Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Lentera dan Tongkat
"Berapa lama lagi kau akan menatap peta itu, Kanbei?"
Suara serak itu memecah keheningan ruang utama Istana Jurakudai yang luas. Suasana di dalam ruangan beratap kayu cemara hinoki itu terasa dingin dan hening, hanya diterangi oleh pantulan samar dari lilin-lilin besar yang terpasang di sudut-sudut tiang berlapis emas.
Kuroda Kanbei tidak langsung menjawab. Pria setengah baya dengan kaki kiri yang sedikit pincang itu tetap membungkuk di atas hamparan gulungan kertas bening berukuran raksasa. Jarinya yang kurus menelusuri garis-garis benteng Odawara dan lekuk pegunungan Hakone di wilayah Kanto.
"Sampai klan Hojo sadar bahwa tembok batu setinggi tiga jo sekalipun tidak akan sanggup menahan gelombang pasang dari barat, Tuan," jawab Kanbei lambat. Suaranya datar, tanpa nada sombong maupun ragu.
Toyotomi Hideyoshi—pria yang kini memegang gelar Kampaku dan memimpin kekuasaan tertinggi di seluruh Jepang—menghela napas berat. Ia berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman dalam istana. Gaun sutra mewahnya berwarna merah marun berlapis benang emas terayun perlahan saat angin malam Kyoto berembus, membawa aroma abu dupa yang dibakar di kuil-kuil sekitar kota.
Hideyoshi membalikkan badan, menatap penasihat utamanya itu dengan mata yang tampak letih. Ada lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Sejak penaklukan klan Akechi dalam Pertempuran Yamazaki lima tahun lalu, namanya melambung tinggi, menggilas semua penentangnya mulai dari Shibata Katsuie hingga mengendalikan istana Kaisar. Namun, malam ini, puncak kejayaannya terasa sepi.
"Tempat ini terasa terlalu luas tanpa hadirnya Hanbei," bisik Hideyoshi, suaranya mengecil saat menyebut nama itu.
Kanbei menghentikan gerakan jemarinya di atas peta. Ia mengangkat kepala, menatap tuannya dengan tatapan mata kanan yang tajam, sementara mata kirinya yang terluka akibat siksaan di Istana Arioka bertahun-tahun lalu tampak sayu.
"Hanbei-dono telah menyelesaikan tugasnya di dunia ini, Tuan Kampaku," ujar Kanbei tenang, walau ada denyut duka yang halus dalam nada bicaranya. "Beliau membukakan jalan bagi Anda untuk merebut Kyoto dari tangan klan Akechi. Tugas saya sekarang adalah memastikan jalan yang telah dibukanya itu tidak tertutup kembali oleh klan Hojo."
Kota Kyoto pada musim gugur tahun 1588 adalah perpaduan yang aneh antara kemegahan yang dipamerkan dan Duka yang tertahan.
Di luar tembok megah Istana Jurakudai—benteng kediaman baru Hideyoshi yang dibangun sebagai simbol kekuasaan mutlak klan Toyotomi—ibukota kuno itu bergetar oleh mobilisasi militer terbesar dalam sejarah Jepang. Ribuan tukang batu, tukang kayu, dan buruh kasar bekerja siang dan malam memperluas benteng Odoi, tembok tanah raksasa yang mengelilingi Kyoto sepanjang puluhan kilometer. Jalan-jalan utama penuh dengan derap kaki kuda warisan para daimyo dari wilayah barat yang terus berdatangan untuk menyatakan ikrar setia.
Namun, di balik hiruk-pikuk derap sepatu besi dan spanduk klan Toyotomi bernoda labu kuning (Gourd) yang berkibar di sepanjang Sungai Kamo, aroma duka masih tersisa di udara.
Kematian Takenaka Hanbei—sang ahli strategi legendaris yang bertubuh ringkih namun berotak genius—terjadi tidak lama setelah kemenangan besar klan Toyotomi di Yamazaki. Hanbei yang telah lama mengidap penyakit paru-paru kronis, memaksakan tubuhnya yang makin kurus untuk mengarsiteki jebakan informasi yang memojokkan klan Akechi. Ia menghembuskan napas terakhirnya di dalam tenda militer, tepat saat bendera Akechi Mitsuhide diturunkan.
