Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Tiga Kali Lebih Keras
Hari ketujuh.
Ervan kembali berdiri di tempat yang sama seperti seminggu lalu.
Jalanan masih sepi. Cahaya matahari baru mulai muncul di antara bangunan, sementara udara pagi meninggalkan rasa dingin tipis di kulit.
Tidak ada taman.
Tidak ada orang yang mengejek.
Tidak ada calon Hunter lain yang bisa dijadikan pembanding.
Hanya dirinya, stopwatch, dan rute lima kilometer yang hampir membuatnya tumbang pada hari pertama.
Ervan melakukan pemanasan seperti biasa.
Bedanya, hari ini ia tidak sedang berlatih untuk menambah kemampuan.
Ia sedang menguji hasil latihan satu minggu.
BASELINE TEST II.
Ervan menarik napas.
Stopwatch menyala.
Ia mulai berlari.
Kilometer pertama berlalu.
Ervan memeriksa kondisi tubuhnya.
Napas stabil.
Langkah belum terasa berat.
Paha juga tidak memberikan rasa panas yang dulu sudah mulai muncul jauh lebih cepat.
Ia tidak mempercepat.
Tujuannya bukan membuat rekor dengan mengorbankan konsistensi.
Kilometer kedua.
Napas mulai lebih dalam.
Keringat muncul di dahi.
Namun ritmenya belum rusak.
Ervan masih bisa menjaga panjang langkah hampir sama seperti sejak awal.
Saat itulah ia mulai benar-benar menyadari perbedaannya.
Seminggu lalu, jarak ini terasa seperti peringatan bahwa dirinya sudah terlalu lama tidak berlatih.
Sekarang tubuhnya belum nyaman—
tetapi masih terkendali.
Kilometer ketiga.
Ervan mulai merasakan tekanan pada betis.
Ia membandingkannya dengan apa yang diingat dari hari pertama.
Dulu, pada titik ini, satu-satunya pikirannya adalah bagaimana menyelesaikan sisa perjalanan tanpa berhenti.
Sekarang pikirannya justru masih cukup jernih untuk memperhatikan postur.
Bahu turun.
Tangan jangan terlalu tegang.
Atur napas.
Jangan mengejar waktu.
Ia terus berlari.
Kilometer keempat terasa berat.
Pada jarak inilah tubuhnya mulai meminta kompromi.
Napas semakin keras.
Keringat membasahi kaus.
Langkahnya mulai kehilangan sedikit ritme.
Ervan menahan keinginan untuk mempercepat hanya karena garis akhir sudah dekat.
Ia mempertahankan pace.
Lima kilometer.
Stopwatch dihentikan.
Ervan memperlambat langkah menjadi berjalan.
Napasnya berat.
Dada naik turun.
Ia masih lelah.
Sangat lelah.
Namun ia tidak perlu membungkuk lama seperti seminggu lalu.
Tidak ada rasa seolah kakinya akan berhenti berfungsi.
Ervan mengangkat ponsel.
Matanya berhenti pada angka di layar.
Lebih cepat.
Cukup jauh.
Ia tidak tersenyum lebar.
Hanya sudut bibirnya yang sedikit terangkat.
"𝘓𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯..." gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di sela napas yang belum teratur, punggung tangannya menyeka keringat yang nyaris masuk ke mata. "𝘉𝘶𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘵𝘦 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢... 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯."
Setelah berjalan beberapa menit, Ervan memulai pengukuran recovery.
Berapa lama sampai napas turun.
Berapa lama sebelum denyut jantung terasa lebih stabil.
Apakah ada rasa sakit tajam.
Apakah otot tertentu memberikan tanda berlebihan.
Semua masuk ke catatan.
Setelah kondisi tubuh cukup pulih, ia melanjutkan baseline berikutnya.
Push-up.
Squat.
Sit-up.
Plank.
Gerakan yang sama seperti hari pertama.
Tidak ada tambahan variasi.
Tidak ada teknik baru.
Ia ingin perbandingan yang sesederhana mungkin.
Pada push-up, jumlah repetisi efektif meningkat.
Tidak luar biasa, tetapi jelas.
