Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas yang Mengeras Menjadi Besi
Deru mesin mobil mewah yang perlahan menjauh dari pelataran rumah megah itu menjadi lonceng dimulainya neraka bagi Dea. Gadis berseragam SMA putih abu-abu itu berdiri kaku di balik tirai jendela kamarnya yang tebal. Matanya yang sembap menatap lekat lampu belakang mobil ayahnya yang perlahan menghilang di balik gerbang besi tempa setinggi tiga meter. Ayahnya, sang CEO pewaris perusahaan ekspor-impor raksasa bernilai triliunan rupiah, baru saja berangkat ke Eropa untuk perjalanan bisnis selama dua minggu. Bagi dunia, rumah ini adalah istana. Bagi Dea, sejak ibunya meninggal secara misterius enam bulan lalu, tempat ini adalah penjara yang paling menyiksa.
Suara ketukan sepatu hak tinggi yang menghantam lantai marmer di lorong membuat napas Dea tercekat. Belum genap lima menit ayahnya pergi, topeng-topeng manis itu sudah dilepaskan.
Pintu kamar Dea didorong dengan kasar tanpa ketukan. Berdiri di ambang pintu, Rika, bibinya, dengan senyum sinis yang merusak riasan wajah mahalnya. Di belakangnya menyusul Siska, sepupu Dea yang seumuran dengannya, serta Hendra, paman Dea yang merupakan adik kandung ayahnya. Hendra melonggarkan dasinya dengan kasar, bau alkohol dan asap rokok langsung menguar memenuhi kamar Dea yang wangi lili.
"Akhirnya kakakku yang sok sibuk itu pergi juga," dengus Hendra sambil berjalan gontai ke arah sofa di sudut kamar Dea, menjatuhkan tubuhnya di sana. "Hei, anak manja, buatkan aku kopi. Dan jangan berani menyuruh pembantu. Kau yang harus membuatnya dengan tanganmu sendiri."
Dea menunduk, meremas ujung rok abu-abunya. "Bibi Inah sudah membuatkannya di bawah, Paman..."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Dea, namun bukan dari Hendra, melainkan dari Rika. Rasa panas dan perih langsung menjalar, membuat Dea terhuyung ke belakang hingga punggungnya menabrak meja belajar.
"Berani kau menjawab suamiku?" desis Rika dengan mata melotot. "Kau pikir karena kau anak pemilik rumah ini, kau bisa bersikap sombong? Ingat, Dea. Ibumu sudah mati. Tidak ada lagi yang akan melindungimu di sini. Ayahmu terlalu sibuk mengurus uangnya daripada mengurus anak perempuan tidak berguna sepertimu!"
Siska tertawa kecil, melangkah maju dan dengan kasar menarik kalung berliontin mutiara dari leher Dea. Kalung itu adalah hadiah ulang tahun terakhir dari mendiang ibunya. "Ini bagus. Daripada dipakai oleh perempuan udik sepertimu, mending buatku saja. Lagi pula, kau tidak butuh perhiasan untuk dikurung di rumah."
"Jangan, Siska! Itu dari ibuku!" Dea berusaha merebutnya, air matanya mulai tumpah. Namun Hendra bangkit, mencengkeram lengan Dea dengan sangat kuat hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Dengar baik-baik, anak sialan," bisik Hendra tepat di telinga Dea, suaranya berat dan penuh ancaman. "Kalau kau berani mengadu pada ayahmu soal ini, atau soal tabunganmu yang kugunakan untuk membayar hutang judiku... nasibmu akan persis sama seperti ibumu. Kau pikir ibumu mati karena serangan jantung biasa? Jangan naif."
Sudah enam bulan sejak ibunya meninggal secara misterius. Dokter menyatakan serangan jantung, namun Dea ingat betul ibunya tidak pernah memiliki riwayat penyakit tersebut. Sejak hari kelabu itu, hidup Dea berubah menjadi neraka. Ayahnya, Baskoro Adhitama, seorang CEO perusahaan ekspor-impor raksasa bernilai ratusan triliun, selalu berada di luar negeri. Kesibukan sang ayah menjadi celah emas bagi Paman Haris—adik kandung Baskoro yang gemar berjudi—beserta istrinya, Bibi Irma, dan anak mereka, Siska, untuk berkuasa di rumah itu.
Mata Dea membelalak. Jantungnya berdetak liar memukul-mukul rongga dada. Ada rahasia gelap di balik kematian ibunya yang selalu ia curigai, dan kalimat pamannya barusan mengonfirmasi ketakutan terbesarnya. Mereka bukan sekadar kerabat yang serakah; mereka adalah monster yang tak segan membunuh.
"Kunci dia di sini. Jangan beri makan sampai besok pagi," perintah Hendra sambil melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Dea tersungkur ke lantai. "Biar dia belajar siapa yang sebenarnya berkuasa di rumah ini ketika ayahnya tidak ada."
Ketiga orang itu keluar dari kamar. Bunyi kunci yang diputar dari luar terdengar seperti vonis mati bagi Dea. Di tengah kesunyian kamarnya, Dea meringkuk di lantai marmer yang dingin. Ia memeluk lututnya, menangis tanpa suara. Tubuhnya penuh lebam kebiruan tertutup seragam sekolah, hasil dari "hukuman" harian yang selalu diterimanya setiap kali ayahnya tidak ada di rumah. Selama ini ia diam, diancam bahwa nyawa ayahnya juga akan dalam bahaya jika Dea berani membuka mulut.
Namun malam ini, batas toleransinya telah hancur. Kalimat pamannya tentang kematian ibunya membangunkan sebuah keberanian yang putus asa di dalam dadanya. Tetap di sini berarti menunggu giliran untuk dibunuh. Ia harus pergi. Malam ini juga.
Dea mengemasi sebuah bingkai foto kecil berisi gambar dirinya, ayah, dan almarhumah ibunya. Air matanya menetes, namun segera ia usap dengan kasar. Ia tidak boleh hancur di sini. Malam ini, saat seluruh penghuni rumah terlelap usai pesta perayaan ulang tahun Siska, Dea memutuskan untuk lari. Ia tidak peduli ke mana langkahnya akan membawanya, asalkan ia bisa bernapas tanpa rasa takut.
Dengan tangan bergetar, Dea bangkit. Ia mengambil ransel sekolahnya, membuang semua buku pelajarannya, dan memasukkan beberapa potong pakaian, sebuah jaket tebal, serta sisa uang jajan yang disembunyikannya di dalam lipatan kaus kaki—satu-satunya tempat yang belum dijarah oleh Siska. Ia melihat ke arah jendela kamarnya di lantai dua. Tepat di bawah jendelanya terdapat pohon mangga besar yang rantingnya menjulur ke balkon.
Di luar, hujan mulai turun rintik-rintik, menyembunyikan suara isak tangisnya dan langkah pelannya. Dea membuka jendela, merasakan angin malam yang dingin menusuk tulang. Ia tidak tahu harus pergi ke mana, ia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain ayahnya yang tak bisa dijangkaunya. Tapi satu hal yang ia tahu pasti: ia lebih baik mati di jalanan daripada mati di tangan paman dan bibinya sendiri.
Dengan satu tarikan napas panjang, Dea memanjat pagar balkon dan melompat ke dahan pohon mangga di tengah pekatnya malam.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor