Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.
Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.
Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.
Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Mau ke mana Neng? Kata Nak Awan kemarin kamu ..." Abah tak tega melanjutkan pertanyaannya.
Auri tersenyum simpul.
"Mau bantuin Siti sama anak-anak Bah."
Salamah menatap suaminya beberapa saat.
"Di anterin Abah aja neng. Masih ngga enak badan kan?"
"Neng ngga apa-apa umi. Udah sehat kok ini. Eum...ada hikmahnya juga neng gak ke sekolah. Bisa ngurusin percetakan beberapa hari."
"Ya udah atuh, hati-hai di jalan. Loba truk badag!'' kata Salamah.
"Iya umiku sayang...'' sahut Auri. Setelah itu, ia pun berpamitan. Tak lama kemudian, kendaranna matic roda dua itu melesat meninggalkan rumah panggung bambu.
Tapi jangan salah. Meski rumah bambu, arsitekturnya tetap terlihat modern dan multifungsi tentunya.
Gadis itu singgah ke sebuah kedai minuman dan makanan ringan. Tidak ada salahnya bukan sesekali membawakan makanan untuk anak buah yang sudah membantunya mencari uang hehehe
"Berapa semua teh?'' tanya Auri.
"Enam puluh ribu teh.''
Auri pun membayarnya dengan uang pas. Setelah menyimpannya di gantungan motor, ia kembali menyalakan roda dua tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke tempat usahanya.
Di tempat yang berbeda, Candra sedang dalam proses pembekalan heheh. Papanya memberi tahu beberapa hal yang harus Candra lakukan tanpa bantuan Rino.
"What? Pa, kerjaan itu bukan kapasitasku. Bukan aku Pa, tapi divisi marketing sama brand. Masa calon pewaris tunggal harus turun tangan langsung buat bikin banner. Ckkkk...ngga usah mengada-ada deh Pa'' protes Candra.
"Artinya kamu ngga mau?'' tanya Mahesa. Candra sedikit memajukan badannya.
"Iya jelas ngga mau lah Pa. Ada Rino, ada anak buah papa di lapangan. Masa iya harus aku yang turun tangan langsung?''
Mahesa melipat kedua tangannya di dada.
"Oke, awalnya papa hanya akan meminta mu di sini kurang lebih hanya enam bulan. Tapi sepertinya kamu sudah cukup 'betah' di sini. Jadi papa perpanjang sampai dua tahun. Papa rasa, setelah itu kamu sudah menguasai semua elemen.''
"Apa? Enam bulan aja aku ogah, Pa. Ini lagi dua tahun? Papa mau bikin berapa cluster? Seribu?'' sindir Candra.
"Mau kamu lakukan, atau tidak?'' tanya Mahesa datar. Candra berdecak kesal. Mau menolak seperti apa pun, sepertinya ia tak akan pernah menang dari papanya.
"Oke! Fine! Candra akan cari tuh apa namanya design digital printing di kampung seperti ini. Kalo sampai ngga ada, itu artinya papa harus nyuruh ke kantor, bukan aku!''
Mahesa mengedikkan bahunya. Rino sendiri pura-pura sibuk dengan beberapa lembar kertas yang tadi di serahkan oleh Mahesa.
"Ayo No!'' ajak Candra.
"Papa bilang sendiri Candra....!'' kata Mahesa. Candra melirik kesal pada asisten sekaligus sahabatnya itu. Ia menyahut kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
Pemuda itu menghentakkan kakinya kesal dan sempat melotot pada Rino yang memilih menunduk. Mau bagaimana pun juga, Mahesa lah yang menggaji dirinya...bukan Candra.
.
.
Candra sudah duduk di balik kemudi. Jarinya mengetuk-ngetuk benda melingkar tersebut.
"Di mana ada tempat kaya gitu ya! Orang di kampung begini! Papa juga aneh, ngga mikir prospek ke depannya apa gimana. Bikin perumahan kok di kampung!'' monolognya.
Tapi di sisi lain, ia yakin papa dan investor lainnya sudah memikirkannya. Dia mungkin saja belum dapat ilmu seperti mereka.
Jarinya lincah men-scroll di atas layar gawainya. Mencari tahu di mana kira-kira ia bisa melakukan pekerjaan yang papanya minta tadi.
"Jalan HR. Bunyamin no. 11A'',gumamnya. Dia pun menebak-nebak lokasinya hingga akhirnya ia memilih untuk menyalakan aplikasi map nya.
"Oke! Ke sana sekarang, minta design habis itu cetak bannernya. Oke Candra, ngga ada yang Lo ngga bisa!'' katanya optimis.
Beberapa menit kemudian, mobil Candra tiba di lokasi yang di maksud. Ia membaca lagi dan memastikan alamat tersebut.
