Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Mobil hitam itu berhenti di halaman kediaman keluarga Katagiri. Mesin masih menyala ketika Lili meraih gagang pintu, berniat segera keluar dari kendaraan yang sejak tadi terasa semakin sesak baginya.
Namun, sebelum ia sempat membuka pintu, Satoshi menarik tangannya.
“Siapa yang menyuruhmu pergi?”
Lili tersentak. Tubuhnya terhenti ketika Satoshi menariknya mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Pria itu menatap wajahnya lekat-lekat, seolah-olah sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di balik kedua mata cokelat istrinya.
“Tuan, lepaskan tangan saya.”
Satoshi tidak menghiraukannya.
Selama beberapa detik, ia hanya memandangi wajah Lili. Rambut hitam panjang perempuan itu tergerai di bahunya, sebagian helainya jatuh menutupi pipi yang tampak pucat. Gaun tanpa lengan berwarna hijau sage yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat sederhana, tetapi anggun.
Entah mengapa, baru kali ini Satoshi benar-benar memperhatikan penampilan istrinya.
Selama tiga tahun, perempuan itu selalu berada di dekatnya. Namun, ia terlalu sibuk mengabaikan keberadaannya hingga tidak pernah sungguh-sungguh memandangnya.
“Jadi, kau bisa berdandan secantik ini ketika bertemu pria lain?” gumamnya.
Lili mengerutkan kening.
“Saya tidak berdandan untuk siapa pun, Tuan.”
“Lalu, mengapa kau tersenyum begitu lebar kepadanya?”
Pertanyaan itu membuat Lili terdiam.
Ia tidak menyangka Satoshi akan mempermasalahkan sesuatu sesederhana senyum. Selama ini, suaminya tidak pernah peduli apakah dirinya tersenyum atau menangis. Bahkan, ketika Lili berusaha menyambutnya dengan wajah bahagia, pria itu sering kali membalasnya dengan hinaan.
“Apakah saya tidak diperbolehkan tersenyum, Tuan?”
Tatapan Satoshi berubah tajam.
“Jangan memutarbalikkan ucapanku.”
“Saya hanya menjawab pertanyaan Tuan.”
Satoshi mendekatkan wajahnya. Lili spontan memalingkan muka, tetapi pria itu justru memperhatikan gerakannya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
“Sekarang kau bahkan tidak mau menatapku?”
Lili menelan ludah.
“Saya sedang ingin pulang ke kamar.”
“Jawab pertanyaanku.”
“Saya tidak tahu apa yang ingin Tuan dengar.”
Satoshi terkekeh pelan. Tangannya yang lain bergerak menyingkap sedikit kain gaun Lili, lalu berhenti di paha perempuan itu.
“Pantas saja pria itu betah duduk bersamamu. Kulitmu putih dan lembut,” ujarnya dengan nada menggoda yang terdengar merendahkan.
Lili seketika menegang.
Napasnya memburu. Ia segera menarik kain gaunnya kembali dan berusaha melepaskan tangan Satoshi.
“Tuan, jangan lakukan itu.”
Namun, Satoshi justru mempererat genggamannya.
“Mengapa? Bukankah aku suamimu?”
Kalimat itu membuat Lili merasa seolah-olah seluruh udara di dalam mobil menghilang.
Suamiku.
Kata yang dahulu begitu ingin ia dengar dari bibir Satoshi, kini digunakan pria itu untuk membenarkan sentuhan yang tidak diinginkannya.
Lili menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Selama tiga tahun, Tuan tidak pernah menganggap saya sebagai istri. Mengapa sekarang Tuan baru mengingatnya?”
Satoshi terdiam sesaat.
Lili melanjutkan dengan suara bergetar, “Ketika saya ingin dekat dengan Tuan, Tuan mengusir saya. Ketika saya membawakan makanan, Tuan membuangnya. Ketika saya berusaha menyenangkan Tuan, Tuan justru menghina saya. Sekarang, setelah melihat saya bersama orang lain, Tuan bertindak seolah-olah saya telah melakukan kesalahan.”