Squat juga meningkat meskipun paha mulai terasa panas menjelang akhir.
Plank menjadi perubahan paling terasa.
Ketika timer mencapai durasi yang seminggu lalu sudah memaksanya menyerah, Ervan masih mampu bertahan.
Sepuluh detik.
Dua puluh.
Tangannya mulai gemetar.
Otot perut menegang keras.
Beberapa detik kemudian posturnya mulai rusak.
Ervan langsung berhenti.
Tubuhnya jatuh ke matras tipis.
"𝘏𝘢𝘢𝘩... 𝘩𝘢𝘩... 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘵𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴," erang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dengan pipi menempel di matras, kedua lengannya masih bergetar di sisi tubuh.
Ia menatap timer.
Lebih lama.
Lagi.
Satu hasil mungkin kebetulan.
Dua hasil masih bisa diperdebatkan.
Tetapi hampir seluruh data mengarah ke arah yang sama.
Tubuhnya berkembang.
Dan perkembangan itu cukup cepat.
---
Siang harinya, Ervan duduk di ruang istirahat minimarket dengan dua lembar catatan terbuka.
Hari Pertama.
Hari Ketujuh.
Ia membuat garis di antara keduanya.
Waktu lima kilometer membaik.
Titik napas berat bergeser.
Jumlah repetisi naik.
Durasi plank bertambah.
Recovery lebih singkat.
Bahkan rasa sakit otot setelah beberapa sesi terakhir cenderung hilang lebih cepat.
Ervan mengetukkan ujung pulpen pada meja.
Bagian terakhir masih membuatnya tidak nyaman.
Apakah seluruh peningkatan itu hanya karena tubuhnya mulai kembali aktif?
Atau CORE yang telah mencapai seratus persen memang memengaruhi proses recovery?
Belum ada cara baginya untuk memastikan.
Ia tidak memiliki peralatan medis.
Tidak memiliki data biologis lengkap.
Dan ia jelas tidak berniat datang ke laboratorium sambil berkata bahwa CORE yang bertahun-tahun dianggap gagal tiba-tiba aktif setelah ia hampir mati.
Setidaknya belum.
Ervan akhirnya menulis:
Kesimpulan sementara: peningkatan terukur. Recovery tetap perlu diamati. Jangan menyimpulkan penyebab.
Ia menutup jurnal.
Untuk sesaat, optimisme muncul.
Kalau satu minggu menghasilkan perubahan sebanyak ini...
masih ada sekitar tiga minggu sebelum Seleksi Hunter.
Mungkin waktunya belum benar-benar habis.
---
Malam itu, optimisme tersebut bertahan sekitar dua puluh menit.
Ervan sedang mencari informasi tambahan mengenai seleksi ketika sebuah video rekomendasi muncul di layar ponselnya.
PERSIAPAN SELEKSI HUNTER — LATIHAN PESERTA USIA 18 TAHUN.
Ia menekan video.
Seorang pemuda tampak berlatih di fasilitas tertutup.
Gerakannya cepat.
Bukan sekadar berlari.
Ia melakukan perubahan arah, menghindari rintangan, menjatuhkan tubuh, bangkit kembali, kemudian melakukan sprint tanpa kehilangan keseimbangan.
Seorang instruktur berdiri beberapa meter darinya sambil memberikan koreksi.
Video berpindah.
Latihan menggunakan Regalia dasar.
Pemuda itu mengulang pola serangan yang sama berkali-kali sampai posisi kakinya benar.
Video lain menunjukkan seorang peserta perempuan menjalani simulasi menghadapi target latihan menyerupai BETA.
Tidak ada gerakan spektakuler.
Justru itulah masalahnya.
Semua terlihat terbiasa.
Tubuh mereka sudah mengetahui apa yang harus dilakukan bahkan sebelum instruktur selesai memberi perintah.
Ervan menghentikan video.
Ia melihat telapak tangannya.
Seminggu ini ia merasa telah bekerja keras.
Tapi mereka?
Mereka sudah melakukan ini selama bertahun-tahun.
Sebagian sejak usia lima atau enam tahun.
