NovelToon NovelToon
Masa Berlaku Cintaku Sudah Habis

Masa Berlaku Cintaku Sudah Habis

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:544.3k
Nilai: 4.6
Nama Author: Yam_zhie

Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.

Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.

Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kiara 32

Pagi belum sepenuhnya terang saat alarm di ponsel Kiara berdering pukul lima tepat. Udara dingin khas pendingin ruangan beradu dengan embun tipis yang menempel di balik jendela kaca lantai 18. Tanpa menunda waktu, Kiara segera bersiap. Setelan blazer berpola stripes abu-abu gelap dengan kemeja putih terpasang rapi di tubuhnya. Rambutnya diikat rendah, memancarkan kesan tegas, elegan, dan siap bertempur.

Tepat pukul 06.55, Kiara membuka pintu apartemennya. Di saat yang bersamaan, pintu unit 1802 terbuka. Gabriel melangkah keluar dengan jas charcoal grey bertumpuk kemeja biru pucat tanpa dasi, memegang segelas termosis kopi di tangan kirinya.

"Pagi, Kiara. Pilihan setelan yang sangat tajam," puji Gabriel, matanya menatap penampakan Kiara dari atas ke bawah.

"Pagi, Mas Gabriel. Pakaian perang harus disesuaikan dengan medannya, bukan?" balas Kiara mantap sembari mengunci pintunya.

Gabriel tertawa rendah, menyodorkan satu wadah termosis serupa yang masih mengepul ke tangan Kiara.

"Kopi hitam tanpa gula. Kamu butuh kafein ini untuk maraton rapat tiga jam ke depan."

"Terima kasih," Kiara menerima wadah tersebut, menyesapnya sedikit.

"Sempurna."

Mereka berjalan sejajar menuju lift. Di dalam mobil sedan yang membelah tol dalam kota yang mulai padat, suasana kabin berubah menjadi ruang penyusunan strategi. Kiara meletakkan tabletnya di pangkuan, membagikan tampilan layar ke layar monitor di sandaran kursi depan.

"Saya sudah memetakan struktur rapat jam sembilan nanti," ujar Kiara seraya menunjukkan grafik interaktif.

"Ada delapan direksi yang hadir. Tiga di antaranya, Pak Bambang dari Operasional, Pak Hendra dari Keuangan, dan Pak Surya dari Pengadaan adalah sosok kunci yang memegang alur transaksi pengadaan fiktif ini."

Gabriel menyandarkan punggungnya, menatap grafik itu tajam.

"Siapa yang diprediksi akan menjadi penentang paling vokal?"

"Bambang," jawab Kiara tanpa ragu.

"Dia merasa paling senior karena sudah berada di perusahaan ini sejak era pendiri. Dari laporan yang saya bedah semalam, dia selalu menggunakan alibi 'keterlambatan logistik daerah' untuk meloloskan pencairan dana darurat ke vendor cangkang milik kerabatnya."

"Bagus," Gabriel mengangguk puas.

"Biarkan Bambang bicara sampai habis. Jangan dipotong. Ketika dia selesai memaparkan alasannya, baru kamu buka dokumen lampiran C di halaman empat belas."

Kiara tersenyum tipis, memahami taktik menjebak itu. "Di mana tertulis bahwa vendor tersebut bahkan tidak memiliki izin operasional fisik di lokasi yang diklaim?"

"Persis," bisik Gabriel dengan pendar mata yang dingin.

"Kita tidak menyerang dengan emosi, Kiara. Kita mengeksekusi mereka dengan dokumen yang mereka tandatangani sendiri."

Pukul delapan lewat lima belas menit, mereka tiba di lantai puncak gedung kantor pusat. Suasana di lantai eksekutif terasa sangat tegang. Beberapa staf lalu lalang dengan wajah tegang, sementara bisik-bisik kasual langsung terhenti begitu Gabriel dan Kiara melangkah keluar dari lift.

Saat melintasi lorong menuju kubikelnya, Kiara menangkap sosok Nadia yang sedang berdiri di dekat mesin pembuat kopi. Nadia memberi isyarat mata penuh arti, lalu berjalan mendekat berpura-pura menyerahkan map berkas.

"Kiara," bisik Nadia setengah menunduk.

"Suasana di lantai bawah panas sekali. Pak Hendra dari Keuangan tadi pagi-pagi sekali sudah memanggil Raka ke ruangannya. Sepertinya mereka mencium ada yang tidak beres."

Kiara menerima map itu dengan tenang. "Lalu bagaimana kondisi Raka?"

"Raka ketakutan, tapi dia tetap memegang kata-katanya," jawab Nadia cepat.

"Dia berhasil memindahkan salinan file mentah sebelum sistemnya dikunci oleh tim IT internal atas perintah Hendra. Tapi dia cuma mau menyerahkan file itu langsung ke tanganmu."

"Atur makan siang di lounge belakang jam belas tiga puluh," instruksi Kiara mantap.

"Pastikan kamu dan Raka datang terpisah. Biar saya yang menghampiri kalian."

"Siap. Semoga beruntung di dalam, Kiara. Naga-naga senior itu siap menelanmu hidup-hidup," bisik Nadia penuh simpati sebelum berbalik pergi.

Pukul 08.55, pintu kaca tebal Ruang Rapat Utama dibuka. Meja jati oval raksasa di tengah ruangan sudah diisi oleh para jajaran direksi dan manajer senior. Bau asap rokok elektrik dan aroma kopi pekat memenuhi udara, bertumpuk dengan ketegangan yang pekat.

Gabriel masuk lebih dulu, diikuti Kiara yang membawa dokumen fisik dan iPadnya. Begitu Gabriel duduk di kursi pimpinan di ujung meja, aura ruangan mendadak membeku. Kiara mengambil posisi berdiri di sisi kanan belakang Gabriel, siap sebagai operator data dan perisai administrasi.

"Selamat pagi, Bapak-Bapak sekalian," buka Gabriel dengan suara bariton yang tenang namun bergema di setiap sudut ruang soundproof tersebut.

"Terima kasih atas kehadirannya. Saya tidak akan membuang waktu dengan pembukaan yang panjang."

Pria paruh baya bertubuh gempal di sebelah kiri meja, Pak Bambang meletakkan pulpennya dengan bunyi klak yang keras.

"Pak Gabriel," sela Bambang langsung dengan nada condescending.

"Sebelum Anda memulai presentasi dari London yang mungkin sangat teoritis itu, saya ingin mengingatkan bahwa kultur bisnis di Jakarta berbeda dengan Inggris. Kami di sini bertarung dengan realita lapangan setiap hari."

Beberapa direktur lain terkekeh pelan, menyetujui sindiran tersebut. Gabriel tidak tersinggung. Ia justru melempar senyum tipis, menyandarkan siku di meja.

"Justru karena saya sangat menghargai 'realita lapangan' Anda, Pak Bambang, saya memanggil rapat ini."

Gabriel memberi isyarat tangan pada Kiara. Kiara melangkah maju satu pukulan, menekan tombol di remotenya. Layar proyektor raksasa di belakang Gabriel menyala, menampilkan grafik angka-angka berwarna merah menyala.

"Bisa dijelaskan pada saya," lanjut Gabriel tenang namun menusuk,

"Realita lapangan seperti apa yang membutuhkan alokasi dana pemeliharaan armada operasional sebesar empat puluh dua miliar Rupiah dalam kurun waktu enam bulan, untuk unit kendaraan yang sebenarnya sudah dilelang sejak tahun lalu?"

Suara bisik-bisik di ruangan itu seketika mati total. Wajah Pak Bambang berubah drastis dari meremehkan menjadi tegang.

"Itu... itu pasti ada kesalahan input dari divisi Keuangan!" tangkis Bambang cepat, matanya melirik tajam ke arah Pak Hendra, Direktur Keuangan yang duduk di sebelahnya.

"Hendra, bagaimana pencatatan di divisimu?!"

Pak Hendra yang gelisah langsung menegakkan posisinya, mencoba menguasai keadaan.

"Izin menyela, Pak Gabriel. Laporan itu belum melewati proses rekonsiliasi akhir. Asisten Anda pasti mengambil data mentah yang belum diverifikasi. Saya sarankan kita menunda rapat ini sampai tim Keuangan menyajikan data yang valid."

"Data itu tidak salah, Pak Hendra," Kiara akhirnya angkat bicara. Suaranya terdengar jernih, tenang, dan tanpa keraguan sedikit pun.

Ia memajukan layarnya, memperlihatkan salinan dokumen berkoper fiktif.

"Dokumen audit ini diambil langsung dari server utama dengan otorisasi khusus dari Dewan Komisaris kemarin malam. Setiap lembar pencairan dana di atas lima ratus juta Rupiah telah ditandatangani oleh Anda dan Pak Bambang pada tanggal yang sama."

