aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - Kepungan di Gerbang Kota
Dentuman berat bilah besi gerbang selatan Kota Gunung Hijau bergema membelah keheningan malam. Engsel-engsel raksasa itu mengunci rapat pintu benteng, disusul oleh deretan palang kayu tebal yang dijatuhkan secara kasar oleh belasan prajurit penjaga kota.
Di bawah temaram cahaya lentera minyak, para penjaga kota berdiri membentuk barisan rapat. Pandangan mata mereka gelisah, menghindari tatapan para warga dan pengelana yang terkejut oleh penutupan mendadak itu.
Sun Chen menghentikan langkah kecilnya sekitar sepuluh jengkal dari barisan penjaga. Indra batinnya menangkap fluktuasi napas para penjaga yang terlalu cepat dan tegang. Di balik jubah seragam mereka, ada bau racun tipis dan noda darah yang disembunyikan.
"Pemeriksaan keamanan!" teriak seorang komandan penjaga dengan suara yang dipaksakan keras. "Ada buronan berbahaya yang menyusup ke dalam kota! Tidak ada yang boleh keluar hingga fajar!"
Sun Chen tidak terperdaya. Ia tahu betul, para penjaga ini telah ditekan, disuap, atau bahkan digantikan oleh anggota organisasi pemburu. Gerbang kota ini bukan lagi pelindung warga, melainkan dinding penjara yang disiapkan khusus untuk mengurung mereka.
Chou Tian yang berdiri di samping Sun Chen menepuk bahu kecil muridnya. Pria tua itu tidak memaksakan diri menerobos gerbang yang dijaga ketat. Menerjang barisan prajurit secara terbuka di gerbang utama hanya akan memicu kekacauan massa dan membuang-buang tenaga dalam yang sangat berharga.
"Ayo," kata Chou Tian pelan, suaranya terdengar sangat tenang seolah tidak ada bahaya yang mengancam. "Kita cari penginapan lain."
Chou Tian memutar tubuhnya, melangkah santai meninggalkan area gerbang selatan. Sun Chen menyelaraskan langkah kakinya, berjalan berdampingan bersama sang guru. Mereka berpura-pura belum menyadari jebakan yang telah terpasang rapi di sekeliling mereka.
Setelah melangkah beberapa ratus meter menembus kegelapan jalanan kota yang mulai sepi, Chou Tian memiringkan kepalanya sedikit.
"Mereka sudah mengunci seluruh gerbang utama," bisik Chou Tian pelan, suaranya tersapu angin malam. "Kita harus mencari jalur alternatif."
"Bukan sekadar mengunci gerbang, Guru," jawab Sun Chen dengan nada suara yang sangat dingin. "Mereka membentuk jaring melingkar."
Berbekal pengalaman puluhan tahun memimpin perang di kehidupan lalunya, Sun Chen dapat membaca pergerakan musuh di balik kegelapan malam. Pemburu-pemburu bergaun hitam itu tidak mengejar secara membabi buta dari belakang. Mereka bergerak secara simetris di sepanjang jalan-jalan sejajar, mengecilkan lingkaran kepungan secara bertahap untuk menggiring target ke area mati yang telah ditentukan. Pelindung Merah menginginkan mereka hidup-hidup, atau setidaknya memastikan Chou Tian kehabisan tenaga dalam sebelum serangan akhir dilancarkan.
"Lalu ke mana kita harus melangkah?" tanya Chou Tian, menguji kejelian muridnya.
Sun Chen menunjuk ke arah celah gang sempit di sebelah kiri mereka, yang mengarah ke kawasan gudang tua di bagian belakang kota. "Kawasan pergudangan barat. Tempat itu gelap, penuh rintangan, dan memiliki pintu servis kecil untuk pembuangan sampah kota."
Tanpa membuang waktu, guru dan murid itu membelokkan langkah, menyusup ke dalam kegelapan gang-gang sempit Kota Gunung Hijau.
Suasana Kota Gunung Hijau di kawasan pergudangan barat terasa sangat mencekam. Lentera-lentera jalanan telah dipadamkan, menyisakan bayangan hitam dari bangunan-bangunan kayu tinggi yang menutupi sinar rembulan.
Sun Chen memimpin di depan. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tanpa suara saat ia melompati tumpukan peti kayu dan meniti pinggiran atap yang rendah. Berkat indra spiritual dasarnya yang terus bekerja tajam, beberapa kali Sun Chen berhasil menghentikan langkah Chou Tian tepat sebelum patroli pemburu bergaun hitam melintas di celah jalan utama.
Namun, organisasi pemburu bukanlah lawan yang amatir.
Saat Sun Chen dan Chou Tian tiba di sudut paling barat kawasan pergudangan, tepat di depan sebuah pintu besi kecil yang menempel di tembok benteng kota, langkah mereka terhenti sepenuhnya.
Di bawah bayangan pintu besi tersebut, lima orang pria bertopeng perunggu telah berdiri bersedekap. Senjata-senjata tajam mereka berkilat kebiruan di bawah temaram cahaya bulan.
