Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RINTIHAN DI KEGELAPAN
# PELET LAKNAT 2
## Bab 19: Rintihan di Kegelapan
Empat hari telah berlalu begitu cepat, membuat Jaka semakin frustrasi karena belum juga mendapatkan uang sepeser pun, apalagi ayam cemani yang menjadi syarat mutlaknya.
Sebenarnya Jaka sudah berusaha mencari pekerjaan serabutan, bahkan mencari pinjaman ke sana-sini, namun hasilnya tetap nihil. Sementara itu, waktu yang tersisa kini hanya tinggal tiga hari lagi.
Di dalam kamar, Jaka duduk tersudut di tepian ranjang, merenungi akibat buruk yang akan menimpanya jika syarat terakhir itu gagal dipenuhi. Pikirannya melayang liar ke mana-mana. Percakapan antara dirinya dan Simbah Usman terus terngiang-ngiang jelas di kepalanya—saat dukun tua itu memberi peringatan keras:
"Ingat, Nak! Kamu sudah terlanjur melangkah ke dalam dunia ini dan tidak ada jalan untuk kembali. Jika sampai kamu membatalkannya sekarang atau melanggar... nyawamu sendiri yang akan jadi taruhannya!"
"Aku harus cari uang ke mana lagi?! Semua orang yang aku pinjami sudah tidak percaya lagi sama aku!" Jaka menjeda kalimatnya, otaknya terus berputar cepat mencari jalan keluar. "Ya, Kiki! Dia pasti mau bantu aku! Cuma dia satu-satunya orang yang belum aku datangi. Aku harus cepat-cepat menemui dia sekarang!" lanjut Jaka seraya bangkit berdiri, bergegas menyambar jaket dan kunci motor yang tergantung di dinding kamarnya.
Sementara itu, Dea yang menjadi target pelet Jaka masih berada dalam perlindungan iman dan keteguhan hatinya. Karena itulah sampai saat ini ia belum bergerak menemui Jaka. Namun, makhluk suruhan Simbah Usman kian hari bertindak makin brutal. Karena cara halus terus-menerus tidak mempan, kini sosok gaib itu mulai menyerang fisik Dea secara langsung. Setiap malam Dea selalu diteror dengan pintu kamar yang tiba-tiba terbuka sendiri, lampu yang berkedip-kedip tak wajar, hingga bekas cengkeraman hitam di pergelangan kakinya yang masih membekas nyata sampai saat ini.
Sosok di balik teror itu tidak lain dan tidak bukan adalah perempuan berbaju merah kusam—sosok yang dulu pernah mengintip dan mengikuti Jaka saat melakoni ritual di pohon bambu kuning. Makhluk itu terus-menerus mengintai, menunggu celah untuk merasuki Dea dan mengendalikan jiwanya secara utuh.
Di tempat lain, Jaka telah tiba di rumah Kiki. Keduanya kini tengah duduk berhadapan dan berbincang di teras rumah.
"Tumben kamu ke sini, Jak? Bagaimana, kamu sudah berhasil dapatkan si Dea?" tanya Kiki seraya menyeruput kopi hitamnya.
"Justru itu, Ki, aku datang ke sini. Si Dea masih belum bisa aku dapatkan. Kata Simbah sih nanti Dea sendiri yang bakal datang menemui aku, tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda sama sekali," jelas Jaka pasrah, jarinya memutar-mutar kunci motor di tangannya tanpa henti.
"Terus hubungannya sama aku apa? Itu kan urusan kamu sama Simbah, lagian aku tidak tahu apa-apa. Kamu juga kan yang mengusir aku suruh keluar waktu itu!" cerca Kiki acuh tak acuh.
"Iya, sih... oh iya, Ki, kamu ada uang lebih tidak? Aku pinjam dong, nanti pasti aku ganti!" pinta Jaka memelas.
"Pinjam uang? Mau buat apa lagi? Kamu mau balik ke sana?" tanya Kiki curiga.
