NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepercayaan dan Awal Baru

​Kata-kata Kirana mengalun lembut di tengah heningnya kamar utama, memecah ketegangan yang sempat membeku di antara mereka. Tatapan mata gadis itu jernih dan jujur, memancarkan kesetiaan yang tak goyah oleh kejutan sebesar apa pun.

​Rian menatap Kirana lebih lama. Garis-garis tegas di wajahnya yang biasa dibalut kedinginan perlahan melunak. Ada binar rasa lega yang membayang di matanya—sebuah perasaan asing yang sudah empat tahun tak pernah ia rasakan dari orang lain.

​"Baiklah, aku mempercayaimu," ucap Rian pelan namun sarat akan kehangatan yang tulus. Pria itu mengangguk tipis, menerima janji Kirana sebagai sebuah ikatan baru yang lebih kuat daripada sekadar kertas dokumen pernikahan mereka.

​Rian kemudian mengambil pakaian santainya dan duduk kembali di atas kursi roda yang terparkir di dekat lemari, mengembalikan sandiwara ketatnya sebelum keluar kamar.

​"Sekarang, silakan kamu mandi dan bersih-bersih," ujar Rian lembut sebelum memutar kursi rodanya menuju pintu. "Aku tunggu kamu di meja makan di bawah."

​Kirana mengulas senyum manis, rasa lega mengalir memenuhi dadanya. "Baik, Mas. Aku tidak akan lama."

​Dengan langkah santai, Rian keluar dari kamar utama dan meluncur menuju lift rumah tangga untuk turun ke lantai bawah. Sementara itu, Kirana segera melangkah ke kamar mandi utama yang mewah untuk membersihkan diri dan menyegarkan tubuhnya setelah seharian melalui momen-momen yang menguras emosi.

​Lima belas menit kemudian, Kirana turun ke ruang makan dengan mengenakan salah satu pakaian santai yang nyaman namun tetap anggun. Di sana, Rian sudah duduk menunggunya di ujung meja makan kayu mahoni yang luas. Bi Asih dan para pelayan sedang menata deretan hidangan lezat yang aromanya menyerbak menggugah selera.

​"Nyonya Kirana, silakan duduk," sapa Bi Asih ramah seraya menarikkan kursi untuk Kirana di samping Rian.

​"Terima kasih banyak, Bi Asih," balas Kirana tulus.

​Saat pandangan Kirana bertaut dengan Rian di meja makan, ada kehangatan rahasia yang mengalir di antara mereka. Sebuah rahasia besar yang kini menjadikan mereka bukan sekadar pasangan dalam ikatan kontrak, melainkan dua jiwa yang saling percaya di balik dinding mansion Wijaya.

​"Mari kita makan," ujar Rian lembut, menyambut Kirana untuk menikmati makan malam pertama mereka bersama.

​Makan malam berjalan dalam suasana yang tenang dan hangat. Hidangan lezat buatan juru masak mansion lumat habis, ditemani obrolan-obrolan kecil tentang rencana pendaftaran kuliah Kirana besok pagi. Setelah meminum tegukan terakhir dari gelas air putihnya, Rian memberi isyarat pelan kepada Bi Asih bahwa makan malam mereka telah usai.

​"Ayo kembali ke atas," ujar Rian lembut pada Kirana.

​Kirana mengangguk, lalu bergeming di samping kursi roda Rian saat pria itu memutar arah menuju bagian belakang area ruang makan. Di sana, di balik sebuah pintu panel kayu yang tampak menyatu sempurna dengan dinding, terdapat sebuah lift pribadi berdesain modern dengan akses sensor sidik jari. Lift khusus ini terhubung langsung ke koridor privat lantai dua yang tersambung ke kamar utama dan ruang kerja Rian, tanpa harus melewati area umum tempat para pelayan berlalu-lalang.

​Begitu pintu lift berdenting halus dan terbuka di lantai dua, Rian mendorong roda kursinya keluar menuju kamar utama. Kirana menyusul dari belakang dan mengunci pintu kamar dari dalam.

​Seketika pintu terkunci rapat, Rian bangkit berdiri dari kursi rodanya. Pria itu meregangkan otot-otot tubuhnya yang tegap, lalu berjalan santai menuju sofa panjang di sudut ruangan. Kirana yang menyaksikan hal itu hanya bisa tersenyum tipis, kini sudah tidak kaget lagi melihat tubuh kekar suaminya yang mampu berdiri dan berjalan dengan gagah.

​"Kamu bisa tidur di ranjang utama," kata Rian seraya mengambil bantal dan selimut ekstra dari dalam lemari besar. "Aku akan tidur di sofa ini malam ini."

​Kirana tersentak pelan, merasa tidak enak hati. "Mas Rian... ini kamar Mas Rian. Kasurnya sangat besar, harusnya Mas yang tidur di sana."

​Rian menoleh, menatap Kirana dengan pandangan hangat namun penuh ketegasan. "Kamu adalah istriku, Kirana. Aku yang mengajakmu ke rumah ini, dan aku wajib membuatmu merasa nyaman. Lagipula, kita sudah sepakat untuk menghormati batasan masing-masing."

​Ia merebahkan tubuh tingginya di atas sofa empuk tersebut, menyelimuti dadanya, lalu menatap langit-langit kamar.

​"Istirahatlah. Besok adalah hari penting untuk pendaftaran kuliahmu," tambah Rian pelan dengan suara baritonnya yang menenangkan.

​Kirana menatap sosok Rian yang berbaring di sofa. Ada rasa hangat yang perlahan menjalar dan memenuhi dadanya—rasa aman dan dihargai yang tak pernah ia dapatkan sepanjang hidupnya. Ia perlahan merebahkan diri di atas ranjang yang empuk, menyelimuti tubuhnya, dan menatap ke arah sofa.

​"Terima kasih untuk semuanya, Mas Rian... Selamat malam," bisik Kirana lembut.

​"Selamat malam, Kirana," balas Rian pelan dari sudut kegelapan ruangan.

​Malam itu, di bawah atap mansion megah Wijaya, Kirana akhirnya bisa memejamkan mata dengan tenang, siap menyongsong esok hari yang penuh dengan harapan baru.

1
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!