Seluruh jalur keluar Kota Gunung Hijau telah bocor dan dijaga rapat.
"Tua bangkai Chou Tian," kata salah satu pemburu bertopeng seraya mencabut golok panjangnya. "Pelindung Merah sudah menduga kau akan mencoba melarikan diri lewat jalur sampah ini."
Srak! Srak! Srak!
Dari balik atap-atap gudang di sekeliling mereka, belasan pembunuh bergaun hitam melompat turun, menyempurnakan lingkaran kepungan. Tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri.
Chou Tian melangkah perlahan ke depan, menggeser posisi Sun Chen ke belakang tubuhnya. Pria tua itu merenggangkan kedua kakinya, menancapkan pijakannya ke atas tanah keras kawasan pergudangan.
"Tetap di belakangku, Sun Chen," kata Chou Tian tenang.
Sebelum para pemburu sempat melayangkan serangan, raga tua Chou Tian mendadak mengabur.
Wus!
Gerakannya begitu cepat bagaikan kilatan angin malam. Chou Tian sudah berada tepat di depan pemburu bertopeng pertama. Tanpa mengalirkan tenaga dalam dalam jumlah besar, ia menggunakan lecutan siku dan tangkisan telapak tangan dasar untuk menghantam persendian lawan.
Brak! Brak!
Suara remukan tulang bergema nyaring. Dua pemburu bertopeng terlempar ke udara, menghantam tumpukan peti kayu hingga hancur berantakan. Tiga pemburu lainnya yang mencoba menyerang dari samping dihantam oleh tebasan lengan Chou Tian yang kokoh, membuat mereka muntah darah dan roboh tak sadarkan diri.
Sun Chen yang menyaksikan pertempuran singkat itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Penguasaan posisi raga dan efisiensi gerakan gurunya benar-benar berada di tingkat puncak seorang ahli bela diri. Namun, kebanggaan itu dengan cepat berganti menjadi kecemasan mendalam.
Sebab, begitu Chou Tian menarik kembali tangannya, wajah pria tua itu mendadak berubah pucat pasi.
Uhuk!
Chou Tian memegangi dadanya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya bergetar hebat. Urat-urat hitam akibat Qi Racun Bayangan Hitam berdenyut kencang di lehernya, menjalar hingga ke pelipis matanya. Penggunaan tenaga dalam sekecil apa pun kini langsung memicu reaksi racun jahat tersebut di dalam meridian utamanya.
Chou Tian memaksakan dirinya menyeka darah kental kehitaman yang keluar dari sudut bibirnya sebelum Sun Chen mendekat.
Prok! Prok! Prok!
Suara tepuk tangan yang pelan dan teratur mendadak bergema dari celah gang gelap di sebelah kanan mereka.
Para pemburu bergaun hitam yang tersisa segera mundur dua langkah, menundukkan kepala mereka penuh hormat. Dari balik kegelapan gang, seorang pria tinggi tegap berJubah Merah gelap melangkah keluar dengan tenang. Topeng peraknya memantulkan pendaran dingin sinar rembulan.
Pelindung Merah telah tiba.
"Luar biasa, Sungguh luar biasa, Setan Tinju Chou Tian," kata Pelindung Merah dengan suara berat yang mengintimidasi. "Bahkan dengan Qi Racun Bayangan Hitam yang menggerogoti separuh meridian utamamu, kau masih sanggup menumbangkan lima pemburu elitku dalam hitungan detik."
Chou Tian menegakkan punggungnya yang gemetar, menatap Pelindung Merah dengan mata yang tajam. "Kau sengaja mengulur waktu."
Pelindung Merah tertawa pelan, suara tawanya terdengar dingin dan tanpa emosi. "Tentu saja. Mengapa aku harus mempertaruhkan nyawa anak buahku untuk bertarung mati-matian dengan seorang ahli tingkat tinggi sepertimu? Aku hanya perlu menutup seluruh pintu keluar, membiarkanmu berlari seperti tikus di dalam sangkar, dan membiarkan racun itu menghancurkan raga mu dari dalam."
Pelindung Merah memalingkan pandangannya dari Chou Tian, mengunci fokus matanya ke arah Sun Chen yang berdiri di belakang sang guru.
"Serahkan bocah itu, Chou Tian," lanjut Pelindung Merah seraya mengacungkan telapak tangannya yang diselimuti kabut Qi berwarna merah darah. "Dia adalah wadah yang sangat berharga untuk program kami. Jangan biarkan dia mati sia-sia bersamamu di tempat kotor ini."
Tekanan aura tenaga dalam yang dipancarkan oleh Pelindung Merah meledak seketika, membuat udara di sekitar kawasan pergudangan terasa amat berat dan sesak. Batu-batu kecil di tanah bergetar pelan akibat hempasan gelombang Qi merah tersebut.
Dari tempatnya berdiri, Sun Chen mengepalkan tangan kecilnya rapat-rapat. Mengandalkan ingatan dari kehidupan masa lalunya, ia dapat menilai dengan sangat presisi: kekuatan Pelindung Merah berada di puncak tingkat Ahli, jauh melampaui Lu Gu.
