Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Alasan yang Dibuat-buat
Jumat pukul tiga sore, Dimas berdiri di depan meja Navin dengan tablet di dada dan ekspresi orang yang sedang membawa kabar baik.
"Mobil sudah siap pukul empat, Pak. Tim di Jakarta menunggu laporan inspeksi, dan rapat dewan hari Senin pukul sembilan."
Navin tidak mengangkat kepala dari berkas. "Batalkan."
Dimas mengerjap. "Rapat dewan, Pak?"
"Mobilnya."
Sunyi. Di ruangan Bu Retno yang sudah tiga hari menjadi wilayah kekuasaan Navin, hanya terdengar detak jam dinding dan pena yang menggores kertas. Dimas menunggu penjelasan yang tidak datang, lalu memberanikan diri.
"Boleh saya tahu alasannya, Pak? Supaya saya bisa memberi tahu dewan."
Navin meletakkan penanya. Ia memikirkan jawaban yang masuk akal, dan menyadari, dengan kekesalan yang makin besar, bahwa ia tidak punya satu pun.
"Audit belum selesai."
"Tim audit belum turun sama sekali, Pak."
"Justru itu."
"Justru itu... apa, Pak?"
"Justru itu artinya saya harus tetap di sini." Navin menatap Dimas datar. "Kamu punya pertanyaan lain?"
Dimas menelan ludah. Tiga tahun bekerja untuk pria ini mengajarinya membedakan berbagai jenis kemarahan Navin. Yang ini bukan marah. Ini sesuatu yang belum pernah ia lihat, semacam kegugupan yang ditutupi wajah sedingin es.
"Tidak, Pak. Saya akan bilang inspeksi diperpanjang untuk evaluasi lanjutan."
"Bagus."
"Berapa lama, Pak?"
"Sampai selesai."
Dimas mengangguk dan mundur ke pintu. Di ambang, ia berhenti sebentar dan berkata pelan, "Pak, kalau ada hal lain yang mengganggu Bapak di sini, saya bisa membantu."
"Tidak ada yang mengganggu saya."
"Baik, Pak."
Pintu tertutup. Dari kursinya, Navin melihat lewat celah pintu bahwa jam kerja hampir habis. Para staf mulai berkemas. Ophelia berjalan melewati koridor bersama Dinda dan Sinta, dan untuk sesaat ia tertawa pada sesuatu yang dikatakan Sinta, tawa pendek yang tulus. Navin menatapnya sampai mereka menghilang di tikungan, lalu menyadari bahwa ia baru saja menahan napas. Ia belum pernah mendengar tawa itu ditujukan padanya. Ia bahkan belum pernah membuat siapa pun tertawa tanpa rasa takut.
Navin memijat pangkal hidungnya. Bohong, tentu saja. Semua orang tahu ia berbohong, termasuk dirinya sendiri.
* * *
Akhir pekan itu, Navin duduk di suite hotelnya dengan laptop menyala dan satu halaman surel kosong di layar. Kolom penerima sudah terisi: ophelia.puspa@sundara.co.id. Kolom subjek masih kosong.
Ia mengetik: Mengenai kejadian hari Kamis. Menghapusnya. Terlalu kaku.
Saya ingin meminta maaf. Menghapusnya. Terlalu tiba-tiba.
Ibu Ophelia, ucapan saya tidak pantas dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Ibu. Ia menatap kalimat itu lama. Benar, tapi terdengar seperti pernyataan pers perusahaan yang sedang menghadapi skandal.
Ia menghapusnya lagi.
Dua jam kemudian, ia sudah membuat dua puluh tiga draf dan tidak mengirim satu pun. Di sudut layar, jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ia menutup laptop dengan bunyi keras dan berdiri di depan jendela.
Navin Sundara, dua puluh delapan tahun, pemimpin perusahaan yang membawahi ribuan orang, tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan maaf.
Bukan karena gengsi. Setidaknya bukan hanya itu. Selama hidupnya, tidak ada yang pernah mengajarinya. Ayahnya membesarkannya dengan prinsip bahwa permintaan maaf adalah pengakuan kelemahan, dan ibunya membesarkannya dengan prinsip bahwa kesalahan Sundara adalah kesalahan orang lain yang belum dikoreksi. Navin tumbuh di antara dua prinsip itu tanpa pernah membutuhkan kata yang sederhana itu.
Sekarang ia butuh, dan kata itu seperti bahasa asing yang tidak sempat ia pelajari.
