NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bersikap dingin lagi

Suara deru baling-baling helikopter di atas lapangan kampus perlahan menjauh, menghilang di balik kegelapan malam setelah menyebarkan ancaman yang mengerikan.

Seluruh pengunjung festival dan panitia kocar-kacir ketakutan, sementara petugas keamanan kampus sibuk menenangkan suasana.

​Devan berdiri mematung di bawah sorotan lampu panggung yang remang. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada ancaman ayahnya dari London, melainkan karena rasa panik yang teramat sangat membayangkan Aura menjadi target utama dari kekejaman keluarganya.

​Ayah nggak pernah main-main, batin Devan dengan rahang yang mengetat keras. Kalau aku tetap di dekat Aura, dia akan benar-benar dalam bahaya.

​Aura melangkah mendekati Devan dengan mata berkaca-kaca, memegang lembut lengan jaket kulit devan.

"Devan... suara di helikopter tadi itu siapa? Kenapa mereka mengancam kamu sampai sejauh ini?"

​Devan menepis tangan Aura secara perlahan namun tegas. Ia menarik nafas panjang, memaksakan matanya menatap Aura dengan tatapan paling dingin yang bisa ia ciptakan—menghidupkan kembali benteng pertahanan yang sempat runtuh.

​"Bukan urusan kamu," kata Devan datar. Nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat asing, menusuk hingga ke dalam ulu hati Aura.

​Aura tertegun, mengerjap tak percaya.

"Tapi Devan... mereka menyebut nama aku! Dan tadi kamu udah menyelamatkan aku dari papan dekorasi, kamu bahkan..." Aura menghentikan kalimatnya, pipinya sedikit memerah mengingat insiden bibir mereka yang tak sengaja bersentuhan tadi. "...kamu udah berbuat sejauh ini buat melindungi aku. Kenapa kamu mendadak bersikap kayak gini lagi?"

​"Aku cuma refleks menyelamatkan kamu dari papan yang mau jatuh, nggak lebih," balas Devan bohong tanpa berkedip. "Jangan terlalu banyak berharap atau berpikir yang nggak-nggak."

​Aura melangkah maju satu tindak, menatap Devan lurus-lurus dengan tatapan menuntut penjelasan.

"Devan, aku cuma mau mengucapkan terima kasih... Terima kasih untuk semuanya. Untuk foto-foto itu, untuk menyelamatkan nama baik aku di depan Pak Surya, dan untuk keselamatan aku malam ini. Kenapa sulit banget buat kamu menerima rasa terima kasih aku?"

​Devan mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku jaket sampai perban di tangannya berdenyut nyeri. Ia menahan gejolak emosi di dadanya setengah mati.

Ia ingin sekali merengkuh Aura, menenangkannya, dan mengatakan bahwa semuanya bakal baik-baik saja. Tapi pikirannya membentak keras: Semakin manis kamu sama dia, semakin besar bahaya yang mengintai nyawanya!

​"Aku nggak butuh rasa terima kasih kamu, Aura," sahut Devan dingin, dengan nada kaku yang sengaja ia buat-buat.

"Masalah foto dan nama baik kamu sudah selesai. Tugas kelompok kita juga sudah beres. Jadi nggak ada alasan lagi buat kita untuk terus berhubungan."

​Aura membeku di tempatnya. Kata-kata Devan bagaikan siraman air es yang membekukan seluruh tubuhnya.

"Maksud kamu apa, Devan? Kemarin kamu bilang kita mau buka lembaran baru... Kamu bahkan minta Bimo sama Rian bicara pakai 'aku-kamu' gara-gara aku!"

​"Itu cuma bercandaan," potong Devan cepat, membuang mukanya ke samping karena tak sanggup melihat raut terluka di wajah Aura.

"Bimo sama Rian cuma salah paham. Mulai besok, anggap aja semua yang terjadi di antara kita selama ini nggak pernah ada. Jangan cari aku lagi, dan jangan pernah mendekati aku lagi di kampus."