"Iya, aku disuruh Simbah kembali lagi. Katanya sih ini syarat terakhir. Nanti kamu antar aku lagi ke sana, ya?" bujuk Jaka penuh harap.
Mendengar kata "antar", Kiki mendadak tersedak kopinya sendiri, terbatuk-batuk sampai matanya berair.
"Hah? Antar?! Tidak... tidak mau lagi aku berurusan sama Simbah! Kamu sendiri saja ke sana, aku tidak mau!" sahut Kiki tegas, menggeleng cepat sambil menjauhkan cangkir kopinya, menolak mentah-mentah.
"Lah, kenapa? Bukannya dari awal kamu yang mengajak aku ke sana? Kenapa sekarang malah jadi tidak mau?" tanya Jaka heran.
"Bukan begitu, Jak... iya, memang aku yang pertama mengajak kamu ke sana. Tapi kamu tidak tahu apa yang aku alami sesudah pulang dari sana!" jelas Kiki, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan.
"Maksud kamu apa, Ki? Memangnya kamu mengalami kejadian apa?" tanya Jaka kian penasaran.
Kiki menarik napas panjang, lalu mulai menceritakan apa yang dialaminya sepulang mengantar Ayu malam itu.
---
"Aku pulang dulu ya, Beb! Jangan lupa mimpikan aku!" seru Kiki seraya tersenyum simpul.
"Iya, kamu juga ya! Hati-hati di jalan," sahut Ayu seraya memeluk Kiki dan mengecup pipinya lembut sebelum mereka benar-benar berpisah.
Kiki pun memacu sepeda motornya, membelah heningnya malam dan sunyinya jalanan pedesaan dengan perasaan yang berbunga-bunga.
Setelah 20 menit lamanya berkendara, Kiki akhirnya tiba di depan rumah. Ia bergegas memasukkan sepeda motornya ke dalam rumah sebelum mengunci pintu dan melangkah masuk ke kamarnya.
Di dalam ruangan berukuran sedang itu, Kiki melamun membayangkan masa depannya bersama Ayu.
"Ayu... Ayu... kelak kamu akan tinggal di rumah ini bersamaku, membina rumah tangga yang penuh kasih sayang dan berkah," gumam Kiki lirih seraya menatap langit-langit kamarnya dengan senyum merekah.
Namun, seketika lamunannya buyar saat ia mendengar sayup-sayup suara rintihan dari arah dapur. Kiki terkejut, tubuhnya menegak dari posisi rebahan dalam satu gerakan. Ia mulai memasang telinga baik-baik. Lama-kelamaan, suara lirih itu terdengar jelas seperti seseorang yang sedang meminta pertolongan.
"Tolooong... tolong saya..."
"Hah?! Suara perempuan sepertinya minta tolong? Jangan-jangan Ibu kenapa-napa lagi?" ujar Kiki mencoba berpikir positif.
Tanpa ragu, ia segera bergegas berlari ke arah pintu kamar.
"Bu... Bu! Apa itu Ibu?" seru Kiki seraya berjalan pelan menelusuri lorong rumah, mengikuti arah sumber suara yang mencurigakan itu.
Semakin dekat ia beranjak, suara itu makin nyaring menyayat hening. Kini, bukan sekadar panggilan, melainkan histeris tangisan pilu yang teramat memilukan, seolah menyimpan penderitaan luar biasa. Suara itu bergema, memantul kaku di dinding-dinding dapur yang gelap.
Langkah Kiki terhenti total.
Genggamannya pada kusen pintu mengerat sampai buku-buku jarinya memutih. Ia menahan napas tanpa sadar, telinganya memilah setiap jeda di antara isakan itu, mencoba memastikan itu suara ibunya atau bukan. Punggungnya dibasahi peluh dingin yang kian membuat pakaiannya melekat lembap.
"Lah, sekarang suara orang menangis! Kok aku jadi ragu ya? Apa itu Ibu atau bukan?" gumam Kiki lirih, sambil menelan ludah yang terasa tersangkut di tenggorokannya sendiri.