“Cukup, Lili.”
“Belum, Tuan. Saya sudah diam selama tiga tahun.”
Air mata mulai mengalir di pipinya, tetapi kali ini Lili tidak segera menundukkan kepala.
“Dahulu, saya sangat ingin Tuan menyentuh saya. Saya menunggu setiap malam, berharap suatu hari Tuan bersedia melihat saya sebagai seorang perempuan yang mencintai suaminya. Namun, setiap kali saya berharap, Tuan selalu menghancurkan harapan itu.”
Satoshi menatapnya tanpa berkata-kata.
“Sekarang, saya tidak menginginkannya lagi.”
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan suara lirih, tetapi dampaknya terasa begitu keras bagi Satoshi.
Ia perlahan melepaskan tangan Lili.
Perempuan itu segera menarik tubuhnya menjauh, merapikan gaunnya, lalu mengusap air mata dengan punggung tangan.
Satoshi memperhatikan gerakannya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Lili tidak sekadar menolak sentuhannya. Perempuan itu benar-benar takut kepadanya.
Kesadaran tersebut membuat dadanya terasa aneh.
“Jangan berlebihan,” katanya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. “Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa kau masih istriku.”
Lili tertawa hambar.
“Surat perceraian itu masih berada di meja Tuan.”
Satoshi langsung terdiam.
“Besok, saya akan mengajukannya. Saya tidak akan meminta Tuan mencintai saya lagi.”
Ia meraih gagang pintu dan kali ini berhasil membukanya.
Sebelum turun, Lili menoleh sekali lagi.
“Mulai sekarang, tolong jangan menyentuh saya hanya karena Tuan merasa tidak suka melihat saya dekat dengan orang lain.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah tanpa menunggu jawaban.
Satoshi tetap duduk di belakang kemudi.
Ia memandangi pintu yang baru saja ditutup Lili, lalu menunduk menatap tangannya sendiri.
Tangannya yang dahulu digunakan untuk menyakiti perempuan itu kini terasa begitu asing.
Selama bertahun-tahun, ia mengira Lili akan selalu menginginkan perhatian darinya. Ia yakin perempuan itu akan terus bertahan, tidak peduli seberapa buruk perlakuannya.
Namun, ia baru saja mendengar sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya.
Lili tidak lagi menginginkannya.
Dan untuk pertama kalinya, kemungkinan tersebut membuatnya merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar ia miliki.
---
Di dalam rumah, Lili berjalan menuju kamarnya dengan langkah tergesa-gesa. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu dan menutup mulut agar isak tangisnya tidak terdengar oleh siapa pun.
Tubuhnya gemetar.
Bukan karena sentuhan Satoshi semata, melainkan karena kenangan selama tiga tahun kembali memenuhi pikirannya.
Ia teringat malam pertama pernikahan mereka, ketika Satoshi menyuruhnya tidur di gudang. Ia teringat perempuan-perempuan yang dibawa suaminya ke kamar. Ia teringat penghinaan yang dilontarkan di hadapan para tamu, serta malam ketika ia hampir menjadi korban kekerasan seksual oleh teman-teman Satoshi sebelum Tian Wu datang menyelamatkannya.
Begitu banyak hal yang telah ia lalui hanya demi mempertahankan pernikahan tersebut.
Namun, tidak satu pun membuat Satoshi mencintainya.
Lili mengusap wajahnya, lalu berjalan menuju lemari kecil di sudut kamar. Ia membuka laci paling bawah dan mengeluarkan sebuah kotak berisi dokumen penting.
Di dalamnya terdapat buku tabungan, dokumen rumah kecil yang dibelinya di desa Jepang, beberapa naskah tulisannya, dan salinan surat perceraian.
Lili menyentuh dokumen rumah itu dengan hati-hati.