Bagi Hideyoshi, Hanbei bukan sekadar kepala penasihat militer atau ahli intrik. Hanbei adalah kompas moral sekaligus otak yang mengubah Hideyoshi dari seorang pembawa sandal rendahan menjadi penguasa yang ditakuti. Kehilangan Hanbei terasa seperti kehilangan separuh dari jiwanya sendiri.
Untuk mengenang jasa sang sahabat, Hideyoshi memerintahkan masa berkabung selama empat puluh sembilan hari di seluruh Kyoto. Lentera-lentera kertas putih digantung di depan gerbang perkampungan, dan suara lonceng Kuil Honno-ji meratap saban senja. Namun, roda sejarah tidak pernah berhenti berputar hanya untuk memberi waktu bagi seorang penguasa meratapi sahabatnya.
Tugas berat untuk menggantikan posisi Hanbei jatuh ke pundak Kuroda Kanbei.
Jika Takenaka Hanbei dikenal sebagai strategi seperti "awan yang lembut"—selalu menggunakan taktik yang halus, tidak haus darah, dan mengedepankan diplomasi serta manipulasi psikologis musuh—maka Kuroda Kanbei adalah "air bah yang dingin". Kanbei adalah tipikal pengatur taktik yang sangat rasional, kalkulatif hingga tahap kejam, dan tidak ragu mengorbankan apa saja demi efisiensi kemenangan.
"Lupakan duka sejenak, Kanbei," Hideyoshi melangkah mendekati meja besar tempat peta dibentangkan. Ia menuangkan sakramen air beras dingin dari wadah porselen ke dalam cangkirnya sendiri, tanpa menunggu pelayan. "Bicaralah padaku tentang Kanto. Berapa banyak prajurit yang bisa kita kumpulkan?"
Kanbei berdiri perlahan, bersandar pada tongkat kayu ukir yang membantunya menopang kaki kirinya yang cacat. Ia menunjuk ke arah beberapa segel kayu berwarna merah dan hitam yang tersebar di sepanjang peta tanah Jepang.
"Dari wilayah Kansai, Chugoku, dan Kyushu, kita telah mengamankan kurang lebih seratus lima puluh ribu prajurit," terang Kanbei. "Jika kita menggabungkannya dengan pasukan cadangan dari klan Tokugawa di Mikawa serta klan Uesugi dari utara, total kekuatan yang bergerak menuju Odawara akan menembus angka dua ratus ribu orang."
Hideyoshi menyipitkan matanya. Dua ratus ribu orang adalah jumlah yang fantastis—sebuah angkatan perang terbesar yang pernah dikumpulkan di atas tanah Jepang. Namun, wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan.
"Dua ratus ribu mulut yang harus diberi makan setiap hari di tengah jalur pegunungan Hakone yang sempit," kata Hideyoshi tajam. "Hojo Ujimasa bukan orang bodoh. Benteng Odawara didesain untuk bertahan dari pengepungan bertahun-tahun. Uesugi Kenshin dan Takeda Shingen yang legendaris pun pernah gagal menembus tembok Odawara. Bagaimana kau akan meruntuhkannya?"
Kanbei tersenyum nipis, sebuah senyuman yang jarang terlihat dan selalu membuat orang yang melihatnya merasa bergidik.
"Uesugi Kenshin dan Takeda Shingen bertarung menggunakan keberanian dan nama besar klan mereka, Tuan Kampaku," jawab Kanbei pendek. "Kita tidak akan bertarung seperti itu. Kita akan membunuh klan Hojo bukan dengan ketajaman katana, melainkan dengan rasa lapar dan ketakutan."
