Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-jalan
Pagi-pagi sekali, Bu Ismi sudah sibuk di dapur berkutat dengan adonan kue kering untuk acara nikahan Karin. Padahal hajatan baru tiga hari lagi, tapi Bu Ismi memilih mencicilnya dari sekarang biar hemat anggaran.
Di sampingnya, Aira sibuk membantu menata cetakan kue. Siapa lagi yang bisa diandalkan Bu Ismi kalau bukan Aira? Siska dan Karin jelas tidak mungkin mau mengotori tangan mereka di dapur.
Karin bahkan sudah mengambil cuti dari kantor. Hari ini saja dia menjadwalkan perawatan maraton di salon kesayangannya. Mulai dari facial wajah sampai perawatan lulur seluruh badan semua dilakukan demi tampil sempurna di hari pernikahan. Kulitnya harus terlihat mulus, halus, wangi, dan glowing.
Saat Aira sedang mengoles loyang, Bu Ismi tiba-tiba mendecak sengit.
"Mana uang yang Ibu minta kemarin? Ibu harus belanja bahan sekarang buat hajatan Karin. Masa kamu tega nggak nyumbang apa-apa buat pernikahan adik kamu sendiri?" desak Bu Ismi tanpa basa-basi.
Aira menghela napas panjang, mencoba menahan emosi. "Sabar dulu kenapa sih, Bu? Aira kan belum ngomong sama Mas Devan. Lagian... masa harus 5 juta sih, Bu?"
Jujur, hati Aira berat sekali. Dia tidak tega kalau harus terus-terusan mengeruk uang Devan cuma buat menanggung biaya pesta adiknya. Aira tahu betul bagaimana perjuangan Devan, uang itu hasil keringat dan tabungan yang dikumpulkan suaminya sedikit demi sedikit dengan susah payah.
"Aira kasihan sama Mas Devan, Bu. Kalau minta uang sebanyak itu, kita juga butuh nabung buat masa depan. Seenggaknya turunin jadi 2 juta aja, ya?" tawar Aira pelan.
Bu Ismi langsung berkacak pinggang dan mencibir. "Ya ampun, Aira! Uang 2 juta buat nikahan zaman sekarang dapat apa? Buat beli daging ayamnya aja nggak bakal cukup! Mbakmu, Siska, aja bisa nyumbang 5 juta tanpa banyak protes!"
Aira langsung cemberut. Kemarin, saat Devan menyerahkan uang 10 juta padanya, Aira sempat merasa tenang dan berkecukupan. Tapi begitu Bu Ismi terang-terangan meminta separuhnya, uang itu rasanya mendadak menguap. Padahal sebagian sudah dia pakai untuk membeli keperluan pokok, lalu beli bedak dan lipstik seadanya karena sebelumnya Aira memang sama sekali tidak punya makeup.
Sisa uangnya juga sudah dipotong 1 juta untuk tambahan belanja dapur Bu Ismi. Padahal Aira sendiri sangat ingin beli baju baru dan skincare biar wajahnya tidak kusam dan kucel terus. Tapi pada akhirnya, Aira memilih menahan diri. Dia merasa bersalah kalau harus menghamburkan uang untuk hal yang kurang mendesak.
"Ya beda dong, Bu!" protes Aira tidak terima. "Mbak Siska itu kerjanya kepala gudang di pabrik, Mas Beni juga orang kantor. Jelas nggak masalah kalau mereka mau nyumbang 5 juta. Nah, kalau Mas Devan kan cuma kuli bangunan! Aira juga udah bantu pakai tenaga di sini, ikut begadang bikin kue. Sementara Karin yang punya acara malah enak-enakan jalan-jalan!"
"Karin itu bukan jalan-jalan asal main!" potong Bu Ismi cepat dengan nada tinggi. "Dia itu ke salon buat perawatan! Dia harus tampil cantik di hari H! Bagas itu kan manajer, masa iya istrinya kelihatan kusam dan malu-maluin di pelaminan?"
Tepat saat perdebatan itu memanas, terdengar suara derap langkah kaki dari luar. Devan mendadak muncul di ambang pintu. Hari ini Devan sengaja mengambil libur dari lokasi proyek demi satu alasan, dia ingin mengajak Aira jalan-jalan seharian. Sejak menikah, Devan memang belum pernah membawa istrinya menyegarkan pikiran di luar rumah.
