Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 - Skema yang Terbongkar
Amplop itu tiba pada Sabtu pagi.
Robert menemukannya ketika masuk ke kantor perusahaan konstruksi untuk mengambil beberapa dokumen. Amplop cokelat, tanpa pengirim, diletakkan di atas meja. Di dalamnya ada tiga puluh dua halaman cetak, disusun dengan presisi laporan forensik: rekening koran, kontrak, risalah rapat, surat kuasa, dan satu spreadsheet yang mencocokkan setiap rupiah yang dialihkan dari dana keluarga Kartawijaya dengan rekening SABC Konsultan Bisnis dan Alamsyah Engineering.
Robert membaca lima halaman pertama sambil berdiri. Pada halaman keenam, ia duduk. Pada halaman kedua belas, ia melepas kacamata dan mengusap mata. Pada halaman kedua puluh, ia menelepon Bianca.
"Datang ke sini. Sekarang."
Bianca tiba dalam dua puluh menit. Ia menemukan ayahnya dengan siku bertumpu di meja dan wajah terbenam di kedua tangan.
"Pa, apa yang terjadi?"
Robert mendorong amplop itu ke arahnya. Bianca membalik halaman-halamannya. Wajahnya berubah seiring ia membaca, dari terkejut, tidak percaya, lalu menjadi sesuatu yang lebih keras.
"Nenek mengalihkan uang dari dana keluarga?" Suaranya keluar rendah, terkendali, seolah berbicara lebih keras akan membuat semua itu menjadi lebih nyata.
"Rp2,4 miliar dalam enam tahun. Ke rekening keluarga Alamsyah. Memakai surat kuasa yang kutandatangani pada 2010 tanpa kubaca dengan benar." Robert tertawa, tetapi tidak ada yang lucu di sana. "Aku bahkan tidak ingat surat kuasa itu."
"Siapa yang mengirim ini?"
"Aku tidak tahu. Tidak ada pengirim, tidak ada tanda tangan. Tapi dokumennya asli. Tiga rekening koran pertama sudah kuperiksa dengan manajer bank pagi ini. Cocok."
Bianca mengembalikan amplop itu.
"Apa yang akan Papa lakukan?"
Robert berdiri. Ia merapikan kemeja. Ada sesuatu yang berbeda pada bahunya, semacam kekakuan yang sudah bertahun-tahun tidak Bianca lihat.
"Hari ini ada makan siang keluarga di rumah besar. Nenekmu akan ada di sana. Paman-pamanmu akan ada di sana." Ia mengambil amplop. "Aku juga akan ada di sana."
Makan siang Sabtu di rumah besar Kartawijaya adalah tradisi lima belas tahun. Meja untuk dua belas orang, porselen putih, taplak linen, pegawai menyajikan jus jeruk peras segar. Bu Ratih memimpin dari ujung meja seperti biasa, sempurna dengan mutiara dan blazer krem, mengendalikan percakapan dengan pertanyaan strategis dan keheningan yang terukur.
Arga datang bersama Bianca. Ia duduk di sudut yang sama seperti biasanya, sudut untuk menantu yang tidak bicara, tidak berpendapat, tidak dianggap ada. Marlina menyapanya dengan anggukan formal. Dua paman Robert bahkan tidak menoleh ke arahnya. Normal.
Arga mengambil nasi dan diam. Mengamati.
Robert datang paling akhir. Ia masuk lewat pintu dapur, yang sudah aneh. Ia tidak memakai dasi, yang lebih aneh lagi. Dan ia membawa amplop cokelat di bawah lengan.
Bu Ratih menyadarinya sebelum siapa pun. Matanya langsung menuju amplop itu. Sesuatu berubah di dasar mata itu, bayangan cepat seperti ikan melintas di bawah air gelap.
"Robert, Sayang." Senyumnya sempurna. "Ibu kira kamu tidak datang."
"Aku juga sempat berpikir begitu." Robert tidak membalas senyum. Ia menarik kursi, duduk, lalu meletakkan amplop di tengah meja. "Bu, apa itu SABC Konsultan Bisnis?"
Keheningan yang jatuh di meja itu mutlak. Bahkan bunyi alat makan berhenti.
Bu Ratih menatap amplop. Menatap Robert. Ekspresinya tidak berubah, tetapi jemarinya yang bertumpu di tepi meja memucat.
"Ibu tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
"Ibu tahu." Robert membuka amplop. Ia menyebarkan kertas-kertas di meja, mendorong piring dan gelas. "SABC Konsultan Bisnis. Pemegang saham: Hendrik Alamsyah. Menerima Rp2,4 miliar dari dana keluarga kita dalam enam tahun terakhir. Dengan surat kuasaku. Uang itu langsung masuk ke kas Alamsyah Engineering." Ia mengangkat salah satu lembar. "Semuanya ada di sini. Semuanya terdokumentasi."
Marlina menatap Robert, lalu Bu Ratih. Kedua paman saling bertukar pandang gelisah. Arga tetap makan nasi.
Bu Ratih menarik napas dalam. Ia menata kembali tangannya. Ketika bicara, suaranya sedingin es.
"Robert, ini urusan pribadi. Keuangan tidak dibahas di meja makan, di depan pegawai dan..." matanya melewati Arga, "...orang luar."