"Siapa kamu berani-beraninya memotong pembicaraan direksi?!" gertak Bambang, berdiri dari kursinya sembari menunjuk Kiara dengan wajah memerah.

"Kamu cuma asisten baru yang tidak tahu apa-apa!"

BRAAAKKKKK

"Saya adalah Asisten Pribadi Executive Director, Pak Bambang," jawab Kiara dingin, menatap lurus mata pria paruh baya itu.

"Dan kapasitas saya di sini adalah menyajikan fakta berbasis angka. Jika Anda merasa angka-angka ini memfitnah Anda, silakan tunjukkan fisik bukti belanja dan keberadaan barangnya sekarang juga. Saya siap mencocokkannya detik ini."

1
syafri yanti
mama Shella itu, Rika atau Salma namanya.
alyssa bunga
mampir thorr
Maryam Renhoran
Alhamdulillah...happy ending
tadinya udah malas lanjut di episode2 awal, tapi paksakan lanjut, akhirnya makin penasaran di setiap episode, hingga tamat...Mksih yaa Thor...🙏😍
Agustiana Sri Rejeki
perasaan waktu itu rumah ortu kiara di kompleks perumahan tor, kok tiba² jadi di daerah pedesaan sih🤭
Cecilia
banyak banget nama ibunya si shela 🤭
Saryanti Yahya
terserah othor sajalah, nama nama pemerannya mau diganti apa aja, baca aja terus
FisyanaLica
Udah dimas jadi heru,, nadia jadi maya,, chintya jd Ratna trus siapa lagi hayooo,,
Ratna Suminar
mass ga bisa lepas dari jeratan Shela?
Anonim
Area sidang kok bisa ada krangkeng besi i i pengarang lagi nglindur
Anonim
Pengarangnya pikun ini nama ibunya shella bs berganti2 dari reni,salma, rita blom kagi shella berubah oeran jadi anak sulungnya pak heru. Klo ngarang cerita yg konsentrasi gitu loh jangan ngasal bikin crita bikin bingung pembaca
Partini Minok Nur Maesa
ppanya vino itu dimas apa heru bikin pusing aja bcanya
Partini Minok Nur Maesa
bukanya shela jg kerja beda divisi sama vino knp gx jd orang baik2 walau gaji sedikit
Partini Minok Nur Maesa
makanya jd orang jgn egois
Partini Minok Nur Maesa
knp manggil mas pdhl baru 2 hari kerja kedengaran aneh gx sich
Endjang Setiawan
Bagus banget ceritanya...makasih kak Thor...😍
Inooy
bintang lima nya bwt usaha othor bikin cerita, karena sejujur nya baru kali ini aq nemuin cerita yg sangat amat amburadul..
d awal cerita udh bagus, alur cerita nya bikin aq pengen terus baca..tapiiii d pertengahan menjelang akhir, cerita jd kluar jalur, susah utk d pahami nya..belum lg banyak penyebutan nama yg ganti2, bikin aq makin bingung...
klimaks nya menjelang akhir, d bagian persidangan..kenapa sepupu mendadak jd anak sulung yg otomatis menjadi kaka tokoh pria nya?? benar2 kacau dn amburadul 🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
bagi yg belum baca dn tertarik utk baca,,mudah2an cerita nya udh d revisi..karena sebetul nya cerita nya udh bagus, tp sayang nya banyak yg kluar jalur!!!!

ato mungkin ini sebuah strategi meningkatkan retensi?? karena setau aq dengan banyak nya komentar dr para reader otomatis retensi akan terdongkrak naik,,,klo dugaan ku benar,,ckckckck tega beneeeerr bikin para reader pusing 7 keliling..bukan nya terhibur tp d bikin puyeeeng!!!!
Inooy
kaka reader d bikin makin bingung dengan cerita ini, termasuk aq...😂🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
Inooy
makin bingung deeehh, sebelum nya d katakan Kiara berhijab..tp kenapa skarang malah merapikan rambut Kiara d dekat telinga nyaa?? hhadeuuuhh,,makin k sini makin d bwt biiingung!!!!!!!!!!!!
Yuen
Idiot kampungan, tolol
Inooy
duuh,,,mama Chintya ternyata orang Sunda ternyata..samaan kaya aq maaa, sama2 dr Sundaa hehehe 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!