Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelakuan Absurd
Farhan duduk di jok supir. Tangannya masih gemetar. Bagiamana tidak, seorang gadis memeluknya tanpa sebab, dan ini adalah pertama kalinya ia di peluk oleh seoeang wanita.
"Gila... tadi cewek itu..."
Niatnya yang hendak ke toilet, tapi justru ditabrak cewek.
Akan tetapi, Farhan merasakan wangi yang keluar dari tubuh sang gadis sangat aneh. Aroma yang bercampur keringat, sabun laundry, dan... Juga darah?
Hp tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan masuk dari Andi. "Pak, rapat besok jam tujuh pagi, Proyek jembatan ditahan lagi."
"Iya Andi. Saya ingat itu. Ini sedang menuju ke kantor."
Farhan melirik ke arah mushola. Gadis aneh itu sudah tidak ada.
Dan ia menginjak gas. Lupa pipis sebagai tujuan awalnya dan berniat keluar dari SPBU.
Akan tetapi, ia mengalami sebuah insiden di luar nalar. Sebab di depannya terlihat dua sosok makhluk tak kasat mata sedang bertengkar dan menghalangi mobilnya yang akan lewat.
"Kamu jahat, Sayang! Kamu tega sama aku, melirik wanita lain, padahal aku juga gak kalah cantik!" sosok Sundel Bolong sedang ngambek sembari nangis sesenggukkan.
Farhan tersentak kaget. Ia mencoba meng—klakson, berharap keduanya minggir tetapi tidak juga mendengarkannya.
"Apaan, sih? Gak di dunia nyata, gak di dunia ghaib, ada saja yang absurd," gerutu Farhan.
"Kamu cemburu buta, Sayang. Dia cuma setan gentayangan, mati penasaran bunuh diri di pohon toge," jawab Pocong dengan asal.
"Dasar mata keranjang!" Sundel kesal, lalu menjambak ikatan pocong di bagian kepala. Sedangkan Pocong membalasnya dengan menjambak rambut gimbal Sundel Bolong dengan giginya.
Perkelahian berlanjut hingga naik ke atas body mobil di bagian depan.
Farhan bengong dengan wajah bingung.
Tak sampai di situ Sundel menendang Pocong, lalu dengan cepat masuk ke dalam mobil Farhan.
"Heei, kau mau apa? Keluar dari mobilku," ia mencoba mengusir Sundel itu dari mobil.
"Udah, jalan! Kau dan dia sama saja! Laki-laki semua sama," umpat Sundel Bolong sembari menangis.
"Kok jadi aku yang di salahin?" tanya Farhan dengan nada masih bingung.
"Udah, jangan banyak tanya, buruan jalan," bentak Sundel Bolong dengan masih menangis.
Sedangkan di belakang Farhan ada deretan mobil yang tersumbat tidak bisa keluar dari area SPBU, sebab Farhan tak juga jalan.
Karena suara klakson yang terus berbunyi, akhirnya Farhan memilih tancap gas, meski kebingungan.
Saat bersamaan, Pocong melesat masuk dari kaca jendela mobil yang terbuka.
Wuuush!
Ia duduk di samping Sundel yang masih menangis sesenggukkan.
"Sayang, maafin aku. Ini bukan salahku," Pocong mencoba menjelaskan.
"Itu tetap salah kamu! Punya mata gak di jaga," bentak Sundel Bolong.
Farhan menggaruk kepalanya. Mana ia sedang pusing, di tambah dua makhluk gak jelas yang sedang bertengkar.
Ia semakin kenambah laju mobilnya, tetapi tiba-tiba tanpa sengaja menabrak sesuatu.
Braaaak!
Sesuatu terpental, dan Farhan menghentikan mobilnya, la berniat ingin melihat sedang menabrak siapa.
Akan tetapi, sebuah mobil kontainer kelaju cukup kencang dari belakang, sebab ia berhenti sembarang, meskipun jalan sepi.
Farhan tersentak kaget. Mobil kontainer tentu tidak dapat mengerem secara mendadak. Ia yang tak sempat untuk keluar, hanya menutup matanya dengan menggunakan lengannya.
Akan tetapi, ia di kejutkan oleh suara decit ban mobil yang tiba-tiba berbelok menghindarinya. Seperti ada yang mengarahkannya.
Farhan membuka matanya, dan ia semakin terkejut saat melihat siapa yang menjadi penumpang di dalam mobilnya.
"Hah!" ia tersentak kaget. Mulutnya menganga lebar.
"Udah, bang ganteng, buruan maju, kita di sini datang buat mendamaikan pasangan ini ucap sesosok Kuntilanak bergaun biru.
"K-kalian siapa? Mengapa menumpang semua di mobilku?" ucapnya dengan bingung.
Ia melihat ada Kuntilanak Kuning yang sedang berpelukan dengan Siluman Kera. Siluman Ular dan Buto Ijo yang sedang mebenangkan Pocong dan Sundel. Lalu Kuntilanak Biru yang masih jomblo.
"Jangan banyak tanya, Bang. Buruan gas... Kita gak ganggu, cuma penumpang gelap saja," celetuk Kuntilanak Kuning, dengan nada centil.