"Assalamualaikum." ucap Devan.
"Waalaikumsalam." jawab Aira dan Bu Ismi serempak.
Melihat suaminya pulang, raut wajah Aira langsung melunak. Dia berjalan mendekat lalu menyalami dan mencium tangan Devan dengan takzim. "Kok udah pulang, Mas?"
Devan tersenyum tipis sembari mengelus pelan kepala istrinya. "Iya, Mas sengaja ambil libur hari ini, sengaja nggak ke proyek."
Belum sempat Devan melepaskan lelah, Bu Ismi sudah menimpali dengan suara nyaring. "Wah, pas banget kamu libur! Jadi bisa bantuin Ibu bikin kue di dapur!"
Aira yang mendengar itu langsung mengelus dada. "Ya ampun, Bu... Mas Devan baru aja menginjakkan kaki di rumah udah disuruh-suruh. Biarkan istirahat dulu, dia pasti capek!"
"Halah, capek apaan?!" sergah Bu Ismi tak mau kalah. "Lagian dia sendiri yang bilang libur hari ini. Daripada cuma leha-leha nggak jelas di rumah, ya mending bantuin Ibu bikin kue buat hajatan Karin! Ayo buruan bantuin nyetak biar cepat masuk oven!"
Devan yang sejatinya ingin memanjakan istrinya keluar rumah, hanya bisa menelan kekecewaan. Begitu sampai rumah, dia malah langsung disuguhi tumpukan loyang dan adonan kue. Tapi demi menjaga perasaan istri dan mertuanya, Devan mengalah.
"Yaudah, nggak apa-apa, De. Biar Mas bantuin ya." kata Devan lembut pada Aira. Pikir Devan, kalau dia turun tangan, pekerjaan ini akan cepat beres dan dia tetap bisa mengajak Aira jalan-jalan setelahnya.
"Tapi Mas pasti capek..." bisik Aira penuh rasa iba.
"Enggak kok, tenang aja. Biar cepat kelar." senyum Devan menenangkan.
Dada Aira makin sesak menyaksikan perlakuan ibunya. Menurut Aira, sikap Bu Ismi sudah sangat keterlaluan. Harusnya Devan dibiarkan bernapas sebentar, bukan malah langsung diperlakukan seperti suruhan. Aira merasa sangat tidak enak hati. Ibunya seolah menganggap Devan seperti babu yang bisa diperintah sesuka hati tiap ada di rumah, sementara menantu lainnya diperlakukan istimewa bak raja.
Melihat suaminya yang patuh dan langsung sigap mengurusi adonan, Aira berinisiatif pergi ke dapur untuk membuatkan Devan minuman dingin.
Begitu adonan kue gelombang pertama selesai dioven, Bu Ismi tidak membiarkan Aira bernapas lega. Dia langsung menyodorkan beberapa toples kue yang sudah dikemas.
"Nih, kamu antarkan kue-kue ini ke toko-toko langganan sekarang!" titah Bu Ismi tanpa kompromi.
Rupanya, Bu Ismi sengaja membuat adonan dalam jumlah ganda sebagian untuk konsumsi hajatan Karin, dan sebagian lagi untuk dijual ke toko-toko demi menambah pemasukan.
"Biar aku yang anterin ya, Sayang." potong Devan cepat sebelum Aira sempat mengeluh.
Aira menatap suaminya khawatir. "Tapi Mas nggak makin capek?"
"Enggak, yuk. Daripada kamu keliling sendirian." jawab Devan tegas.
Aira akhirnya mengangguk. Mereka berdua segera berangkat mengantarkan pesanan kue ke toko-toko. Sementara itu, Bu Ismi tetap di rumah melanjutkan adonan berikutnya yang masih menumpuk demi acara pernikahan Karin.
Di atas motor, Aira memeluk pinggang Devan dari belakang. Ragu-ragu, dia mulai membuka suara di tengah riuk angin jalanan.
"Mas... tadi Ibu bilang, kita disuruh nyumbang buat acara pernikahan Karin." bisik Aira pelan di dekat telinga Devan.
"Yaudah, kasih aja pakai uang yang kemarin Mas kasih ke kamu." sahut Devan santai.
Aira menggigit bibir bawahnya, merasa makin serba salah. "Tapi Ibu mintanya 5 juta, Mas. Apa nggak kebanyakan? Kita kan juga harus nabung buat masa depan rumah tangga kita..."