Rumah tersebut belum sempurna. Beberapa bagian masih perlu diperbaiki, dan ia belum memiliki banyak perabot. Namun, tempat itu merupakan hasil kerja kerasnya sendiri.
Di sana, tidak akan ada seseorang yang menarik rambutnya karena panggilan yang salah. Tidak akan ada bentakan yang membuatnya gemetar. Tidak akan ada lagi malam-malam panjang yang dihabiskan dengan menunggu seorang suami yang tidak pernah pulang untuknya.
Ia ingin hidup sebagai dirinya sendiri.
Lili mengambil telepon genggamnya, membuka daftar kontak, lalu berhenti pada nama Tyson.
Jarinya sempat menggantung di atas layar.
Ia ingin mengucapkan terima kasih atas percakapan mereka di taman. Ia juga ingin meminta maaf karena telah membuat Tyson terlibat dalam persoalan rumah tangganya.
Namun, pada akhirnya, ia hanya mengetik sebuah pesan singkat.
Terima kasih untuk hari ini, Tyson. Semoga pekerjaanmu besok berjalan lancar.
Setelah mengirimkannya, Lili meletakkan telepon dan menarik napas panjang.
Ia tidak ingin menjadikan Tyson sebagai pengganti Satoshi. Ia tidak ingin melompat ke dalam hubungan baru hanya karena terluka oleh hubungan lama.
Untuk saat ini, ia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri.
---
Sementara itu, Satoshi akhirnya memasuki rumah hampir setengah jam kemudian.
pandangannya tertuju kearah kamar Lily yang masih terletak digudang , sebelum akhirnya dia menghela nafas panjang lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya dilantai atas.
Bunyi air gemericik dikamar mandi Satoshi, pikirannya tidak luput dari Lily. Entah bagaimana jika nanti Lily benar-benar pergi selamanya dari hidupnya.
Ia tidak ingin mendengar nasihat tentang Lili. Selama ini, ia selalu meyakinkan dirinya bahwa pernikahan mereka merupakan kesalahan yang dipaksakan oleh Mahito Katagiri.
Namun, malam itu, ia mulai menyadari bahwa kebenciannya telah membuatnya melakukan hal-hal yang tidak dapat dibenarkan.
Meski demikian, ia belum mampu meminta maaf.
Ia bahkan belum memahami perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya.
---
Malam semakin larut ketika Satoshi berdiri di depan kamar Lili.
Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, tetapi ia mengurungkannya ketika mendengar suara perempuan itu dari dalam.
Lili sedang berbicara melalui telepon.
“Ya, saya akan datang besok pagi,” ucapnya lembut. “Saya ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin.”
Satoshi mengerutkan kening.
Beberapa detik kemudian, ia mendengar Lili mengucapkan kalimat yang membuat tubuhnya menegang.
“Saya tidak ingin tinggal di rumah ini lebih lama lagi.”
Satoshi menatap pintu tersebut dengan rahang mengeras.
Ia seharusnya merasa lega. Bukankah selama ini ia menginginkan kebebasan dari pernikahan yang tidak pernah dipilihnya?
Lalu, mengapa mendengar Lili merencanakan kepergian membuatnya merasa seolah-olah seseorang sedang merenggut sesuatu dari tangannya?
Ia melangkah mundur perlahan.
Di dalam kamar, Lili menutup telepon dan kembali memeriksa dokumen perceraian. Keputusan itu telah bulat. Esok hari, ia akan memulai langkah pertamanya menuju kehidupan baru.
Sementara di balik pintu, Satoshi berdiri dalam keheningan, mulai memahami bahwa perempuan yang selama tiga tahun selalu menunggunya kini benar-benar bersiap pergi.
Dan kali ini, Lili tidak akan menunggu izin darinya.
Untuk pertama kalinya, Satoshi menyadari bahwa ia mungkin telah terlambat menyadari arti kehadiran seorang istri. Namun, ia belum mengetahui bahwa penyesalan yang sesungguhnya baru akan dimulai ketika Lili benar-benar meninggalkan rumah itu.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