"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19 -Perangkap Sandiwara
Alyssa memeluk Arden dengan sangat erat begitu mereka melangkah masuk ke dalam kamar hotel. Beruntung, kartu akses kamar masih tersimpan aman di dalam tasnya. Di kamar yang dingin itu, pertahanan Alyssa runtuh total; tangisnya pecah di dalam dekapan Arden.
"Sudah, jangan menangis lagi... Kan ada aku di sini. Aku yang bakal ajak kamu jalan-jalan dan bersenang-senang di Bali, Kak," bisik Arden lembut seraya mengelus punggung Alyssa.
Keduanya kini berbaring miring di atas ranjang empuk—tempat yang seharusnya ditempati oleh Adrian.
"Tapi aku sedih dan sakit hati, Den..." aduh Alyssa pelan, berusaha menghentikan isak tangisnya yang masih tersisa. "Kenapa aku harus ditinggal lagi? Dia... dia selalu lebih peduli sama wanita itu dibanding istrinya sendiri."
Arden menghela napas panjang. "Ya mau bagaimana lagi. Hanum memang licik, dia tahu persis cara memanfaatkan Mas Adrian."
Arden menatap wajah Alyssa dari dekat. Jemarinya terulur, mengusap lembut sisa air mata di pipi Alyssa yang merona, lalu pandangannya turun mengunci bibir merah alami wanita di hadapannya. Bibir yang dulu pernah mencuri ciuman pertamanya.
"Astaga, gak bener ini... Tapi kalau khilaf dikit gak apa-apa kali, ya?" batin Arden liar.
Tanpa mampu menahan godaan lagi, Arden mengikis jarak dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Alyssa.
Tubuh Alyssa sempat membeku seketika. Ciuman mendadak itu mengejutkannya, namun rasa hangat, nyaman, dan perlindungan yang ditawarkan Arden perlahan meluluhkan hatinya. Alyssa pun memejamkan mata, membiarkan dirinya larut menikmati ciuman manis tersebut.
Sementara itu, di Jakarta...
Kurang lebih satu jam perjalanan dari penerbangan daruratnya, Adrian akhirnya menginjakkan kaki di Jakarta. Ia langsung naik taksi dan meluncur cepat menuju apartemen Hanum.
Tangannya dengan gemetar menempelkan ponsel di telinga.
"Rina! Bagaimana keadaan Hanum sekarang? Apa dia masih mengurung diri?" cecar Adrian begitu panggilan terhubung.
"Iya, Pak," sahut Rina dari seberang telepon dengan nada dibuat-buat panik. "Mbak Hanum gak mau makan dari tadi. Dia... dia bahkan ngancam mau bunuh diri, Pak!"
"Astaga!" Adrian memekik frustrasi. "Bilang sama Hanum, aku lagi di jalan ke sana! Suruh dia jangan nekat macam-macam!"
Klik!
Adrian mematikan sambungan telepon kasar. Wajahnya pucat pasi saat melihat deretan mobil di depannya bergerak sangat lambat. Jalanan Jakarta mendadak macet parah.
"Pak, bisa lebih cepat gak?" desak Adrian pada sopir taksi.
"Maaf, Mas. Jam makan siang begini memang pasti macet total," jawab sang sopir pasrah.
"Huh! Sialan!" gumam Adrian seraya mengepalkan tangan. "Hanum, tolong jangan nekat..."
Di saat yang bersamaan, di dalam apartemen mewahnya...
Hanum sedang duduk bersandar santai di sofa empuk, menikmati semangkuk buah potong segar dengan wajah tanpa dosa. Sama sekali tak ada raut sedih apalagi niat bunuh diri.
"Bagaimana? Mas Adrian bilang apa?" tanya Hanum santai seraya mengunyah potongan apel.
"Sesuai rencana, Mbak," balas Rina sambil tersenyum lebar. "Dia panik banget dan sekarang lagi di jalan ke sini."
Hanum tersenyum sinis. Sorot matanya memancarkan rasa puas yang luar biasa.
Ia tahu betul kelemahan Adrian. Sehebat apa pun Alyssa berusaha menahan pria itu di Bali, Adrian akan selalu bertekuk lutut dan kembali berlari ke pelukannya hanya dengan satu gertakan palsu.