"Orang luar?" Bianca mencondongkan tubuh ke depan. "Arga itu suamiku, Nek. Dan uang yang hilang itu seharusnya milik kami juga."
"Bianca, Nenek tidak akan menoleransi nada bicara seperti itu."
"Bu." Suara Robert membelah meja. Semua orang menoleh kepadanya. Ia sudah berdiri. Arga tidak melihat kapan ia bangkit. "Ibu menjadikanku boneka selama dua puluh tahun. Aku menandatangani apa yang Ibu suruh tanda tangani. Aku diam ketika Ibu mau aku diam. Aku menjadi CEO yang tidak memutuskan apa pun karena Ibu memutuskan semuanya dari belakang." Ia menjatuhkan lembar-lembar itu ke meja. "Tapi mencuri dari kami? Mencuri dari cucu-cucu Ibu demi membiayai keluarga Alamsyah?"
"Itu bukan pencurian." Bu Ratih ikut berdiri. Untuk pertama kalinya, kendalinya retak. Suaranya naik setengah nada, tangan kanannya mencengkeram sandaran kursi. "Itu untuk melindungi keluarga. Keluarga Alamsyah adalah sekutu kita selama dua puluh tahun. Tanpa mereka, perusahaan konstruksi akan kehilangan tiga tender dan dua kontrak pemerintah pada masa ayahmu."
Ia mengeratkan cengkeraman pada sandaran kursi. "Aku mempertahankan aliansi itu. Ya, dengan uang. Karena memang begitulah cara dunia bekerja."
"Bukan dengan uang kami!" Robert memukul meja. Gelas-gelas bergetar. "Bukan tanpa bertanya kepadaku!"
Marlina meletakkan tangan di lengan suaminya.
"Robert, mungkin kita sebaiknya membicarakan ini secara pribadi..."
"Tidak, Marlina." Ia tidak menarik lengannya, tetapi tidak menyerah. "Seluruh keluarga harus mendengar. Karena seluruh keluarga dirampok."
Para paman terdiam. Salah satu dari mereka masih menggantungkan garpu di udara, tidak tahu harus makan atau meletakkannya. Yang lain menatap piring sendiri seolah ingin menghilang ke dalamnya.
Bu Ratih memandang sekeliling meja. Mencari sekutu. Tidak menemukan satu pun. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun makan siang Sabtu, tidak ada yang berada di pihaknya.
Lalu matanya bertemu dengan Arga.
Ia duduk di tempat yang sama. Piringnya hampir kosong. Ekspresinya netral, sedikit bosan, seperti orang yang menonton perdebatan soal menu.
Bu Ratih menatapnya tajam. Ada sesuatu yang baru di matanya: curiga, perhitungan, ketakutan yang disamarkan sebagai amarah.
"Ini perbuatanmu, kan?" Suaranya rendah, tajam, hanya untuknya. "Kamu yang mengatur semua ini."
Meja kembali sunyi.
Arga meletakkan garpu. Ia menyeka mulut dengan serbet. Lalu menatap Bu Ratih dengan ekspresi yang sama seperti biasa, ketenangan yang membuat perempuan itu marah karena ia tidak bisa membaca apa pun di baliknya.
"Saya? Bu Ratih, saya hanya menantu tak berguna. Ingat?"
Bu Ratih mempertahankan tatapan selama lima detik. Lalu ia berbalik, mengambil tas dari kursi, dan keluar dari ruang makan tanpa sepatah kata lagi. Bunyi hak sepatunya menggema di lantai marmer sampai menghilang di koridor.
Tidak ada yang mengikutinya.
Robert duduk perlahan. Tangannya gemetar, tetapi bahunya tetap tegak. Bianca meletakkan tangan di bahu ayahnya. Marlina menatap pintu tempat Bu Ratih menghilang, wajahnya terbelah di antara dua kesetiaan.
Arga mengambil gelas jus jeruk dan meneguknya.
Malam itu, Bu Ratih mengunci pintu ruang kerja. Rumah besar sunyi. Robert dan Marlina pulang lebih awal, para paman menghilang sebelum hidangan penutup, dan para pegawai berjalan berjinjit.
Ia membuka laci bawah meja tulis. Di bawah dokumen lama, akta, dan kontrak yang menguning dimakan waktu, ada buku catatan bersampul hitam. Kulitnya aus, tepinya mengelupas. Pada halaman pertama, tulisan miring suaminya terbaca: "Hadi R. Kartawijaya - Catatan pribadi."
Bu Ratih tidak pernah membaca buku itu sampai selesai. Ia pernah membolak-baliknya sekali, tepat setelah pemakaman, lalu menyimpannya tanpa minat, mengira isinya hanya catatan proyek, perhitungan, hal-hal tidak penting.
Sekarang ia membukanya di bagian tengah. Ia membalik halaman perlahan. Berhenti pada satu halaman yang memuat sebuah nama bergaris bawah dua kali dengan tinta merah.
"Raka Wijaya Mahendra - Jakarta. Pertemuan 14/03/1996. Tawaran kemitraan. Ditolak. Alasan di balik halaman."
Bu Ratih membalik halaman. Membaca bagian belakang. Membacanya lagi.
Lalu ia mengangkat mata dari buku catatan dan menatap kosong, sepenuhnya tak bergerak, sementara sesuatu yang mungkin bernama takut melintas di wajahnya untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.