NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Pengakuan Saksi

"Gak mungkin. Tapi Mas Fadel selalu bilang kalau Papa mencoret nama saya dari warisan. Mereka bilang saya gak punya hak apa-apa di rumah itu," bisik Bima parau, air mata mendadak menggenang di pelupuk matanya.

"Mereka memalsukan semuanya, Bima. Kami bahkan mendapatkan bukti rekaman video resmi dari notaris yang pernah dipercayakan ayah kamu sebelum beliau meninggal untuk membuktikan bahwa Fadel dan ibunya cuma penipu," tegas Rayven.

Dada Bima naik turun menahan guncangan emosi yang hebat. Rasa sesak dan amarah yang terpendam mendadak pecah.

"Jadi selama ini mereka cuma memanfaatkan saya? Mereka menyiksa saya cuma buat menguasai harta itu?" tangis Bima.

"Iya Bima. Makanya kita bawa kasus ini pengadilan dan rebut kembali hak kamu," sahut Rhea prihatin, menyentuh tangan Bima.

Bima menyapu air matanya kasar, lalu mengangguk mantap dengan binar keberanian yang belum pernah terlihat sebelumnya.

"Saya mau, Mbak," ucap Bima.

"Papa kamu sayang banget sama kamu, Bima. Makanya beliau amankan surat aslinya di tempat tersembunyi. Jangan biarkan Fadel dan ibu tiri kamu menginjak-injak kamu lagi ya," sahut Zora lembut.

"Kami bakal bantu kamu sampai tuntas, Bima. Tapi untuk saat ini kamu dan bertindak kayak biasanya aja," Rhea tersenyum lega dan mengangguk pelan.

"Benar," sela Rayven. "Jangan sampai mereka curiga kalau kamu sudah bertemu kami. Sekarang, jalankan tugasmu seperti biasa. Begitu tanggal persidangan dan gugatan terdaftar, kami bakal jemput kamu."

"Baik, Mas. Saya bakal kembali sekarang sebelum Mas Fadel sadar saya keluar terlalu lama," Bima mengangguk paham.

Setelah berpamitan dan merapikan penampilannya, Bima melangkah keluar dari kediaman kopi itu, berbaur diantara pejalan kaki menuju gang belakang.

Sementara itu, Rayven, Rhea dan Zora kembali melangkah menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan utama.

Rhea bernapas lega sembari memasukkan kembali berkas-berkas penting ke dalam tas kulitnya.

"Langkah awal kita berhasil, Rayven. Bima udah setuju, sekarang tinggal kita," kata Rhea akhirnya.

Rayven yang berjalan di sampingnya melirik jam tangannya.

"Baguslah. Kalau begitu saya izin balik ke kantor firma dulu ya. Ada beberapa berkas klien lain di kantor yang harus saya urus," ujar Rayven tenang, menyunggingkan senyum tipis.

"Oke, Rayven. Terimakasih banyak ya buat bantuan kamu hari ini. Kalau bukan karena kamu kita gak bakal dapat bukti dari Pak Noto," Rhea mengangguk maklum.

"Gak masalah. Nanti malam saya kabari lagi yah," sahut Rayven santai sembari masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, lu melaju membelah jalanan kota.

Zora menatap mobil Rayven yang menjauh dengan tatapan kagum.

"Keren ya, Mas Rayven. Dia udah ganteng, pengacara sukses lagi. Idaman banget gak sih, Rhe," celetuk Zora.

Rhea cuma menggelengkan kepala terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu. "Udah ah, ayo balik ke kantor. Masih banyak dokumen yang harus kita ketik."

Namun, Rayven sama sekali tidak melaju ke arah kantor Utomo Law Firm di kawasan pusat bisnis.

Dia mengambil alih jalur pinggir kota, melesat kencang menuju kawasan pinggiran yang sepi dan dikelilingi pergudangan tua. Dia punya agenda tersendiri yang tidak disadari oleh Rhea maupun Zora.

Tiga puluh menit kemudian, mobil Rayven berhenti di sebuah bangunan ruko berdinding beton tebal tanpa papan nama, sebuah safe house rahasia milik jaringan pribadinya.

Rayven turun dari mobil, mengancingkan jasnya lalu melangkah menuju pintu besi tebal di bagian belakang ruko. Dua orang pria bertubuh tegap berjaket kulit hitam langsung menunduk sopan menyambut kedatangannya.