Dalam hati, Aira sudah memperhitungkan banyak hal. Jika nanti mereka dikaruniai anak, biaya yang dibutuhkan tentu tidak sedikit. Belum lagi impian Aira yang ingin membeli baju bagus dan skincare agar penampilannya tidak selalu diejek kusam dan kucel. Aira juga ingin terlihat cantik dan terawat seperti Siska dan Karin.
Devan mengelus jemari Aira yang melingkar di perutnya. "Udah, nggak apa-apa, Sayang. Soal uang nanti kalau ada rezeki lagi pasti Mas kasih ke kamu." jawab Devan dengan sangat tenang.
Devan lalu memelankan laju motornya dan bertanya serius, "Ngomong-ngomong... kamu masih betah tinggal serumah sama keluarga kamu? Kalau kamu udah nggak betah, kita bisa pindah dan cari kontrakan sendiri."
Pertanyaan Devan membuat Aira bungkam. Sejujurnya, Aira sudah sangat tidak betah tinggal bersama ibunya. Rasa-rasanya dia ingin segera angkat kaki dari rumah itu. Tapi setiap kali mengingat bayangan biaya sewa kontrakan saban bulan, Aira terpaksa mengubur keinginannya rapat-rapat.
Kalau bertahan di rumah orang tua, mereka bisa tinggal gratis tanpa pusing memikirkan uang sewa bulanan. Uang yang ada bisa disisihkan untuk ditabung. Tapi konsekuensinya... Aira dan suaminya harus terus-terusan mengelus dada menahan tekanan batin dari keluarganya.
"Ya mau bagaimana lagi, Mas... Kita mau tinggal di mana?" tanya Aira pasrah.
"Kita bisa tinggal sendiri, Sayang. Kamu bisa ikut Mas ke mana pun Mas pergi." sahut Devan mantap.
Aira menggeleng pelan. "Nggak usah dulu deh, Mas. Kalau misal ada uang lebih, mending disimpan buat ditabung aja."
"Yaudah, kalau itu emang mau kamu, Mas ikut aja." balas Devan mengalah lembut.
Begitu semua pesanan kue selesai diantarkan ke toko-toko, Devan tidak langsung mengarahkan setang motornya menuju rumah. Dia malah menancap gas membelah jalanan dengan motor tua kesayangannya.
"Mas! Kita jangan langsung pulang ya, jalan-jalan sebentar." ajak Devan setengah berteriak menembus angin. "Selama kamu jadi istriku, Mas belum pernah sekalipun ngajak kamu jalan-jalan."
Mendengar itu, perasaan Aira mendadak melambung senang. Dadanya hangat. Selama ini waktunya habis hanya untuk membantu pekerjaan rumah dan melayani permintaan ibunya tanpa henti. Aira hampir lupa rasanya menikmati waktu berdua.
"Boleh, Mas! Tapi... aku kan nggak bawa uang sama sekali." ujar Aira jujur.
Devan terkekeh pelan. "Udah, kamu tenang aja. Kan ada suami kamu di sini."
"Oke deh! Memangnya Mas mau ngajak aku ke mana?" tanya Aira antusias, matanya berbinar.
"Kita ke mall."
Aira langsung tersentak. "Hah? Seriusan, Mas? Pakai motor ini?" tanyanya tak percaya.
"Iya, kenapa? Kamu malu naik motor tua ini?" goda Devan.
"Bukan gitu, Mas! Tapi kan aku belum ganti baju yang lebih layak. Kamu nggak malu jalan sama aku?" tanya Aira bertubi-tubi. "Lagian Mas tadi nggak bilang dulu! Coba kalau bilang, kan aku bisa ganti baju yang agak bagusan, terus dandan tipis-tipis pakai bedak dan lipstik biar wajahku nggak kusam-kusam amat."
Devan terkekeh lagi. "Kalau Mas bilang dari awal, yang ada kita nggak bakal diizinin jalan sama Ibu. Terus, kenapa juga Mas harus malu? Kita nggak nyuri ini. Baju kamu juga masih oke kok. Nanti di sana Mas belikan baju baru yang bagus buat kamu."
Jawaban Devan sukses membuat Aira melotot kaget. Dibelikan baju di mall? Baju-baju di mall kan harganya selangit!