Ia memindahkan satu segel kayu dari wilayah perairan Teluk Sagami. "Saya telah memerintahkan klan Kuki untuk menyiapkan armada kapal perang bertiang ganda. Kita akan memblokir penuh jalur laut menuju Odawara. Tidak ada satu bulir beras pun yang bisa masuk dari laut. Di darat, kita akan membangun benteng tandingan di atas Gunung Ishigaki—sebuah benteng yang akan kita bangun secara rahasia di dalam hutan, dan ketika kita menebang pohon-pohonnya dalam semalam, klan Hojo akan bangun di pagi hari dan melihat sebuah benteng raksasa muncul secara gaib tepat di depan mata mereka."
Hideyoshi menatap Kanbei dengan rasa kagum yang bercampur dengan sedikit kecemasan. Taktik itu sangat cemerlang, sangat gila, dan sangat mencerminkan gaya Kanbei. Namun, ada satu hal lain yang mengusik pikiran sang Kampaku—hal yang tidak berkaitan dengan benteng Odawara atau pasukan klan Hojo.
"Bagaimana dengan pergerakan di dalam bayangan, Kanbei?" tanya Hideyoshi seraya merendahkan suaranya. Ia condong ke depan. "Mendiang Hanbei pernah memperingatkanku sebelum ia wafat. Ia bilang... garis keturunan Oda tidak sepenuhnya punah pada malam pembakaran Honno-ji."
Atmosfer di dalam ruangan Jurakudai yang dingin itu mendadak mengencang.
Kanbei tidak memindahkan pandangannya dari peta, namun bahunya tampak kaku sejenak. "Penyelidikan mengenai hal itu terus berlanjut, Tuan."
"Sembilan bulan lalu," lanjut Hideyoshi, matanya memancarkan kilatan curiga, "beberapa mata-mata kita di wilayah perbatasan Kyoto dan Omi menemukan jejak sisa-sisa kelompok shinobi Iga yang bergerak ke arah pegunungan utara. Hanbei dulunya sangat terobsesi mengejar kelompok itu. Tapi sejak ia jatuh sakit, laporan mengenai mereka mendadak kabur."
Hideyoshi memukul meja kayu tebal di depannya dengan telapak tangan, menimbulkan suara dentuman keras. "Aku tidak boleh memiliki duri di dalam dagingku, Kanbei! Klan Hojo bisa kuhancurkan dengan dua ratus ribu prajurit, tapi sebuah bayangan dari masa lalu yang membawa nama Oda... bisa meruntuhkan legitimasi kekuasaanku dari dalam jika klan-klan tua di Kyoto memutuskan untuk bangkit membalas dendam!"
Kanbei membungkuk dalam-dalam, menancapkan tongkat kayunya ke lantai dengan mantap.
"Hamba memahami ketakutan Anda, Tuan Kampaku," suara Kanbei terdengar sangat tenang, menjadi peredam bagi amarah Hideyoshi yang mendidih. "Jaringan shinobi yang ditinggalkan Hanbei-dono kini telah sepenuhnya berada di bawah komando hamba. Saya telah menugaskan unit terbaik kita dari kelompok Suppa untuk memindai setiap celah di wilayah Kansai."
"Apakah kau menemukan sesuatu?" tuntut Hideyoshi.
"Pegunungan Kurama," jawab Kanbei jujur. "Ada pergerakan halus di sekitar kuil-kuil tua di sana. Namun, klan Tokugawa tampaknya menaruh perhatian yang terlalu besar di wilayah tersebut. Hattori Hanzo dari Mikawa sering terlihat melintas di antara jalur Kyoto dan pegunungan tersebut dengan alasan 'pengawalan jalur perdagangan'."
Hideyoshi menyipitkan matanya. "Tokugawa Ieyasu... Pria gemuk dari Mikawa itu selalu tersenyum manis di depanku, tapi hatinya sedalam lautan. Apakah menurutmu Ieyasu menyembunyikan sesuatu dari kita?"
"Ieyasu-sama adalah serigala yang pandai memakai kulit domba, Tuan," sahut Kanbei. "Beliau tahu bahwa perang melawan Hojo akan menguras kekuatan kita. Jika beliau memang menyembunyikan sisa-sisa klan Oda, beliau tidak akan menggunakannya sekarang. Beliau akan menunggunya sampai Anda melemah."