Siluman Kera langsung mencubit pinggang Kuntilanak Kuning. "punya mata di jaga. Kurang tampan aku?" omelnya.
"Iya, Sayang... Kamu yang paing tampan," Kuntilanak Kuning mengedipkan matanya.
Lagi-lagi Farhan telah membuat kemacetan panjang, sehingga mendapatkan klakson yang cukup memekakan telinga. Mau tidak mau, ia kini membawa rombongan para demit yang gak jelas entah darimana datangnya.
"Sudah, Sun...! Jangan ngambek. Malu di lihatin Farhan," Siluman Ular berusaha membujuk.!
Farhan yang di sebut namanya semakin melongo. "Eh, Setan... Kenapa kalian tau nama saya?"
"Kami bukan setan, kami demit!" Kuntilanak Biru langsung meralat ucapan Farhan.
"Ya kan sama saja..." Farhan menyela.
"Ya bedalah... Kalau setan sudah pasti Demit, tapi Demit belum pasti setan,, Bang Ganteng," Kuntilanak Kuning memperjelasnya. "Setan itu adalah sifat jahat, dan manusia juga bisa memilikinya," ia kembali menjelaskan.
Farhan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya, tetapi kalian ini siapa? Kenapa masuk ke dalam mobilku semua?"
"Ya karena sudah waktunya saja," sahut Siluman Ular, dengan bahasa yang tenang. Sepertinya ia terlihat lebih dewasa di banding demit yang lainnya.
"Sudah waktunya? Maksudnya apa?"
"Kami tidak dapat menjelaskannya. Hanya saja, kami datang sesuai perintah... Ada aroma bahaya yang mengincarmu, Tuan..." kali ini Buto Ijo angkat bicara.
"Tuan?" Farhan tertawa geli sekaligus kesal. Bagaimna tidak, ia menjadi majikan dari para demit yang absurd. "Baiklah, tapi kalian jangan ribut lagi, kalau kalian buat masalah, aku akan bacain yasin agar kalian terbakar, dan pergi dari mobilku." ancam Farhan.
"Hahahaha... Yasin? Itu makanan kami, di tambah plus Fatiha sebagai menu utama," sahut Kuntilanak Kuning.
Tentu saja itu semakin membuat Farhan kalah dalam argumen.
Karena lelah melayani para demit tersebut, akhirnya Farhan mengalah, selagi mereka tak mengganggunya.
"Ya Allah... aku cuma mau rapat... Cobaan apa lagi ini..." gumannya dalam hati.
---
Pukul dua pagi, Farhan tiba di rumahnya. Tak lupa ia membuka pintu mobil. "Silahkan turun... Jangan lagi mengusikku," ucap Farhan dengan suara lelah dan mengantuk.
"Nanti saja, kami masih ada rapat," tolak Pocong, yang bersikap seolah menjadi pimpinan dari para demit lainnya.
Farhan semakin bengong. "Rapat? Udah mirip DPR saja..." ucapnya dengan kesal, lalu memilih untuk meninggalkan semua demit. Ia sudah ngantuk.
Farhan menarik napasnya yang terasa berat. Kemudian masuk dalam rumah. Sedangkan Clara lagi duduk di sofa, seolah sedang menunggu kepulangan puteranya, wangi melati menguar dari tubuhnya.
"Baru pulang, Sayang," sambut Clara dengan senyum yang penuh kelembutan.
"Mama kenapa belum tidur?" tanya Farhan, sembari mengecup kening mamanya.
"Sebelum kamu pulang, maka mama tidak akan dapat tidur nyenyak," sahutnya.
"Maafin Farhan, Ma. Sudah mmebuat menunggu," ucapnya dengan rasa sesal. Ia duduk di sofa dengan rasa kantuk yang cukup berat.
Sedangkan Clara mengendus aroma yang sama dari tubuh puteranya. Aroma darah dan kegelapan, yang menempel di tubuh Farhan.
"Ma...," ucap Farhan sembari memejamkan kedua matanya.
"Ya..."
"Ada banyak demit di mobil, usir mereka, Ma..." suara Farhan perlahan melemah, dan menghilang, lalu berganti dengan syara dengkuran yang halus.
Clara menatap puternya dengan tatapan penuh misteri. Tak lama kemudian, rombongan demit masuk ke dalam ruangan. "Nawang Wulan, kami datang..." ucap Kuntilanak Kuning dengan wajah serius.
"Terima kasih... Awasi puteraku...," pesannya kepada para demit tersebut.
"Siap, Nawang..." sahut mereka dengan serempak.
Dengan cekatan, Siluman Kera dan juga Buto Ijo, membopong tubuh Farhan yang tertidur dengan lelap, dan memindahkannya ke kamar.
Sementara itu, Sundel bolong dan Pocong masih diam-diaman. Sedangkan Kuntilanak Biru dan juga Kuning rebutan remote, karena ada yang ingin nonton dangdut, dan ada yang ingin nonton sinetron azab.
---
dr ikut Rayyan dan skrg ikut sama Farhan ( anak nya )