NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Suasana di dalam aula lelang bawah tanah berangsur-angsur tenang setelah keributan besar yang diciptakan oleh lukisan palsu milik Rendy Kusuma.

​Pihak penyelenggara terpaksa mengambil jeda sepuluh menit untuk menenangkan situasi dan memeriksa ulang seluruh barang yang akan dilelang berikutnya.

​Rendy Kusuma masih terduduk di kursinya dengan wajah pucat pasi dan tatapan kosong.

​Beberapa rekan bisnis dari keluarga elit ibu kota yang tadinya ingin mendekatinya kini memilih menjauh karena tidak ingin terseret dalam rasa malu akibat kecerobohan Rendy.

​"Dia benar-benar menghancurkan harga diriku malam ini," bisik Rendy penuh dendam sambil mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.

​Matanya melirik tajam ke arah Anton yang sedang duduk bersandar dengan sangat santai di sebelah Elena.

​"Tuan Anton, tindakanmu tadi benar-benar di luar dugaan," puji Elena berbisik pelan sambil tersenyum kecil.

​"Rendy pasti sangat ingin membunuhmu sekarang, tapi dia tidak punya bukti kalau kamu sengaja menjebaknya."

​Anton menoleh sekilas ke arah Elena lalu tersenyum tipis.

​"Orang bodoh yang serakah akan selalu menghancurkan dirinya sendiri, Elena," balas Anton tenang.

​"Kita hanya memberinya sedikit dorongan ke jurang."

​Teng teng teng.

​Suara lonceng kecil kembali berbunyi, menandakan sesi lelang utama akan segera dilanjutkan.

​Pria tua berjas putih kembali melangkah naik ke atas panggung dengan ekspresi wajah yang jauh lebih serius dari sebelumnya.

​"Para tamu undangan yang terhormat, mari kita lanjutkan acara malam ini ke sesi yang paling ditunggu-tunggu," ucap juru lelang melalui mikrofon dengan suara berwibawa.

​"Barang ketiga adalah sebuah aset properti eksklusif berupa sebidang tanah seluas lima hektar di kawasan komersial utama kota."

​Dua wanita pembawa nampan kali ini menaruh sebuah dokumen amplop merah tebal di atas meja panggung.

​"Tanah ini memiliki potensi komersial yang luar biasa, namun sedang berada dalam status sengketa hukum antara dua pihak keluarga," jelas juru lelang.

​"Harga awal dibuka di angka dua puluh miliar rupiah, dengan kelipatan penawaran dua miliar."

​Begitu informasi tanah sengketa itu diumumkan, beberapa pengusaha besar di barisan belakang langsung mengangkat papan nomor mereka.

​Bagi para taipan properti, tanah sengketa bukanlah masalah besar selama mereka memiliki koneksi hukum yang kuat untuk memenangkannya.

​Anton langsung memfokuskan pikirannya ke arah dokumen amplop merah di atas panggung.

​"Sistem, periksa status hukum dan detail tanah sengketa itu," perintah Anton di dalam hatinya.

​[Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1 diaktifkan.]

​Pandangan mata Anton menembus amplop merah tebal tersebut, membaca setiap lembar sertifikat dan catatan sejarah kepemilikan tanah di dalamnya.

​[Analisis selesai. Objek terdeteksi sebagai Sertifikat Tanah Komersial di Blok C Kota Utama.]

[Status sengketa: Sengaja direkayasa oleh oknum pejabat bank untuk menjatuhkan pemilik aslinya.]

[Catatan Penting: Kasus hukum tanah ini akan selesai dalam waktu kurang dari satu bulan karena putusan Mahkamah Agung sudah inkrah memenangkan pihak ahli waris asli yang siap menjual murah.]

​Anton sedikit tersenyum lebar membaca informasi dari sistem.

​Tanah seluas lima hektar di kawasan komersial utama saat ini harganya bisa melonjak hingga ratusan miliar rupiah begitu status hukumnya beres.

​Ini adalah ladang uang emas murni.

​"Dua puluh lima miliar!" teriak seorang pengusaha properti dari barisan tengah.

​"Tiga puluh miliar!" balas pengusaha lain dengan cepat.

​Rendy Kusuma yang tadinya terpuruk tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya.

​Dia melihat peluang untuk menebus kekalahannya di sesi sebelumnya dengan menguasai tanah komersial ini.

​"Empat puluh miliar!" teriak Rendy dengan suara lantang, mencoba mendominasi ruangan.

​Beberapa orang mulai ragu karena kenaikan harga yang cukup drastis dari pihak keluarga Kusuma.

​Elena melirik ke arah Anton, meminta pandangan apakah mereka harus ikut menawar.

​Anton mengangkat tangan kanannya memberi isyarat agar Elena tetap tenang dan menunggu waktu yang tepat.

​"Empat puluh miliar rupiah, satu kali..." ucap juru lelang sambil mengangkat palunya.

​"Empat puluh lima miliar!" seru seorang taipan tua dari barisan depan.

