponakannya itu masih memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya di hadapan para pemegang saham.

Hadi tidak ingin terburu-buru mengambil langkah hanya karena melihat peluang kecil.

Baginya, memperkuat posisi sendiri jauh lebih penting daripada sekadar menunggu lawannya melakukan kesalahan.

...___🍀🍀🍀🍀___...

Di ruang rapat Mahendra Group, beberapa kepala divisi sedang membahas perkembangan pekerjaan yang akan menjadi bagian dari laporan perusahaan menjelang RUPS.

Devan duduk di salah satu sisi meja, mendengarkan pemaparan setiap divisi sebelum memberikan tanggapan. Ia sesekali mengajukan pertanyaan mengenai hasil yang belum sesuai dengan target dan meminta penjelasan berdasarkan data yang tersedia.

“Untuk bagian ini, saya ingin laporan pendukungnya dilengkapi sebelum kita mengambil keputusan,” ujar Devan. “Pastikan angka yang disampaikan sesuai dengan kondisi sebenarnya.”

Salah seorang kepala divisi mengangguk.

“Baik, Pak. Kami akan memperbarui laporannya.”

Devan melanjutkan pembahasan ke bagian berikutnya. Ia tidak ingin laporan yang akan disampaikan kepada pemegang saham hanya terlihat baik di atas kertas. Setiap keputusan harus memiliki dasar yang jelas agar dapat dipertanggungjawabkan.

Setelah rapat selesai, Devan kembali ke ruang kerjanya. Arga menyusul beberapa saat kemudian dengan membawa dokumen yang perlu diperiksa.

“Apakah ada perkembangan lain?” tanya Devan.

“Untuk persiapan RUPS, beberapa divisi masih melengkapi laporan mereka, Tuan. Sejauh ini, belum ada kendala besar yang perlu segera ditangani.”

Devan menerima dokumen dari tangan Arga.

“Pastikan semuanya selesai sesuai jadwal. Aku tidak ingin ada informasi yang belum terverifikasi masuk ke dalam laporan akhir.”

“Baik, Tuan.”

Arga hendak kembali ke mejanya ketika Devan mengajukan pertanyaan lain.

“Bagaimana dengan informasi yang sebelumnya kamu sampaikan mengenai pihak yang mencari tahu kehidupan pribadiku?”

“Kami masih menelusurinya, Tuan. Belum ada informasi yang cukup untuk memastikan siapa yang berada di baliknya.”

Devan terdiam sejenak.

“Lanjutkan pemeriksaannya. Namun, jangan sampai pekerjaan utama kita terganggu hanya karena dugaan.”

“Dimengerti, Tuan.”

Setelah Arga keluar, Devan kembali memusatkan perhatian pada dokumen di hadapannya.

Ia menyadari bahwa persaingan menjelang RUPS tidak hanya ditentukan oleh hubungan di antara para pemegang saham. Kemampuan mengelola perusahaan dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan juga akan menjadi pertimbangan penting.

Karena itu, ia tidak berniat membuang waktu untuk menebak-nebak langkah lawannya.

Selama belum ada bukti yang jelas mengenai pihak yang menyelidiki kehidupan pribadinya, ia akan tetap menjalankan tanggung jawabnya seperti biasa.

...___🍀🍀🍀🍀___...

Sementara itu, Hadi kembali memanggil asistennya setelah membaca beberapa catatan dalam laporan yang baru diterimanya.

“Aku ingin kamu memperhatikan perkembangan perusahaan menjelang RUPS,” katanya. “Periksa keputusan-keputusan strategis yang sedang dibahas dan pastikan kita memahami dasar pertimbangannya.”

“Apakah Bapak ingin saya mencari kekurangan dalam keputusan Pak Devan?”

Hadi menggeleng.

“Bukan begitu. Aku ingin memahami setiap keputusan berdasarkan fakta. Kalau memang ada persoalan yang perlu dibahas, kita harus mengetahui duduk perkaranya terlebih dahulu.”

Asistennya mengangguk memahami arahan tersebut.

“Baik, Pak. Saya akan memeriksa perkembangan yang berkaitan dengan persiapan RUPS.”

“Dan satu lagi,” lanjut Hadi. “Jangan membuat kesimpulan hanya karena sebuah keputusan tidak sesuai dengan pandangan kita. Selama keputusan itu memiliki dasar yang kuat dan menguntungkan perusahaan, kita harus mengakuinya.”

“Baik, Pak.”

Setelah asistennya pergi, Hadi berdiri di dekat jendela ruang kerjanya. Pikirannya tertuju pada persaingan yang semakin mendekati tahap penentuan.

Ia sudah memiliki sejumlah pemegang saham yang cenderung mendukungnya, tetapi belum bisa mengandalkan mereka sepenuhnya. Sementara itu, Devan masih memiliki kesempatan untuk memperkuat posisinya melalui kinerja dan keputusan yang diambilnya di perusahaan.

Hadi tidak berniat membiarkan persaingan itu berjalan tanpa persiapan. Ia harus mengetahui kekuatan yang dimilikinya sekaligus memahami hal-hal yang masih perlu diperbaiki.

Untuk saat ini, ia belum membutuhkan langkah yang terburu-buru. Yang terpenting adalah memastikan dirinya memiliki dasar yang kuat ketika saatnya tiba untuk menentukan pilihan.

Hadi kembali ke mejanya dan membuka dokumen persiapan RUPS.

Persaingan itu belum mencapai akhir. Dan sebelum keputusan ditetapkan, ia masih memiliki waktu untuk memperkuat posisinya.

Bersambung...

1
Ariany Sudjana
Devan sudah ada hati sama Aira, cuma masih Denial dengan perasaannya sendiri
Jesselyn Runtuwene
lanjut 👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
fabdul
Luar Biasa
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Jesselyn Runtuwene
ijin promosi novel juga Judul Sang Pemain ( yang awalnya tidak suka bermain bola menjadi pemain profesional ) mampir yuk
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Jesselyn Runtuwene
semoga saja Clara tidak menimbulkan masalah
Muft Smoker
Clara mungkin tenang dlm setiap obrolan ,, dan semoga akan ttap seperti tu ,, jgn prnh merusak rumah tangga prempuan lain ,, dan Devan harus selalu bisa mengambil sikap tegas ,,
Ariany Sudjana
kamu harus tegas Devan, jangan sampai si pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan aira, apalagi mama kamu kelihatan sekali masih berharap Clara yang jadi istri kamu, hanya karena pertimbangan sama-sama keluarga konglomerat
Jesselyn Runtuwene
semoga Clara tidak menjadi masalah bagi Devan
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Anvika
Ratih berhenti sejenak, keknya lebih bagus diganti napas Ratih tercekat.
fabdul: siap kak makasih ya atas masukannya, nanti aku baca kembali bab ini sebelum revisinya 😊
total 1 replies
Anvika
Mampir kak
Anvika
Lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
Muft Smoker: ok siap kak ,,
semangat trus /Grin/
total 2 replies
Muft Smoker
waah nyari masalah aj niih siapa pun org ny😏
Muft Smoker
kasih kopi Aira ,, biar jernih fikiran si Devan ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
mulai kena gempa kecil yx Devan ,,
awas loo menjilat ludah sendri ,, 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!