"Maka dari itu kita tidak boleh melemah!" potong Hideyoshi cepat. Ia melangkah membelakangi Kanbei, menatap ke arah kegelapan Kyoto di luar sana. "Bereskan persiapan perang ke Kanto sejuta kali lebih cepat! Dan mengenai pergerakan di Kurama... kirimkan orang-orangmu untuk memeriksa tempat itu tanpa menarik perhatian Ieyasu."
"Hamba mengerti," jawab Kanbei. "Namun hamba menyarankan agar kita tidak terburu-buru melakukan tindakan militer di Kurama sebelum kampanye Odawara selesai. Jika kita memicu konflik terbuka dengan klan Tokugawa sekarang, ikatan persekutuan kita akan retak, dan klan Hojo akan menggunakan kesempatan itu untuk menyerang balik."
Hideyoshi diam cukup lama. Ia mengepalkan tangannya di balik lengan baju sutranya. Kebijaksanaan dingin Kanbei benar: saat ini, Odawara adalah prioritas utama. Mengorbankan persatuan militer demi mengejar sebuah rumor anak kecil di pegunungan adalah langkah gila yang bisa menghancurkan rencana besarnya.
"Lakukan sesuai rencanamu, Kanbei," putus Hideyoshi akhirnya. "Tapi ingat... begitu bendera Hojo roboh di Odawara, tidak boleh ada satu pun bayangan masa lalu yang tersisa di tanah ini."
"Sesuai perintah Anda, Tuan Kampaku."
Satu jam kemudian, Kuroda Kanbei melangkah keluar dari aula Jurakudai. Kaki pincangnya mengeluarkan suara ketukan berirama di atas lantai kayu Uguisubari—lantai khusus yang dirancang mendesau seperti burung berkicau untuk memergoki penyusup.
Di luar gerbang utama, udara malam Kyoto terasa sangat dingin. Dedaunan maple yang memerah mulai berguguran tertiup angin barat. Kanbei berjalan perlahan menunju sebuah tandu kayu bertirai gelap yang telah menunggunya di bawah naungan pohon ginkgo besar.
Sebelum ia naik ke dalam tandu, sebuah sosok berkedung hitam muncul dari balik bayangan tiang gerbang istana. Gerakannya sangat halus, hampir tak berbunyi, bagaikan helai kain hitam yang terbawa angin.
"Tuan Kanbei," bisik sosok itu. Suaranya serak dan tipis, khas seorang penyusup yang terlatih.
"Laporkan, Fuma," ujar Kanbei tanpa membalikkan badan.
Pria bernama Fuma—salah satu mata-mata kepercayaan yang ditarik Kanbei dari jaringan bekas bawahan Takenaka Hanbei—berlutut dengan satu kaki di atas tanah berdebu.
"Pesan dari Hattori Hanzo telah kami cegat di perbatasan Omi tiga hari lalu, Tuan," laporkan Fuma pelan. "Hanzo telah menarik sebagian besar ninja Iga dari wilayah Kyoto untuk dialihkan ke barisan depan pasukan Tokugawa yang akan berangkat ke Kanto."
Kanbei memutar tubuhnya sedikit, matanya yang tajam menembus kegelapan kain penutup wajah Fuma. "Apakah itu berarti penjagaan di Kurama melonggar?"
"Secara kasat mata, ya," jawab Fuma. "Namun, mereka meninggalkan beberapa jebakan tak kasat mata di sepanjang jalur pendakian Gunung Kurama. Siapa pun yang mencoba mendekati kuil tua di puncak tanpa kode rahasia Iga akan tewas oleh racun atau anak panah otomatis."
Kanbei terdiam sejenak. Pikiran rasionalnya bekerja dengan kecepatan yang luar biasa, menimbang ratusan skenario dalam hitungan detik.