​Rendy mengatupkan rahangnya kesal lalu kembali menaikkan tawarannya.

​"Lima puluh miliar!" teriak Rendy dengan nada menantang, sengaja melirik ke arah Anton.

​Anton menatap Rendy sekilas lalu mengangkat tangan kirinya perlahan untuk memberi kode pada Elena.

​"Enam puluh miliar," ucap Elena dengan suara tenang namun tegas.

​Rendy melebarkan matanya kaget saat mendengar Elena kembali menyainginya.

​"Tujuh puluh miliar!" bentak Rendy dengan emosi yang mulai tidak terkontrol karena gengsinya sudah di ujung tanduk.

​Uang yang dibawanya mulai menipis, tapi dia tidak peduli lagi selama bisa mengalahkan Anton.

​Anton tersenyum sinis melihat keputusaan bodoh Rendy yang terpancing emosi.

​"Cukup, biarkan dia mengambilnya di angka tujuh puluh miliar," bisik Anton pada Elena.

​Elena mengangguk paham dan menurunkan papan penawarannya.

​"Tujuh puluh miliar rupiah, satu kali... dua kali... dan terjual kepada Tuan Rendy Kusuma!" seru juru lelang mengetok palunya.

​Tok tok tok.

​Rendy menghela nafas panjang penuh kelegaan palsu, meskipun dia tahu harganya sudah kemahalan untuk tanah sengketa.

​"Kali ini aku yang menang, anak miskin," ejek Rendy dalam hati sambil menatap sinis ke arah Anton.

​Namun Anton sama sekali tidak terlihat sedih, dia justru tersenyum penuh arti karena tahu Rendy baru saja membeli masalah besar yang putusan hukumnya sudah berpihak pada orang lain.

​"Selanjutnya, barang terakhir dan paling langka malam ini!" seru juru lelang dengan suara bersemangat tinggi.

​"Sebuah kotak kayu kuno berisi resep ramuan medis rahasia peninggalan tabib istana kekaisaran kuno."

​Seorang pria berjas hitam membawa sebuah kotak kayu kecil berukir naga emas ke atas panggung dengan sangat berhati-hati.

​"Pemilik sebelumnya mengklaim resep ini mampu menyembuhkan berbagai penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan oleh ilmu kedokteran modern," terang juru lelang.

​"Harga awal dibuka di angka sepuluh miliar rupiah!"

​Seluruh aula mendadak hening sejenak.

​Bagi para kolektor kaya, kesehatan adalah segalanya. Resep obat kuno seperti ini selalu menarik minat para taipan tua yang ingin memperpanjang usia mereka.

​Anton langsung memfokuskan pandangannya ke kotak kayu tersebut.

​"Sistem, periksa isi resep di dalam kotak itu," perintah Anton penuh antisipasi.

​[Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1 diaktifkan.]

​Pandangan Anton menembus kotak kayu dan melihat selembar kertas perkamen tua yang ditulis menggunakan tinta emas kuno.

​[Analisis selesai. Objek terdeteksi sebagai Resep Pembersihan Sumsum Tulang dan Regenerasi Sel Kuno.]

[Tingkat kemurnian resep: 100% asli. Sangat bernilai tinggi di dunia medis modern maupun pasar farmasi gelap.]

​Jantung Anton berdetak sedikit lebih kencang. Resep ini bukan sekadar obat biasa, ini adalah teknologi biologis masa depan yang bernilai triliunan rupiah jika dikembangkan dengan benar.

​"Sebelas miliar!" teriak seorang kolektor tua dari sudut ruangan.

​"Lima belas miliar!" balas seorang taipan kesehatan dari barisan tengah.

​Anton langsung mengangkat papan nomor 08 miliknya tanpa ragu.

​"Dua puluh miliar," ucap Elena mengikuti instruksi Anton dengan tegas.

​Rendy Kusuma yang baru saja memenangkan tanah sengketa mencoba ikut campur lagi karena ingin balas dendam.

​"Tiga puluh miliar!" teriak Rendy cepat.

​Anton menatap Rendy dengan tatapan kasihan. Pria itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya karena terbawa emosi.

​"Empat puluh miliar," balas Elena menaikkan angka sesuai perintah Anton.

​"Lima puluh miliar!" bentak Rendy ngotot.

​Anton tersenyum kecil lalu berbisik pada Elena, "Suruh dia ambil, kita berhenti di sini."

​Elena mengangguk dan menurunkan papannya.

​"Lima puluh miliar rupiah, terjual kepada Tuan Rendy Kusuma!" seru juru lelang.

​Tok tok tok.

​Rendy tersenyum puas karena berhasil merebut barang terakhir dari tangan Anton, meskipun dompetnya kini sudah terkuras habis.

​Acara lelang resmi ditutup dengan kemenangan finansial yang luar biasa bagi Anton, sementara Rendy terjebak membeli barang sengketa dan resep mahal tanpa sisa uang cadangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!