Dalam kondisi raga balitanya yang baru menumbuhkan benih Qi dasar dan kondisi gurunya yang diracuni parah, Sun Chen menyadari kenyataan pahit: peluang menang mereka dalam pertempuran langsung malam ini adalah nol.
Chou Tian menarik napas dalam-dalam. Pria tua itu melirik sebentar ke arah Sun Chen melalui sudut matanya. Di dalam sorot mata Setan Tinju itu, tidak ada ketakutan sedikit pun. Yang ada hanyalah tekad bulat seorang guru yang siap melakukan apa saja demi melindungi muridnya.
Chou Tian tahu persis bahwa ia tidak akan sanggup mengalahkan Pelindung Merah dalam kondisinya saat ini. Namun, ia tidak berniat untuk menyerah.
"Sun Chen," bisik Chou Tian, suaranya mengandung tekanan tenaga dalam yang meresap langsung ke dalam batin muridnya. "Begitu ada celah, lari secepat mungkin menembus pintu belakang. Jangan pernah menoleh ke belakang."
Dada Sun Chen bergetar hebat. "Guru! Saya tidak akan meninggalkan Guru!"
"Dengar, Muridku!" potong Chou Tian dengan nada tegas yang belum pernah terdengar sebelumnya. "Kau adalah masa depanku! Selama kau hidup, ilmu klan ini dan ajaran nuranimu tidak akan pernah padam! Lari!"
Sebelum Sun Chen sempat membalas, Chou Tian memutar seluruh sisa tenaga dalam di dantiannya secara paksa. Wajah pria tua itu memerah hebat, dan urat-urat hitam di lehernya menegang tajam.
Chou Tian mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu menghantamkan kedua telapak tangannya secara bersamaan ke arah tembok benteng kota di samping pintu besi.
Brak!
Jurus pungkasan Tinju Penghancur Gunung meledak dalam skala yang sangat dahsyat. Gelombang tenaga dalam yang masif menghancurkan benteng batu abu-abu tersebut. Bongkahan batu raksasa retak, runtuh, dan terlempar ke udara, menciptakan ledakan debu tebal yang membumbung tinggi menutupi seluruh pandangan di kawasan pergudangan.
"Bocah! Lari sekarang!" teriak Chou Tian di tengah gulungan debu.
Pintu besi dan sebagian tembok benteng telah hancur terbuka, memperlihatkan celah luas menuju hutan gelap di luar kota.
Sun Chen menahan gejolak emosi di dadanya. Air mata hampir menetes dari matanya, namun jiwa prajuritnya memaksa raga kecilnya untuk bergerak rasional. Ia tahu, pengorbanan gurunya akan menjadi sia-sia jika ia tetap bertahan di sana.
Dengan gigi terikat rapat, Sun Chen memancarkan seluruh benih Qi keemasan di dantiannya menuju telapak kaki, lalu melompat kencang melintasi puing-puing tembok yang runtuh, berlari menembus kegelapan hutan luar kota.
"Tangkas bocah itu! Jangan biarkan dia lolos!" teriak beberapa pemburu bergaun hitam yang mencoba menerobos gulungan debu.
Namun, sebelum para pemburu itu sempat mengejar, sesosok raga tua berdiri melintang di tengah puing-puing reruntuhan. Chou Tian berdiri bagaikan gunung karang yang tak tergoyahkan, menghalangi seluruh jalan keluar dengan sepasang tangan kosongnya.
"Langkah kalian terhenti di sini!" raung Chou Tian, suaranya menggelegar menggetarkan seluruh Kota Gunung Hijau.
Seketika itu juga, raga Pelindung Merah melesat cepat menembus gulungan debu. Telapak tangan merah darahnya bertabrakan langsung dengan tinju Chou Tian.
Brak!
Dentuman dahsyat dari benturan dua tenaga dalam tingkat tinggi meledak hebat. Gelombang angin Qi menghancurkan sisa-sisa bangunan gudang di sekitarnya, membuat tanah di seluruh kawasan barat kota bergetar hebat.
Beberapa ratus meter di dalam kegelapan hutan luar kota, Sun Chen menghentikan langkah kakinya sejenak. Ia membalikkan badan, menatap ke arah tembok Kota Gunung Hijau yang kini diselimuti asap dan ledakan cahaya Qi.
Genggaman tangan kecil Sun Chen begitu erat hingga kuku-kukunya menancap ke dalam telapak tangannya sendiri, mengeluarkan sedikit darah.
"Guru..." bisik Sun Chen dengan suara serak yang sarat akan dendam dan rasa hormat yang mendalam. "Tunggulah saya. Saya bersumpah akan kembali..."
Di belakangnya, ledakan demi ledakan mengguncang malam Kota Gunung Hijau. Pertarungan antara dua ahli akhirnya dimulai, sementara Sun Chen berlari menuju kegelapan, membawa harapan terakhir gurunya.