​Tanpa memberikan kesempatan bagi Aura untuk membalas, Devan membalikkan badannya dan melangkah pergi dengan cepat menembus sisa-sisa kerumunan panitia yang panik.

​"Devan! Devan, tunggu!" jerit Aura memanggil dari belakang.

​Namun, Devan terus berjalan tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Tiap langkah kakinya terasa amat berat, seolah membawanya berjalan di atas pecahan kaca. Air mata menumpuk di sudut mata Devan, menahan rasa sakit luar biasa akibat memaksakan diri membentak cewek yang paling ia sayangi di dunia ini.

​Aura berdiri sendirian di tengah selasar panggung yang sepi, menatap punggung Devan yang makin menjauh ditelan kegelapan malam. Air matanya akhirnya jatuh menetes membasahi pipinya.

​Aura benar-benar bingung dan hancur. Sikap Devan berubah-ubah kadang begitu hangat, lembut, dan pasang badan mempertaruhkan nyawa demi melindunginya, namun di detik berikutnya bisa mendadak berubah menjadi sosok yang sangat dingin, kaku, dan mengusirnya seolah-olah Aura adalah sebuah beban yang sangat menjijikkan.

​Kenapa, Devan...? batin Aura meratap. Kenapa kamu selalu mendorong aku menjauh setiap kali kita baru saja merasa dekat?

​Keesokan harinya di kampus.

​Suara kasak-kusuk mengenai helikopter yang melintas di panggung festival semalam menjadi topik hangat di seluruh penjuru kampus. Namun, isu tersebut perlahan tenggelam oleh berita lain: status kemahasiswaan Devan yang sudah resmi dipulihkan oleh rektorat dan nama baik Aura yang bersih total dari segala tuduhan skandal.

​Aura berjalan menyusuri lorong gedung B menuju ruang kelasnya. Wajahnya tampak sangat pucat, matanya sembab karena menangis semalaman.

​"Ra! Kamu nggak apa-apa kan?" panggil Nisa yang berlari menghampirinya sambil membawa dua kotak susu kemasan.

"Kemarin malam di festival heboh banget! Aku cari-cari kamu di panggung utama udah nggak ada."

​Aura tersenyum tipis, mencoba menguasai raut wajahnya. "Aku nggak apa-apa, Nis. Cuma agak capek aja."

​"Tapi btw, selamat ya, Ra!" seru Nisa antusias. "Nama kamu udah bersih total dari gosip miring itu! Reno juga udah ditangkap polisi gara-gara terbukti merusak fasilitas dan bikin laporan palsu. Semua ini berkat Devan, kan?"

​Mendengar nama Devan disebut, dada Aura mendadak terasa sesak luar biasa. "Iya... berkat Devan."

​"Ngomong-ngomong soal Devan..." Nisa memicingkan matanya, menunjuk ke arah ujung koridor luar. "...itu bukannya dia ya?"

​Aura refleks menoleh cepat. Di dekat tangga menuju laboratorium tua, Devan sedang berjalan bersama Bimo dan Rian.

Devan mengenakan jaket kulit hitamnya yang biasa, tatapannya lurus ke depan dengan rahang yang mengeras.

​Aura memberanikan diri. Tanpa memedulikan panggilan Nisa, Aura melangkah cepat menghampiri Devan, berniat menuntut penjelasan atas sikap dinginnya semalam.

​"Devan!" panggil Aura dari jarak beberapa meter.

​Devan menghentikan langkahnya. Bimo dan Rian yang berdiri di sampingnya langsung menoleh, menatap Aura dengan pandangan serba salah dan kasihan.

Mereka berdua sudah tahu ancaman gila dari keluarga Devan di London, tapi mereka dilarang keras oleh Devan untuk memberitahukannya pada Aura.

​Devan membalikkan badannya perlahan, memasang wajah cuek tanpa ekspresi. "Ada apa lagi, Aura?"