Ia ingat betul percakapan terakhirnya dengan Takenaka Hanbei lima tahun lalu, beberapa hari sebelum sang sahabat wafat. Saat itu, Hanbei yang terkulai lemah di atas pembaringan telah memegang tangan Kanbei dan berbisik dengan suara yang patah-patah:
'Kanbei... jika suatu hari kau menemukan putri dari darah Oda... jangan pernah membunuhnya. Dunia yang dibangun oleh Hideyoshi dibangun di atas fondasi api dan ketakutan. Suatu hari nanti, api itu akan membakar klan Toyotomi sendiri. Anak itu... mungkin adalah satu-satunya penyeimbang yang tersisa untuk menyelamatkan negeri ini dari kehancuran total...'
Kanbei memejamkan matanya rapat-rapat. Hanbei selalu memiliki pandangan jauh ke depan—sebuah penglihatan spiritual yang sering kali melampaui logika taktik militer biasa. Apakah Hanbei sengaja membiarkan anak itu hidup? Apakah Hanbei sengaja mengacak-acak laporan intelijen sebelum wafat demi melindungi rahasia di Kurama dari mata Hideyoshi?
"Tuan Kanbei?" panggil Fuma, memecah lamunan sang master strategi. "Apakah hamba harus memerintahkan unit pembunuh untuk meretas jalan menuju kuil Kurama malam ini?"
Kanbei membuka matanya. Tatapannya kini kembali dingin, keras, dan tak tersentuh emosi.
"Tidak," jawab Kanbei tegas. "Tarik seluruh pengawas kita dari kaki Gunung Kurama."
Fuma tertegun di balik penutup wajahnya. "Tarik mundur? Tapi Tuan Kampaku baru saja memerintahkan—"
"Tuan Kampaku memerintahkan untuk memeriksa tempat itu tanpa memicu konflik dengan Tokugawa," potong Kanbei dengan suara dingin yang memotong perdebatan. "Jika kita menyerbu Kurama sekarang dan menemukan bahwa tempat itu dilindungi oleh pasukan Iga, Ieyasu akan tahu bahwa kita mencurigainya. Persekutuan akan pecah sebelum pasukan kita sampai di Odawara."
Kanbei melangkah mendekati tandunya. "Biarkan anak burung itu tetap berada di sarangnya untuk sementara waktu. Gunung Kurama terlindung oleh kabut dan benteng Iga yang rapat. Selama anak itu tidak melangkah keluar dari hutan tersebut, ia bukanlah ancaman bagi Hideyoshi."
"Bagaimana jika klan Tokugawa memutuskan untuk memindahkannya saat kita sibuk di Kanto?" tanyakan Fuma masih ragu.
Kanbei memegang pintu tandunya, lalu menoleh sekilas ke arah Fuma.
"Jika klan Tokugawa memindahkannya, mereka akan membawa anak itu lebih dekat ke wilayah Kanto—lebih dekat ke jangkauan kita di masa depan," ujar Kanbei datar. "Lakukan apa yang kukatakan. Fokuskan seluruh jaringan informasi kita untuk memetakan benteng Odawara. Perang di Kanto akan menentukan siapa yang memegang masa depan tanah ini, bukan sebuah kuil tua di atas gunung."
"Hamba mengerti, Tuan," Fuma menundukkan kepala sangat dalam, lalu dalam sekejap mata, sosoknya lenyap kembali ke dalam bayangan malam Kyoto, seolah-olah ia tidak pernah ada di sana.
Kanbei masuk ke dalam tandu kayu yang gelap. Pintu tandu tertutup rapat, dan para pengangkat tandu mulai berjalan menyusuri jalanan Kyoto yang sepi. Di dalam kegelapan tandu, Kanbei menyandarkan kepalanya yang terasa berat.
Ia mengambil sebuah jimat pelindung kecil berlapis kain sutra tua dari dalam lipatan kimononya—jimat pemberian Takenaka Hanbei sewaktu mereka berdua masih menjadi penasihat muda di bawah naungan Oda Nobunaga.