Ia mencoba mencari contoh dalam ingatannya. Ayahnya tidak pernah meminta maaf pada ibunya. Ibunya tidak pernah meminta maaf pada siapa pun. Bahkan pada malam ayahnya masuk rumah sakit, satu-satunya kalimat yang terucap di ruang tunggu adalah perintah kepada perawat.
Ponselnya berdering. Ibu. Ia menolaknya.
Ponselnya berdering lagi. Ibu lagi. Ia menolaknya lagi.
Pesan masuk: Navin, Ibu dengar dari Dimas kamu masih di Bandung? Kenapa? Pulang, Nak. Ada yang ingin Ibu kenalkan.
Ia meletakkan ponsel telungkup di meja tanpa membalas.
* * *
Senin pagi, Navin mengumpulkan Bu Retno dan para kepala divisi di ruang rapat lantai tiga. Wajah-wajah di sekelilingnya tegang, dan ia bisa membaca pikiran mereka: kenapa dia belum pulang?
"Inspeksi saya perpanjang dua minggu," ujarnya. "Saya menemukan beberapa inefisiensi yang perlu dipantau langsung."
Bu Retno menelan ludah. "Inefisiensi apa, Pak, kalau boleh tahu?"
Navin membuka mulut, lalu menutupnya. Matanya bergerak ke ujung meja, tempat Ophelia duduk dengan punggung lurus dan pena di tangan, menatap catatan di depannya, bukan dirinya.
"Di bagian kontrak," katanya. "Masih ada masalah."
Ophelia tidak bereaksi. Hanya jemarinya yang berhenti bergerak sedetik, lalu melanjutkan menulis.
Ruangan hening. Beberapa staf saling melirik. Rumor bahwa Pak Navin menemukan sesuatu yang sangat serius di cabang ini menyebar cepat, dan Rangga tampak seperti orang yang sedang membaca ulang seluruh laporan bulanannya di kepala. Pak Harto menoleh pada Ophelia dengan wajah mengasihani. Navin merasa ada yang salah dengan penjelasan itu, tapi ia sudah terlanjur mengucapkannya. Ia mengakhiri rapat lebih cepat dari biasanya.
Ketika orang-orang berhamburan keluar, ia sengaja berjalan melewati meja Lia. Ia sudah menyiapkan kalimat. Tiga kata saja. Pendek. Bisa.
Ophelia sedang menyusun map ketika bayangannya jatuh di atas meja. Ia mengangkat kepala.
"Draf revisi itu," ujar Navin, lalu berhenti. Tiga kata yang ia siapkan hilang. Yang keluar hanya: "Sudah saya baca."
"Terima kasih, Pak."
"Bagus."
"Terima kasih, Pak."
Navin melihat sekilas bahwa Ophelia menggigit bagian dalam pipinya, tanda kecil yang mulai ia hafal meski ia tidak tahu artinya. Ia tidak tahu bahwa itu tanda perempuan itu sedang berusaha keras tidak memperlihatkan apa pun.
Sunyi menggantung canggung di antara mereka. Ophelia menatapnya dengan sopan dan tanpa ekspresi, seperti petugas bank yang menunggu nasabah menyebutkan keperluan.
Navin mengangguk kaku dan berbalik. Ia berjalan lima langkah, sepuluh langkah, sampai ke ujung koridor, lalu berhenti dan menghadap dinding dengan mata terpejam.
Bagus. Ia mengatakan bagus dua kali. Bukan itu yang ia rencanakan.
"Pak?" Dimas muncul dari belakang, menahan sesuatu di wajahnya. "Alasan resmi perpanjangan inspeksinya, kalau ditanya pusat, saya tulis apa?"
"Temuan ketidakefisienan di divisi kontrak."
"Sudah saya tulis, Pak. Tapi pusat menanyakan, ketidakefisienan yang mana. Karena laporan divisi kontrak justru menjadi yang paling rapi se-cabang."
Navin tidak menjawab.
"Saya tulis 'sedang dalam kajian', Pak?"
"Tulis apa saja."
"Baik, Pak."
Dimas berbalik pergi dengan langkah yang jelas-jelas ditahan agar tidak tertawa. Navin menatap punggung asistennya dengan tatapan yang, jika ia sedang tidak segelisah itu, akan cukup untuk memecat siapa pun.
Ia mengembuskan napas panjang.
Dua minggu. Ia memberi dirinya dua minggu untuk menemukan cara mengucapkan satu kata.