Di dalam kamar apartemen, Hanum menatap Rani dengan penuh perintah. "Rani, tampar aku sedikit. Terus acak-acak rambutku biar makin kelihatan kayak orang frustrasi!"
"Aww! Pelan-pelan dong, Ran!" ringis Hanum kesal saat Rani menamparnya sedikit terlalu keras.
Rani tertawa pelan seraya mengibaskan tangannya. "Maaf, Mbak... Kelepasan."
Hanum berdecak kesal, namun ia langsung memposisikan dirinya sesuai rencana. Tak lama kemudian, suara bip pendek berbunyi dari pintu depan—menandakan kata sandi berhasil dimasukkan dari luar. Adrian sudah datang!
Dengan cepat, Hanum berlari menuju pembatas balkon kamar.
"Cepat! Lakukan sesuai rencana kita!" bisik Hanum tergesa-gesa. Rani mengangguk mantap dan mulai menyiapkan kamera ponselnya secara tersembunyi.
"Mbak! Jangan gila, Mbak!" teriak Rani histeris, memulai aksinya.
"Biarkan, Ran! Aku sedih... Mas Adrian... dia..." Isak Hanum pecah, suaranya dibuat sengau dan penuh penderitaan.
Pintu kamar terbuka lebar. Adrian yang baru saja masuk mendadak mematung, jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat Hanum sudah berdiri berbahaya di tepi pembatas balkon.
"Hanum!" teriak Adrian panik luar biasa. "Jangan gila kamu! Kemari!"
"Gak! Aku gak mau!" pekik Hanum histeris seraya menangis sesenggukan. "Kamu bersenang-senang sama istrimu di Bali, sedangkan aku sendirian menunggu di sini!"
"Enggak, Hanum! Aku di sini sekarang, aku di sini!" tawar Adrian, berusaha menenangkan seraya melangkah maju sangat pelan. "Aku akan tetap menemani kamu."
"Bohong! Pasti nanti kamu bakal balik lagi kan sama istrimu itu?!"
"Enggak, serius! Aku bakal di sini temani kamu. Num, tolong jangan melompat... Aku cinta sama kamu. Kemari, Hanum..." pinta Adrian dengan raut wajah sangat cemas.
Batin Hanum bersorak. Meski sebenarnya ia juga agak gemetar takut ketinggian, aktingnya harus tetap meyakinkan.
"Oke! Tapi kamu harus janji satu hal..." Hanum menatap Adrian tajam dengan mata sembapnya. "Kamu harus nikahi aku."
Langkah Adrian terhenti seketika. Permintaan itu menghantam kepalanya bagai petir di siang bolong. "Hanum..."
"Gak bisa, kan?" suara Hanum memelan, terdengar sangat lirih dan terzalimi. "Sampai kapan pun... aku cuma bakal jadi simpananmu, Mas..."
Saat berpura-pura sedih, Hanum sempat melirik ke arah bawah luar balkon. Sensasi tinggi membuat kepalanya mendadak pusing dan tubuhnya oleng, hampir saja benar-benar terpeleset jatuh!
"Hanum!" teriak Adrian terperanjat shock.
"Katakan kamu bakal nikahi aku, Mas! Katakan!" desak Hanum memanfaatkan kepanikan Adrian.
Adrian memejamkan mata erat-erat, memproses himpitan rasa bersalah dan ketakutan yang mencekik dadanya. Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk pasrah.
"Baiklah... Aku bakal nikahi kamu."
Satu sudut bibir Hanum terangkat tipis—ia menang.
Mendengar jawaban itu, Adrian langsung melompat maju, menarik tubuh Hanum turun dari pembatas balkon dan merengkuhnya ke dalam pelukan yang sangat erat. Hanum membalas pelukan itu, menyembunyikan wajahnya di dada Adrian.
"Aku takut sekali, Mas... Sangat takut..." bisik Hanum dengan nada gemetar buatan.
Di belakang tubuh Adrian, Rani perlahan menurunkan ponsel yang sejak tadi merekam seluruh adegan dramatis tersebut. Rani memberikan tanda thumbs up (oke) dengan jemarinya, yang disambut anggukan puas dari Hanum di balik pundak Adrian.
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