"Gimana kondisi di dalam?" tanya Rayven dingin.

"Masih aman, Pak. Sudah sadar dari tadi jam sepuluh," jawab salah satu anak buahnya.

"Bagus saatnya kita bicara," Rayven menyunggingkan senyum samar yang terkesan sangat berbahaya.

Pintu besi tebal itu terbuka, memperlihatkan ruangan yang minim cahaya.

Wajah Rudi tampak berantakan, sudut bibirnya lebam bekas pukulan semalam, dan napasnya memburu ketakutan. Saat melihat Rayven melangkah masuk dengan aura berwibawa yang mengintimidasi, mata Rudi membelalak lebar.

"Sialan. Lepasin gue, brengsek. Lu mau apa dari gue?" teriak Rudi parau.

Rayven tidak membalas. Ia menarik sebuah kursi besi dingin, meletakkannya tepat di hadapan Rudi, lalu mendudukan dirinya dengan santai, Rayven menyilangkan kakinya.

"Saya tahu siapa bos kamu, Rudi. Fadel dan ibunya. Rudi, kamu itu cuma pion murah yang bakal dikorbankan begitu sudah tidak digunakan lagi," ujar Rayven dengan tenang namun menusuk tulang.

"Bacot lu," sembur Rudi meludah ke lantai. "Mas Fadel gak bakal tinggal diam. Begitu dia tahu gue hilang, dia bakal obrak-abrik tempat ini."

Rayven tertawa dingin tanpa rasa humor. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan tablet tipis lalu memutar rekaman audio dari alat penyadap.

KLIKKK!

"Tapi kalau ternyata si Rudi sengaja mengkhianati kita. Saya sendiri yang bakal bikin tuh orang bungkam selamanya sebelum dia sempat buka mulut ke siapapun," suara Fadel bergema amat nyaring di ruangan itu.

Rudi membeku seketika. Wajahnya yang gertak tadi mendadak berubah menjadi pucat pasi bagai kertas. Telinganya tidak salah dengar, itu benar-benar suara Fadel yang berniat membunuhnya.

"Kamu dengan itu, Rudi," bisik Rayven. Dia memajukan tubuhnya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Rudi. "Fadel gak lagi nyari kamu buat diselamatkan. Dia nyari kamu buat bungkam selamanya. Buat dia, kamu itu ancaman."

Keringat dingin membasahi dahi Rudi. Pelipisnya berdenyut kencang. "Gak mungkin... Mas Fadel gak mungkin...,"

"Saya gak punya banyak waktu buat meladeni kamu, Rudi," potong Rayven tajam, menarik bundelan berkas dan pena dari dalam tasnya.

"Saya tahu bukan cuma pemalsuan surat warisan yang kamu bantu buat Fadel. Ada hal yang jauh lebih gelap, soal kematian Pak Bambang Sutejo, kan?" lanjut Rayven.

Rudi menelan ludahnya kasar, tubuhnya gemetaran hebat menahan ketakutan dari Rayven dan ancaman pembunuhan Fadel.

"Sekarang, ceritakan gimana cara Fadel dan ibunya menyingkirkan Pak Bambang atau saya bakal kasih tau Fadel keberadaan kamu biar kamu dihabisi detik itu juga sama Fadel," tegas Rayven menatap Rudi dengan kilatan mata yang menakutkan.

Rudi bernapas memburu, matanya liat menatap kegelapan. Dipojokan oleh dua pilihan yang sama-sama mematikan, dada Rudi naik turun hebat.

"Oke. Gue ngomong, gue bakal cerita semuanya," jerit Rudi akhirnya pecah.

"Gue gak tau apa-apa soal itu. Tapi Pak Bambang meninggal karena serangan jantung yang dideritanya," jelas Rudi.

"Bohong," sengak Rayven, mematikan pemantik apinya dan menatap Rudi dengan kilatan mata gila yang mengerikan.

"Pak Bambang memang punya riwayat jantung. Tapi malam itu saat serangan jantungnya kambuh mendadak, Rika sengaja menyembunyikan botol obatnya dan membiarkan Pak Bambang kesakitan, kan?" lanjut Rayven dengan tegas.

Rudi tersentak hebat, matanya membelalak tak percaya bagaimana Rayven bisa mengetahui detail mengerikan itu.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!