"Memangnya Mas masih punya uang? Bukannya uang Mas udah dikasih semua ke aku 10 juta kemarin?" bisik Aira curiga.
"Masih ada dong. Kemarin Mas disuruh bos ketemu klien penting, jadi dapet bonus lumayan." jawab Devan santai.
Dahi Aira berkerut bingung. "Klien? Memangnya kuli bangunan ada ya yang disuruh nemuin klien? Kok udah kaya kerjaan orang kantoran aja?"
"Udah, nggak usah dipikirin pusing-pusing. Mas kerja sesuai perintah bos aja." potong Devan cepat. Aira akhirnya cuma manggut-manggut polos, sama sekali tidak paham seluk-beluk pekerjaan suaminya.
Jarak rumah ke pusat kota memang cukup jauh. Butuh waktu sekitar 46 menit berkendara, apalagi motor tua Devan melaju santai tanpa terburu-buru.
Begitu sampai di mall, Devan langsung menggandeng tangan Aira menuju salah satu butik pakaian wanita. Baju-baju yang dipajang memang sangat elegan dan modis. Aira sampai berdecak kagum dalam hati. Tapi begitu matanya tak sengaja melirik label harga, jantung Aira serasa mau melompat keluar. Paling murah saja harganya 500 ribu!
"Mas... kita nggak usah beli baju di sini ya. Mending beli di pasar aja." bisik Aira panik sambil menarik-narik ujung jaket Devan.
Devan menghentikan langkahnya dan menoleh. "Loh, kenapa, Sayang? Bajunya bagus-bagus kok, cocok banget kalau kamu yang pakai."
"Iya, bagus sih bagus, Mas... Tapi harganya mahal banget! Baju selembar gini paling murah 500 ribu. Kalau dibelikan di pasar, udah bisa dapet 6 sampai 7 potong baju tau!" cerocos Aira heboh.
Devan malah tersenyum gemas melihat kepolosan istrinya. Dia memegang kedua bahu Aira, memutar tubuh wanita itu agar berhadapan dengannya.
"Sayang, dengerin Mas." ucap Devan lembut tapi penuh penekanan. "Kamu nggak usah pusing ngelihatin label harga. Pilih aja mana yang kamu suka, nanti Mas yang bayar."
"Ih, nggak mau ah! Sayang uangnya cuma buat beli baju yang nggak penting begini," tolak Aira kekeh. Di pikirannya, uang ratusan ribu itu jauh lebih berguna kalau masuk rekening tabungan daripada cuma ditukar selembar kain.
Melihat penolakan keras dari istrinya, Devan menatap mata Aira dalam-dalam. "Dengerin Mas dulu, Aira. Waktu Mas nikahin kamu kemarin, Mas nggak kasih kamu seserahan atau barang mewah apa pun. Mas cuma bisa ngasih mahar 100 ribu rupiah karena cuma selembar itu uang yang tersisa di dompet Mas saat itu. Jadi anggap aja ini gantinya. Pilih baju mana aja yang kamu suka, ya?"
Aira tertegun. Mengingat pernikahan mereka yang begitu sederhana dengan mahar selembar uang seratus ribu membuat dadanya berdesir hangat.
Sementara itu, tak jauh dari pintu masuk butik, sosok Karin melangkah masuk bersama teman-temannya. Setelah puas memanjakan diri di salon, Karin sengaja mengajak gengnya jalan-jalan ke mall. Agendanya satu, mencari lingerie atau baju haram yang pas untuk dipakai di malam pertamanya nanti.
Bagas sendiri tidak bisa menemani karena belum mengambil cuti. Sebagai seorang manajer, Bagas sangat sibuk dan baru bisa mengambil cuti mepet sehari sebelum hari H.
Saat Karin sedang asyik memilih-milih pakaian, matanya mendadak menangkap dua sosok yang sangat tidak asing di sudut butik.
Karin memicingkan mata, lalu mendecak sinis. *"Loh, bukannya itu Mbak Aira? Ngapain dia bisa ada di butik mahal gini sama suaminya? Nggak mungkin mau beli baju kan... dapet uang dari mana coba kuli bangunan kayak gitu?"* batin Karin meremehkan.
Dengan senyum sinis menyinggung di bibirnya, Karin langsung menggamit tangan temannya dan melangkah mantap menghampiri Aira.
**Bersambung**