"AM Digital Printing. Iya, kayaknya bener deh!'' gumam Candra sambil melongokkan kepalnya lagi. Candra pun mematikan mesin mobilnya lalu keluar dari mobil. Di saat yang sama, Auri pun datang dengan roda duanya tersebut. Saat akan turun dari motor, Candra lewat di sisinya. Karena ada makanan di gantungan motor, kaki Auri sedikit di rentangkan saat akan turun dari motor. Apesnya, di saat yang sama Candra melintas di sisi motor.
Sontak, kaki Auri mengenai Candra. Keduanya pun reflek hingga Auri sendiri yang jatuh karena tak bisa mengimbangi.''
"Awww!'' pekik keduanya. Sayangnya, Auri yang terjungkal malah di hadiahi omelan oleh Candra.
"Punya mata nggas sih Lo?'' tuding Candra kesal. Bahkan ia belum melihat siapa lawannya. Auri menolehkan wajahnya agar bisa melihat sosok yang sudah membentaknya itu.
"Lo?'' tuding Candra.
"Kamu lagi???'' pekik Auri heran. Ia pun berusaha bangun. Setelah berhasil bangun, Auri menepuk-nepuk bokongnya yang kotor terkena debu.
"Heran gue, apes banget kalo ketemu cewek galak kaya Lo ini. Ga ada angin ga ada hujan, tiba-tiba nendang gue!''
"Woy...aku juga ngga sengaja kali. Udah tahu ada motor berhenti, orangnya otomatis mau turun. Malah situ lewat!''
"Lo tuh yang salah, dasar cewek gila. Heran, modelan kaya Lo bisa jadi guru. Bisa-bisanya lolos psikotest!''
Auri menggeram perlahan. Dia memilih untuk meninggalkan Candra yang hobi sekali membuatnya sewot.
"Heh! Kabur kan Lo, merasa punya dosa sam ague kan Lo?'' Candra berkacak pinggang/ Auri memutar bola matanya dengan malas. Tapi tak lama kemudian, Candra pun menyusul masuk.
"Tuh cewek gak ngajar apa ya? Malah masuk ke sini! Bukannya memberi contoh yang baik buat siswanya.''
Candra langsung duduk di depan Siti.
"Selamat pagi kak, ada yang bisa kami bantu?'' tanya Siti.
"Saya minta buatkan disain banner.''
"Baik kak, kira-kira mau yang seperti apa? Biar kami ada wacana ?'' tanya Siti lagi.
"Mba yang bikin disainnya?'' tanya Candra.
"Tergantung kak, buat apa dulu ini.''
"Owh...banner buat perumahan yang akan di bangun di jalan XXX. Tapi saya mau yang profesional, ngga cuma asal ambil sampel gambar lalu print. Saya mau yang kreatif, menarik ya...pokoknya yang bagus.''
Siti kurang percaya diri menerima permintaan Candra.
"Coba sebentar ya kak, saya panggil teman saya dulu.''
Candra mengangguk pelan sambil meraih minuman gelas yang ada di meja Siti. Kepalnya menoleh dan menatap ke sekeliling.
"Oh iya, cewek galak itu ke mana ya?'' gumamnya. Siti menghampir Dadan yang sedang berada di depan mesin. Siti pun mencritakan secara singkat permintaan Candra kepada rekannya itu.
"Embung ah...model-model kita mah rewel mereunan.''
"Terus saha atuh? Urang ge embung.''
Rekan mereka yang satu lagi pun lebih dulu menggelengkan kepala, padahal Siti dan Dadan baru menatapnya.
"Teh Auri aja kalo gitu, dia ada kan? Tadi aku liat.''
"Iya ya, teh Auri mau ngga yak...''
"Coba aja tanyain!''
Siti pun ke bilik Auri yang tertutup lemari jika di pandang dari tempat Candra duduk. Telinganya pun sepertinya terlalu sibuk hingga tak tahu ada musuh bebuyutannya di sana.
"Teh Auri....''
"Heum!'' gumam Auri sambil mengetik di keyboardnya.
"Aya konsumen di depan.''
"Nya nggeus atuh di layananin'', kata Auri tanpa menoleh ke Siti.
"Banyak maunya, Siti takut.''
Auri membuang nafas perlahan lalu menoleh pada karyawannya itu. Siti menceritakan apa yang Candra katakan tadi.
"Ngga bisa template emang?''
"Ngga teh, sumpah bawel banget. Padahal meuni kasep pisan ih....kos opa-opa korea.''
Auri menggeleng pelan lalu berdiri dari bangkunya. Ia pun siap menghadapi konsumen Siti tersebut.
"Ngapain kamu di sini?'' tanya Auri setelah tahu kalau konsumennya ternyata Candra.
"Lo lagi???'' telunjuk Candra berada tepat di depan hidung Auri.
******
Terimakasih