​Aura menatap Devan dengan mata yang dipenuhi kebingungan dan kekecewaan. "Aku cuma mau bicara sebentar sama kamu. Tolong... lima menit saja."

​Devan melirik Bimo dan Rian. "Kalian duluan ke parkiran."

​Bimo menepuk pundak Devan pelan, membisikkan sesuatu sebelum pergi. "Jangan terlalu keras sama dia, Dev... kasihan."

​Setelah Bimo dan Rian pergi, suasana di lorong mendadak hening.

​"Mau bicara apa lagi?" tanya Devan pendek, suaranya terdengar sangat dingin.

​"Kamu kenapa sih, Devan?!" tanya Aura frustrasi, menahan tangisnya. "Kenapa kamu menjauhi aku lagi? Kemarin kamu bertaruh nyawa menyelamatkan aku dari papan dekorasi, kamu bahkan pura-pura nggak mau dengar bahasa kasar lagi pas sama aku! Tapi kenapa sekarang kamu berubah jadi kayak orang asing lagi?!"

​Devan memejamkan matanya sejenak, mengepalkan jarinya keras-keras di balik saku.

"Aku udah bilang semalam, Aura. Semua itu nggak ada artinya. Jangan bikin diri kamu makin kelihatan kasihan di depan aku."

​"Aku nggak peduli kelihatan kasihan atau nggak!" seru Aura dengan suara bergetar.

"Aku cuma bingung! Kalau memang kamu nggak peduli sama aku, kenapa kamu selalu ada di saat aku dalam bahaya?! Kenapa kamu ambil foto-foto aku dengan penuh perasaan seperti itu?!"

​Devan menatap Aura lurus-lurus, memaksakan tatapan matanya menjadi begitu tajam dan menusuk.

"Foto-foto itu cuma objek kebetulan buat aku latihan fotografi, Aura. Nggak ada perasaan apa-apa di dalamnya. Kalau kamu berpikir aku suka sama kamu... kamu salah besar."

​DEG.

​Kata-kata itu bagaikan belati tajam yang menusuk tepat di dada Aura. Napasnya tertahan, air matanya tak lagi bisa dibendung, menetes deras membasahi pipinya yang pucat.

​"Kamu... kamu bohong, Devan..." bisik Aura pelan, suaranya hancur.

​"Aku nggak bohong," balas Devan datar, meski hatinya sendiri rasanya hancur berkeping-keping melihat tetesan air mata gadis di depannya.

"Mulai sekarang, jauhi aku. Kehidupan aku berbahaya, dan aku nggak butuh cewek manja kayak kamu di sekitar aku."

​Devan berbalik dan melangkah pergi tanpa memedulikan Aura yang menangis sesenggukan di lorong sepi itu.

​Namun, saat Devan baru saja melangkah sepuluh meter meninggalkan Aura, tiba-tiba tiga buah mobil sedan hitam bermerek mewah berhenti mendadak di jalanan luar koridor kampus.

Pintu-pintu mobil itu terbuka lebar, dan delapan orang pria bersetelan jas serba hitam dengan senjata tersembunyi melangkah keluar, langsung mengepung lorong tempat Devan dan Aura berdiri.

​Seorang pria tinggi berwajah dingin yang merupakan tangan kanan ayah Devan dari London melangkah maju, memegang sebuah foto kertas berisi wajah Aura.

​"Ternyata cewek ini yang bikin kamu membangkang, Devan..." kata pria itu dengan nada dingin penuh ancaman, sambil mengarahkan pistol berperedam suara tepat ke arah dada Aura!

​Bersambung...

1
Naelong
mohon maaf yaa siang ini aku belum up, insyaallah malam nanti baru up. nanti aku up dabbel ya🙏. makasi yang sudah mempir. semoga kalian sehat selalu😍. ohh yaa jangan lupa tinggalin jejek ya, comment, likenya
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!