Mereka belajar jatuh sebelum Ervan tahu apa arti kompatibilitas CORE.
Mereka mengenal dasar Regalia ketika Ervan masih menunggu Installation Progress-nya bergerak dari nol.
Dan sekarang mereka akan berdiri di seleksi yang sama dengannya.
Ervan menatap jurnal.
Peningkatannya memang nyata.
Namun kenyataan lain juga sama nyatanya.
Berkembang cepat tidak berarti ketertinggalannya sudah hilang.
Ia baru menjadi lebih baik dibanding Ervan seminggu lalu.
Bukan lebih baik dibanding peserta lain.
Belum.
Ervan menarik jurnal mendekat.
Membuka halaman kosong.
Lalu menulis besar-besar:
PHASE II
Ia membaca ulang seluruh catatan minggu pertama.
Beberapa metode dipertahankan.
Sebagian diubah.
Ada latihan yang ternyata memberi terlalu banyak kelelahan dibanding manfaatnya.
Ada pula yang bisa ditingkatkan secara perlahan.
Ervan tidak menulis:
latihan tiga kali lebih banyak mulai besok.
Itu bukan disiplin.
Itu cara tercepat menuju cedera.
Yang ia buat adalah target kapasitas.
Volume latihan akan naik bertahap.
Interval dibuat lebih terstruktur.
Sprint bertambah ketika tubuh siap.
Repetisi bodyweight dinaikkan sedikit demi sedikit.
Mobilitas dan koordinasi mendapat porsi lebih besar.
Jam tidur tidak boleh dikorbankan.
Materi teori Hunter minimal satu modul setiap malam.
Ervan menatap halaman itu lama.
Kemudian menulis satu target di tengahnya.
TARGET: 3× KAPASITAS BASELINE AWAL.
Bukan besok.
Bukan dalam satu sesi.
Sebelum hari seleksi.
Di bawahnya ia menambahkan:
Waktu tersisa tidak akan bertambah.
Pulpen berhenti sebentar.
Kemudian satu kalimat lagi muncul.
Jadi aku yang harus berubah lebih cepat.
---
Pukul 04.30 keesokan paginya.
Langit masih gelap ketika Ervan berdiri di depan gerbang panti.
Semua anak masih tidur.
Udara dingin masuk ke paru-parunya saat ia menarik napas panjang.
Di layar ponsel terbuka program latihan baru.
Hari pertama Phase II.
Jogging.
Interval.
Koordinasi.
Bodyweight.
Materi teori setelah bekerja.
Jadwal itu terlihat jauh lebih buruk dibanding minggu pertamanya.
Ervan memasukkan ponsel ke saku.
Ia mulai berjalan.
Lalu berlari.
Seminggu lalu, lima kilometer terasa seperti hukuman.
Sekarang lima kilometer hanyalah fondasi.
Dan untuk mengejar orang-orang yang telah berlari selama lebih dari sepuluh tahun—
Ervan Noir tidak punya pilihan selain berlari lebih keras.
Beberapa ratus meter kemudian, ia mulai mempercepat langkah.
Namun belum sampai interval pertama, sesuatu membuat Ervan mengernyit.
Napasnya.
Seharusnya masih normal.
Tetapi bukan itu yang terasa aneh.
Ada sensasi lain di dalam dadanya.
Hangat.
Sangat samar.
Berdenyut mengikuti setiap tarikan napas.
Ervan perlahan memperlambat langkah.
Tangannya menyentuh dada.
Sensasi itu masih ada.
Bukan rasa sakit.
Bukan sesak.
Dan jelas bukan sesuatu yang pernah ia rasakan selama latihan sebelumnya.
Ervan berdiri diam di bawah lampu jalan.
Beberapa detik kemudian—
rasa hangat itu menghilang.
Seolah tidak pernah ada.
Ervan menatap telapak tangannya.
Recovery cepat masih bisa ia catat sebagai anomali.
Tapi yang barusan terjadi...
bukan recovery.
Untuk pertama kalinya sejak CORE-nya aktif seratus persen, Ervan mulai bertanya pada dirinya sendiri—
apa sebenarnya yang sudah bangkit di dalam tubuhnya?
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