"Kau menaruh beban yang terlalu berat padaku, Hanbei," bisik Kanbei pada jimat itu di dalam kegelapan. "Kau memintaku menjaga api Hideyoshi sekaligus melindungi bayangan Nobunaga. Kau tahu betul bahwa air tidak bisa menyatu dengan api..."
Tandu itu terus melaju di tengah kegelapan malam, membawa Kuroda Kanbei menembus jalan-jalan Kyoto yang sedang bersiap menghadapi perang raksasa. Di kejauhan, puncak Gunung Kurama berdiri tegak di bawah naungan langit malam yang kelam, terselimuti oleh awan kabut tebal yang menyembunyikan rahasia terbesarnya dari mata dunia yang sedang bergolak.
Sementara itu, jauh di sudut lain kota Kyoto, di dalam sebuah kedai teh tua yang sunyi dekat tepi Sungai Kamo, seorang pria tinggi berpakaian pemburu jelata sedang duduk sendirian di sudut ruangan. Di depannya terhidang secangkir sakramen murah yang sudah dingin.
Pria itu adalah Hattori Hanzo.
Wajah sang pemimpin ninja Iga itu tampak sangat letih. Cambangnya yang mulai ditumbuhi uban tipis menegaskan betapa berat beban yang dipikulnya selama beberapa tahun terakhir. Di luar kedai, dua orang prajurit patroli klan Toyotomi lewat dengan obor di tangan, namun tak seorang pun menyadari bahwa pria yang duduk di dalam kedai remang-remang itu adalah buronan nomor satu yang paling dicari oleh intelijen klan Toyotomi.
Seorang pelayan kedai melangkah mendekat, meletakkan sekeranjang kue beras hangat di meja Hanzo.
"Kabar dari istana Jurakudai, Hanzo-sama," bisik pelayan itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya, berpura-pura sedang membersihkan meja. "Kuroda Kanbei telah mengambil alih seluruh komando jaringan intelijen Hanbei. Beliau baru saja memerintahkan penarikan mata-mata dari sekitar Gunung Kurama."
Hanzo tidak langsung bereaksi. Ia mengangkat cangkir sakramennya, meminumnya perlahan hingga habis.
"Kanbei adalah pria yang sangat berbahaya," gumam Hanzo rendah. "Ia melangkah lebih jauh dari yang diperkirakan orang lain. Jika ia menarik mata-matanya, itu bukan karena ia menyerah... tapi karena ia tahu kita sedang memperhatikan langkahnya."
"Apakah kita harus memindahkan Mumei-sama dan Ogen-sama dari Kurama sekarang?" tanya sang pelayan dengan nada cemas.
Hanzo menggelengkan kepala perlahan. "Tidak. Bergerak sekarang justru akan meninggalkan jejak yang dicari Kanbei. Gunung Kurama masih merupakan tempat paling aman di seluruh Kansai selama badai Odawara berlangsung. Semua mata Toyotomi dan para daimyo akan tertuju ke timur."
Hanzo berdiri, meletakkan beberapa keping uang tembaga di atas meja, lalu membetulkan posisi pedang pendek wakizashi yang tersembunyi di balik jubah kusamnya.
"Aku akan berangkat ke Mikawa malam ini untuk menyusul pasukan Ieyasu-sama," ujar Hanzo. "Jaga ketat perbatasan gunung. Jika ada satu saja orang asing yang mencoba menembus kabut Kurama tanpa izin... pastikan mereka tidak pernah kembali untuk menceritakannya."
"Baik, Hanzo-sama."
Hanzo melangkah keluar dari kedai teh, melebur bersama kegelapan malam Kyoto yang dingin. Langkah kakinya menyusuri jalanan berdebu, melewati garis-garis dinding benteng Odoi yang sedang dibangun.
Di atas sana, bulan sabit bersembunyi di balik awan mendung yang tebal, seolah meratapi kehancuran yang akan segera melanda wilayah Kanto dua tahun lagi, sekaligus memayungi rahasia kecil di Gunung Kurama agar tetap aman dalam pelukan malam.